Metamorfosa Rasa (My Glyn)

Metamorfosa Rasa (My Glyn)
Bahagia Yang Sama


__ADS_3

...~ Happy Reading ~...


...________________...


...*...


...*...


...*...


"Selamat, Sayang!"


Orang pertama yang memberinya ucapan selamat adalah Kenn. Lelaki tampan itu menyematkan pada tubuh istrinya, sebuah selempang cantik bertuliskan nama dan gelar Jenn di sana. Disusul sebuket bunga ia berikan untuk wanita kesayangannya itu. Tak lupa pelukan hangat dan kecupan sayang yang selalu menjadi hadiah kecil di setiap saat.


"Udah, ini kampus woi! Sayang-sayangnya nanti di rumah aja," kata Farel menyudahi keromantisan pasutri itu. "Selamat, Jenn! Sukses terus, yah!" sambungnya. Ia memberikan sebuket coklat yang dirangkai berbentuk bunga.


"Makasih, Kak!" Jenn tersenyum menerimanya.


"Congrats, Kakakku yang paling cantik!" Kay memberikan pelukan lalu mencium pipi kiri dan kanan kakak iparnya.


"Thank you, sayangnya kakak!" Jenn tersenyum manis dan mencubit pipi Kay.


"Hedeh, gak kakaknya, gak adeknya. Sama aja," sindir Farel akan posesifnya Kenn dan Kay pada Jenn.


Tidak ketinggalan, Fio pun turut memberikan ucapan selamat serta hadiah kecil untuk Jenn. Tiba-tiba wajah cerah karena bahagia itu berganti sendu melihat apa yang diberikan Fio padanya. Netra indahnya telah menggenang tapi sebisa mungkin ditahannya.


"Jangan nangis di sini, Beb!" Fio mengusap pundak temannya. "Itu akan menyimpan kenangan kita saat bersamanya dulu."


Sebuah scrapbook dengan sampul cantik bertuliskan graduation, berisikan sejumlah foto-foto kenangan mereka saat masih bersama Rossa dulu di kampus ini.


Sudah tersimpan di hati ini sejak dulu ....


Batin Jenn sembari menatap ke atas agar air matanya tak sampai merebas.


Setelah itu, Fio juga memberikan tiga mahkota unik untuk ketiga temannya, disertai balon foil yang membentuk gelar baru mereka. Pastinya kebahagiaan kecil itu diabadikan dalam jepretan kamera digital.


Semoga saat ini bahagia yang sama juga menyapamu ....


Jenn masih sempat-sempatnya membatin di tengah kemeriahan kecil yang diciptakan orang-orang terdekatnya.


Tidak lama setelah itu, mereka pulang dan kembali ke rumah masing-masing.


"Sampai jumpa n'tar malem yah, guys! Bye," ucap Fio dan bergegas masuk ke mobil.


Begitu juga dengan yang lainnya. Kembali menempuh jarak yang tidak jauh, lima belas menit saja mereka pun sudah tiba di rumah.


Gundah yang sempat menyentuh hati Jenn seketika lenyap dan berganti dengan kemeriahan kecil yang dihadiahi ibu mertuanya.


Saat pintu rumah terbuka, ibu sudah menyambutnya dengan ucapan selamat dan pelukan sayang tentunya. Wanita paruh baya itu lalu menarik tangan Jenn dengan lembut, menuntunnya menuju ruang tengah.

__ADS_1


"Aaaa, Ibu!" Sekali lagi Jenn menghambur ke pelukan mertuanya. "Ngapain repot-repot segala, Bu? Nanti Ibu kecapean," ucap Jenn dengan wajah yang ditekuk. Namun, tidak dipungkiri bahwa dia bahagia dengan ini.


Ruangan itu dipenuhi balon-balon berwarna silver dengan tulisan graduation. Nama dan gelarnya, juga ucapan selamat dari sang ibu, terpatri indah pada dinding rumah. Meja yang terletak di tengah-tengah ruangan itu, terdapat sebuah cake kesukaannya di atas sana.


"Tenang saja, ibu tidak sendirian menyiapkannya. Ini sudah dari malam dibantuin mereka berdua." Menunjuk Kenn dan Kay. "Tinggal ibu keluarin saja dari persembunyiannya." Tertawa senang. "Cuman cake yang baru dibikin tadi pagi pas kalian pergi," sambungnya lagi.


"Makasih, Bu. Jenn sayang sama Ibu."


Mereka pun melanjutkan kebahagiaan kecil mereka dengan makan bersama siang itu.


...*****...


Di tempat lain, di kediaman keluarga Dharmawan. Rumah megah itu tampak sedikit berbeda dari biasanya. Terdengar hiruk pikuk berseliweran dari aktivitas dan kesibukan semua pelayan di rumah tersebut.


Tidak hanya Jenn dan keluarganya yang berbahagia di belahan kota lain. Di sini juga kebahagian yang mungkin lebih dari itu, dirasakan Rossa dan keluarga besar Dharmawan. Sejak kembalinya Rossa dan mertuanya dari rumah sakit, kehebohan terjadi di sana.


Dari hasil pemeriksaan dokter saat USG tadi, mami Lusy orang pertama yang menyaksikan sendiri bahwa calon cucunya adalah seorang bayi laki-laki yang tentunya akan menjadi pewaris keluarga Dharmawan.


Sebenarnya bukan menjadi persoalan jika bayi itu ternyata perempuan. Wanita paruh baya itu tetap senang dan menerimanya dengan bahagia. Tetapi kembali lagi di kalangan mereka, cenderung menginginkan anak laki-laki untuk menjadi penerus keluarga. Hal itu merupakan sebuah impian dan kebahagiaan besar bagi sebagian besar kaum elite ini. Apalagi mengingat Alvino adalah anak tunggal.


Oleh karena itu, mami Lusy berniat membagi sukacita ini bersama semua karyawan yang bernaung di bawah PT. Dharma Jaya. Dalam sekejap saja, perusahaan infrastruktur terbesar di kota tersebut, dihebohkan dengan kabar bahagia ini. Hal itu menjadi trending topik satu perusahaan.


Tidak hanya itu, beberapa relasi bisnis pun mengetahui hal ini. Kerjaan siapa lagi kalau bukan Tuan besar Dharmawan. Dengan bangganya lelaki paruh baya penuh wibawa itu mengumumkannya.


"Lo gak senang, Vin?" tanya Alex.


Lelaki itu hanya diam dengan wajah yang sulit ditebak. Pura-pura fokus dengan pekerjaan, padahal hati dan pikirannya tengah kacau tak menentu.


Papi emang selalu berlebihan ….


"Lo gak ada rasa bahagia sama sekali gitu?" tanyanya sekali lagi.


"Ck, berisik lo." Menghentikan pekerjaannya untuk sejenak lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Gue mesti gimana?" Memejamkan matanya.


Alex mengerutkan keningnya. Pertanyaan konyol apa ini?


"Gimana apanya?" Balik bertanya.


"Apa yang harus gue lakukan? Gue mau ngomong ke dia, tapi gak tau gimana caranya?" Alvino mengacak rambutnya sedikit frustasi.


Alex melongo tak percaya. Sedetik kemudian pecah tawa laki-laki itu memenuhi ruangan kerja Alvino.


Bolpoin di tangannya, ia layangkan tepat di kepala Alex. Namun, hal itu justru membuat teman sekaligus sekretaris kurang ajar itu semakin terbahak.


"Apanya yang lucu? Orang lagi bingung malah diketawain." Melotot marah.


Dengan masih saja tertawa, Alex mencoba berbicara pada teman sekaligus atasannya.

__ADS_1


"Lo beneran Alvino Dharmawan kan?" tanya Alex di sela-sela tawanya. "Gue gak salah denger nih? Seorang Alvino gak tau ngadepin cewek?" Lagi-lagi tawa itu semakin menjadi.


Jelas saja Alex merasa ini sebuah kekonyolan. Wanita normal mana yang tidak akan bertekuk lutut melihat ciptaan Tuhan yang satu itu. Tidak terhitung banyaknya kaum hawa yang dengan sadar dan rela memberikan segalanya untuk lelaki satu ini.


Bukan sulap bukan sihir, hanya dengan tatapan saja tidak perlu berbuat apapun, para wanita akan melemparkan diri dengan mudahnya. Lalu lelucon apa di siang ini?


"Sia*lan lo!"


Alvino bangkit dari duduknya dan berjalan menuju sofa. Ia lalu menghempaskan tubuhnya dengan gerakan malas.


Alex masih terbahak. "Hei, lo sehat kan? Ada apa sama lo?"


"Lo kalo masih mau ketawa, keluar!" perintah Alvino.


"Selow, Bro!" Menghentikan tawanya dan kembali ke mode serius.


"Ok, satu saja pertanyaan gue." Berdiri tepat di hadapan Alvino.


"Lo udah mulai suka sama dia?"


..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...


...Selanjutnya …...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Hai, hai 👋


Masih menunggu yah 🤭


Makasih yah buat yang selalu setia nungguin 🤗🥰


Jangan lupa like dan komen yah 🙏😊


Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗


Ig author : @ag_sweetie0425


_____________________


Jangan lupa mampir juga ke sini yah, genkz ✋ Ini karya teman aku, gak kalah seru loh ...

__ADS_1


Makasih sebelumn



__ADS_2