Metamorfosa Rasa (My Glyn)

Metamorfosa Rasa (My Glyn)
Curiga Alvino


__ADS_3

...~ Happy Reading ~...


...________________...


...*...


...*...


...*...


Sorot tajam membias dari sepasang mata elang. Titik fokus itu bagai sinar laser, yang jatuh tepat pada tempat di mana tangan sang istri berlabuh tadi.


Rossa yang menyadari itu hanya menunjukkan cengiran tanpa ingin membela diri. Sudah pasti dia yang salah dalam posisi dan argumen apapun.


"Maaf, Papi!" Akhirnya hanya itu yang terlafal.


Suara lembut dengan tutur santun itu, selalu mampu menenangkan Alvino dan siapapun. Reza yang mendengar itu pun, lantas menoleh tak percaya pada Rossa.


Apa tadi panggilannya? Telinga gue masih berfungsi kan ini?


Reza membatin sembari menatap Rossa dengan tangan yang mengusap-usap kupingnya.


Menit belum juga berpindah ke menit yang lain, langkah lebar Alvino telah berhasil menyeretnya hingga berdiri tepat di depan Reza. Tidak tanggung-tanggung, kedua tangannya langsung menarik kerah baju yang dikenakan Reza.


"A-apa-apaan ini, Bang?" Reza refleks berdiri dari duduknya.


Rossa pun turut berusaha bangkit tuk menghentikan suaminya. "Aku yang salah, Papi!"


Tangan halusnya menyentuh lengan sang suami yang masih bertengger di kerah Reza. Beres kalau sampai pawangnya sudah turun tangan.


Alvino langsung melepaskan adik sepupunya dengan sebuah peringatan keras sebelum itu. "Jaga mata lo kalo masih mau ngeliat dunia, dan jaga jarak dari dia!"


Reza menganga bodoh, antara bingung dan tidak percaya. Ingatannya seketika berlari mundur di beberapa waktu silam, di mana pasutri di depannya ini seperti orang asing yang tidak saling peduli.

__ADS_1


Ia semakin terlonjak dan terbelalak, begitu melihat pemandangan luar biasa saat itu. Alvino yang memperlakukan Rossa dengan sangat lembut dan tampak penuh sayang, rupanya membungkam Reza dalam takjub yang masih jua meragu.


Apa ini? Nyata atau … ah, mana mungkin sandiwara, bang Vino bukan orang yang suka berpura-pura.


"Udah, Kak. Malu di liatin Re …." Ucapan Rossa terhenti begitu saja.


What the hell!


Reza yang tadinya masih larut dalam putaran waktu lalu, kini tersadar dengan pemandangan sedikit vulgar di depannya. Bukannya malu, lelaki kalem itu malam tersenyum senang meskipun agak canggung juga.


"Gerah banget yah, apa AC rumah mewah ini tidak berfungsi?" Sengaja mengipasi wajahnya menggunakan tangan.


Rossa begitu malu setengah mati, lantas menyembunyikan wajahnya yang telah memerah di dada sang suami. Namun, Alvino justru sebaliknya. Lelaki itu tampak biasa saja, bahkan terkesan ingin pamer di depan adik sepupunya.


"Gak mandi berapa lama lo? Sana mandi," ucap Alvino menanggapi santai sindiran adiknya.


Lelaki tampan berlesung pipi itu langsung hendak membawa istrinya pergi dari hadapan Reza, tetapi kembali ia berhenti sejenak.


Netra legam itu kembali berkilat dengan sedikit kilau curiga membumbuinya. Ada hal yang entah kenapa tiba-tiba berkecamuk dalam benak Alvino, kala ia benar-benar menyadari kedatangan adik sepupunya itu.


"Huss … jangan gitu, Pi! Gak sopan, jahara sama adik sendiri," tegur Rossa pada suaminya.


Bumil cantik itu mulai meraba dalam nada-nada ketus sang suami. Situasi menceburkannya dalam pikiran Alvino, dan ia jumpai curiga yang terapung di sana.


"Udah, kita makan siang sama-sama aja, yuk!" ajak Rossa. Namun, kedua lelaki itu masih saling berdebat dalam diam lewat tatapan.


"Aku dan anakmu sudah sangat laper, Papi," bisik Rossa di telinga suaminya.


Saat itu juga Alvino memutuskan untuk memendam kecurigaannya. Gelora tuk menguak maksud kehadiran Reza, menyurut dan disimpan kembali.


Alvino menarik lembut tangan istrinya dan segera berlalu menuju ruang makan. Menyaksikan itu, Reza bernafas lega. Ada jawaban atas setiap tanya yang tidak sempat terlontar, ada warta suka cita yang dapat ia sampaikan pada dua kaum hawa nantinya.


Reza cepat-cepat merogoh gawai dari dalam saku celananya, lalu mendial beberapa digit di atas layar touch screen.

__ADS_1


...*****...


"Tujuan kita ke sini buat apa sih? Bukannya jalan-jalan malah terkurung kek gini," gerutu seorang gadis cantik.


Di ruang tamu sebuah apartemen mewah, tampak dua perempuan muda nan cantik tengah bersantai sambil menonton di sana. Sebungkus keripik kentang berukuran jumbo, terletak di tengah-tengah memisahkan jarak di antara mereka, terlihat sisa separuh.


"Sabar, tunggu si kunyuk ngasih kabar." Gadis yang satunya menjawab sambil mengunyah.


Tiba-tiba benda pipih persegi yang tergolek di atas meja, berbunyi membaurkan dering dan volume TV bersahut-sahutan. Kedua dara itu langsung melompat dari sofa, berebutan meraih benda pintar tersebut.


Melihat nama dan foto seseorang yang terpampang di layar kaca itu, keduanya sudah bisa menebak, kabar apa yang akan mereka dengar.


📲 "Halo, Za!"


..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...


...Selanjutnya …....


...*...


...*...


...*...


...*...


...*...


Hai, ketemu lagi 🤗


Jangan lupa jejak dukungannya yah 🥰


Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗

__ADS_1


__ADS_2