
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
Tangan yang sudah hampir membuka pintu saat itu seketika terhenti. Tanpa berbalik, Alvino memberikan kesempatan pada Rossa untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan.
Rossa menatap lekat punggung lebar laki-laki yang membelakanginya saat ini. Gadis itu menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskan dengan perlahan, mencoba meredam gejolak hati yang berusaha mencegah lisannya. Namun, logikanya yang telah lama terkuras beban pikiran selama ini, terus mendesaknya untuk membuka mulut.
"Kau punya pilihan lain?" tanya Alvino dengan tetap pada posisinya.
Rossa berusaha mengumpulkan semua keberanian yang tersisa dalam jiwanya. Ia memejamkan mata dan melipat bibirnya kuat sebelum akhirnya satu kalimat yang ditakutinya pun lolos.
"Tidak perlu bagiku membuktikan apa pun, dan juga aku tidak ingin meminta pengakuan darimu. Kebenaran selalu punya jalannya sendiri untuk terkuak. Satu saja permintaanku saat ini." Rossa menjeda. Air mata bodoh itu meluncur ria menyamarkan penglihatannya, menghalangi rona lelah di wajah cantiknya.
"Ceraikan saja aku!" Dalam satu tarikan nafas, Rossa melepaskan seluruh rasa yang membebaninya selama ini lewat ucapan itu.
Alvino terperanjat bukan main. Jantungnya berdegup kencang mendengar kalimat terakhir istrinya. Emosi yang sudah sedikit mereda tadi, kembali menjalarinya dengan panas yang tak tertolong. Ia berbalik dan kembali menghadap Rossa.
"Apa katamu?" tanyanya dengan suara pelan. Suara itu bergetar menahan pedih bercampur amarah. Namun, hanya marah yang tertangkap penglihatan Rossa. Tidak dengan pedihnya.
"Bilang sekali lagi!" Tangan Alvino terkepal kuat.
"Kau punya dua telinga yang sangat cukup untuk bisa mendengar dengan baik." Suara Rossa parau dan mengecil. Gadis itu tengah menunduk dan menangis.
"Katakan sekali lagi!" teriak Alvino penuh emosi.
Seluruh tubuh Rossa bergetar hebat karena tangis tanpa suara. Ia berusaha menutup mulutnya rapat-rapat agar tangisannya tak terdengar. Gadis itu hendak beranjak dari hadapan Alvino, ingin menghindari tatapan marah di mata suaminya. Namun, dengan cepat Alvino menariknya hingga dalam sekejap tubuh indah yang semakin berisi dengan perut besar itu, berada dalam dekapannya.
Rossa mematung kaku. Nafasnya tercekat dengan debaran di balik rongga dadanya yang semakin menggila. Bertatap muka begitu dekat dengan kulit yang bersentuhan tanpa cela, menguras semua oksigen di sekitar Rossa. Tangis yang tertahan pun menjadi sulit baginya.
"Tatap mataku dan katakan sekali lagi!" Rossa tak sanggup. Ia membuang wajahnya menoleh ke samping lalu bergerak melepaskan diri, tetapi Alvino tidak mau melepaskannya sedikit pun.
"Jawab sekarang juga! Aku tidak suka dipermainkan wanita mura*han sepertimu!" pekik Alvino dengan sebelah tangan mencengkram pipi mulus Rossa.
Plak!
"Aku ingin bercerai! Ceraikan aku sekarang juga!"
Entah keberanian gila dari mana membuat Rossa melayangkan tamparan cukup keras di pipi Alvino. Jawaban yang ia terlontarkan begitu menggebu-gebu tanpa gentar. Hal itu berhasil membuat Alvino melepaskan dekapannya.
"Wah, beraninya kau?"
Prok
__ADS_1
Prok
Prok
Alvino bertepuk tangan merayakan keberhasilan Rossa dalam upaya akan keberaniannya. Lelaki itu tertawa keras membuat nyali Rossa yang bergelora tadi menciut. Gadis itu mendadak pucat pasi melihat aura berbeda di wajah Alvino.
"Haruskah aku membalasmu?" Rossa bergerak mundur dengan pelan.
Prangggg!
Sebuah vas bunga yang terletak di atas meja penyimpanan yang berada tidak jauh dari pintu kamarnya, menjadi sasaran pelampiasan amarah Alvino.
Brakkk!
Lelaki itu kembali membalikan meja itu dengan brutal.
Rossa bergidik semakin takut, dan memundurkan langkahnya terus hingga mendekat ke arah ranjang.
Sedangkan pintu kamar kembali digedor-gedor, bersamaan dengan suara mami Lusy dan papinya Alvino bersahut-sahut memanggil nama keduanya bergantian. Mendengar keributan dari dalam kamar, membuat pasangan paruh baya itu takut kalau sampai menantu mereka kenapa-kenapa.
Namun, baik Alvino maupun Rossa tidak menggubris teriakan orang tua mereka sama sekali. Kemarahan dan ketakutan besar mendominasi ruangan kamar itu, menutupi cela lain yang menyita atensi keduanya.
Prangggg!
Prangggg!
Cermin yang ada pada meja rias, dipecahkan olehnya. Semua rangkaian perawatan serta peralatan make up milik Rossa yang tersusun rapi di atas meja rias itu pun dihancurkannya.
Belum juga puas melampiaskan segala kemarahannya, Alvino kembali mendekat ke arah Rossa. Emosi menutupi akal sehatnya sehingga dengan naif ia mendorong tubuh istrinya. Untung saja gadis itu masih bisa menahan keseimbangannya hingga ia pun hanya terduduk di ranjang tak sampai terjatuh.
Kembali ia mencengkram pipi istrinya. "Siapa yang memberimu keberanian sebesar itu?" Nyalang menatap mata sayu yang tergenang.
"Bukan mami pastinya kan? Baru seharian bersama laki-laki lain, kau sudah berani menamparku, bahkan lancang sekali mengatakan cerai?" Rossa meringis karena cengkraman Alvino semakin kuat.
"Pernahkah dalam kemarahanku kau mendengar kata itu terucap? Pernahkah kau mendengar atau melihatku berduaan dengan wanita lain di luar sana? Tadinya aku ingin menepis semua prasangka burukku tentangmu, tapi sekali lagi kau sendiri menunjukan bahwa kau memanglah ******."
"Iya, aku memang ******!" teriak Rossa yang tidak tahan dengan cacian suaminya.
"Ceraikan saja ja*lang ini agar hidupmu tidak ternoda!" menepis kuat tangan Alvino yang melemah di pipinya.
"Bebaskan aku! Aku ingin menjual tubuhku seperti yang kau pikirkan, biar kau pu …."
Untuk sesaat, keheningan memenuhi kamar itu, menyelimuti keduanya dalam diam dengan rasa yang jelas berbeda.
Rossa yang tidak dapat meneruskan kata-katanya karena mendadak terbungkam dengan ciuman Alvino. Matanya terpejam dengan derai cairan bening yang deras ria. Alvino mendorongnya pelan hingga ketidakberdayaan membaringkannya tanpa sadar, dengan kaki yang menjuntai bebas di lantai.
Beberapa saat, gadis itu menikmati kelembutan untuk pertama kalinya setelah pernikahan mereka 6 bulan yang lalu. Hati dan tubuhnya tidak mau menolak itu, tapi logikanya yang masih tersulut panas, memaksanya menampik nikmat yang membuai.
Bagaimana tidak, ini pertama kalinya setelah malam kelam di hotel waktu itu, dan Alvino melakukannya dengan begitu lembut. Tidak! Rossa tidak ingin lemah, meski sebenarnya hatinya memang lemah untuk laki-laki yang kini berada di atasnya.
__ADS_1
"Hmmpp ...." Rossa berusaha melepaskan diri dan menghentikan Alvino. Namun, respon yang diberikannya malah membuat Alvino semakin gila. Tidak ada lagi kelembutan kali ini, Alvino pun mulai kasar dan menjadi-jadi. Lagi-lagi Rossa merasa tersakiti, bukan hanya hati tapi juga fisik.
"Huh, huh! Hiks, hiks!"
Bugh! Bugh!
Rossa tersengal-sengal lalu menangis sambil memukul Alvino sesukanya sekuat tenaga. Suara tangisnya baru terdengar kali ini.
"Kenapa? Kenapa harus menyentuh ja*lang murahan ini?" Berteriak dan hendak bangun tapi Alvino menekan pundaknya.
"Lepaskan aku! Kau bisa dapatkan wanita manapun yang kau mau. Lakukan itu dengan wanita baik-baik yang tidak mura*han sep …."
Lagi-lagi Alvino membungkamnya.
"Aku mau dirimu!"
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Air laut tidak perlu menjelaskan bahwa rasanya asin....
...Apa aku harus mengungkapkan isi hatiku?...
...Ku mohon ketahuilah dengan rasamu....
...Selamilah dengan cinta yang sama....
..._A.D_...
...Selanjutnya …....
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Hai, hai, 👋 ketemu lagi 😍
Kangen yah 🤭 hehehe kangen juga gak papah 😅
Terima kasih buat yang selalu menunggu 🙏
Jangan lupa apa???? Like dan komen, kalo ada yang punya vote, boleh lah berbagi 😅😅
Terima kasih buat yang mau mampir, dan …
__ADS_1
Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗
Ig author : @ag_sweetie0425