
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
Setelah mendapat pencerahan dari dua sahabatnya, jiwa Jenn seolah telah kembali dari lamanya tersesat dalam keegoisan.
Cahaya indah yang telah lama redup di wajah cantiknya, bersinar kembali. Sorot mata yang kosong dan suram itu, kini kembali membiasakan semangat.
Jenn menghapus jejak basah di pipinya dengan senyum yang tak jua menghilang. Sudah lama, hampir sebulan ini, kilau indah di wajah cantiknya berubah temaram. Senyum indah itu yang dinantikan semua orang.
"Udah, jangan nangis lagi. Udah jelek makin jelek tau."
Jenn merengut kesal dengan Reza yang kembali menggodanya.
"Ck, jelek-jelek juga pernah di …."
"Stop, Jenn!"
Reza langsung memotong ucapan gadis itu. Dia tahu ke mana arah pembicaraannya. Dia dan abangnya pernah mencintai makhluk Tuhan yang satu ini dalam waktu yang bersamaan. Dan semua orang tahu itu.
"Biasa aja, gak usah lebay, Za," ucap Putri dengan cueknya.
Seketika Jenn tergelak. Ia tahu bahwa Reza takut menyinggung perasaan Putri yang kini adalah pacarnya. Tadi itu juga Jenn hanya bercanda ingin mengerjainya, tetapi Reza yang takut menyakiti kekasihnya menghentikan Jenn secepat kilat. Jangan sampai candaan Jenn berujung perdebatan dia dan kekasihnya nanti.
"Ah, syukurlah pacar gue gak baperan." Reza mengelus dadanya.
"Takut banget." Jenn masih cekikikan.
Reza terkekeh. "Marahnya serem loh, Jenn. Ayolah, kek gak tau dia aja!"
"Kira gue rumah angker?" Putri mencebik kesal.
"Lebih angker dari itu, Sayang. Sehari aja gak dapat kabar, gue dihantui rindu dan rasa takut yang luar biasa."
Ucapan lelaki itu mampu mengundang tawa Jenn.
"Sebucin itukah dia, Beb?" tanya Jenn pada Putri di sela-sela tawanya.
"Gak separah kak Kenn juga kok."
Giliran Reza yang terbahak mendengar jawaban kekasihnya. Jenn hanya tersenyum mengakui itu, dan tiba-tiba saja ia teringat akan seseorang.
"Dia benar-benar gak ada kabar ya?"
Raut muka Jenn mulai berubah. Ada segudang rindu yang bergelayut di netra pekatnya.
"Rossa?" tanya Putri dan Jenn mengangguk.
"Gak ada, Beb. Reza aja gak pernah bisa hubungi dia. Alvino seolah menutup semua akses yang berhubungan dengan kita. Dia benar-benar menjauhkan Rossa dari kita. Gue kangen banget sama dia," ucap Putri.
__ADS_1
Jenn lagi-lagi menarik nafasnya.
"Gue pikir sumpah itu hanya main-main." Jenn tersenyum kecut. "Dia benar-benar memegang sumpah itu. Semua salah gue." Menunduk sedih. "But it's ok! Kebahagiaan mereka berdua jauh lebih penting dari kangennya kita. Meskipun gue pengen banget tau keadaan dia. Sungguh ini tu nyiksa banget." Memaksakan senyum dan itu sangatlah tidak menyenangkan.
"Bersabarlah! Setelah gue menyelesaikan sidang nanti, gue bakal langsung ke sana memastikan keadaannya. Kalian akan mendengar kabar dia nantinya," ucap Reza.
"Really?" tanya kedua gadis itu berbarengan.
Saat Reza mengangguk, keduanya lalu berteriak kegirangan dan langsung berpelukan.
Setelah melerai pelukannya, Jenn mengajak kedua sahabatnya keluar kamar menemui mertuanya. Suasana hati gadis itu sudah jauh lebih baik dari yang sebelumnya.
"Ibu, mana?"
Tidak mendapati wanita paruh baya itu di ruang tengah maupun di dapur. Jenn berbalik arah ke kamar mertuanya.
Tok, tok, tok.
"Buk, Ibu!" panggil Jenn.
Ceklek!
"Eh, eh. Ada apa ini, hm?" Sang ibu bingung dengan menantu yang tiba-tiba berhambur memeluknya begitu pintu dibukakan.
"Maafin Jenn, Buk. Jenn udah bikin ibu dan semuanya sedih," ucapnya sambil masih terus memeluk ibu mertuanya.
Wanita paruh baya itu tersenyum sambil menepuk lembut punggung menantunya.
"Gak papah, Sayang. Ibu ngerti perasaan kamu. Tidak perlu meminta maaf, kamu gak salah sama sekali. Ibu hanya minta untuk kamu dan Kenn lebih bersabar lagi dan tetap bahagia seperti dulu, yah." Suara lembut itu terdengar begitu menenangkan.
"Makasih, Buk. Jenn sayang sama Ibu," lirihnya.
"Ayo, kita makan dulu! Ibu masak makanan kesukaan kamu loh," ajak ibu mertuanya.
Ketiganya lalu memulai makan siang bersama ditemani dengan obrolan ringan. Kebanyakan cerita konyol dari Reza yang menghidupkan suasana dan mengundang tawa.
Siang itu berlalu dengan indah yang menyejukkan hati. Setelah kepulangan dua sahabatnya, Jenn memilih berbaring di sofa sambil melanjutkan cerita dengan ibu mertuanya. Suasana seperti ini sudah lama tidak pernah lagi mereka lewati selama hampir sebulan ini. Baik Jenn maupun sang mertua sama-sama merindukan kebersamaan kecil ini.
Tak lama setelah itu, Kay pulang dari kampus dan bergabung bersama dua orang kesayangannya. Dia pun sama bahagia seperti ibunya, melihat kakak iparnya yang kembali tersenyum dan bersemangat.
"Kay seneng, Kak Jenn kesayangan Kay udah balik lagi kek dulu."
Gadis manis itu memeluk kakak iparnya dengan perasaan bahagia yang membuncah.
Hari telah senja. Cakrawala kembali dihiasi kemilau merah keemasan. Tanpa Jenn sadari, seharian ia habiskan dengan bercerita bersama orang-orang yang ia sayangi tanpa jeda.
Gadis itu baru tersadar begitu netranya dengan sengaja menatap jam dinding.
"Hah? Gak nyadar udah sore aja. Emang yah, kalo udah cerita lupa waktu." Gadis itu terkekeh lalu berpamitan pada mertua serta adik iparnya, dan berlalu ke kamar. Kay pun demikian, bergegas masuk ke kamarnya, meninggalkan ibu sendirian ditemani TV yang menyala.
Jenn ingin bersiap-siap menunggu suaminya yang sebentar lagi akan pulang. Benar saja dugaannya. Baru saja sampai di kamar, suara laki-laki kesayangannya itu sudah terdengar.
"Sore, Buk!" sapa Kenn.
"Sore, Kenn." Sang ibu tersenyum melihat wajah murung putranya setiap pulang dari kerja. Wajah itu tak pernah lagi tersenyum bahagia belakangan ini.
"Mau ibu buatkan teh atau apa untukmu, Nak?"
Kenn menggeleng. "Gak usah, Buk. Kenn ke kamar dulu," ucapnya dan langsung berbalik.
__ADS_1
Suara Kenn sayup-sayup terdengar di telinga istrinya. Jenn yang baru saja masuk ke kamar, kembali lagi keluar.
Kenn hendak melangkah, kaget melihat Jenn yang sudah berdiri di hadapannya. Lelaki itu terpaku menatap senyum manis istrinya yang telah lama hilang dari pandangannya. Tak hanya itu, sosok mungil itu berdiri dengan tangan yang terentang meminta peluk seperti dulu.
Sedetik kemudian Kenn meraup tubuh itu dalam pelukannya. Wangi tubuh dan harum rambut itu yang selalu dirindukannya. Pelukan kecil ini yang selalu menenangkan dan menghapus lelahnya. Sungguh Kenn merindukan hal kecil ini lagi.
"Maafkan aku, Sayang," bisik Jenn lirih.
Kenn semakin mengeratkan pelukannya. "Aku juga minta maaf belum bisa bahagiain kamu."
"No! Aku selalu bahagia. Sangat bahagia, Sayang. Mataku hanya tertutup beberapa waktu ini. Sekarang gak lagi." Jenn tersenyum dan melerai pelukan mereka.
Kenn membingkai wajah cantik itu dengan kedua tangannya.
"Terima kasih sudah kembalikan Jenn aku yang dulu. Tetap seperti ini dan berjuang bersama lagi."
Sepersekian detik, Kenn menautkan bibirnya ke bibir Jenn. Mereguk dan menyesap manis bak madu yang menjadi candunya. Candu yang membekukan dirinya akhir-akhir ini.
Sang ibu tersenyum melihat itu dan memilih berlalu dari sana, meninggalkan keduanya larut dalam kemesraan.
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Jangan diam membiarkan ego melilitkan dingin di hati kita....
...Jangan menepi saat kita masih sejalan....
...Berjuang tak sebercanda itu....
..._AG Sweetie_...
...🦋...
...Selanjutnya …....
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Holaaaaaaa 👋 seperti kataku kemarin, ini masih part-nya Jenn-Kenn 😁
Nah, setelah ini baru part-nya Alvino-Rossa 😍
Thanks buat kunjungan dan dukungannya 😘
Jangan lupa like dan komen yah 😍
Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗
_________________
__ADS_1