
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
Tidak lama setelah mami Lusy keluar dari kamarnya, Rossa pun terbangun. Ia menggeliat pelan lalu perlahan membuka matanya. Pemandangan pertamanya jatuh pada sesosok lelaki tampan yang masih terlelap, sedang bersandar di perutnya sambil memeluk erat.
Senyum manis tersungging di wajah ayunya. Manik coklatnya berpindah sejenak pada jam dinding yang terpatri di dinding kamar.
"What? Hampir jam sembilan?" Rossa terperanjat sambil bergumam pelan. Ia takut membangunkan suaminya.
"Yang benar saja. Masa sih, aku kesiangan sampai jam segini? Jamnya salah kali, ah rusak ini jamnya."
Tidak percaya jika kenyataannya dia memang kesiangan. Tidak seperti biasanya ia seperti ini. Karena itu, ia tidak terima dengan kesalahan pagi ini. Meski pada kenyataannya dia memang salah.
Perasaannya mulai tak enak. Rasanya ingin segera bangun dan keluar dari kamar. Karena ia yakin, mertuanya pasti menanyakan keadaan mereka. Namun, Rossa tidak bisa bergerak sama sekali. Alvino masih erat memeluk perutnya. Lelaki yang sangat ia cintai itu terlihat damai dalam tidurnya.
Rossa menarik nafasnya lalu menghembuskan dengan perlahan. Bukannya membangunkan sang suami, Rossa malah membuatnya semakin terlelap. Jemari lentiknya mengusap rambut sang suami dengan begitu lembut.
Sejenak ia tersenyum, sebelum akhirnya ingatan tentang semalam merenggut senyum indah itu dari wajahnya.
"Ya, ampun!" pekik Rossa dengan suara tertahan. "Kak! Bangun, Kak." Menepuk lembut lengan besar Alvino yang masih bertengger di perutnya.
Tak ada respon. Sepertinya, Alvino belum kembali dari pelayarannya. Sekali lagi Rossa mencoba membangunkan lelaki berlesung pipi itu.
"Kak, Kakak!" Kali ini suaranya sedikit keras.
Masih sama tak ada jawaban. Namun, Rossa merasakan pergerakan kecil yang menggelitik perutnya. Serta lengan kokoh yang makin erat mendekapnya.
Hampir saja ia tertawa saat Alvino mendusel-dusel wajah di perutnya. Rossa memahami tawanya setengah mati. Ia tahu bahwa, lelaki kesayangannya itu mulai terbangun.
"Kak, bangun dulu. Ayo!" Rossa mengguncang pelan bahu kekarnya, tetapi Alvino tak jua mau bergerak. Ia masih betah memejamkan mata, menikmati rasa bahagia yang menguasainya dari semalam.
Haduh, ini udah bangun tapi sengaja tidur terus. Mesti diapain yah? ….
Rossa terdiam dan mencoba berpikir, cara apa yang dapat ia lakukan untuk membangunkan sang suami.
Aha …
Rossa senyum-senyum sendiri begitu sesuatu melintas di pikirannya. Belum juga untuk berbicara, bumil cantik itu sudah merasa lucu setengah mati. Berulang kali ia mengatupkan bibirnya kuat menahan tawa.
"Pi, Papi, bangun dulu, yah. Kita udah kesiangan ini," ucap Rossa dengan begitu lembut, menirukan suara seperti bayi.
Tidak sampai satu detik, Alvino langsung membuka matanya. Sebelum beranjak, ia lebih dulu mencium perut buncit istrinya beberapa kali. Ia langsung bangun dan beringsut naik mensejajarkan wajahnya dengan wajah Rossa.
Nah, berhasil kan? He-he-he ….
"Hmmpp." Bumil yang tadinya terkekeh dalam hati, tiba-tiba saja menahan nafas karena hujaman kecupan dari Alvino di seluruh wajahnya.
"Emmpp, Kak! Udah ih …." Rossa berusaha menutupi wajahnya.
"Gak mau ... panggil seperti yang tadi," seru Alvino. Ia terus mengecup wajah istrinya.
"Apa? Yang mana? Iiih … stop dulu, Kak!" Sudah tahu, tetapi pura-pura lupa. Yang sebenarnya dia malu mengatakannya. Tadi itu hanya ide jailnya untuk membangunkan sang suami. Ternyata oh, ternyata, suaminya menyukai panggilan itu.
"Bukan itu … yang lain pokoknya."
Cup,
Cup,
Cup,
__ADS_1
"Panggilin, ayo!"
Cup …
Cup …
"Kaaaaaaaaakkkkkk!"
"Bukaaaannnn!"
Cup …
Cup …
"Panggil kayak yang tadi gak, hah?"
Bukan lagi kecupan di wajah, kali ini Alvino berpindah di leher Rossa. Ia bahkan mengganti kecupan lembut tadi menjadi kecupan keras yang meninggalkan tanda kepemilikan di sana.
"Akh." Rossa mendesah. Ia cepat-cepat menutup mulutnya begitu tersadar suara lucknut itu lolos dari bibirnya.
Memalukaaaaaan …. Pekiknya dalam hati.
Kerena suara indah yang keluar dari mulutnya, Rossa menahan laju nafasnya semabri menggigit bibirnya kuat. Matanya terpejam begitu Alvino melukis karyanya sekali lagi pada bagian yang sama, di tempat yang masih kosong.
Oh, astaga ….
"Ok, ok. Enough, Papi."
Rossa mengalah dan Alvino tersenyum penuh kemenangan. Menang banyak malahan. Ia lalu menangkup wajah cantik istrinya.
"Once more, Honey!" lirih Alvino.
"Papi!" Rossa tersenyum.
"I want to hear it all the time, Honey."
Bumil cantik itu tersenyum begitu manis. "Saat dia sudah lahir dan besar nanti, Kakak akan mendengar panggilan itu setiap saat."
"No, aku mau dengar itu mulai sekarang, dari bibir mungil ini." Jemarinya berpindah mengusap bibir Rossa.
Rossa tertawa pelan. Ia masih sangat canggung dan merasa lucu. But, she will try.
"Ok, Papi ganteng."
Ah, itu terdengar begitu indah di telinga Alvino. Menjalar hingga ke hatinya, memercikan bahagia seperti kembang api yang menyala di balik rongga dadanya. Alvino ingin mendaratkan kecupan lagi di bibir istrinya, tetapi Rossa dengan cepat mencegah.
"No, Papi. Udah cukup dari tadi. Tuh, liat jam berapa sekarang?" Rossa menunjuk jam dinding.
Alvino mengikuti arah arah telunjuk istrinya. Tidak ada raut kaget seperti ekspektasi Rossa. Lelaki itu biasa saja, malah ia berdecak kesal karena merasa waktu terlalu cepat, sementara ia masih terus ingin bermesraan dengan sang istri.
Melihat wajah kesal suaminya, Rossa tersenyum dan menangkup kedua rahang tegas itu.
"Bangun sekarang dan aku mau obatin luka Kakak. Ingat, Kakak hutang penjelasan sama aku. Gak mau tau, pokoknya harus jujur. Titik!"
Alvino tergelak. Baru kali ini, Rossa menunjukan sikap sok galak. Sungguh, Alvino gemas melihatnya.
"Baiklah, Nyonya Alvino Dharmawan. Tapi, jangan lupa panggilan baru tadi."
Ia bangun lebih dulu, baru setelah itu ia juga membantu istrinya untuk bangun.
"Tunggu aku di sini, Kak. Gak boleh kemana-mana. Aku mau liat mami bentar aja, karena pasti mami nyariin kita," pinta Rossa.
"Ok! Aku mau mandi aja dulu," ucap Alvino.
"No!" pekik Rossa. "Aku mau liat luka Kakak. Tungguin pokoknya, aku bantuin nanti."
"Kalo gitu aku ikut," tawar Alvino.
__ADS_1
"Gak! Papi ganteng tetap di sini aja, yah. Tungguin sampai aku kembali. Gak lama kok."
Rossa langsung melangkah keluar begitu saja. Ia ingin menyapa mertuanya sebentar saja. Ia merasa tak enak hati karena kesiangan.
Dari jauh ia mendengar suara-suara dari ruang tengah. Kakinya langsung menuju ke sana. Dilihatnya kedua mertua dan sekretaris suaminya.
Kenapa mereka cekikikan begitu?
Rossa mengernyit. Belum terjawab pertanyaan yang satu, pertanyaan lain kembali muncul.
Semua mata memandangnya dengan pandangan mulut menganga.
Apalagi ini? …
"Bukannya buaya sedang terluka?" tanya Tuan Dharma.
"Wah, hebat banget buaya bisa menggigit pawangnya." Alex berdecak.
"Sejinak-jinaknya dia, tetap menggigit yah." Mami Lusy menggeleng pelan.
Ada apa dengan mereka? Buaya? Apa sih?
Sederet pertanyaan itu baru terjawab, begitu Rossa menyadari tatapan tiga orang di hadapannya itu tertuju pada leher jenjangnya.
Eh ….
Bumil cantik itu kaget dan langsung menutup lehernya. Detik itu juga ia berbalik dan melangkah secepat kilat, kembali ke kamar. Menyembunyikan diri dari tatapan tiga manusia di sana.
Brakkk.
"Kaaaaaaaaakkkkkk!!!"
Teriak Rossa begitu ia masuk ke kamar dan membanting pintu dengan keras.
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Selanjutnya …....
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Yuhuuw, double up nih 😁🤭
Jarang-jarang otor rajin kek gini 🤣
Makanya kasih like dan komen, yah 😍
Kembang tanjung tujuh rupa kalo bisa 😅
Thanks you buat kalian semua yang udah mampir 🙏
Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗
________________________
Kalo lama nunggu episode berikutnya ... boleh dong mampir di novel karya teman aku yang satu ini. Keren loh, guys 😍
__ADS_1