Metamorfosa Rasa (My Glyn)

Metamorfosa Rasa (My Glyn)
Mawar Berduri


__ADS_3

...~ Happy Reading ~...


...________________...


...*...


...*...


...*...


Tiga hari kemudian.


Terhitung seminggu sudah, Rossa tidak lagi bertemu dengan teman barunya yang waktu itu bertemu di resto. Padahal ia berharap dengan adanya orang luar yang ia kenal, sedikit saja bisa mengurangi kondisinya yang sudah seperti tahanan rumah. Paling tidak, dia punya alasan untuk keluar tanpa pengawasan mami Lusy.


Nyatanya dia salah. Selain mami Lusy, ada mata lain yang selalu mengawasinya ketika ke luar. Lagi pula, sepertinya takdir tidak berjalan sesuai dengan harapannya. Setelah sekian purnama terkurung di dalam penjara yang dibangun sang mertua, serta hidup tanpa adanya cinta dari sang suami, hal itu memupuk tekad kuat dalam benaknya untuk terbebas sedikit saja.


Namun, ia tidak memiliki alasan tepat agar bisa dijadikan cela. Saat kesempatan itu baru datang dan ia mulai merasa senang, tanpa ia sadari, hati beku suaminya mulai mencair. Hal itu malah semakin mengekangnya dengan keposesifan sang suami yang berkedok marah.


Pagi ini Rossa terbangun dan langsung mencari keberadaan mertuanya. Ia hendak meminta izin untuk ke luar sebentar saja hari ini.


Gadis itu celingak-celinguk di depan pintu kamarnya, tetapi sosok sang mertua tak kunjung ia temui. Ia lalu menuju ruang keluarga, tidak ada. Rossa pun berjalan ke dapur.


"Selamat pagi, Bu!" sapa Rossa pada seorang pelayan. "Liat mami gak, Bu?" tanyanya.


Wanita paruh baya yang menjabat sebagai kepala pelayan di rumah besar itu sedikit menunduk memberi hormat pada Rossa.


"Selamat pagi, Nona! Tapi maaf, tidak ada nyonya di sini," ucapnya sopan.


Rossa hanya diam dan mengangguk. Sedetik kemudian ia kembali berbicara.


"Bu, Rossa kan udah pernah bilang, panggil Rossa aja. Gak usah bersikap berlebihan seperti itu lagi yah. Rossa gak enak." Benar, ia selalu risih dengan situasi seperti itu. Namun, bagaimana lagi? Memang sudah seharusnya seperti itu bukan?


"Kalau gak ada mami dan yang lainnya, panggil Rossa aja, Bu. Ya, ya," bujuknya lagi.


Wanita paruh baya itu tersenyum kecil sambil kembali menunduk.


"Maaf sekali, Nona! Tetap saja tidak bisa. Sudah seharusnya kami seperti ini pada anda," ucap kepala pelayan.


Rossa mengerucutkan bibirnya memasang wajah sedih. "Ya udah deh. Rossa mau cari mami lagi kalo gitu." Hendak berbalik, tapi sebuah suara kembali menahannya.


"Jangan sedih Nona, saya akan melakukan seperti yang anda mau." Salah seorang dari pelayan bersuara.


"Really?"


Rossa tampak berbinar. Ia bahkan semakin maju mendekati pelayan yang tampak seumuran dengannya. Namun, sorot mata tajam dari kepala pelayan membuat gadis tadi menunduk takut.


"Panggil aku Rossa mulai sekarang. Ayo!" Rossa begitu bersemangat. Ia bahkan meraih tangan gadis pelayan itu dan menggoyang pelan.


"Kenapa diam saja?" Bingung melihat gadis di depannya hanya terdiam.

__ADS_1


"Maaf, Nona! Kami harus melanjutkan pekerjaan kami." Kepala pelayan sengaja menyudahi pembicaraan Rossa yang rasanya tidak mungkin.


Bumil cantik itu menatap wajah kepala pelayan dengan wajah datar. Beberapa detik kemudian ia berdecak sambil tersenyum.


"Gak usah takut, panggil aku sesukamu. Asal jangan dengan sebutan tadi. Ayo!" Kesannya memaksa.


Gadis pelayan itu melirik pada wanita paruh baya yang berdiri di samping menantu keluarga Dharmawan.


"Iih, jangan pedulikan yang lain. Ayo, panggil aku Rossa! Kalo gak, aku nangis ini." Sudah memasang wajah sedih ingin menangis.


"Jangan, Nona! Jangan menangis! Tapi, aku panggil Kakak cantik saja, gimana?" Mengajukan sedikit penawaran yang tidak begitu buruk. "Tidak sopan memanggil nama Nona begitu saja," ucap pelayan muda itu spontan.


Rossa tampak berpikir. Sedetik kemudian ia berjingkrak senang sampai lupa dengan kondisinya yang sedang hamil. Hal yang dilakukannya itu seolah ancaman besar bagi pelayan-pelayan yang ada saat itu dengannya.


"Astaga, Nona!" Kepala pelayan langsung menahannya tanpa permisi. "Ingat anda sedang hamil, Nona. Maafkan saya yang sudah lancang." Melepaskan tangan dengan cepat dari lengan Rossa seraya sedikit membungkuk.


"Ah, iya, Bu. Maaf, sampai lupa." Terkikik pelan menatap kepala pelayan. Ia beralih menatap pelayan yang terlihat begitu muda. "Terserah! Asalkan jangan ada embel-embel Nona." Rossa berbinar. "Siapa namamu?" tanyanya.


"Saya Tari, Nona." Ia masih tidak berani menatap Rossa.


"Ck, panggilan itu lagi, itu lagi." Rossa kesal.


"I-iya, Kak Cantik." Rossa tersenyum lebar.


"Sekarang kita adalah teman!" Langsung memeluk gadis pelayan itu. "Ingat, jangan panggil seperti yang tadi lagi yah!" pesannya lagi.


Nona ada-ada saja. Tidak salah nyonya dan tuan begitu menyayanginya. Semoga hati tuan muda juga luluh secepatnya.


Batin kepala pelayan rumah besar itu.


"Aku lanjut nyariin mami dulu yah. Nanti kita bertemu lagi, Tari." Rossa pun berlalu pergi dari sana setelah berpamitan.


Senyum sumringah terus terpancar dari wajahnya. Ia berjalan sembarang arah hingga langkah kakinya berhenti di depan pintu samping rumah mega itu. Dilihatnya sang mertua yang tengah berjalan di taman sambil mengamati warna-warni kembang yang bermekaran.


"Mami," sapa Rossa dengan riang.


Mami Lusy berbalik dan mendapati menantunya tengah berdiri di depan pintu. Ia melambaikan tangannya memberi isyarat agar mendekat.


"Sini, Sayang. Hati-hati," ucap mami Lusy. Rossa lalu menghampiri mertuanya.


"Rossa nyariin Mami dari tadi, tau-tau Mami di sini." Berbicara tapi matanya sibuk menyapu taman sekedar memuaskan pandangan. "Boleh dipetik setangkai gak, Mi?" tanyanya.


"Izin dulu sama yang merawatnya. Dibolehin gak?" canda sang mertua.


Rossa baru menatap wajah mertuanya kali ini. Keningnya mengerut hendak bertanya tetapi sebuah suara sudah lebih dulu terdengar, seolah menjawab tanya yang belum sempat terlontar.


"Selamat pagi, Nona! Terserah saja mau berapa banyak yang Nona ingin ambil," ucap seseorang. Ternyata tukang kebun, yang bertugas mengurus dan merawat taman.


Rossa kaget. Pikirnya hanya ada dirinya dan sang mertua di sana.

__ADS_1


"Eh, Bapak! Maaf, Rossa gak liat. Kiirain cuman ada Mami di sini." Mami Lusy tertawa kecil melihat Rossa yang kaget.


"Rossa cuman mau satu aja kok." Ia pun memetik setangkai mawar merah segar lalu menciumnya.


"Hati-hati, awas kena duri," pesan mami Lusy.


Rossa tersenyum kecil sambil menatap mawar yang sudah ada di tangannya.


"Cuman karena duri yang kecil Rossa tak lantas terluka dalam, Mi. Perihnya hanya sebentar dan setelah itu hilang tanpa jejak. Setidaknya Rossa bisa mendapatkan sekuntum kebahagiaan darinya," ucap Rossa penuh makna yang dalam. Mami Lusy pun sangat memahami maknanya.


Seperti itulah kebahagiaan yang sebentar lagi akan menyentuh hatimu, Nak.


"Makasih yah, Pak!" Berterimakasih pada tulang kebun.


Setelah itu, mami Lusy mengajak Rossa untuk duduk sebentar di bangku taman, sembari berjemur di bawah terpaan hangatnya surya.


"Ngomong-ngomong, nyari mami buat apa, Sayang?" tanya wanita paruh baya itu.


"Oh iya, lupa." Rossa tertawa kecil.


"Bukan apa-apa kok, Mi. Cuman mau minta izin buat jalan-jalan sama Filen hari ini. Boleh gak, Mi?"


Semoga diizinin. Harapnya dalam hati.


..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...


...Selanjutnya …...


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Hay semuanya 👋 AG balik lagi 🤗 Ada yang kangen gak 😆 Jujur i miss you all 😘


Maaf baru bisa up lagi 🙏 Otor sibuk 3 hari ini dan capek banget sampai gak sempet up. Nah, sesuai janji, bakal double up, nih otor penuhi janji 😍


Terima kasih buat yang setia menunggu 🙏


Spesial buat kak Reni 🤗🥰 Thank kak 🙏


Jangan lupa tinggalkan like dan komen yah 🙏


Ig author : @ag_sweetie0425

__ADS_1


__ADS_2