
...~ Happy Reading ~...
...___________________...
...*...
...*...
...*...
Waktu saling berkejaran meninggalkan detik dan menit, meraih jam, lalu mengganti hari. Di ufuk timur, sang Surya dengan gencarnya menyemburkan hangat memapar pertiwi.
Jarum jam tengah singgah di angka 7. Dalam sebuah ruang perawatan VVIP, tampak sunyi dan tenang. Semua penghuni ruang itu tengah terlelap, hanya seorang yang tengah duduk menunduk di dekat ranjang pasien.
Posisinya tidak berubah sedari malam, hingga gerakan kecil pada tangan lembut yang berada di genggamannya berhasil mengubah sedikit posisi.
Alvino tersentak kala tangan Jenn bergerak lembut. "Glyn," panggilnya lirih. Ia bergerak semakin mendekat agar bisa menatap wajah ayu yang pucat pasi itu.
Mendengar suara yang sayup-sayup memanggilnya, dia yang masih terlelap saat itu, memaksa membuka mata secara perlahan. Hal pertama yang selalu ingin dia lihat, tepat berada di hadapannya.
"Kak," lirih Rossa. Matanya tampak masih sayu.
Alvino tersenyum dan langsung bangkit dari duduknya. "Aku di sini, Honey!" Menghujam wajah cantik itu penuh cinta dan sayang.
Rossa ikut tersenyum dan menatap dalam pada mata elang yang selalu mampu meluluhlantakkan hatinya. Melihat lapisan-lapisan bening yang retak pada netra legam suaminya, kening Rossa berkerut. Sesaat kemudian, ibu muda itu mulai tersadar akan serentetan insiden kemarin.
Ia tersentak dan hendak bangun sembari berteriak histeris, tetapi dengan cepat Alvino menahan dan menenangkannya.
"Anakku? ... anakku! Tolong, selamatkan anakku!" pekik Rossa sembari sedikit mengamuk.
"Hei, hei ... tenang, Honey! Kamu masih lemah, belum pulih." Alvino membungkuk dan memeluk tubuh kecil istrinya. "Dia aman, Hon. Tenanglah!"
"Anakku, anakku!" Rossa masih saja berteriak.
Teriakannya membangunkan semua mereka yang masih terlelap saat itu, bahkan baby Gian pun terbangun dan menangis menjerit.
"Anakku juga, Glyn. Anak kita! Dia aman, dia selamat, Honey. Tenanglah! Look, look at me!" Alvino mengencangkan pegangannya pada tangan Rossa. Saat istrinya mulai sedikit tenang, Alvino menyorot mata indah itu dengan tegas. "Anak kita selamat. Dia telah lahir dengan sehat." Alvino menoleh ke arah mami Lusy yang tengah menenangkan baby Gian. Dengan lembut ia membalikan wajah Rossa mengikuti arah pandangnya. "Lihat kan?"
Ia pun memberikan kode pada mami Lusy agar membawa sang bayi mendekat ke arah dirinya dan Rossa. Melihat itu, Rossa tertegun untuk sesaat sebelum akhirnya buliran-buliran bening itu berjatuhan, rebas ria tanpa tak terbendung.
__ADS_1
Wanita berparas atau itu terisak haru. Alvino lalu mengambil alih bayinya dan memindahkan ke pangkuan Rossa.
"Sayang," lirih Rossa lalu memeluk bayinya erat. Mencium jemari halus selembut sutera itu penuh sayang. "Terima kasih sudah bertahan dan berjuang bersama, Sayangku." Lagi-lagi ia mencium telapak mungil bayinya.
"Dia kuat dan luar biasa seperti maminya," kata Alvino.
Rossa tersenyum dan bertanya, "Siapa namanya?"
Alvino lalu memberitahukan nama bayi dan artinya. Rossa tampak senang mendengar itu. "Gian! Gian-ku ganteng banget, Kak!"
"Lebih ganteng papinya." Alvino menyambar bibir pucat Rossa. "Tidak boleh ada yang lebih dariku!" imbuhnya.
Rossa terkekeh, begitu juga dengan mami Lusy dan yang lainnya. "Ya, ampun, Kak. Sama anak sendiri juga masih cemburu aja." Heran dengan tingkah suaminya yang rada aneh dari orang kebanyakan.
"Ada yah, orang tua kek gini? Merasa saingan sama anak sendiri." Reza menimpali membuat Alvino mendelik kesal.
"Ada dong, Za. Tuh, salah satunya." Mami Lusy membenarkan fakta yang sebenarnya.
Alvino mendengus menanggapi gurauan keluarganya. "Pokoknya gak boleh ada yang spesial di hati kamu melebihi posisiku. Ya ... termasuk Gian, sedikit aja buat dia tapi," ucap Alvino dengan santai tapi tegas.
Gelak tawa memenuhi ruang rawat VVIP tersebut. Mami Lusy menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dan mendekat ke arah papi Dharma.
"Lihatlah, Pi ... keluarga kecil mereka sudah sempurna 'kan? Mami sangat bahagia, akhirnya Vino kita mendapatkan kebahagiaannya." Setetes air mata menetes membasahi pipi tuanya. Papi Dharma mengangguk, dan hanya ikut tersenyum melihat kebahagiaan yang melingkupi putra semata wayangnya.
Batin mami Lusy berucap syukur kapada Sang Pencipta. Matanya menyorot lembut menatap Rossa.
Terima kasih juga, sayang, sudah menerima anak mami yang keras kepala itu apa adanya, sudi mencintai setiap kekurangannya, sudi berdiri di sampingnya hingga kini. Kamu wanita luar bisa ... bukan saja Vino yang beruntung memiliki kamu, mami dan papi juga beruntung memiliki menantu sepertimu.
...*****...
Mata Alvino tidak lepas dari aktivitas istri dan anaknya. Rossa sampai risih sendiri, ditatap sedemikian rupa.
"Jangan diliatin gitu, Kak!" tegur Rossa yang malu.
Saat itu ia tengah memberikan asi untuk baby Gian. Semua orang yang ada dalam ruangan, diperintahkan keluar oleh Alvino. Lekaki pemarah dan posesif itu tidak ingin yang lain melihat bagian sensitif tubuh sang istri.
"Isshh ... Kak, stop ih! Liatin yang lain kek," rengek Rossa.
Bukannya membujuk, Alvino malah mendengus. "Enak sekali jadi Gian. Aku kan juga mau," ucapnya tanpa dosa.
__ADS_1
Rossa antara malu dan kesal melihat kelakuan suaminya. "Astaga, Kakak!" pekik Rossa dengan suara tertahan. Ia memelototi Alvino, membuat laki-laki itu akhirnya tertawa.
"Ini tuh seharusnya punya aku, bukan dia. Dateng-dateng main rampas aja. Hak milik itu ada padaku, gak izin dulu sama yang punya, nyosor aja." Alvino mendekat lalu menoel pipi halus putranya. "Hei, jagoan, jangan merasa seneng dulu. Cepatlah besar dan mari kita saingan mendapatkan perhatiannya!" kata Alvino masih tertawa.
"Kakak, stop!" satu tepukan lembut di bahu Alvino. "Ini anak sendiri, darah daging kita, bukan anak orang, Kak. Astaga, kalakuannya." Rossa menggeleng pelan. "Gak ada saingan-saingan!" imbuh Rossa tegas.
Kekehan kecil keluar lagi dari mulut Alvino. "Iyah, Mami. Iyah ... aku ngalah sekarang. Tapi dua bulan aja cukup yah," tawarnya.
"Enam bulan," sahut Rossa.
"Dua saja, Glyn. Kamu mau nyiksa aku semur hidup hm? Udah berapa lama aku nunggu selama ini coba? Kalo ditambah enam bulan lagi, aku udah gak sanggup." Alvino kekeh tidak mau mengalah.
"Bahas yang lain bisa gak?" Rossa malu dan ingin mengganti topik.
"Kenapa bahas yang lain? Aku membahas tentang hak paten aku di sini. Tapi, okelah ... aku ngalah dulu. Biarkan dia menikmati sebalum aku menyegelnya kembali." Secepat kilat Alvino mencuri ciuman di bibir istrinya, dengan satu kedipan yang membuat Rossa tak berdaya tuk marah.
Perempuan berparas ayu itu selalu takluk dibuat Alvino. Ia tersenyum lalu bertanya, "Boleh aku meminta sesuatu?"
"Apa yang gak, buat Ratuku ini?" jawab Alvino cepat.
"Bolehkah ... hmm, bolehkah aku bertemu mereka berdua?" tanyanya lagi dengan hati-hati.
Alvino terpaku bisu.
...______🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Selanjutnya .......
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Ha, Hai 👋
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen yah 😍
Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗