Metamorfosa Rasa (My Glyn)

Metamorfosa Rasa (My Glyn)
Flashback Off


__ADS_3

...~ Happy Reading ~...


...________________...


...*...


...*...


...*...


Tanpa perlu berbasa-basi sebelumnya, perkelahian pun terjadi. Di tengah derasnya hujan yang terus berjatuhan dari langit serta gemuruh angin yang menebarkan dingin, tidak menyurutkan keberanian Alvino dan Alex.


Dua lelaki itu masih sangat sanggup meladeni tawaran tiga pria asing di sana untuk bertarung. Bahkan Alvino dan Alex sekali pun tidak membiarkan orang-orang itu menyentuh dan menyakiti tubuh mereka.


Keduanya saling menjaga dan melindungi diri. Sesekali Alvino akan melihat ke arah Alex untuk memastikan bahwa temannya itu tetap aman. Begitu juga sebaliknya.


Dalam keadaan terdesak seperti saat itu, Alvino masih sempat-sempatnya mengingat sang istri. Setiap serangan yang diluncurkan pria-pria asing itu, selalu bisa ia hindari dengan baik.


Jangan sampai wajah tampan ini terkena bogem, euw. Bisa ketahuan sama dia kalo gue abis berantem. No, no ….


Batin Alvino saat sebuah kepalan tangan hampir lepas landas di wajahnya.


Cukup lama pertarungan itu berlangsung, hingga tiga pria asing itu kewalahan menghadapi dua lawan mereka.


Alvino berhasil melumpuhkan salah satu di antara mereka. Tinggal duanya lagi yang masih berhadapan dengan Alex.


Lelaki berbadan kekar yang sepertinya ketua genk tersebut, dibuat Alvino hingga tersungkur dan berlutut tak berdaya. Alvino memlintir kedua tangannya ke belakang.


"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Alvino.


Karena lebatnya hujan dan riuh angin, membuat Alvino harus berbicara sambil teriak.


"Aaarrrrggggghhhh!"


Rintihan keluar dari mulut lelaki itu terdengar sakit. Namun, ia tidak ingin membuka mulutnya.


Berulang kali Alvino menyiksa dan memaksanya membuka mulut, tetapi pria itu tuk jua goyah. Dengan marah, ia kembali memberi pukulan dan tendangan pada pria itu hingga terkapar tak berdaya di tepi jalan.


Alvino beralih membantu Alex. Bernasib sama seperti teman mereka, dua orang itu pun akhirnya ditaklukkan duo A.


"Lo ngomong gak? Siapa yang nyuruh kalian hah?" bentak Alex dengan kencang.


Dua lelaki hanya menggeleng. Alex yang kesal pun melepas cengkeramannya dan menghempas kasar salah satunya.


Alex membuang nafasnya kuat, menghempaskan lelah sekaligus meredam emosinya. Ia berbalik menghadap Alvino yang tengah menatapnya dengan gerakan sama, berkacang pinggang.


"Lo yakin gak, kalo si brengsek itu or …."

__ADS_1


"Awas, Vin!"


Sreeettt ….


Ucapan Alvino terhenti begitu saja, ketika dengan spontan Alex berseru memperingatkan dirinya. Namun, terlambat.


Sebilah belati tajam telah lebih dulu menggores bajunya, hingga benang-benang yang tersusun rapi itu terlepas helai demi helai, menyisakan koyakan yang memanjang.


Bugh!


Bugh!


Hanya dengan dua kali pukulan, pria yang tadinya dibuat terkapar, kembali jatuh tergelak. Dan lebih mengenaskan lagi, Alvino melabuhkan kakinya di bagian dada pria itu dengan tekanan yang kuat.


"Brengsek, keparat! Sampaikan buat bosmu. Aku, Alvino Dharmawan, akan menemukan dirinya dalam 2 x 24 jam, bahkan bisa saja kurang dari waktu itu."


Alvino menurunkan kakinya, dengan satu kali lagi tendangan sebagai hadiah penutup. Lelaki tampan yang dipenuhi emosi itu berbalik. Tanpa ia sadari, darah segar menetes dari perutnya.


"Lo terluka, Vin." seru Alex kencang.


Alvino menunduk dan melihat darah yang bercampur dengan air hujan. Kemeja putihnya telah ternoda.


"Sh*it!"


Ia bergegas melepas semua kancing dan membuka bajunya. Digunakannya benda itu menutupi lukanya.


Sekretaris setianya itu bergerak cepat kembali ke mobil. Sedangkan Alvino melipir sejenak, berteduh di bawah pohon dekat jalanan, tidak jauh dari mobil tiga pria asing itu terparkir.


Tak lama setelah itu, Alex kembali membawakan baju lain untuknya. Masih tetap di bawah guyuran hujan, Alvino mengenakan pakaian yang kembali basah terbasuh air hujan.


Jauh beberapa radius dari tempat mereka berdiri, tampak cahaya kecil yang terlihat seperti dua titik di depan sana bergerak ke arah mereka.


"Jangan bilang ini bahaya yang kesekian kalinya, Vin."


Alex mulai berprasangka buruk. Ia rasa ini sudah di ujung lelahnya. Menyerah, mungkin kata itu yang terbaca lewat suaranya.


Alvino memicingkan matanya. "Mau gimana lagi? Kita gak punya pilihan selain hadapi." Lelaki itu kembali siaga.


Mobil yang melaju dari sana tampak semakin mendekat. Alex yang sudah lelah dan malas, ingin melarikan diri. Namun, Alvino dengan cepat menahannya.


"Mau ke mana? Noh, sana liat." Menunjuk mobil yang kian mendekat. "Itu mobil papi, bege." Alvino terkekeh di tengah-tengah rasa perihnya.


"Benarkah?" Lelaki itu memicing, memperjelas penglihatannya. Wajah kusutnya berganti dihiasi segaris senyum begitu mobil itu menepi di dekat keduanya. "Oh, untung saja. Thanks, God!"


Seorang lelaki paruh baya keluar dari sana dengan berteduhkan payung berwarna hitam. Alvino terkejut.


"Papi?" serunya. "Kenapa Papi ke sini? Bahaya, Pi." Alvino marah.

__ADS_1


"Kamu gak papah, Vin? Kalian gak papah kan?"


Alih-alih menjawab pertanyaan putranya, Tuan Dharma justru menanyakan keadaan anak semata wayangnya dan juga temannya.


"Kita baik-baik aja, Pi. Kenapa gak minta tolong yang lain aja datang ke sini? Mana udah jam segini lagi. Papi ada-ada aja. Ayo, pulang!" ajak Alvino yang tidak ingin membuang waktu lagi.


"Kamu terluka, Vin." Tuan Dharma terkejut.


"Ini gak parah, Pi. Cuman luka kecil. Jangan bilang sama mami dan Rossa, yah!"


Ayahnya mengangguk, lalu mereka pun bergegas masuk ke mobil dan segera melesat meninggalkan tempat itu.


Flashback off.


..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...


...Selanjutnya …....


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Halohaaaaaa 👋 Ketemu lagi 😊


Yang sudah baca, jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejaknya.


Like


&


Komen.


Bonusnya kasih kembang dan vote yah 😁


Thank you so much buat kalian semua yang selalu mampir 🙏🥰


Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗🥰


______________________


Oh yah, ada lagi nih .... rekomendasi novel bagus, karya teman aku 😊 Mampir yah, gaes! kalo ada waktu 🥰

__ADS_1



__ADS_2