Metamorfosa Rasa (My Glyn)

Metamorfosa Rasa (My Glyn)
Nasihat Sahabat


__ADS_3

...~ Happy Reading ~...


...________________...


...*...


...*...


...*...


Terdengar bunyi bell dari luar menghentikan gerakan seorang wanita paruh baya yang tengah berkutat dengan alat masak.


Dua orang tengah berdiri di balik pintu rumah sederhana dan minimalis.


"Siapa yang datang?"


Wanita berusia senja itu mencuci tangan sejenak lalu mengeringkannya cepat, kemudian berjalan ke arah depan dan membuka pintu.


Tampak sepasang muda-mudi berdiri di depan sana. Gadis itu tersenyum cerah begitu melihat ibu mertua dari sahabatnya.


"Tante!" pekiknya riang langsung menyalami dan memeluk tubuh tua itu.


"Eh, udah pulang liburan toh?" Gadis itu mengangguk masih dengan senyum manisnya.


"Selamat siang, Tan!"


Tak ketinggalan seorang lelaki memberi salam.


"Siang, Nak. Ayo, masuk!"


Wanita paruh itu lalu mengajak dua sahabat menantunya untuk masuk ke dalam.


Ketiganya berjalan menuju ruang keluarga minimalis yang terhubung langsung dengan ruang makan dan area kitchen.



"Ini, Tan. Ada oleh-oleh buat Tante dan Kay," ucap teman lelaki sambil memberikan dua goody bag untuk wanita cantik berusia senja itu.


"Ah, Terima kasih, Nak. Lain kali jangan repot-repot seperti ini. Tante tidak akan terima lagi." Sedikit protes.


Dua anak muda itu hanya tertawa kecil.


"Jenn ada kan, Tan?"


"Ada. Dia di kamar." Wanita itu diam sejenak dengan helaan nafas yang terdengar berat. "Dia …."


"Udah, Fio udah cerita, Tan." Melanjutkan ucapan wanita paruh baya itu yang seolah terdengar berat tuk melanjutkannya.


"Tante tenang aja, nanti kita coba ngomong sama dia."


Sesudah itu, keduanya lalu melangkah menuju kamar Jenn. Sedangkan wanita cantik berusia senja itu kembali menyelesaikan kegiatan masak memasaknya.


Tok,


Tok,


Tok.

__ADS_1


Tak ada sahutan dari dalam. Sekali lagi gadis itu mencoba mengetuk pintu kamar Jenn, tetap saja tak ada sahutan.


Ia lalu berinisiatif untuk masuk saja, toh suami dari sahabatnya itu sudah berangkat kerja. Begitu pikirnya.


Tidak menunggu lama, ia pun langsung membuka pintu dan mengintip. Matanya langsung tertuju ke tempat tidur, nihil.


Pandangannya kembali mencoba menyapu ruangan minimalis itu. Tatapannya jatuh pada pantulan cahaya dari balik jendela. Tampak seseorang yang ia cari tengah duduk bersandar pada kursi dengan sebuah buku di tangannya. Tatapan kosong terlihat jelas dari sorot matanya yang tidak fokus pada buku bacaannya.



"Jenn," sapanya pelan.


Seseorang di sana menoleh. Tampak senyum kecil tersungging di bibirnya.


"Put," panggil Jenn.


Putri yang masih berdiri di ambang pintu langsung melengos masuk dan menghampiri sahabatnya. Keduanya lalu berpelukan sebentar.


"I miss you, Beb."


Sejujurnya … Putri sedikit kecewa karena respon sahabatnya tidak seantusias dan seramai dulu saat mereka bertemu.


"Miss you too." Jenn masih tersenyum lalu melepaskan pelukannya. "Sendiri? Reza mana?" tanya Jenn lagi.


Putri menoleh sejenak ke arah pintu. Tampak seorang lelaki berdiri di sana dengan senyum yang mengembang.


"Hai, cantik." Reza mencoba menggoda gadis manis yang tampak tak bersemangat itu.


"Boleh masuk?" tanyanya.



"Gimana liburannya?" tanya Jenn datar.


Putri menghela nafasnya berat. "Come on, Baby. Don't ask about us. Harusnya kita yang bertanya tentang Lo." Putri mendekat lalu ikut berbaring di samping Jenn dengan sebelah tangan yang menopang kepalanya.


Jenn berguling pelan mengganti posisi tidur menjadi telentang. Pandangannya tertumbuk pada langit-langit kamar seolah melambungkan asa yang terhalang dan tak tersampaikan.


"Apa tentang gue yang Lo gak tau?" Jenn balik bertanya.


"Lo pasti tau apa yang menjadi harapan gue saat ini." Jenn menjeda sembari menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan dengan perlahan. "Gak banyak, Put. Gue hanya pengen apa yang pernah hilang dari hidup gue kembali lagi. Bukan hal yang besar kan? Gak berlebihan kan? Apa permintaan gue keterlaluan, Put?" Sederet pertanyaan yang meluncur dengan perlahan dari mulut Jenn, cukup menggambarkan keputusasaannya.


"Jenn, ini bukan masalah besar atau kecilnya permintaan Lo. Gak ada yang salah sama sekali dengan permintaan Lo. Tapi ini tentang kesabaran dan keikhlasan Lo dalam menjalani takdir. Gue pikir Lo belum bisa merelakan semuanya, Lo gak ikhlas, Jenn. Coba Lo tenang, Lo pahami lagi, Lo mikir lagi dengan baik. Apa Lo udah benar-benar ikhlas selama ini?"


Segelintir kata-kata yang Reza ucapkan, cukup menusuk sampai ke relung hati Jenn. Untuk sesaat gadis itu terdiam dengan pikiran yang berlari mundur ke beberapa waktu lalu.


Reza berjalan masuk dan bergabung dengan keduanya, duduk pada sofa kecil yang berada di sudut kamar itu. Sementara Putri tetap diam.


"Lo belum ikhlas, kan?" Lanjut Reza kembali. "Kalo Lo memang udah benar-benar ikhlas, Lo gak akan terganggu dengan kehidupan Fio maupun omongan dan pendapat orang lain. Alasannya apa sampai Lo harus insecure? Toh, Kenn gak mempermasalahkan ini sama sekali. Dia gak memaksa seperti kebanyakan suami lainnya yang menginginkan keturunan. Mertua Lo apalagi, gak pernah menuntut buat Lo harus jadi menantu sempurna seperti kebanyakan mertua lainnya. Semua orang mendukung Lo, semua orang berupaya untuk memupuk semangat Lo, berupaya membahagiakan Lo. Apa Lo gak bisa menghargai itu sama sekali?"


Setiap ucapan Reza bagaikan panah yang menancap tepat di dada Jenn. Gadis itu bergeming.


"Lo malah fokus dengan pikiran Lo sendiri dengan mengabaikan semua orang, terutama suami Lo. Lo pikir cuman Lo doang yang terluka? Cuman Lo doang yang kehilangan? Suami Lo juga, keluarga Lo juga, kita sebagai teman Lo juga ngerasain apa yang Lo rasa. Jangan menutup mata dan hati lantas buat Lo jadi seegois ini. Pikirkan juga perasaan kita semua terutama Kenn."


Jenn terenyuh mendengar itu semua. Gadis itu tertegun mengingat semua yang dilakukan suaminya selama berbulan-bulan. Ya, laki-laki itu tidak pernah berubah. Dia masihlah Kenn yang dulu. Kenn yang mencintainya dengan seluruh jiwa raga. Cinta lelaki itu tidak pernah pudar dan tidak berkurang sedikitpun meski termakan waktu.


"Cobalah untuk mengikhlaskan dan menjalani semua dengan berbesar hati. Tuhan melihat hati, bukan obsesi kita dalam hal meminta. Dia tahu kapan kita harus bahagia. Ini otoritasnya, kita hanya perlu banyak bersabar."

__ADS_1


Perlahan Jenn bangun dan menatap kedua sahabatnya bergantian. Sepersekian detik, butiran bening luruh sudah dari pelupuk matanya. Rasa kecewa, kehilangan, dan obsesi yang membelenggunya perlahan terlepas, menyisakan lega yang merembes memenuhi seluruh ruang dalam hatinya.


"Thank you, Za."


Ada senyum dibalik tangisnya.


..._____πŸ¦‹πŸ¦‹ MR πŸ¦‹πŸ¦‹_____...


...Bukannya tak mau merelakan,...


...Tapi hatiku terlalu lemah tuk mengikhlaskan....


...Mungkin juga sebuah penyesalan yang sudah tak semestinya....


..._AG Sweetie_...


...πŸ¦‹...


...Selanjutnya …....


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Hola sayang²ku 😘 Untuk up kali ini, part Jenn dan Kenn dulu yah, hehehe 😁


Pasangan ini lamaΒ² kok kayak hilang πŸ˜… padahal kisah mereka kan harus lanjut di sini 🀭


Untuk kesayangan Rossa, tunggu 2 part lagi yah 😍 otor harus adil soalnya 😁


Ok, jangan lupa apa?????????????


Like πŸ‘


Komen πŸ’¬


Kembang 🌹


Kopi β˜•


Etdah banyak amat 🀣🀣🀣 Gak kok, like komen aja cukup sayang 😘


Makasih buat kalian semua dan ….


Sampai jumpa di episode berikutnya πŸ€—


__________________


Kalo lama nunggu up berikutnya, boleh dong mampir ke karya teman otor di bawah ini πŸ‘‡


__ADS_1


__ADS_2