
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
Masih beberapa meter jauh dari gerbang kawasan elit, mobil yang dikendarai Felix mendadak berhenti. Tadinya mobil itu akan menyambangi kediaman Dharmawan, tetapi sebuah pesan chat yang baru saja masuk ke ponselnya, menahan laju saat itu.
Sepersekian detik, mobil berbalik arah meninggalkan kawasan itu. Felix melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi tapi tetap terkontrol.
Dalam perjalanannya saat itu, ia terus memikirkan kontak dengan nomor tak dikenal, yang memberinya kabar tentang keberadaan sang adik.
"Siapapun orang itu, aku akan mencari tahu tentangnya dan berterima kasih!" ucap Felix sambil terus fokus dengan kemudi.
Sekitar setengah jam lebih berkendara, Felix akhirnya tiba di tempat yang tertera pada layar ponselnya tadi.
Tampak sebuah rumah mewah berlantai dua, dikelilingi pagar besi yang tidak terlalu tinggi, menampilkan jejeran bunga yang menghiasi sebuah taman di dalamnya. Rumah itu berada di pinggiran kota yang cukup jauh dari kebisingan hiruk-pikuk kota.
Felix cepat-cepat keluar dari mobil dan hendak mendatangi rumah mewah itu, tetapi gerakannya terhenti kala sosok cantik yang dicarinya sedari tadi, tengah berdiri di depan sana.
Penampilan yang cukup berantakan, tatanan rambut yang awut-awutan, serta memar di ujung bibirnya membuat Felix meradang.
Laki-laki itu segera berlari dan meraih tubuh lemah adiknya.
"Are you ok?" tanya Felix begitu ia mendekap Filen. "Siapa yang melakukan ini, Sayang? Kenapa bisa ada di sini? Mana orang yang sudah membawamu? Kakak ingin menemui orangnya," cecar Felix tanpa jeda.
Wanita bertubuh kurus itu hanya diam dalam dekapan sang kakak.
"Aku mau pulang, Kak." Satu kalimat singkat itu saja yang keluar dari mulutnya.
Tanpa menunggu lama lagi, Felix langsung menuntun adiknya masuk ke mobil. Banyak yang ingin ia tanyakan, tetapi melihat kondisi makhluk lemah itu, Felix urung semuanya.
Ia paham betul bahwa adiknya baru saja mengalami hal yang melukai raga, bahkan mungkin jiwanya. Butuh waktu untuk setiap keterbukaan dari wanita itu. Felix membiarkan adiknya beristirahat untuk meredam lelah serta trauma.
__ADS_1
Mata lelaki itu masih sempat mengintip bangunan mewah di samping sana. Tetap saja ia tidak bisa menemukan siapapun. Rumah itu tampak sepi tak berpenghuni, bahkan letaknya jauh dari rumah-rumah penduduk lainnya.
"Apalagi? Ayo, jalan!" titah Filen.
"Ah i-iya."
Saat itu juga, Felix langsung menginjak pedal gas, dan keduanya bergegas meninggalkan tempat asing itu dengan Felix yang diliputi banyak tanya.
...*****...
Dua bulan kemudian ….
Langit cerah pagi itu, membentangkan jalan mulus bagi lajunya kapal udara yang melintasi angkasa, dan menembus gumpalan awan putih di atas sana. Ada asa yang ikut melambung, serta terbang tinggi, setinggi 35.000 kaki dari bumi.
Selama sejam lebih mengudara, burung besi itu akhirnya lepas landas di sebuah bandar udara nan megah.
"Mami, i'm coming!"
Seorang wanita cantik baru saja turun dari pesawat dan menghirup udara segar di kota yang berbeda. Ia merentangkan kedua tangannya dengan wajah yang menengadah. Kacamata hitam melindungi silau surya yang memantul di manik coklatnya.
Wanita lain yang juga barusan turun dari pesawat, berjingkrak kegirangan saat menginjakkan kakinya di atas zamin yang berbeda.
Menyusul seorang pria di belakang keduanya, sembari menenteng dua buah ransel.
"Lu berdua mau berdiri terus di sini? Ayo, sana jalan!" seru lelaki itu. Ia melangkah melewati dua wanita cantik itu begitu saja.
"Wah kita ditinggal, beb." Salah satu dari dua wanita itu cemberut.
Temannya yang satu ikutanan kesal menanggapi hal itu.
"Sementang kita orang baru di sini, songong dia. Awas aja ntar manggil-manggil sayang, gua cekek biar tau rasak!" sahut wanita dengan gaya tomboi.
Keduanya lalu mempercepat langkah mengikuti teman lelaki mereka di depan sana. Tidak ada bawaan yang membebani mereka, karena semua itu diambil alih oleh teman Meraka. Keduanya berjalan bergandengan tangan dengan sesekali berjingkrak kesenangan.
Ada bahagia yang membuncah di hati dua kaum hawa itu. Ada rindu yang seolah ingin segera terbebas dari sarangnya selama ini.
Sebuah mobil terlihat menjemput ketiganya, dan segera membawa mereka ke tempat tujuan, mininggalkan area bandara.
__ADS_1
"Kalian berdua tunggu saja di apartemen, sambil istirahat dulu. Aku mau buat kejutan untuk Nona Muda terlebih dahulu. Deal?" tanya lelaki itu meminta kesepakatan.
"Deal!" seru kedua wanita cantik itu berbarengan.
...*****...
Jarum jam baru saja singgah di angka 10. Rossa kala itu tengah duduk di ruang keluarga bersama mami Lusy, sambil membaca buku seputar persiapan persalinan.
Usia kandungannya tinggal menunggu hari saja. Mami Lusy menjadi siaga dan tidak mau membiarkan sang menantu sendirian. Beliau setia menemani si cantik berparas ayu itu di setiap waktu. Alvino pun demikian, akan pulang lebih awal bahkan kerap mengabaikan pekerjaannya yang menumpuk.
Seorang pelayan datang memberitahukan mertua dan menantu itu bahwa ada tamu yang berkunjung.
"Siapa, Mi?" tanya Rossa pada ibu mertuanya.
Mami Lusy mengedikan bahunya seraya berkata, "Mami juga tidak tahu, Sayang. Sebentar yah, mami lihat dulu."
Wanita paruh baya itu baru saja berdiri dan hendak melangkah, tamu yang membuat penasaran saat itu juga telah berdiri di hadapan kedua wanita berbeda generasi itu.
"Halo, Tante … hai, Sa!" sapanya dengan senyum yang tak kunjung meredup.
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...selanjutnya …....
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Haii, aku balik lagi, double nih 😁
Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗
__ADS_1