
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
Tiba di rumah, Alvino langsung menuntun tangan istrinya menuju ruang makan. Rossa patuh tanpa bantahan, meskipun tengah dilanda gelisah. Mami Lusy dan Alex mengikuti langkah keduanya lalu bergabung menikmati makan siang yang hampir lewat waktu.
Rossa menyelesaikan makanannya dengan cepat. Rasa gelisah membuat selera makannya berkurang.
"Kenapa, Honey?" tanya Alvino.
Dilihatnya sang istri yang dalam sekejap sudah menyelesaikan makanannya.
"Kenyang," jawab Rossa singkat.
Melihat itu, Alvino pun lantas menyelesaikan makannya. Setelah meneguk segelas air putih, ia berdiri lalu mengajak istrinya ke kamar.
"Ayo, Hon!"
"Mi, Rossa sama Kakak duluan yah." Pamitnya pada ibu mertua. Hanya senyum kecil dengan sedikit anggukan di kepala yang ia tujukan kepada sekretaris suaminya.
Peringatan Alvino cukup jelas sehingga Rossa tidak berani lagi untuk berbicara dengan lelaki lain.
"Gak balik ke kantor?" tanya Rossa begitu keduanya sudah di kamar.
Ia meletakkan jas Alvino yang dibawanya dari ruang makan sejenak ke atas ranjang. Kembali ia melepas dasi yang masih menyatu dengan kemeja Alvino.
Alvino melihat jam di pergelangannya. "Sebentar lagi, Hon."
Rossa hanya ber-oh ria lalu membawa jas serta benda-benda yang dilepas dari tubuh suaminya menuju walk in closet. Sekaligus ia mengganti pakaiannya dengan baju rumahan yang berbahan tipis dan terkesan sedikit sek*si.
Itupun sesuai permintaan Alvino, ketika mereka hanya berdua saja di kamar seperti saat ini. Awalnya Rossa keberatan dan risih, tetapi kemudian Alvino berhasil mengubah paradigmanya. Alhasil, ia pun mulai membiasakan diri dengan konsep memanjakan mata serta menyenangkan hati sang suami.
Alvino yang sedang bersandar di sofa seketika tersenyum melihat istrinya yang baru keluar dari dalam sana.
"Kau menggodaku, Honey?" tanyanya dengan senyum yang tak kunjung redup.
"Tidak sama sekali." Rossa menggeleng cepat sambil berjalan ke arah suaminya.
"Tapi aku tergoda."
Rossa terkekeh. "Bukan salahku."
Alvino ikut tertawa. "Kau mulai pandai mempermainkanku. Apa ini semacam balas dendam?"
Rossa semakin tertawa lepas, dan Alvino menyukai itu. Membuat wanita itu selalu tersenyum dan bahagia adalah cicilan hutang perbuatannya di masa lalu.
"Aku tidak pandai mendendam."
Alvino menarik tangan Rossa dengan lembut, menuntun sang istri duduk di sampingnya, lalu memeluk tubuh padat berisi itu dengan manja.
"Aku tau itu, istriku adalah wanita yang paling luar biasa di dunia ini." Satu kecupan di pipi Rossa.
__ADS_1
"Gimana senamnya tadi?" imbuhnya sembari menyandarkan dagu di pundak Rossa.
"Capek?" Membelai surai legam Alvino. Lelaki itu mengangguk. "Semuanya berjalan baik, aku senang melakukannya. Selain menyehatkan, juga menyenangkan." Rossa tersenyum kecil. "Dia juga sepertinya sangat menyukainya." Menunduk lalu mengusap perutnya dengan tangan yang lain.
Alvino menundukkan kepalanya dan ikut mengelus perut besar Rossa. Beberapa kali kecupan sayang ia tinggalkan di perut istrinya yang dilapisi baju.
"Sehat-sehat yah, sayang β¦ sampai waktunya tiba. Papi menantikan dengan tak sabar lagi."
Rossa hanya tersenyum mendengar ocehan suaminya.
"Kak,"
Rossa menghela nafasnya, agak takut dengan apa yang ingin dia katakan.
"Hmm."
Jawaban malas yang terlontar dengan mata terpejam. Ia kembali dengan posisi semula, bersandar di pundak sang istri.
Rossa menggigit bibirnya menekan cemas yang menyergapnya.
"Apa tadi kakak menyakiti mereka?" Nafasnya sedikit tercekat.
Alvino tak bergeming. Masih terpejam dan bersandar di pundak kecil istrinya. Tidak terusik sedikitpun dengan pertanyaan sang istri. Seolah ia sudah tahu sebelumnya maksud dari gadis berparas lembut itu.
"Tidak! Kami hanya bicara soal pekerjaan." Sangkalnya. Ia mengangkat kepala lalu menegakkan punggungnya.
"Istirahatlah! Aku harus kembali ke kantor sekarang."
Perkataan yang Rossa tahu bahwa suaminya enggan membahas masalah tadi. Ia semakin yakin jika telah terjadi sesuatu. Jelas Alvino bukanlah orang yang suka bercanda dan berbasa-basi.
Alvino dengan cepat bangkit ke ruang ganti mengganti bajunya dengan yang lain. Tidak membutuhkan waktu lama untuk itu. Setelah selesai bersiap,ia menuntun Rossa berpindah ke ranjang, meninggalkan satu kecupan manis di kening gadis itu sebelum ia keluar dari sana.
Berjalan cepat berdiri di balik pintu menuju balkon kamarnya, dengan mata yang terus tertuju ke arah gerbang.
Begitu dilihatnya mobil sang suami yang tengah melaju keluar, ia segera naik kembali ke ranjang sambil meraih ponselnya lalu menghubungi seseorang.
...π¦π¦π¦...
Di lain tempat, Filen dan kakaknya baru saja tiba di apartemen sang kakak. Wanita itu berteriak marah dan menghancurkan beberapa benda milik Felix, yang ada di depan matanya.
"Aaarrrrggggghhhh!!!"
"Baj*ingan, breng*sek, sia*lan."
Maki wanita cantik itu habis-habisan. Marah, kesal, benci, dendam, semuanya bertumpuk dan berbaur menjadi satu. Tidak terlampiaskan dan malah menciptakan perasaan sakit yang luar biasa.
Alih-alih memarahi sang adik yang mengacaukan apartemennya, Felix justru membiarkan adiknya itu melakukan apapun yang dia inginkan. Setidaknya, ia akan sedikit lebih tenang setelah menyalurkan kemarahannya dengan hal itu.
Felix mengerti bahkan sangat memahami kesakitan adiknya. Luka yang tertoreh beberapa bulan lalu, jelas masih menganga dan tak kunjung sembuh.
Kesibukannya, membuat ia baru bisa membantu menemani hari-hari suram adik satu-satunya akhir-akhir ini.
Praangggg β¦.
Praangggg β¦.
__ADS_1
Beberapa pajangan Felix kembali menjadi sasaran amukan adiknya. Felix tersentak lalu bergerak merengkuh sang adik.
"Fil! Cukup, Fil."
Berusaha menghentikan Filen dari kegilaannya.
"Sudah, Sayang. Sudah, tenanglah." Meraih tubuh rapuh itu dan memeluknya dengan penuh kasih.
"Aaarrrrggggghhhh, aku membencinya dengan segala kehidupannya. Aku benci."
Filen menangis meraung dalam dekapan kakaknya. Mengeluh menyampaikan sakit hatinya yang semakin perih tak tertolong.
"Aku berjanji akan melakukan sesuatu secepatnya untuk kamu."
Aku bersumpah kau akan mendapatkan balasannya, Alvino.
..._____π¦π¦ MR π¦π¦_____...
...Setiap bilah memiliki dua sisi....
...Dia yang melukai dirinya sendiri,...
...Dan dengan melukai yang lain....
..._Victor Hugo_...
...π¦...
...Selanjutnya β¦....
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Hay semuanya π Ketemu lagi setelah 2 hari absen ππ
Maafkan otor yang suka ngilang ini, hehehe π€ Biar ngilang tapi selalu ingat kalian para readers setia π€ love you, sayangΒ²ku ππ₯°
Udah like belom?
Udah komen belom?
Awas, jangan kelupaan yah π otor ngambek ngilang lagi n'tar π π
Oke sayangΒ²ku, sampai jumpa di episode berikutnya yah π€
Ig author : @ag_sweetie0425
_______________________
Oh yah, ada lagi rekomendasi novel buat kalian nih sayang. Kalo ada waktu atau lama nunggu up selanjutnya, sabilah mampir di yang satu ini.
__ADS_1