
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
Alvino tergelak mendengar omelan serta melihat wajah cemberut istrinya.
"Kenapa jadi menggemaskan begini sih?"
Tidak tahan dengan tingkah sang istri, lelaki tampan dengan senyum manis itu mencubit gemas kedua pipi chubby istrinya serta menggoyang ke kiri dan ke kanan.
Rossa menurunkan tangan besar Alvino dengan lembut.
"Sakit, Kak!" Gadis itu hanya mengusap-usap pipinya. "Lain kali jangan kek gitu lagi, malu tau diliatin sama yang lain." Masih kesal dengan kiss mark yang diberikan Alvino tadi.
"Suka-suka aku dong, Honey. You are mine," bisik Alvino dengan desisan nakal. Rossa bergidik dan itu membuat Alvino sangat terhibur. "Tidak ada seorangpun yang bisa menghalangi aku, jika aku menginginkan yang lebih dari ini." Fiuuuuhhh … ia meniup telinga Rossa, membuat gadis itu gugup. "Jangan pernah melarangku. Karena … aku bisa saja menelan*jangi kamu saat ini juga jika aku mau, Honey." Alvino berpindah di belakang Rossa, lalu dengan perlahan ia melingkarkan lengannya di leher dan di dada istrinya.
Rossa tercekat. Nafasnya seolah terhenti tetapi jantungnya tetap berdetak, bahkan dentumannya begitu keras dan cepat.
Alvino menyandarkan kepalanya di pundak Rossa. Ia menoleh ke samping agar dapat melihat wajah ayu istrinya. Di saat Rossa semakin tertawan rasa gugup yang seolah mencekiknya, satu kecupan lembut mendarat di pipinya.
"Sayangnya … aku gak tega nyakitin kamu, Honey. Aku menunggu dengan sabar sampai dia lahir nanti." Telapak tangan besarnya mengusap lembut perut Rossa.
Bumil cantik berparas ayu itu langsung bernafas lega. Ia baru tersadar, ternyata sang suami hanya menggodanya saja. Gadis itu menoleh ke samping, dan wajah tampan sang suami terlihat semakin tampan dengan segaris senyum jail terukir di sana.
Eh, tapi iya yah? Emang orang hamil gak bisa … gituan yah? Baru tau aku.
Rossa menggeleng kepalanya cepat. Ia pun balas mencubit pipi Alvino dan langsung melepaskan sepasang lengan kekar yang masih melilit sebagian tubuhnya.
"Udah puas kan jailin aku dari tadi? Sekarang Kakak mandi, aku tungguin. Gak pake lama!" perintahnya.
Alvino mengerutkan keningnya. "Katanya tadi mau bantuin aku mandi, kenapa sekarang berubah?"
Rossa bangkit berdiri dan berjalan menuju tempat tidur. Gadis itu lalu bergerak merapikan bantal dan selimut.
"Itu tadi, setelah aku dijailin gak jadi lagi. Mandi sendiri sana."
Rossa berbicara tanpa melihat wajah Alvino. Ia sibuk merapikan tempat tidurnya. Meskipun banyak pelayan yang bisa melakukan hal itu, tetapi Rossa tidak mau. Ia selalu melakukannya sendiri. Apalagi sekarang dia tidur bersama sang suami, itu menjadi hal privasi yang tentu saja ia tidak ingin diusik orang lain.
"Luka aku gimana dong, Honey?"
"Semalam aja bisa sendiri, kan? Udah sana mandi, habis itu baru aku yang obatin lukanya."
Rossa mendorong pelan tubuh suaminya, meskipun tubuh tegap itu tak bergeser sedikitpun dari tempatnya.
"Mandiin," ucap Alvino dengan ekspresi merengek. Ia begitu senang menggoda istrinya. Rossa mendengus kesal lalu memukul pelan bahu kekar sang suami. Alvino lagi-lagi tergelak melihat raut wajah cemberut itu. Ditangkupnya kedua pipi Rossa lalu dengan gemas ia menggigit kecil dagu gadis itu. Secepat kilat Alvino langsung melarikan diri ke kamar mandi.
Rossa yang ingin marah, sudah tak bisa. Bumil cantik itu hanya mencebik sambil mengusap-usap dagunya. Sesudah itu, ia berlalu ke walk in closet dan menyiapkan pakaian untuk Alvino.
Tak ingin menunggu dalam kebosanan, Rossa kembali lagi keluar sebentar menemui mami Lusy. Tentu saja ia sudah membenahi penampilannya dengan baik. Menutupi lehernya dengan sehelai syal yang agak tipis.
Rossa langsung menghampiri ibu mertuanya di ruang makan. Kebetulan mereka tengah sarapan bersama Alex.
__ADS_1
"Jangan liatin gitu, Mi." Rossa masih malu dengan apa yang dilihat ketiga orang itu tadi.
Mami Lusy tersenyum dan meminta Rossa untuk duduk di sampingnya, tetapi gadis itu menolak.
"Gak usah, Mi. Rossa cuman mau ngomong bentar sama, Kak …." Melirik Alex. Ia tidak mau menyebut nama lelaki itu, karena peringatan keras dari suaminya.
"Gue?" Alex menunjuk dirinya sendiri, dan Rossa pun mengangguk.
Tidak perlu kemana-mana, masih di ruangan yang sama, Rossa langsung mengatakan apa yang ingin ia katakan.
What? Enak banget dia sekarang. Dasar predator insyaf.
Alex mengomel dalam hati. Sementara mami Lusy dan Tuan Dharma manggut-manggut dengan senyuman.
"Baiklah, Nyonya Alvino." Alex tersenyum kecut.
Sesudah itu, Rossa sekalian menyiapkan sarapan untuknya dan juga Alvino, lalu membawanya ke kamar. Namun, sebelum kakinya melangkah, sang mertua sudah lebih dulu menghentikannya dan meminta pelayan untuk mengantarkan sarapan mereka. Sarapan yang sudah lewat waktu.
"Makasih, Bu!" ucap Rossa pada pelayan yang sudah mengantarkan sarapannya.
Ia menutup pintu lalu berbalik mendapati sang suami yang sudah berdiri di sana. Lelaki itu hanya menggunakan handuk yang melilit pinggangnya.
Duuuh, kaget. Selaluuuuu ... aja kek gini. Kan gak kuat liatnya.
Rossa membatin sembari berjalan ke arah suaminya.
"Kebiasaan gak pake baju. Mana lukanya? Sini aku liat." Rossa mendekat dan langsung melihat luka Alvino yang di tutup semalam.
"Ya Tuhan, Kak!"
"I-ini lukanya besar, Kak. Bagaimana bisa Kakak terluka seperti ini?" Rossa kaget dengan luka yang menganga cukup besar pada bagian perut Alvino.
Sebelum mengobati lukanya, Rossa terlebih dulu meminta Alvino mengenakan celana saja.
"Setelah ini, Kakak ceritakan semuanya buat aku, jangan bohong. Awas aja kalo ngarang, balik sana tidur di kamar Kakak."
Ancaman yang membuat Alvino terkikik. Sangat tidak cocok label marah itu terpampang di wajah cantik istrinya. Menurut Alvino sih, begitu.
"Auw, arrrrgggghhh." Alvino mengerang kecil sembari ingin tertawa. "Pelan-pelan aja, Honey. Aarrgghh." erangnya sekali lagi begitu Rossa dengan sengaja menekan sedikit pada bagian lukanya. "Wah, ini sih penyiksaan namanya. KDRT ini," ucap Alvino dengan wajah memerah. Antara menahan rasa sakit dan tawa. "Ha-ha-ha … auw, ampun, Honey! Ini beneran sakit, Rossa Glyn."
Rossa baru berhenti menjaili suaminya, ketika laki-laki itu menyebutkan nama panjangnya.
"Maaf, Papi!" Rossa terkekeh.
Panggilan manis yang berpadu dengan suara lembut serta senyum memesona itu, sungguh terdengar merdu di telinga Alvino.
"Berikan aku satu ciuman kalau begitu. Sebagai permintaan maaf sekaligus sebagai penawar untuk luka ku. Seperti arti namamu, Honey. Aku pasti langsung akan sembuh," ucap Alvino dengan tatapan penuh cinta.
Bukan gombalan seperti yang sering ia lakukan. Mata elangnya terus menyoroti wajah Rossa yang tengah serius mengobati lukanya dengan sejuta kagum.
Belum ada respon dari isterinya. Rossa masih telaten menyelesaikan pekerjaannya, hingga akhirnya ia menutup luka tersebut dengan kasa steril dan perban.
"Selesai!"
Cup.
Lengkap dengan hadiah kecil yang dimintai Alvino tadi. Seulas senyum di wajah anggunnya membuat Alvino merasa melayang. Lagi-lagi ia jatuh cinta pada hawa satu ini.
__ADS_1
"Thank you, my Glyn. Sebelum luka ini, kamu sudah lebih dulu menyembuhkan luka di hatiku. Kamu memang benar-benar penyembuhku, tepat seperti namamu. Karana itu mulai detik ini, aku memanggilmu Glyn. Khusus aku, dan hanya aku. Tidak boleh dengan orang lain, siapapun dia. Karena nama itu khusus untukku, seperti dirimu yang hanya untuk diriku. Kamu mengerti my Glyn?" Alvino mengusap lembut pipi mulus Rossa.
Rossa mengangguk. "I see, Papi."
Rossa pun memakaikan kaos rumahan untuk suaminya. Alvino baru menyadarinya hal itu lantas ia terheran-heran.
"Loh, kok ini sih? Kamu gak lupa kan, Honey? Aku harus ke kantor, Glyn." Alvino yang masih duduk saat itu langsung berdiri, tetapi Rossa menahan tangannya.
"Not for today, Papi." Rossa menggeleng. "Aku udah minta sama sekretaris kamu buat ngurusin semuanya. Aku mau kamu istirahat saja hari ini. Jangan komplain, dia juga ingin menghabiskan waktu bersama Papinya sesekali," ucap Rossa sembari menunjuk perutnya.
Alvino tergelak. "Bilang aja maminya yang pengen, gak usah pake alasan anaknya segala."
Kamar besar itu seketika penuh dengan suara tawa sepasang suami-istri yang tengah berbahagia.
..._____🦋🦋 MR 🦋🦋_____...
...Tak ada luka yang tak kunjung sembuh....
...Tak ada racun yang tak ada penawar....
...Kemarin dipatahkan dan hancur,...
...Kini sembuh dan utuh kembali tiada cacat....
...Inilah takdir dan cinta yang sesungguhnya....
..._Alvino Dharma_...
...🦋...
...Selanjutnya …....
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Hay semuanya 👋 Ketemu lagi 😊
Maap kemarin kagak hadir 😁
Jangan lupa like dan komen yah 🙏
Mudah-mudahan habis ini ada up berikutnya yang menyusul 😍 Btw bab ini sedikit panjang dari bab sebelum-sebelumnya loh 🤭
Makasih buat kalian semua 🥰
Sampai jumpa di episode berikutnya 🤗
Ig author : @ag_sweetie0425
__ADS_1