
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
Kota xx.
Pada waktu yang sama di tempat yang berbeda, seorang wanita muda nan cantik sudah terlihat rapi di pagi itu. Setelan rok span hitam selutut dengan bleezer berwarna hitam membalut blus putih di dalamnya, nampak cantik dan elegan.
Hunian minimalis itu terdengar sedikit berisik dari hari-hari sebelumnya.
"Kenn! Kay! Apalagi yang belum? Jenn bisa terlambat nanti, cepetan dong."
Suara wanita paruh baya yang tidak lain adalah ibunya Kenn, terdengar memanggil anak-anaknya dengan sedikit mengomel.
"Iya, Bu. Ini sudah siap!"
Kenn datang dari kamar dengan tampilan yang sedikit berbeda dari biasanya. Lelaki itu terlihat lebih tampan mengenakan celana panjang jeans yang dipadukan dengan kemeja body fit berwarna navy.
"Nih." Mengulurkan kedua tangannya untuk Jenn. Mengerti itu, Jenn langsung bergerak cepat menggulung setengah lengan baju suaminya sampai ke siku.
"Makasih, Sayangku." Menghadiahkan sebuah kecupan di pipi mulus istrinya yang sudah diberi sedikit polesan make up.
"Iiih, nanti rusak lagi make up aku, Yang," gerutu Jenn sambil menepuk pelan pipinya.
Kenn tergelak. "Gak make up juga tetep cantik, kok." Jenn dan ibu melotot. "Iyah, Iyah, aku tahu. Maaf," sambungnya.
"Ini Kay mana lagi? Belum keluar kamar juga? Kay!" pekik ibu yang sudah jengah menunggu putri bungsunya.
"Aku datang!" Berlari menghampiri semua yang sudah siap dan hanya menunggunya. "Eh, eh, wait! Kelupaan." Kembali berlari masuk ke kamar.
"Apalagi, Kayla?" Lagi-lagi suara ibu memenuhi seisi rumah.
Tidak sampai tiga detik, gadis cantik itu sudah kembali lagi ke ruang tamu. "Ponsel aing, Bu. He-he-he. Ok, let's go!"
"Kita jalan yah, Bu. Hati-hati sendirian di rumah," pesan Kenn pada ibunya.
"Doain Jenn biar semuanya lancar ya, Bu!" Jenn mencium pipi keriput sang mertua.
"Pasti, Nak. Tanpa kamu minta pun ibu selalu melakukan itu," ucap ibu dengan tulus sambil mengusap lengan menantunya.
__ADS_1
"Ayo, Sayang! Udah mau jam sembilan ini," ajak Kenn.
"Dah, Ibu!" ucap Jenn dan Kay bersamaan.
Ketiganya lalu segera keluar dari rumah, berjalan menuju sebuah mobil yang sudah terparkir di depan rumah.
"Maaf ya, Pak. Udah lama nungguin," ucap Kenn pada Pak sopir.
Sopir tersebut adalah sopir keluarga teman baik Kenn, Farel. Teman baik yang sekaligus menjadi atasannya di tempat kerja. Bukan saja itu, tapi pertemanan mereka telah menjalin hubungan baik antara dua keluarga yang memiliki latar belakang sosial berbeda jauh. Hubungan pertemanan yang bermetamorfosa menjadi hubungan keluarga. Dengan kuatnya hubungan itu, lantas mematahkan perbedaan mencolok yang ada di antara mereka. Unik bukan?
"Tidak apa-apa, Nak Kenn. Ini sudah tugas saya."
Mobil yang mereka tumpangi, melaju membelah jalanan dengan kecepatan normal menuju kampus, tempat Jenn dan teman-temannya menimba ilmu.
Lima belas menit setelah menempuh perjalanan, mobil yang ditumpangi mereka berhenti mulus di parkiran kampus.
Kenn menggandeng tangan istrinya berjalan menuju sebuah ruangan yang sudah disiapkan khusus untuk beberapa mahasiswa yang akan mengikuti sidang skripsi. Kay mengikuti keduanya dengan berlari kecil mensejajarkan langkah.
Dari jauh, Jenn melihat beberapa teman sudah ada di sana menunggunya. Salah satu dari mereka tersenyum melambaikan tangan padanya. Untuk sesaat Jenn ikut tersenyum sebelum akhirnya senyum manis itu memudar dari wajahnya.
"Kenapa, Sayang?" Kenn menangkap raut istrinya yang tiba-tiba berubah.
"Gak papah, Yang." Jenn memaksakan senyum.
"Beb!" pekik Fio. Gadis sudah menunggunya di depan ruangan sidang sedari tadi.
Keduanya lalu berpelukan sejenak. Fio menyemangati teman baiknya itu.
"Semangat, Beb! Gue yakin, lo lebih dari bisa mengatasi semuanya di dalam nanti."
Jenn tersenyum terpaksa seperti tadi. Hal itu tidak bisa ditutupinya sama sekali.
"Lo kangen sama dia?" tebak Fio dan Jenn mengangguk. "Percayalah, dia pun sama merindukan lo!" Mengusap pundak Jenn. "Udah ah, semangat! Masih ada gue dan yang lainnya di sini. Lo gak akan sendiri."
"Iya, Jenn. Lo gak anggap kita di sini?" Yuni dan Retha ikut bersuara. Keduanya pun akan mengikuti sidang skripsi hari ini bersama Jenn. Di antara mereka, hanya Fio saja yang belum, karena masa cutinya masih berjalan. Gadis itu baru saja melahirkan sebulan lebih yang lalu.
"Jahat banget gue sampai gak nganggap kalian," ucap Jenn. "Kalian juga tidak kalah pentingnya bagi gue. Tapi ... yah gitu, you know-lah. Bagaimana berartinya dia," tutur Jenn.
Benar, dalam keramaian sekalipun, kehampaan bersekutu dengan kesepian lalu menyerangnya tanpa belas kasih. Terutama dalam menghadapi momen seperti saat ini, tidak dipungkiri bahwa Jenn merindukan sosok sahabat baiknya. Apalagi mereka seangkatan dan satu jurusan.
Mungkin saja hari ini bisa mereka lewati bersama, mencapai garis akhir perjuangan yang mereka tekuni bersama bertahun-tahun lalu di kampus ini. Tidak hanya itu, ketidakhadiran Putri pun turut membumbui kesedihannya.
Jenn mengakhiri kekecewaannya dan obrolan ringan mereka. Bersama dua temannya, Yuni dan Retha, mereka lalu berpamitan masuk di dalam ruangan sidang, begitu beberapa dosen penguji sudah hadir di sana. Kenn, Kay, dan Fio menunggu di depan ruangan dengan sabar.
Satu jam lebih sudah berlalu, Farel baru datang menghampiri istrinya yang masih setia menunggu Jenn dan lainnya. Lelaki itu terlihat rapi berjalan beriringan dengan seorang pria yang tidak lain adalah sopir keluarganya. Keduanya membawakan beberapa barang yang sudah dipesan oleh Kenn dan Fio sebelumnya.
__ADS_1
"Terima kasih, Pak!" ucap Kenn pada sang sopir.
Lelaki paruh baya itu berlalu pergi setelah berpamitan. Keempat orang yang masih duduk di depan ruangan tersebut, membunuh waktu dengan mengobrol santai.
"Rafa apa kabar? Sorry, gue sama Jenn sama-sama sibuk jadi belom sempat main ke rumah," ucap Kenn.
"Dia sehat kok, Om." Farel tertawa renyah menjawab pertanyaan Kenn. "Gak papah, n'tar malam kita ajak makan barang di resto," sambungnya lagi.
"Asik, jadi main lagi sama ponakan!" seru Kay begitu girang.
Kenn tersenyum kecil melihat reaksi adik perempuannya. Kay memang seperti itu, selalu suka pada bayi dan anak kecil. Waktu kelahiran baby Rafa, gadis itu sangat bersukacita. Kenn dan Jenn hanya bisa tersenyum melihat tingkah adiknya.
Tak jarang perasaan sedih menyentil hati pasangan suami-istri itu. Mereka merasa bersalah belum bisa memberikan keponakan lagi untuk adiknya, menggantikan dia yang sudah pergi. Hal ini juga yang kerap menjadi pemicu kesedihan bagi Jenn.
Tanpa terasa tiga jam sudah berlalu. Di dalam sana, Jenn dan teman-temannya telah selesai mempresentasikan hasil penelitian mereka masing-masing, yang berhasil dibuat dalam bentuk skripsi. Mereka juga telah dengan mantap mempertanggungjawabkan keorisinilan dan keabsahan data penelitian mereka selama beberapa bulan terakhir.
Setumpuk keharuan menggunung di hati tiga gadis cantik di dalam sana. Rasa haru itu meletup dan meluap membanjiri ketiganya dengan tangis bahagia. Udara kelegaan berlomba-lomba menyusup masuk ke paru-paru ketiganya.
Pintu terbuka dan derap langkah riang itu terdengar membenturkan sejuta kebahagiaan yang tiada tara.
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Selanjutnya …...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Hay semuanya 👋 ketemu lagi dengan AG 😍
Kali ini kita menyapa Kenn dan Jenn dulu yah 😁
Makasih buat yang selalu setia nungguin dan mampir di mari 🙏😘
Jangan lupa like dan komen yah, tayangku 😘
Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗
Ig author : @ag_sweetie0425
__ADS_1