
...~ Happy Sunday ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
"Udah makan?" Alvino memecahkan keheningan yang tercipta beberapa menit lalu.
Rossa mengangguk tanpa menoleh. Gadis itu begitu kaku dan juga malu, tidak tahu harus seperti apa dan bagaimana menghadapi situasi seperti saat ini. Diam sedikit tidak tenang di dalam selimut, dengan mata yang terus tertuju pada layar tv.
"Eh?" Kaget karena layar tv yang tiba-tiba mati. Rossa melirik ke sampingnya, laki-laki yang duduk di sana tersenyum cerah tanpa dosa.
Alvino yang merasa diabaikan oleh istrinya, segera meraih remot yang berada tidak jauh darinya dan mematikan tv.
"Kenapa hm?" Berdiri dari tempatnya berjalan santai menuju dispenser yang tersedia di dalam ruangan tersebut. "Aku dari tadi belum makan, bela-belain datang pengen ketemu istri, malah dicuekin? Oh, sakit sekali epribadeeeh." Gluk, gluk, gluk. Meneguk segelas air dingin hingga tandas dan kembali ke sisi istrinya. "Dan aku gak suka itu." Kembali duduk di tempat semula.
"Kak!?" Rossa kaget langsung menyibak selimut dan terduduk. "Ke-kenapa belum makan?" tanyanya gugup bercampur khawatir.
"Istriku sakit, tidak ada yang masak untukku," ucap Alvino dengan raut sedih dibuat-buat.
Rossa tersenyum kecut. Sehat pun kamu tidak akan pernah sudi menyentuh masakanku.
"Ada banyak pelayan di rumah, dan Kakak tidak perlu harus kelaparan dengan alasan tidak masuk akal seperti itu." Rossa berucap tanpa menatap Alvino, gadis itu menunduk. "Lagian masakanku tidak pernah disentuh suamiku, apalagi sampai membuatnya sesuka itu." Terkekeh kecil.
Alvino tersenyum dan berdiri dari tempat duduknya.
"M-ma-mau apa, Kak?" tanya Rossa tiba-tiba panik.
Tubuhnya kembali berbaring perlahan dengan dorongan lembut tangan besar Alvino.
"A-ak β¦."
Ucapannya terhenti dengan gerakan lembut Alvino membungkamnya mesra.
"Bernafas, Sayang," bisik Alvino dengan satu senyum yang cukup mampu melambungkan Rossa ke angkasa.
Aaaaaa, apa ini? Aku takuuuuuttttt, takut jatuh dari tingginya ekspektasi.
Rossa menjerit dalam hati. Sementara Alvino bergerak meninggalkannya, berjalan menuju pintu lalu menguncinya. Melihat itu, lagi-lagi Rossa panik.
__ADS_1
"Ke-kenapa dikunci, Kak?" tanyanya takut. Hal itu terasa horor bagi Rossa. Benar saja, suasana menyeramkan itu semakin terasa ketika Alvino sudah berdiri di sampingnya dan memintanya untuk bergeser. "U-un-untuk apa?" Raut cemas dan takut amat kentara.
"Untuk tidur denganmu, apalagi memangnya?" Berucap enteng tanpa beban. Tidak perlu menunggu untuk waktu lama, Alvino sudah berbaring di samping istrinya. "Bernafas, Sayang, nanti sesak lagi kayak kemarin gimana? Aku gak sanggup, aku takut." Alvino memiringkan tubuhnya lalu memeluk tubuh Rossa yang padat berisi. Semua hal laki-laki itu lakukan dengan biasa saja seolah tidak pernah ada keasingan di antara mereka sebelumnya. Tanpa ia sadari bahwa, ia tengah meledakkan bom di balik dada istrinya. Gadis itu merasa meledak dan hampir terbunuh dengan setiap pergerakan Alvino. Rossa tercekat, dan bahkan ia lupa bagaimana caranya bernafas. Gila, ia takut kejadian kemarin terulang lagi. Dia harus menghentikan Alvino.
"Maaf, Kak. Bisa gak? Gak usah kayak gini juga." Jujur Rossa mulai risi dan tidak enak dengan situasi seperti ini.
Terdengar Alvino membuang nafasnya sedikit berat. "Bisa gak? Kayak gini beberapa menit lagi. Aku lelah, Sa. Aku capek, aku cuman pengen meluk kamu bentar aja."
Alvino semakin merapatkan tubuhnya dan semakin mengeratkan pelukannya. Rossa memilih diam tak menolak lagi, dan membiarkan suaminya itu melakukan apapun yang dia mau. Toh dari dulu semua hal yang dia lakukan, tidak pernah sekalipun Rossa membantah. Dia selalu se-bossy itu.
Hening β¦.
"Kau pikir aku tidak tahu jika masakan yang senang ku makan hari itu adalah masakanmu? Kau pikir waktu itu aku minta mami buatkan lagi karena mami yang masak?" Menjatuhkan kepalanya di bahu Rossa. "Aku bisa bedakan masakan kamu dan mami tanpa keliru, Sayang." Mencium pundak Rossa yang dilapisi baju. "Cepatlah sembuh dan masak lagi untukku, buatlah aku semakin mencintaimu, Sa."
Rossa terperanjat. Matanya yang sedari tadi tertuju ke depan, seketika menoleh ke samping memandangi Alvino tanpa ragu.
Membuatmu semakin mencintaiku? Memang cinta itu ada?
Batinnya saja bahkan bingung dan tidak pernah merasakan sedikit saja cinta yang baru terucap dari bibir lelaki di sampingnya ini.
"Maafkan aku," lirih Alvino. Ia pun membalas tatapan istrinya dengan lembut. "Berikan syarat apa yang harus aku lakukan agar bisa mendapat maafmu dengan pantas?" Ada cinta dan kesungguhan dalam binar mata Alvino. Sayangnya, Rossa tidak menyadari itu. Bukan, lebih tepatnya dia tidak mengerti dan memahami hal semacam ini. Bumil satu itu terlalu polos dalam mencinta.
"Kan sudah dimaafkan. Kok minta maaf lagi?" Tidak pekanya Rossa.
"Apa tadi, Kak?" Rossa memotong ucapannya. "Mengakui anak aku? Once again, say it once again, please!" Lirih Rossa.
"Dia anakku. Aku mengakuinya, Sayang." Alvino tersenyum dengan tangan yang sudah berpindah ke perut Rossa.
"Kamu sadar, Kak?" Suara Rossa bergetar, netra indahnya telah tertimbun genangan yang hampir merapuh.
"Ya, aku sadar, Sayang. Kata siapa aku tidak mengakuinya? Aku hanya tidak mengucapkan apa-apa, bukan tidak mengakuinya. Ya, aku memang pernah marah dan dengan bodoh mengatakan jika aku ragu padanya. Tapi kamu tahu? Aku terluka mengatakan itu, karena dari awal aku sudah tau bahwa dia milikku." Mengelus lembut perut besar istrinya. "Dan harus kamu ingat, seberapa banyak aku meragukannya, tidak akan ada yang bisa membantahkan jika aku yang pertama dan satu-satunya yang menyentuhmu."
Luruh sudah bendungan di netra indah Rossa. Gadis itu menangis tanpa kata. Pandangannya pada Alvino tersamarkan genangan yang terus turun rebas ria.
Melihat itu, Alvino tersenyum dan membawa Rossa dalam dekapannya, membenamkan wajah cantik gadis itu di dadanya. Membiarkannya menangis meluapkan segala rasa sesaknya.
"Kalau tau kamu yang pertama dan satu-satunya, kenapa mencaci maki aku seperti kemarin? Kenapa mengataiku wanita j***ng? Itu sakit sekali, kamu jahat, jahat." Rossa menangis semakin keras sambil memukul dada Alvino berulangkali.
"Maaf, maafkan aku. Maaf untuk setiap perkataanku yang telah banyak menyakitimu." Mengecup kepala istrinya dengan sayang. "Aku ... aku hanya cemburu dan ngomong sembarangan. Ayo pukul lagi, Sayang. Atau tampar saja aku, lakukan apapun padaku sesukamu, do it, Honey!" Alvino menahan tangan Rossa dan meletakan ke pipinya ketika ia merasakan pukulan gadis itu melemah.
"Banyak yang sudah aku janjikan saat kamu tertidur kemarin. Alvino mengangkat tangan menunjuk jari manisnya. "Ini salah satunya. Aku berjanji untuk tidak akan pernah melepaskannya lagi, dan aku pun meminta hal sama darimu." Mengangkat tangan Rossa yang terdapat cincin lalu mengecupnya mesra. "Tahukah kamu bahwa aku mulai mencintaimu? Meskipun kecil, tapi rasa itu ada, dann aku ingin berusaha menumbuhkannya agar makin besar dan dalam."
Rossa semakin menangis dan makin membenarkan wajahnya di dada Alvino.
__ADS_1
Bahagiaku sesederhana ini, Tuhan!
..._____π¦π¦ MR π¦π¦_____...
...Bukan dunia dan seisinya yang kuinginkan....
...Hanya cintamu agar hidupku lebih berarti....
...*Rossa Glyn*...
...π¦...
...Selanjutnya β¦...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Hay semuanya π Ketemu lagi π€
Oh iya, aku mau ngucapin, Selamat tahun baru 2022 sayangΒ²ku π₯³π₯³π₯³ Semoga tahun ini lebih baik dari tahun kemarin, dan diberikan kesehatan bagi kita semua. Amin!
Maaf juga yah, kemarin sibuk merayakan tahun baru dengan keluarga jadi tidak sempat up π
Terima kasih buat yang selalu menunggu π₯°
Jangan lupa untuk selalu like dan komen yah π
Sampai jumpa di episode berikutnya π€
Ig author : @ag_sweetie0425
__________________
Ada lagi, guys ... rekomendasi bacaan awal tahun π Bagus banget loh, sambil nunggu bab selanjutnya, bolehlah mampir sebentar π₯°
__ADS_1