Metamorfosa Rasa (My Glyn)

Metamorfosa Rasa (My Glyn)
Bukan Rossa yang Dulu


__ADS_3

...~ Happy Reading ~...


...___________________...


...*...


...*...


...*...


Reza kembali ke apartemen setelah berbincang sebentar dengan tantenya. Tentu saja ia tidak memberitahukan apapun tentang Jenn, tetapi ia justru banyak bertanya tentang keadaan Rossa selama ini. Lelaki dengan aura kalem itu tampak senang dan bahagia, begitu mendengar penuturan nyonya besar keluarga Dharmawan.


Akhirnya, harapan gue sama dua bawel itu terkabulkan. Gadis baik dan sabar seperti dia emang pantas mendapatkan itu semua.


Reza menekan beberapa digit smart key apartemennya dan segera melangkah masuk. Sepi mendominasi suasana, dan ia mendapati beberapa bungkusan cemilan berserakan di atas meja depan TV. Lelaki itu mengedarkan pandangannya menyapu sekitar ruang tamu tersebut, tetapi kosong yang terlihat.


"Jenn! Put!" panggil Reza. "Girls, mau dengerin sesuatu gak?" Sekali lagi ia memanggil, tetapi tetap sama tak kunjung ada jawaban.


Tidak ingin dipermainkan, Reza bergerak menuju kamar dan memeriksa keberadaan dua sahabatnya, yang ia pikir sedang mengerjai dirinya. Sama pula, nihil. Reza berlari ke dapur sembari terus meneriaki dua nama dia perempuan itu bergantian.


Kecemasan mulai membelitnya, kala dua sosok cantik tak jua ia jumpai saat sore menjelang malam itu. Reza mendadak panik, takut terjadi sesuatu dengan dua sahabatnya. Cepat-cepat ia merogoh ponsel dan menghubungi nomor salah satu dari dua hawa itu.


"Sh*it!"


Nomor yang ia tujui rupanya tidak dibawa oleh sang pemilik. Kembali ia menghubungi yang satunya lagi dan, "Jenn!" pekik Reza begitu tersambung.


Dua gadis itu terbahak di seberang telepon, membayangkan raut panik laki-laki Reza. Tidak ingin menambah stres lelaki itu, keduanya bergegas pulang. Setibanya di apartemen, mereka berdua lalu dicecar oleh Reza.


"Jangan becanda yang gak masuk akal, Jenn! Gue gak mau tanggung jawab sama Kenn. Lo tau kalo suami lo marah kek apa, jangan memancing murkanya!" Reza memperingati Jenn.


"Kamu juga, bukannya ingetin malah ikut keluyuran. Kalo terjadi apa-apa sam kalian gimana? Jadi orang jangan suka ngeyel!" omelnya pada sang kekasih, Putri.

__ADS_1


"Iya, maap!" ucap Jenn dan Putri berbarengan. Tiba-tiba Putri menarik tangan Reza lalu disusul Jenn yang mengekor hingga duduk berdekatan di sofa ruang tamu. Keduanya kini mengapit Reza.


Lelaki itu bingung lalu bertanya, "Kalian berdua kenapa? Jauh-jauh sana."


Putri dan Jenn tidak menggubris sama sekali. "Ceritakan sekarang juga, ceritakan tentang dia, Za. Ayo!" pinta Jenn tak sabaran.


"Apa dia baik-baik saja? Kandungannya sehat? Kapan dia akan lahiran? Ah, tidak lama lagi kan? Bagaimana dengan hubungannya dengan si brengsek itu? Apa pemandangan tadi sungguh nyata?" Putri memberondong laki-laki itu dengan pertanyaan bertubi-tubi.


Reza sampai dibuat pusing dua makhluk berhati lembut itu. "Bisa satu-satu gak?"


Jenn dan Putri mulai menjauh memberikan jarak, agar bisa menatap Reza dan mendengar cerita lelaki itu. Keduanya sudah bersiap dan mengambil posisi yang baik dengan rasa penasaran yang meluap-luap.


Tiba-tiba Reza berdiri. "Nanti saja yah, gue capek!"


"Rezaaaa!" Pekikan nyaring kedua gadis itu, melengking memenuhi seluruh unit apartemen Reza. Giliran laki-laki itu yang terbahak melihat kekesalan keduanya.


"Kesel 'kan? Gue tadi juga gitu." Reza kembali duduk setelah tertawa puas.


"Za, lakukan sesuatu biar kita bisa ketemu dia sebentar aja, please!" Putri mengatupkan kedua tangannya sembari bermohon.


Sementara itu, Jenn hanya diam saja. Ia menyadari sungguh bahwa bertemu dengan sahabatnya itu, tidaklah semudah dulu. Ingatan tentang sumpah Alvino kala itu, membuat Jenn tidak ingin berharap apapun. Cukup tahu tentang keadaan Rossa saja, sudah cukup baginya.


"Gue gak bisa janji apa-apa untuk kalian berdua. Asal kalian tahu, Rossa sekarang itu beda, dia sekarang istri seorang Alvino Dharmawan. Setiap pergerakannya dipantau, perjalanannya selalu dikawal. Ingat, dia bukan Rossa Glyn milik kita yang dulu, dia itu Nona Muda keluarga Dharmawan. Alvino bisa bunuh gue kalo tau apa yang kita lakukan." Reza mencoba memberikan pemahaman.


"Jangan, Za! Jangan coba-coba membangkitkan amarahnya. Denger mereka berdua bahagia aja dah cukup banget buat gue. Gue gak berharap lebih dari itu." Jenn menyadari semua kerumitan ini adalah kesalahannya.


Reza menepuk pelan pundak Jenn. "Udah, gosah sedih. Gue bakal cari cara aman. Lewat video call juga jadi. Nanti besok gue ke sana pagi-pagi banget setelah Tuan Muda pergi ke kantor. Gue curi kesempatan saat dia gak ada. Paling tante Lusy dukung kok." Lelaki itu berusaha menghibur Jenn dan juga Putri.


Kasih aku kesempatan sekali saja untuk melihatnya dari jauh, Tuhan!


Jenn membatin dalam doa, memanjatkan harapan terbesarnya mendatangi kota ini.

__ADS_1


Malam merangkak perlahan menuju pagi. Reza terbangun kala dering ponsel berulangkali mengusiknya.


📲 "Hmm."


📲 " ... "


📲 "Ha? Siap, tan!"


Reza yang tadinya menjawab telepon sambil terpejam, seketika melebarkan matanya. Ia langsung melompat dari tempat tidur kala telepon itu dimatikan.


"Jen! Putri! I get it!"


..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...


...Selanjutnya .......


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Hai, semuanya 👋


Jangan lupa like dan komen yah 😍 Bentar lagi bakal tamat 🤭


Sampai jumpa di bab selanjutnya 🤗

__ADS_1


__ADS_2