
Dear, readers tercinta π
Sebelum lanjut, otor cuman mau ngingetin. Setiap selesai baca, jangan lupa untuk selalu meninggalkan jejaknya. Gak banyakΒ², cuman like dan komen aja. Mudah kan? Ayolah, jadi pembaca yang aktif, jangan pasif. Terima kasih untuk kunjungan dan dukungannya π
Love you, all π
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
Bunyi bel pada pintu sebuah unit apartemen, terdengar nyaring mengusik ketenangan penghuninya.
Beberapa kali benda tersebut berdengung, menggema memenuhi seisi ruangan mewah di dalam sana. Namun, tak kunjung jua ada yang membuka pintu.
"Ngapain aja dia di dalam?"
Seorang wanita yang tengah berdiri di depan sana menggerutu kesal. Sekali lagi ia mencobanya, tetap saja hal sama yang ia dapatkan.
"Tidur apa mati sih?"
Brakkk,
Brakkk,
Tidak dapat lagi untuk menahan, ia menggedor-gedor pintu tersebut secara brutal. Ia berhenti sejenak dan kembali lagi membunyikan bel-nya begitu mendapat tatapan aneh dari tetangga sebelah.
Untuk bunyi bel yang kesekian kalinya ini, ada respon baik yang ia dapatkan. Tak sampai berapa lama, pintu itu terbuka.
Seorang pria berdiri di depan sana dengan hanya menggunakan celana selutut tanpa baju, tampang acak-acakan, serta sesekali masih menguap.
"Ngapain aja sampe jam segini baru bangun?"
Wanita itu mendorong seseorang yang terlihat masih mengantuk di depan pintu. Ia lalu melenggang masuk menuju ruang tamu.
Dihempaskan tubuh rampingnya di atas sofa. Wanita itu lalu meletakkan tas serta melepas bleezer yang dikenakannya dan dilemparkan ke sembarang arah. High heels di kakinya pun dilepas.
Setelah itu ia merebahkan tubuhnya yang tampak lelah.
"Ck, jangan main buang sembarangan gitu, Fil!"" Tegur lelaki yang baru saja menyusulnya.
Wanita cantik yang tidak lain adalah Filensya, mendengus. Ia menatap kesal lelaki yang duduk berseberangan dengannya saat ini.
"Gak usah bacot kalo apa yang Kakak lakukan semalam gagal."
Tampak kemarahan tersirat di wajah cantiknya, bercampur dengan kecewa dan dendam yang belum terbalaskan.
__ADS_1
Lelaki itu berdiri dan melangkah ke dapur. Ia membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral dari dalam sana. Diteguknya air dalam botol tersebut hingga setengah.
"Aku sudah berusaha, Sayang. Mungkin dia punya cadangan nyawa lebih." Mengedikan bahunya.
Lelaki itu kembali bergabung bersama wanita cantik yang merupakan adik kandungnya.
"Kakak minta supaya kamu berhati-hati. Jangan dulu menghubungi gadis itu, apalagi sampai bertemu dengannya. Bahaya, Sayang."
Rupanya lelaki itu memikirkan keselamatan adik satu-satunya.
"Jadi aku harus menunggu lagi? Sampai kapan, Kak? Aku semakin tidak sabar untuk melihat kehancurannya. Aaarrrrggggghhhh, si brengsek itu." Filen menggeram kesal.
Lelaki yang masih duduk bertelanjang dada di sana, membuang nafasnya kasar. Tidak tahu cara apalagi yang harus ia lakukan untuk wanita cantik yang sangat disayanginya itu.
"Mau kakak masak apa buat kamu?" tanyanya.
Ia hanya ingin meredam kekesalan adiknya, serta mengalihkan sedikit saja perhatian wanita itu dari dendam yang telah lama menggerogotinya.
"Ck, gak lapar. Cuman pengen makan orang," jawab Filen ketus.
Gelak tawa pecah memenuhi ruang tamu apartemen itu.
"Fel!"
Filen tertegun mendengar sebuah suara ayu yang memanggil nama kakaknya. Wanita cantik itu bangun dan melihat ke arah sumber suara.
Ia terkejut mendapati seorang perempuan yang tampak hampir seumuran dengannya berdiri di anakan tangga. Pakaian yang dikenakannya sangatlah tidak pantas untuk dilihat.
Filen murka dan langsung berdiri menatap tajam perempuan di sana.
Ekspresi ketidaksukaan tak tanggung-tanggung ia tunjukkan.
"Sayang, tenang dulu yah."
Sang kakak bergerak cepat mendekati sang adik dan berusaha menenangkannya.
"Apa? Sayang? Jadi lo punya wanita lain, Fel?"
Laki-laki bernama Felix, terlihat biasa saja begitu ia mendapat pertanyaan dari gadis yang masih diam berdiri di tangga. Seolah ia tidak begitu peduli dengan gadis itu.
Filen menepis tangan sang kakak dari pundaknya. Ia melangkah mendekati gadis dengan busana menjijikkan menurutnya.
"Sekarang juga kamu keluar dari sini," ucap Filen pelan tapi tegas.
Gadis balik menatap Filen dengan tajam, seolah menantang. Ia melipat tangannya di atas perut.
"Kalo gue gak mau? Lo mau apa? Kenapa bukan Lo aja yang pergi?"
Mendengar itu, darah Filen mendidih. Dia yang tengah kesal dan marah karena dendam yang belum terbalaskan, menjadi semakin marah.
Tanpa sepatah kata lagi, tangannya dengan cepat menarik gadis itu secara kasar menuruni tangga.
__ADS_1
Belum juga mencapai pintu, tangan Filen sudah dihemapas oleh gadis itu tak kalah kasarnya. Filen nyaris terjatuh, untung saja Felix dengan gesit menangkapnya.
Saat gadis itu hendak menyerangnya, tangan besar Felix sudah lebih dulu menepis, bahkan mendorong tubuh gadis itu hingga terjatuh.
"Jangan coba-coba berpikir untuk menyakitinya. Secuil saja dari tubuhnya jangan pernah Lo sentuh, ngerti?"
Telunjuk Felix mengarah tepat di wajah gadis itu. Emosi mulai terlihat di wajah tampannya.
"Sekarang juga, gua minta Lo keluar dari sini." Tegas Felix.
Gadis itu terbelalak, tidak percaya dengan apa yang dilihat dan didengarnya saat ini.
"Lo? Jadi lo lebih milih dia?"
"Ya, karena dia lebih berarti."
Jawaban Felix membuat gadis itu semakin meradang.
"Udah kan? Get out!"
Felix mempersilahkan gadis itu keluar dengan tenang. Tangannya lurus mengarah pada pintu. Tidak dapat lagi untuk berkata-kata, gadis berpakaian seksi itu berjalan keluar dari sana dengan wajah merah padam. Marah dan malu terlihat kental menghiasi wajah judesnya.
Brakkk!
Felix dan Filen meringis sambil menutup telinga, bersamaan dengan pintu yang tertutup karena hantaman keras.
Begitu gadis tadi telah keluar dan menghilang dari pandangan keduanya, Filen berbalik menatap kakaknya dengan tatapan intimidasi.
"Who is she?"
..._____π¦π¦ MR π¦π¦_____...
...Selanjutnya β¦....
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Siapa hayoooo??? Tebak-tebakan lagi π
Aku balik lagi nih, lumayan 2 kali sehari π
Terima kasih buat yang selalu mampir π
__ADS_1
Sampai jumpa di episode berikutnya yah π€
Ig author : @ag_sweetie0425