
...~ Happy Reading ~...
...____________________...
...*...
...*...
...*...
Kehebohan terjadi di depan rumah sakit saat Reza menggendong Rossa keluar dari mobil. Para perawat maupun dokter, segera berlari dan sigap menyiapkan brankar.
Dengan cepat dan hati-hati, Reza meletakkan tubuh Rossa ke atas brankar, lalu bersama beberapa perawat lainnya mereka segera mendorong brankar Rossa menuju IGD.
Mami Lusy yang sempat pingsan tadi, kini telah sadar dengan ketakutan besar menanti kedatangan putranya. Belum juga menghadapi Alvino, wanita tua itu sudah lebih dulu menghadapi hujaman pertanyaan dari sang dokter.
Lagi-lagi mami yang salah. Apa yang harus mami bilang sama Vino?
Sesal wanita berusia senja itu. Langkahnya terlalu lemah untuk mengejar sang menantu yang hampir memasuki ruangan IGD. Wanita itu masih terpaku di tempatnya dan menatap mereka yang mendorong brankar sang menantu menjauh.
Selamatkan mereka berdua ya, Tuhan. Jangan biarkan hal buruk terjadi! Hukum saja hambaMu ini.
Tubuh yang masih gemetar, dengan langkah tertatih-tatih, mami Lusy berjalan gontai ke arah instalasi gawat darurat. Setiap hentakan kakinya adalah lantunan doa dan harapan.
Sementara itu di depan pintu IGD, Reza harus berbesar hati membiarkan Rossa dibawa masuk oleh para para dokter dan perawat.
__ADS_1
Saat Reza ingin berbalik, ia tersentak dengan tangan lembut yang meraih jemarinya dan menggenggam lemah. Ia merasakan getaran hebat dan dingin yang teramat dari telapak tangan itu.
"Sa," gumam Reza ketakutan. Ia mendekat dan ikut menggenggam tangan sahabatnya itu. "Gue mohon kuatlah, Sa. Jangan buat gue merasa bersalah dengan semua ini, gu-gue siap jika harus dibunuh bang Vino, tapi setelah itu gue mau liat lo dan bayi lo selamat, Sa! Janji sama gue, lo akan baik-baik saja!" Bahkan Reza sudah tidak bisa menahan ketakutan yang menghimpitnya.
"A-anakku, to-tolong a-anakku!" Rossa tidak lagi bisa banyak berkata dengan kondisi nafas yang seolah tinggal di ujung hidung.
"Dokter akan menolong kalian berdua, Sa. Lo harus kuat." Reza pun menangis. "Lo mau bertemu Jenn dan Putri 'kan? Mereka di sini, Sa. Mereka mau ketemu sama lo. Berjuanglah, dan gue bakal mempertemukan kalian, meskipun gue akan dihukum bang Vino." Tangan Reza ikut bergetar.
Ia bisa melihat segaris senyum kecil terlukis di wajah sahabatnya, bersamaan dengan setitik cairan bening yang menetes dari sudut mata gadis ayu nan lembut itu.
Genggaman tangan mereka terlepas dengan Rossa yang hanya bisa mengucapkan kata 'anakku' berulang kali, hingga tubuhnya tertelan habis pintu di depan sana.
Reza menyandarkan tubuh lemahnya pada dinding di depan ruang IGD tersebut, menyesali semua yang terjadi.
Selamatkan Rossa dan bayinya, Tuhan! Doa Reza dalam hati.
Reza langsung menuntun orang tua itu duduk di bangku yang tersedia di depan sana. "Rossa sudah ditangani oleh dokter, Tan. Tante yang tenang yah."
"Gimana bisa tenang, Za. Tante yang salah." Mami Lusy mulai menangis. "Kenapa hal buruk selalu datang padanya? Dia gadis yang baik, kenapa hidupnya tidak bisa bahagia saja," lirih mami Lusy dalam tangisnya.
Tidak lama setelah itu, papi Dharma tiba di rumah sakit. Beliau yang ingin menanyakan banyak hal, diurungkan melihat istrinya yang tampak sedih dan ketakutan. Tidak tanggung-tanggung, Tuan besar keluarga Dharmawan itu, menghukum beberapa pria berbaju hitam yang tengah berbaris di depan ruang IGD.
"Bodoh! Tidak berguna! Apa yang kalian kerjakan hah? Untuk apa kalian ditempatkan di dekatnya jika dia tetap saja terluka?" Suara baritonnya menggema di langit-langit rumah sakit.
Siapapun yang mengenal lelaki paruh baya itu, pasti kaget, karena untuk pertama kalinya mereka tahu bahwa beliau bisa juga marah. Tidak pernah lelaki tua itu marah sekalipun, tidak seperti putranya.
__ADS_1
Papi Dharma terkenal dengan kesabaran dan keramahannya, tetapi kali ini beliau berbeda. Tentu saja berbeda, nyawa sang menantu kesayangan dan calon cucu pertama yang akan menjadi pewaris Dharmawan berikutnya, dalam bahaya. Siapapun dia pasti akan marah dan tidak bisa terima.
"Pi, ini rumah sakit. Lagian ini salah mami, bukan mereka." Mami Lusy tidak ingin mengkambinghitamkan siapapun dalam hal ini. Ia lebih menyalahkan dirinya sendiri.
Baru saja papi Dharma menekan emosinya agar tidak meluap, ketegangan tiba-tiba berkuasa lagi. Dari kejauhan beberapa meter di depan sana, seorang lelaki tampan dengan wajah panik berlari kencang menerobos siapapun, apapun di depan mata tak mau tahu.
Tamatlah riwayatmu, Reza! Batin Reza ketakutan.
"Glyn-ku bagaimana?"
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Selanjutnya .......
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Holaaaa, AG kambek 😁
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen yah 😍
Nantikan bab selanjutnya siang nanti 🤗