Metamorfosa Rasa (My Glyn)

Metamorfosa Rasa (My Glyn)
Terlalu Pengecut


__ADS_3

...~ Happy Reading ~...


...________________...


...*...


...*...


...*...


Senja kembali menyapa. Waktunya para pekerja kembali ke rumah masing-masing dari lelahnya beraktivitas. Jalanan sore kembali ramai dipadati kendaraan beroda empat maupun beroda dua.


Langit sore selalu menjadi penenang bagi mereka yang mencintai indahnya senja. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, hati Alvino rasanya tidak tenang. Duduknya saja tak tetap gaya dengan sebentar-sebentar mengubah posisi. Alex yang fokus dengan kemudi, sesekali menoleh ke samping dan ikut risih melihat sikap temannya.


Bilang suka sama istri sendiri apa susahnya sih?


"Vin!" sapa Alex.


"Pusing gue denger bacot lo," ucap Alvino dengan ketus.


Tidak menggubris, Alex tetap ingin mengungkapkan apa yang seharusnya dia ungkapkan.


"Lo temen gue, dan gue peduli dengan hidup lo, Vin." Menoleh sebentar sebelum kembali fokus dengan kemudi.


"Gue juga gak suka liat lo terus-menerus mikirin masa lalu. Wake up, Bro! Dia udah bahagia dengan pasangannya, lo juga harus bahagia dengan pasangan lo. Buka mata, buka hati lo buat istri lo." Kali ini Alvino membiarkan teman baiknya bertutur puas. Mungkin juga dia tengah mencerna setiap lisan yang terlontar dari seseorang di sampingnya saat itu.


"Yang gue liat, dia gadis yang baik. Bahkan menurut gue, dia lebih baik dari masa lalu lo, sorry sudah mengatakan ini."


Hal baru dan luar biasa yang terjadi lagi, Alvino tidak marah sedikit pun. Tidak seperti dulu jika mendengar ada yang menjatuhkan mantan kekasihnya seperti saat ini, orang itu akan melihat sisi mengerikan dari seorang Alvino.


Mobil memasuki gerbang utama kediaman keluarga Dharmawan. Hati Alvino semakin kacau, perasaan aneh terus saja menjalarinya. Mobil sudah berhenti, tapi Alvino belum juga mau keluar. Laki-laki itu masih diam di tempatnya dengan aura gelisah yang menonjol.


"Sebenarnya apa yang lo pikirkan, Vin?"


Gengsi Lo terlalu besar.


Alex memahami betul akan hal itu. Dari caranya saja sudah bisa ditebak, bahwa lelaki itu tengah menahan gengsi yang menggalaukan hatinya sendiri. Sikapnya saja sudah bisa terbaca, bahwa rasa itu mulai ada. Simpati itu bisa tertangkap dengan transparan melalui sorot matanya.


"Gak ada!" Menarik nafasnya untuk sejenak.


Apa gue terlalu pengecut untuk ini?


Ia lalu bergegas keluar dari mobil dan segera masuk ke dalam rumah. Seperti akhir-akhir ini, setiap kembali dari kantor, mata legamnya selalu berusaha menyapu setiap sudut bangunan megah tersebut. Namun, objek yang ingin dijangkau ain tak jua terlihat.


Tidak seperti biasa yang langsung menuju kamarnya. Kali ini langkah lebar membawanya menuju ruang makan. Nihil, tak ada satu manusia pun. Ia menoleh ke arah dapur, belum juga melangkah, suara tawa riang itu sudah lebih dulu menyambutnya dalam ketidaktahuan. Langkah kaki membawanya ke sana, dan suara tawa itu semakin menusuk lembut pendengarannya.

__ADS_1


Di sana, seorang wanita cantik tengah duduk bersandar pada sebuah kursi yang didesain senyaman mungkin. Khusus untuk wanita cantik yang tengah hamil besar itu. Bak seorang putri, ia hanya duduk dan menyaksikan para pelayan di sana menyiapkan makan malam.


Kedua tangan halus itu menempel pada perutnya yang membuncit dengan sangat posesif. Raut cerah di wajahnya mengalahkan gelap yang hampir tiba, dan semua itu terlihat indah di mata seorang Alvino untuk pertama kalinya. Sebuah rasa aneh lagi-lagi menggelisahkan dirinya.


Giliran dengan yang lain bahagia sekali. Kesalnya dalam hati.


"Mantu mami cantik 'kan?"


Sebuah suara dengan satu sentuhan di pundaknya, membuat Alvino kaget bukan main. Ia mendadak salah tingkah terpergok sedang memperhatikan istrinya.


"Ngapain Mami di sini?" Berusaha terlihat wajar dan biasa. Nyatanya jantungnya sedang tidak baik-baik saja.


Mami Lusy tertawa kecil.


"Harusnya Mami yang nanya, Kamu ngapain di sini?" Menaik Turunkan alisnya. "Sengaja liatin mantu mami 'kan?" Wanita paruh baya itu menggoda anaknya yang terlihat menahan malu.


"Apaan? Orang Vino tadinya mau nyariin …." Bingung, kilah apa yang masuk akal bila terucap. "Arrgh, sudahlah!"


Berbalik dan hendak pergi sebab merasa bodoh dengan sikapnya sendiri. Dia tidak ingin ditertawakan ibunya nanti.


Wanita paruh baya itu tergelak melihat kepergian putranya. Ia hendak menyusul agar bisa menguak lebih dalam rasa di balik semua perubahan sikapnya yang perlahan menghangat. Namun, kehadiran Alex mengalihkan atensi semula.


"Selamat sore, Tan!" sapa Alex dengan sopan.


"Sore, Lex. Kebetulan sekali ada kamu." Nyonya besar keluarga Dharmawan itu nampak antusias dengan kehadiran teman baik putranya.


"Ya, mungkin seperti itu. Sedikit sih," ucap mami Lusy dan mengajak Alex ke ruang keluarga.


Sampai di sana, tidak perlu menggunakan tedeng aling, langsung saja mami Lusy menanyakan perihal putranya bila di kantor.


"Apa sikapnya di kantor juga berbeda? Atau ada yang dia katakan padamu, Nak?" tanya mami Lusy.


Alex sedikit berpikir, kemudian menceritakan keadaan Alvino di kantor yang sedikit berbeda akhir-akhir ini. Sampai pada pertanyaan konyol tadi, dan juga kegelisahannya saat perjalanan pulang. Senyum bahagia mengembang di bibir wanita paruh baya itu. Yakinnya semakin kuat bahwa putra semata wayangnya telah membuka sedikit ruang di hatinya untuk Rossa.


"Em, ngomong-ngomong, istrinya mana, Tan? Kok gak keliatan?" tanya Alex.


"Oh, ada di dapur. Lagi senang dia bercanda sama pelayan di sana. Mau temui dia?"


"Ah, iya, Tan. Mau ngucapin selamat buat dia."


Mami Lusy mengajak Alex untuk ke dapur menemui menantunya. Baru saja tiba, Alex dibuat terpana dengan sosok berbadan dua di sana. Senyum manis, tutur lembut, lisan yang santun, serta caranya berbaur dengan pelayan tanpa sungkan, membuat suasana adem memenuhi hati siapa saja yang melihatnya.


Spek bidadari anggun gini gak dilirik sama sekali? Gak nyesel tuh ….


Batin Alex dengan segaris senyum melengkung samar di wajahnya.

__ADS_1


"Ayo, sini, Lex!"


Lelaki itu baru tersadar dari lamunannya.


"Ah iya, Tan." Melangkah maju menghampiri Rossa yang masih asik dengan kenyamanannya.


Semua pelayan di sana yang melihat kedatangan nyonya besar rumah itu, dan sekretaris Alvino yang sudah sangat mereka kenal, mereka pun langsung menunduk hormat. Rossa lantas berbalik begitu menangkap gerakan para pelayan.


"Mami!" panggilnya pelan. Ia juga melihat teman suaminya di sana. Bumil cantik itu hendak berdiri tapi dicegah mami Lusy terlebih dulu.


"Gak usah banyak gerak, Sayang. Duduk saja." Rossa mematuhi. "Senang banget kayaknya, ketawa sendiri gak ngajak-ngajak mami." Berdiri di samping menantunya sambil mengusap lembut kepala gadis itu.


"Kan mami sibuk dari tadi, lain kali deh," ucap Rossa dengan senyum manis. Ia lalu beralih menatap Alex. "Halo, Kak," sapanya dengan lembut.


"Hai, cantik!" Alex tersenyum sungkan. Ia pun mengulurkan tangannya hendak memberi salam pada gadis dengan perut buncit di depannya. "Selamat atas kehadiran baby boy-nya! Sehat selalu sampai lahiran, yah!" Berucap tulus.


Rossa yang baru saja ingin menyambut tangan lelaki itu, terhenti dan terhalang sebuah suara di ambang pintu.


"Jangan sok asik!"


..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...


...Selanjutnya …...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Huh, telat yah hari ini 🤭 Maap guys 🙏


Yang penting kan udah 😁


Makasih buat yang selalu menunggu 🥰🙏


Jangan pada bosen yah 🥰


Jangan lupa juga kasih like dan komen, biar otor makin semangat 🔥


Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗

__ADS_1


Ig author : @ag_sweetie0425


__ADS_2