Metamorfosa Rasa (My Glyn)

Metamorfosa Rasa (My Glyn)
Pagi yang Sempurna


__ADS_3

...~ Happy Reading ~...


...________________...


...*...


...*...


...*...


Pagi itu dalam rumah megah keluarga Dharmawan sedikit berisik. Beberapa pelayan tampak sibuk bolak balik kamar Alvino dan Rossa, demi memindahkan barang-barang lelaki pemarah itu, sesuai keinginannya.


Dia ingin sekamar dengan istrinya mulai sekarang. Rossa dan kedua orangtuanya hanya geleng-geleng melihat semua yang dilakukan Alvino. Alex pun turut direpotkan laki-laki itu.


"Cukup, Lex. Biarkan pelayanan yang menyelesaikan sisanya."


Alvino menghentikan Alex, karena sudah hampir jam kantor. Ia memintanya untuk mandi dan sarapan bersama.


"Duduk saja dengan tenang, dan jangan bergerak. Tunggu aku selesai mandi, kita sarapan bersama." Alvino berpesan pada istrinya sebelum masuk ke kamar mandi. Rossa mengangguk.


Gadis itu lalu meminta pelayan agar menghentikan kegiatannya sebentar sampai Alvino ke kantor baru dilanjutkan. Banyak yang dipindahkan, Rossa ingin sekali bisa membantu tetapi dilarang Alvino dan mertuanya.


"Loh, kenapa? Kenapa disuruh berhenti?" tanya mami Lusy.


"Sebentar aja, Mi. Tunggu kakak ke kantor aja baru dilanjutin. Masa nanti kakak lagi ganti diliatin." Rossa terkekeh.


"Ah, mami lupa." Ikut tertawa. "Kalo gitu kita tunggu di ruang makan, yuk!" ajak sang mertua.


"Mami duluan aja, Rossa biar tunggu kak Vino." Menolak ajakan mertuanya dengan lembut.


Mami Lusy tersenyum jail. "Cie, yang mau nungguin suami. Mau berduaan terus yah sekarang." Wanita paruh itu tergelak.


"Ya … gak gitu juga, Mi. Rossa cuman mau nyiapin keperluan kakak aja. Masa kakak harus nyiapin sendiri terus? Ya, Mami tau sendirilah, kan …."


"Iyah, mami udah ngerti. Karena hubungan kalian sudah membaik, udah sekamar juga sekarang, sudah seharusnya kamu melakukan tugasmu sebagai seorang istri. Meski mami yakin Vino gak akan mau kamu melakukannya." Mami Lusy tersenyum lembut. "Terima kasih sudah mau bertahan dan membuatnya kembali bersemangat seperti dulu. Doa mami semoga bahagia itu selalu menjadi bagian dalam rumah tangga kalian. Mami tunggu di ruang makan, yah." Rossa tersenyum dan mengangguk.


Mami Lusy beranjak keluar dari kamar anak-anaknya menuju ruang makan. Sementara Rossa bergegas menyiapkan segala yang diperlukan suaminya.


Berasa jadi istri beneran, hehehe. Emang aku istrinya.

__ADS_1


Rossa membatin sambil memilih pakaian yang cocok menurutnya. Ia sudah menemukan kemeja dan celana yang cocok. Setelah meletakkan di atas meja laci penyimpanan aksesorisnya, Rossa kembali mencarikan dasi dan jas. Bumil ayu itu menyibukkan dirinya dengan hal baru yang dianggapnya menyenangkan.


"Hm, sepertinya yang ini cocok." Ia tersenyum lalu sedikit berjinjit hendak mengambil jas pilihannya dari gantungan di lemari. Namun, tiba-tiba saja ia kaget dan memekik.


"Ya ampun, Kak, paling suka bikin kaget aja," sungut Rossa dengan refleks memukul tangan Alvino yang memeluknya.


Alvino tertawa lalu meraih jas yang ingin diambil istrinya tadi. "Maaf, Honey. Biasakan yah, mulai sekarang." Satu kecupan di pipi istrinya.


Rossa tersenyum. "Baiklah. Sekarang lepas dan ganti dulu, Kak. Tuh, Rossa udah nyiapin pakaiannya." Hendak melepaskan diri dari pelukan suaminya.


"Terima kasih, Honey. Tapi kamu tidak perlu melakukan semua ini. Aku senang, tapi lebih senang lagi kalau kamu diam di tempat dan tidak melakukan apapun yang akan membuatmu kecapean. Okhay?" Masih tidak mau melepaskan pelukannya.


Rossa berbalik lalu menatap suaminya. "Cuman melakukan hal ini tidak cape sama sekali, tidak menguras tenagaku sedikitpun." Menatap Alvino begitu intens. "Atau Kakak gak suka aku menyentuh barang-barang Kakak? Ok, baiklah!" ucap Rossa pelan. Senyum di wajahnya memudar, raut kecewa terdeteksi di mata Alvino.


Ia hendak berlalu dari ruangan ganti itu, tetapi lagi-lagi Alvino menahannya. Alvino tahu bahwa, istrinya sedang sensitif. Hormon hamil membuat mood-nya bisa berubah kapan saja. Mengingat pesan dari dokter tempo hari, Alvino menyalahkan dirinya sendiri yang sudah merusak suasana hati sang istri.


"Bukan begitu, Honey. Sumpah, bukan itu maksudku. Aku gak mau kamu kecapean aja, aku takut kamu kenapa-kenapa. Kamu lagi hamil, Honey. Harus banyakin istirahat. Aku gak mau kamu sakit," terang Alvino selembut mungkin.


"Cuman nyiapin barang-barang Kakak, itu bukan hal yang berat. Lagian aku bosan gak pernah ngapa-ngapain, Kak. Tapi kalo Kakak keberatan, ya udah, gak papah. Maaf." Rossa menunduk sedih.


Alvino menarik nafasnya lalu menghembuskan pelan. "Ya sudah, kamu boleh melakukannya. Tapi janji sama aku, gak boleh kecapean dan jangan dipaksakan kalau memang gak bisa. Aku gak mau sampai kamu dan anakku kenapa-kenapa. Promise?" Mengacungkan kelingkingnya.


"I promise," janji Rossa.


Rossa kemudian berlalu dari sana, membiarkan Alvino berganti pakaian. Gadis itu memilih menunggu di kamar sambil merapikan tempat tidur yang belum dirapikan sejak mereka bangun tadi.


"Honey!" panggil Alvino. Rossa kembali ke ruang ganti begitu mendengar suara Alvino yang memanggilnya. Seperti kemarin, lelaki itu memintanya mengancingkan baju serta memakaikan dasi. Menyisir rambut pun, ia meminta Rossa melakukannya.


"Terima kasih, Honey. Terima kasih sudah hadir dan menyempurnakan hidupku."


Alvino tersenyum bahagia. Baginya, ini pagi yang paling sempurna seumur hidupnya. Setelah Alvino selesai bersiap-siap, keduanya lalu melenggang keluar kamar dengan Alvino yang merangkul mesra pinggang istrinya.


Orangtua mereka bahagia melihat hal itu. Tak terkecuali Alex dan yang lainnya. Momen itu yang ditunggu semua penghuni rumah megah tersebut.


Keduanya disambut dengan hangat oleh kedua orangtuanya, tetapi Alex tidak berani bersuara. Masih teringat jelas dengan peringatan Alvino untuk tidak boleh menyapa istrinya.


Acara sarapan pagi itu sangat berbeda dari yang biasanya. Hangat dan penuh cinta. Diwarnai dengan kebucinan Alvino terhadap istrinya, minta disuapi dan sebagainya yang membuat Alex rasanya ingin lari saja dari sana.


Setelah drama di meja makan selesai, Alvino dan Alex bergegas ke kantor. Rossa mengantarkan suaminya sampai di depan.

__ADS_1


"Ini, Hon!" Memberikan ponsel milik Rossa. "Jangan menerima panggilan dari nomor tidak dikenal, dan tidak boleh keluar rumah. Tunggu aku pulang, yah." Mengecup kening Rossa tanpa peduli dengan tatapan Alex dan orangtuanya. "Hai, jagoan, jagain mami yah. Jangan menyusahkannya." Mengusap perut buncit istrinya. "Aku pergi, Honey. I love you." Kembali melabuhkan satu kecupan di bibir Rossa. Secandu itu dia sekarang.


Alvino langsung masuk ke mobil dan Alex segera menjalankannya, keduanya melesat dari sana dengan bahagia yang melimpah ruah di dada Alvino.


Ah, ternyata dia yang menyimpannya.


Rossa tersenyum melihat mobil yang sudah menghilang ditelan gerbang besar. Mami Lusy yang masih menunggunya, dikagetkan dengan panggilan telepon pada ponselnya. Kening wanita tua itu berkerut.


Alvino? …


📲 "Halo?"


📲 "Jagain dia, Mi. Jangan sampai teman wanitanya itu menelpon dan memintanya untuk keluar. Ada yang mau Vino beritahu buat mami dan papi tapi belum sempat. Tolong ya, Mi."


Panggilan telepon berakhir dengan banyak pertanyaan yang berputar di kepala wanita berusia senja itu.


..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...


...Selanjutnya …....


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Hay semuanya 👋 Ketemu lagi 😊


Jangan marah yah, hari ini 1 bab aja 🤭 Gak papah kan? Yang penting up 😁 Mudah-mudahan besok bisa double 😍


Terima kasih buat kalian yang selalu menunggu 🥰🙏 Terutama buat Kak Reni Tri dan kak Syfa 😍 hehehe 😁 Thank you banget 🙏😘


Jangan lupa tinggalkan like, komen, kalo ada yang punya vote, boleh dong dibagikan 😁😁


Sampai jumpa di episode berikutnya yah 🤗

__ADS_1


Ig author : @ag_sweetie0425


__ADS_2