Metamorfosa Rasa (My Glyn)

Metamorfosa Rasa (My Glyn)
Berkonsep Terburu-buru


__ADS_3

...~ Happy Reading ~...


...________________...


...*...


...*...


...*...


Mesin waktu menunjukkan pukul 10 pagi, dan Rossa baru saja terbangun.


"Selamat pagi, Nona!" Pelayan yang menemani dan menjaganya memberi salam.


"Pagi, Tari." Rossa melihat sekelilingnya. "Mami mana?" tanyanya.


"Nyonya di kamar mandi, Nona," jawab sang pelayan sambil tersenyum.


Rossa melirik ke arah gadis itu agak sinis. "Gak ada mami, Tariiiiii. Ganti dong panggilnya." Bumil cantik itu mulai risih.


Pelayan muda itu tertawa kecil lalu mengangguk. "Baiklah, Kakak cantik." Senyumnya semakin mengembang. "Ada yang Kakak butuhkan?"


Rossa terkekeh. "Gitu dong." Gadis itu bangun lalu duduk bersandar pada bantal yang tersusun di belakangnya. "Gak papah, aku bisa sendiri kok." Menolak saat pelayan muda itu ingin membantunya. "Tolong ambilkan minum dong, Tar," pinta Rossa.


Pelayan muda itu berdiri lalu bergerak cepat mengambil segelas air minum untuk menantu majikannya.


"Makasih, Tari." Rossa mengambilnya dan segera meneguknya hingga tandas. Saat ia hendak mengembalikan gelasnya, gadis itu terperangah melihat benda yang tidak asing lagi, tersemat di jari manisnya. Perasaan kaget bercampur senang membuat gelas di tangannya terlepas dan hampir jatuh jika saja tidak ditangkap oleh Tari.


"Eh, maaf. Habis aku seneng banget udah ketemu ini." Membolak-balikkan tangannya melihat cincin yang tengah melingkar di jari manisnya. "Aku pikir udah hilang, aaaa seneng banget aku, Tariiiiii." Suara manjanya membuat pelayan muda itu tertawa.


Akh, Nona orangnya selucu ini.


"Memangnya sempet hilang gitu, Kak?" tanya Tari.


Rossa mengangguk. "Aku nyariin sampai pusing loh." Tiba-tiba ia seperti menyadari satu hal. "Tapi … kenapa bisa langsung ada di jari aku? Siapa yang udah dapat dan masangnya?" tanyanya bingung.


Sang pelayan yang sudah tahu tentang hal itu, pura-pura tidak tahu lalu mengedikan bahunya. Tiba-tiba ibu mertuanya keluar dari kamar mandi dan menghampirinya.


"Mantu mami udah bangun yah?" Rossa kaget dan langsung mengangkat pandangannya yang sedari tadi hanya terfokus pada cincin di jarinya.


"Pagi Mami. Habis mandi yah? Rossa mau mandi juga, Mi." Sudah menurunkan kakinya hendak turun dari tempat tidur, tetapi dicegah mertuanya.


"Eh, gak bisa sendiri. Mami bantuin tapi." Takut jika menantunya melakukan hal itu sendirian. Khawatir akan hal-hal buruk yang mungkin saja bisa terjadi.


Rossa mengangguk patuh. "Tapi sebelumnya mami tebak dulu ini apa?" Menutup jari manis di tangan kirinya dengan tangan sebelah kanan.


Mami Lusy mengernyit. "Apa? Mami gak tau." Mengedikan bahu dengan kedua tangan yang terbuka.

__ADS_1


"Taraaaaaaa!"


Rossa memperlihatkan cincin di jari manisnya. Entah mengapa ia begitu senang menemukan benda bulat tersebut. Itu memang benda berharga, tetapi awal ia memakainya terasa biasa saja. Tidak ada perasaan bahagia yang berlebihan seperti saat ini. Ia pun jarang memakainya, hanya jika keluar saja. Waktu benda itu hilang pun ia tidak khawatir, hanya saja ia takut. Takut menyakiti hati mertuanya, bukan Alvino. Namun, saat ini ia begitu sangat bahagia menemukannya. Mungkin karena perlakuan manusiawi dari Alvino beberapa jam lalu, membuat suasana hatinya begitu baik.


Mami Lusy pun ikut senang melihatnya. "Dapat di mana, Sayang?" tanyanya penuh antusias.


"Gak tau, tiba-tiba aja udah terpasang sendiri di jari Rossa. Aneh yah, Mi?"


Mertua dan menantu itu keduanya tampak berpikir. Berbeda dengan sang pelayan yang hanya tersenyum kecil melihatnya.


"Arrgh, udah ah. Mandi aja dulu, yang penting udah nemu." Mami Lusy dan Tari membantu memegangi tiang infus dan menuntun Rossa ke kamar mandi.


Butuh waktu lebih dari 30 menit untuk Rossa membersihkan tubuhnya. Setelah kembali dari kamar mandi dengan tampilan yang lebih segar dan rapi, gadis itu memulai kegiatan makannya.


Kok makanannya ini lagi? Ah, gak baik mengeluh. Mereka sudah membuatkannya sepenuh hati. Mari kita makan, sayang …


Rossa membatin sembari mengelus perutnya. Meskipun iya agaknya tidak berselera dengan menu yang ada.


"Kenapa? Bosan sama menunya?" Tahu apa yang tengah dipikirkan sang menantu. "Itu perintah suamimu. Dia hanya mengikuti saran dokter," ucap mami Lusy dengan senyum.


"Memangnya Rossa sakit apa, Mi? Kok makanannya dibatasi, berasa kurang garam juga." Penasaran.


Mami Lusy tersenyum menutupi kegundahannya bila berkaitan dengan sakit Rossa. "Gak apa-apa kok, Sayang. Hanya saja kemarin itu tekanan darah kamu sedikit naik, jadi disarankan makan yang beginian," ucap mami Lusy.


Rossa manggut-manggut dan melanjutkan makannya.


...*****...


Alvino tengah disibukkan dengan pekerjaan yang cukup banyak hari ini. Padahal lelaki tampan itu berharap bisa pulang secepatnya agar dapat menemui sang istri. Namun, itu semua hanya angan belaka. Selalu saja ada banyak hal yang menantinya di kantor.


Tok,


Tok,


Tok.


"Masuk!"


Alex membuka pintu dan melangkah masuk. Sekretarisnya itu melaporkan perubahan jadwal rapat sesuai permintaan Alvino. Karena ingin cepat pulang, Alvino meminta agar waktu rapat dimajukan saja.


"Waktunya sudah dimajukan jam 1 siang ini, Tuan," lapor Alex.


"Ok, terima kasih, Lex! Oh ya, aku mau minta tolong lagi. Tolong carikan desainer interior dan minta untuk temui aku sekarang, sebelum rapat."


Alex mengangguk seraya meminta diri lalu segera meninggalkan ruang kerja atasannya dan melakukan apa yang diperintahkan padanya.


...*****...

__ADS_1


Jarum jam berputar dengan cepat, waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Alvino baru saja selesai memimpin rapat. Lelaki tampan itu berjalan keluar dari ruangan dengan raut senang yang bisa terbaca jelas.


Bukan saja karena hasil rapat yang memuaskan. Namun, karena ia bisa segera kembali ke rumah sakit menemui gadis manis yang sudah berhasil menghidupkan cinta yang hampir meredup dalam hatinya.


Alvino buru-buru melangkah ke ruang kerjanya dan cepat-cepat membereskan sisa pekerjaan di atas meja kerjanya. Tidak membutuhkan waktu lama, tepat pukul setengah 4 sore, ia segera menyudahi dan bangkit dari kursi kebesarannya.


Namun, begitu di dalam lift, Alvino menepuk jidatnya teringat akan satu hal penting lagi baginya.


"Kita ke rumah dulu, Lex. Aku melupakan sesuatu," perintah Alvino begitu keduanya masuk ke mobil.


"Ok!"


Alex segera menginjak pedal gas dan mobil mewah itu pun melesat dengan cepat dari sana.


Tiga puluh menit berlalu, mobil yang dikendarai Alex tiba di kediaman Dharmawan. Alvino keluar dan berjalan masuk dengan terburu-buru. Sepertinya semua hal yang ia lakukan di hari ini berkonsep sangat terburu-buru.


Tidak sabar untuk melangkah lebih cepat lagi, lelaki berlesung pipi itu berlari kecil menaiki tangga. Bisa ia dengar dengan jelas, hiruk-pikuk kecil terjadi di atas sana, tepat di sebelah kamarnya. Ia melewati kamar tidurnya tersebut, memasuki sebuah ruangan besar yang sudah disulap seindah mungkin. Satu lagi pekerjaannya hampir selesai.


Kedua sudut bibirnya terangkat melengkungkan sebuah senyum indah, memperlihatkan lesung pipi yang menjadi daya tarik calon ayah satu ini. Calon ayah? Ya, Alvino kini mengakui hal itu.


..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...


...Selanjutnya …...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Hay semuanya 👋 Ketemu lagi 🤗


Terima kasih buat yang selalu setia menunggu 🙏


Terima kasih buat segala bentuk dukungannya 🙏


Jangan lupa untuk selalu tinggalkan like dan komen yah 😍


Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗


Ig author : @ag_sweetie0425


____________________

__ADS_1


__ADS_2