
...~ Happy Reading ~...
...________________...
...*...
...*...
...*...
Siang itu setelah Alvino kembali ke kantor, Rossa juga kembali ke kamarnya dan beristirahat.
"Ah, kangen banget." Memeluk manja bantal, guling, serta selimutnya. "Tiga hari tidurku tidak enak rasanya tanpa kalian." Rossa mencium dan dan menghirup aroma khas teman-teman di kala tidurnya.
Bumil berparas lembut itu merebahkan tubuhnya dengan perlahan. Kedua tangannya terentang dengan mata yang terpejam, merasakan suasana kamar yang ditinggal beberapa hari ini. Tempat ini merupakan satu-satunya tempat favorit Rossa dari sekian banyak ruangan dalam rumah megah itu. Tempat itu yang menjadi saksi setiap luka, kekecewaan, air mata, keluh kesah yang kerap ia tumpahkan. Kamar itu menjadi penjara ternyaman baginya dalam istana itu.
Kaki jenjangnya melangkah ringan membuka pintu menuju balkon kamarnya. Semilir angin seolah men*desah di telinganya, meniupkan sejuk yang membelai wajah ayunya. Ah, Rossa begitu merindukan suasana ini.
Puas meresapi dan melepas deru rindunya, Rossa beranjak ke tempat tidur lalu berbaring sejenak. Bolak balik ia menjangkau setiap sisi tempat tidurnya, tetapi kantuk seolah enggan tuk mencumbunya. Rossa tak bisa terpejam, hingga ia teringat sesuatu.
"Simpan di mana, ya hari itu?" Bangun dan memeriksa laci nakas di dekat tempat tidur.
"Mungkin Tari dan yang lainnya tahu." Rossa turun dari tempat tidur dan hendak keluar kamar.
Bumil cantik itu berjalan pelan menuju dapur dan memanggil pelayan wanita yang bernama Tari.
"Permisi, ada yang liat Tari gak?"
Pelayan yang lain belum juga menjawab, gadis muda itu sudah berlari kecil dari belakang.
"Saya di sini, Nona. Apa Nona butuh sesuatu?"
"Ah, lupakan panggilan itu, Tari. Aku mau tanya siapa yang bersihin kamar waktu aku di rumah sakit? Liat ponsel aku gak?" tanya Rossa pada Tari.
"Saya dan teman saya yang membersihkan kamar Anda, Nona. Ponsel waktu itu kami letakan di atas nakas," jawab seorang pelayan.
"Tapi kok gak ada, yah." Rossa sedikit bingung. "Ya udah, gak papah. Nanti aku tanyakan ke mami, mungkin mami liat. Makasih, yah." Rossa langsung meninggalkan area dapur dan mencari mertuanya.
"Loh, dari mana? Mami cariin ke kamar, ternyata di sini. Ngapain, Sayang?" Mami Lusy yang baru saja keluar dari kamar Rossa, menemukan menantunya itu berjalan dari arah dapur.
"Ah, padalah Rossa juga pengen nyari mami tadi. Ini Rossa lagi nyari ponsel Rossa, Mi. Mami liat gak?"
__ADS_1
"Gak, sejak hari itu mami belum ke kamar kamu lagi, Sayang. Mungkin pelayan yang bersihkan kamar hari itu nyimpen di mana gitu?"
"Rossa barusan nanyain, katanya ditaruh di atas nakas, tapi gak ada. Nanti deh Rossa cari lagi. Oh, ya, Mami nyari Rossa buat apa?"
"Enggak, mau ngobrol aja. Gak bisa tidur mami."
Mami Lusy lalu menuntun Rossa berpindah ke ruang keluarga. Dua wanita berbeda generasi itu bersantai di sana dengan obrolan kecil.
"Mami boleh tanya sesuatu gak?"
"Boleh dong, Mi. Ada apa?"
"Laki-laki yang waktu itu membuat Vino marah besar itu siapa? Kok bisa nganter kamu pulang?" Mami Lusy memperbaiki duduknya agar bisa mendengar cerita menantunya dengan baik.
"Rossa juga gak tau dia siapa, Mi. Rossa baru ketemu dia hari itu. Kata Filen sih, dia kakaknya. Hari itu pertama kali kami kenalan, lalu kami makan siang bareng. Habis itu Filen buru-buru entah kemana pas dapat telepon, terus dia minta tolong kakaknya itu yang nganterin Rossa pulang. Awalnya Rossa tolak tapi dipaksa, buat Rossa gak enak, Mi. Ya, udah ngikutin aja. Gak taunya sampai rumah udah ada kakak," jelas bumil cantik itu.
Mami Lusy menarik nafas sejenak lalu membuangnya perlahan.
"Mami gak melarang kamu buat berteman, hanya saja mami mau bilang, jangan berteman dengan yang namanya lelaki. Siapapun dia, tanpa terkecuali. Alvino tidak suka itu, dia tipe lelaki pencemburu akut. Jangankan berteman, orang asing yang tidak sengaja bertegur sapa saja dia tidak suka. Mami minta dari kamu buat pahami sifatnya, dan jangan membuat dia marah lagi." Mami Lusy memperingati.
Rossa mengangguk paham. "Gak akan Rossa ulangi lagi, Mi. Rossa takut, gak berani liat kakak marah. Udah, sekali itu aja, beneran kapok, Mi." Si cantik itu bergidik mengingat kemarahan suaminya.
"Satu lagi, Sa. Dimana pun kamu melangkah, dia akan selalu tau. Mata-matanya selalu mengikuti kemanapun kamu pergi. Jadi berhati-hatilah selalu dengan langkahmu." Rossa terbelalak dengan mulut yang menganga.
Rossa merutuki kebodohannya.
"Ya, sudah kalo gitu. Mau apa-apa, atau kemanapun, jangan lupa izin sama dia. Mami seneng liat hubungan kalian yang sudah membaik. Terima kasih, Sayang, sudah mau bertahan selama ini dan sudah mau memaafkannya. Mami dan papi sangat bahagia," ucap Mami Lusy dengan senyum. Rona bahagia penuh syukur tak terelakkan di wajah keriputnya.
"Istirahatlah, mami juga mau istirahat sebentar." Mami Lusy mengusap kepala Rossa penuh sayang.
Rossa mengangguk lalu bangkit dari duduknya menuju kamar.
...*****...
Di ruang kerja Alvino.
Lelaki itu baru saja selesai memutuskan sambungan telepon dari seseorang. Tampak seringai tipis terlihat samar di wajah tampannya.
"Jadi, mereka kakak beradik?" Alvino memutar ponsel di tangannya. "Tapi apa tujuan mereka? Dia sampai berani mengajukan kerja sama dengan perusahaan ini? Apakah dia punya dendam terhadap gue?"
Alvino belum menemukan jawaban untuk hal ini. Orang suruhannya sudah berupaya mencari tahu, tetapi belum ada titik terang untuk jawabannya.
__ADS_1
"Batasi istri Lo untuk bertemu dengan wanita itu, Vin. Dia terlalu lugu dan mudah untuk dikelabui. Lo yang harus lebih berhati-hati menjaganya."
"Lo bener, Lex. Wanita itu terus saja menelpon dan mengirim pesan ingin menemui Rossa. Gue harus jelasin apa buat dia nanti. Terus terang aja gitu? Takutnya dia kepikiran, gue gak mau bikin dia stres, suasana hatinya harus selalu baik, Lex."
Alvino bingung, harus menjelaskan seperti apa pada istrinya. Sementara ia tahu bahwa, istrinya itu selalu senang bertemu dengan wanita asing yang dianggapnya sebagai teman. Alvino tidak ingin merusak suasana hati dan mengacaukan pikiran istrinya. Tidak, hal itu bisa membuat penyakitnya kambuh. Alvino takut kejadian beberapa hari lalu terulang lagi.
"Untuk sekarang, Lo harus bisa mengalihkan perhatiannya dari wanita itu. Jika sudah menemukan tujuan apa di balik pertemanan palsu itu, Lo bisa jelaskan pelan-pelan. Gue yakin dia pasti ngerti."
Alvino mengangguk lalu menatap Alex begitu lama.
"Gue mau ketemu orang itu, Lex. Lo atur aja dalam waktu dekat."
..._____π¦π¦ MR π¦π¦_____...
...Selanjutnya β¦...
...*...
...*...
...*...
...*...
...*...
Hay semuanya π Ketemu lagi π€
Terima kasih buat kalian yang selalu setia menunggu π
Jangan lupa like dan komen yah π Aku butuh saran dan dukungan kalian semua π€
Jangan bosan mampir yah πΌπ₯°
Sampai jumpa di episode berikutnya π€
Ig author : @ag_sweetie0425
_________________
Sambil nungguin bab selanjutnya, boleh dong mampir ke karya teman aku yang satu ini π₯° Keren loh πΌ
__ADS_1