Metamorfosa Rasa (My Glyn)

Metamorfosa Rasa (My Glyn)
Makan Malam


__ADS_3

...~ Happy Reading ~...


...________________...


...*...


...*...


...*...


Malam tiba dengan membawa serta bala tentaranya menerangi pertiwi. Gemintang menebarkan kilau yang memperindah gulita. Satu kebesaran lagi sang Pencipta yang tidak terbantahkan.


Di belahan kota lain, ada kebahagian yang tak pernah pudar dalam kisah Jenn dan Kenn. Pasangan suami-istri sederhana ini selalu dikelilingi orang-orang baik.


Untuk merayakan keberhasilan Jenn dan teman-temannya siang tadi, mereka sekeluarga memilih makan malam bersama di sebuah restoran. Tentunya bersama Farel, Fio, dan keluarga besar mereka, tidak lupa teman-teman seperjuangannya juga turut ada di sana.


"Makan dulu, Jenn." Ibu mertuanya mengingatkan. Pasalnya, semua yang di sana sibuk menyelesaikan makanan mereka sembari sesekali bercerita dan bercanda. Namun, Jenn justru sibuk bermain dengan bayinya Fio.


"Nanti saja, Bu. Udah berapa hari gak liat ini baby, jadinya kangen." Berbicara tapi matanya tetap fokus pada bayi laki-laki tampan yang berada dalam gendongannya. Sesekali Jenn akan mencium gemas anak itu.


Melihat istrinya yang begitu bahagia dengan kehadiran baby Rafa, Kenn jadi tidak ingin merusak kebahagiaannya. Dia berinisiatif untuk menyuapi istrinya saja.


"Aaa ... buka mulut, Sayang," pinta Kenn lembut.


"Nanti aja, Yang. Aku belum laper." Menolak.


"Gak bisa, Sayang! Ini semua orang udah pada mau habis makan, kamu aja yang belom sama sekali. Makan dulu yah," ucap Kenn dengan sendok yang berisi makanan di tangannya.


Jenn yang selalu dibuat luluh oleh kelembutan Kenn, akhirnya menerima suapan dari suaminya. Wanita cantik itu makan disuapi sang suami sambil bermain dengan seorang bayi di pangkuannya. Pemandangan begitu indah di mata semua orang yang ada di sana. Mereka terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.


Meskipun begitu, ada pula secuil perasaan sedih yang menyapa hati setiap mereka yang menyaksikan itu. Mereka tahu sebesar apa pasangan suami-istri itu merindukan seorang anak. Insiden penculikan beberapa bulan lalu yang membuat Jenn kehilangan bayinya, membuat pasangan ini belum lagi mendapatkan anak.


Dokter merekomendasikan jarak aman kehamilan berikutnya setelah keguguran sekitar 6-12 bulan. Namun, ini sudah 7 bulan berlalu, tapi Jenn belum juga mendapat kabar baik itu lagi.


Rasa kehilangan dan kehampaan itu sering kali membunuh semangat Jenn. Namun, Kenn selalu punya seribu satu cara untuk menghibur dan membangkitkan semangat istrinya lagi. Ia pun tidak ingin memaksa atau membahas hal ini sama sekali. Bagi Kenn, ada dan tidak adanya seorang anak, Jenn saja sudahlah sangat cukup untuk menyempurnakan hidupnya. Biarlah itu Tuhan yang mengatur, kapanpun waktunya, ia akan menunggu dengan sabar.


"Manis banget sih mereka." Fio gemas sendiri melihat anaknya yang berada dalam pelukan Jenn.


"Semoga kabar baik itu segera menghampiri mereka yah, Sayang," ucap Farel yang duduk di samping istrinya. Fio mengangguk.


Tiba-tiba Kay berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri Jenn.


"Gantian dulu, Kak. Kay juga pengen main sama Rafa sebelum pulang," rengek Kay.

__ADS_1


Jenn menatap adik iparnya untuk sesaat. Tampak senyum samar tersungging di wajah cantiknya. Ia lalu memberikan Rafa pada Kay.


"Makan lagi, Sayang." Kenn hendak memberikan sesendok makan pada istrinya, tapi Jenn menolak. "Kenapa? Sedikit lagi dong."


Jenn malah meraih sendok dari tangan suaminya. "Aku bisa sendiri, Yang." Tersenyum sekilas pada Kenn dan ia pun melanjutkan makannya.


Tidak perlu sebuah penjelasan, Kenn tahu persis rasa apa yang tengah mengusik hati istrinya saat ini. Sorot matanya terkuak sejuta kerinduan yang lama terpendam.


Di tengah-tengah aktivitas makannya, ponsel Jenn berbunyi. Ia meraih benda pipih persegi yang letaknya tidak jauh di sampingnya. Keningnya mengerut melihat sebuah notifikasi pesan dari nomor kontak dengan emoji hati berwarna merah.


💌 Jangan terlalu memikirkannya. Ada ataupun tidak, cepat ataupun lambat, aku tetap mencintaimu. Pikirkan saja hal itu, jangan pikirkan yang lain. Aku akan tetap dan akan selalu mencintaimu, sayangku 😘


Jenn tersenyum manis dan lebih lebar kali ini. Ia menoleh pada suaminya. "I love you too, Sayangku," bisiknya pada Kenn.


...*****...


Di kediaman keluarga Dharmawan.


Ruangan makan pada rumah besar itu tampak berbeda dari yang sebelumnya. Hanya ada Alvino dan kedua orangtuanya. Tidak ada Rossa di sana. Bukan suasana yang membuat beda, tetapi sikap Alvino. Kenapa?


Lelaki tampan itu tidak tenang rasanya. Makan pun tidak bisa ia nikmati dengan baik. Obrolan-obrolan dengan papinya pun tak bisa ia imbangi ataupun menanggapi dengan wajar. Tampaknya ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Kegelisahan itu tak luput dari perhatian mami Lusy.


"Kamu kenapa, Vin?" tanya mami Lusy tapi tak ada jawaban. Alvino hanya diam. Entah dia dengar ataukah tidak. "Vin? Vino!" panggilnya sekali lagi, tapi lagi-lagi tak ada jawaban.


"Alvino!" pekik mami Lusy sambil menggebrak meja. Wanita paruh baya itu geram melihat tingkah putranya yang seperti orang linglung.


"Mami!!!" Ayah dan anak itu sama-sama kaget dan berteriak.


"Mami apa-apaan sih? Mau buat papi jantungan, hah?" Papinya Alvino menggerutu.


"Kesambet apa Mami?" tanya Alvino dengan kesal.


"Kamu yang kesambet apa? Ditanyain dari tadi gak jawab-jawab. "Mikir apa sih? Bikin kesel aja deh."


"Mikirin mantu Mami lah, siapa lagi?"


Alvino yang keceplosan langsung menjadi salah tingkah sendiri.


Sedangkan mami Lusy terbelalak mendengar ucapan putranya. Wanita paruh baya itu sampai bangkit dari tempat duduknya.


"Bilang apa tadi? Katakan sekali lagi." Binar bahagia langsung terpancar dari wajah cantiknya yang mulai mengeriput.


Ah, bodoh banget. Kok bisa keceplosan gini sih? Ck!

__ADS_1


Inilah alasan kegelisahannya sejak tadi. Tidak adanya gadis itu di sana, membuat atensi Alvino berlarian dan tertuju padanya. Tidak ingin dibanjiri pertanyaan dari maminya, Alvino pun bangkit dan hendak meninggalkan meja makan.


"Vino udah kenyang, Pi, Mi. Duluan yah." Sudah langsung membalikkan tubuhnya.


"Vin, Vino! Hey, jawab pertanyaan mami dulu!" Alvino tak lagi berbalik. "Bilang sekali lagi, Nak. Mami mau dengar lebih jelas." Terus melangkah pergi tanpa membalas kata-kata maminya sekali saja. "Bilang aja kalau sudah mencintai mantu mami, Vin!" pekik wanita tua itu dengan gembira.


Tuan besar Dharmawan menggeleng kepala melihat aksi istrinya yang berteriak seperti di pasar.


"Pi, Papi dengar kan, dia bilang apa? Aaaaaaa ... mami bahagia banget dengernya." Kembali duduk di tempatnya dan menyelesaikan makanannya.


"Papi juga senang. Semoga kesenjangan ini cepat berakhir yah, Mi."


Pasangan paruh baya itu tersenyum bahagia, merasakan dampak dari perubahan sikap putra semata wayang mereka.


..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...


...Meninggalkan dan melupakan seseorang mungkin lebih baik, daripada menetap dalam kenyamanan tanpa kepastian....


..._Putu Bagus Ade [Seni Merawat Sanubari]_...


...🦋🦋🦋...


...Selanjutnya …...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Hay sayang 👋 Maap, hari ini terlambat lagi 😁😍


Makasih udah setia nungguin 🤗🥰


Jangan pada bosen yah 🥰


Jangan lupa juga kasih like dan komen 🙏


Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗

__ADS_1


Ig author : @ag_sweetie0425


__ADS_2