
Zahira tengah bimbang di dalam mobilnya. Sejak semalam tidurnya sudah tidak tenang. Yang mana ketika dia memberitahukan kepada Uminya mengenai rumah yang jadi dibelinya.
Meskipun Uminya telah menyetujuinya, akan tetapi ucapan terahir Uminya begitu mengganggunya.
*"Ra, apa kamu menyukai Khalid?"*
*"Mm kalau iya, apa boleh Miy?"*
*"Haah kalau bisa, sebaiknya jangan ya Nak, nanti kamu malah kecewa!"*
*"Maksud Umiy?"*
*"Ah bukan apa-apa, cuma sebaiknya jangan sampai jatuh cinta aja, nanti kamu terluka, ya!"*
Kata-kata itu terus terngiang, membuatnya sangat cemas.
Zahira terus membawa mobilnya memuju alamat yang dikirim Pak Khalid padanya. Karena sekarang ini, Pak Khalid dengan pemilik rumah yang kemarin sedang menunggunya.
Begitu Zahira sampai, ternyata bukan di kantor kelurahan, melainkan di kantor pemasaran kompleks perumahan yang akan dibelinya.
Zahira turun dari mobil dengan ragu-ragu. Perlahan dia masuk ke dalam kantor. Begitu dia masuk, dia segera disambut hangat oleh Pak Khalid dan beberapa pegawai lainnya.
"Zahira, ayo ikut denganku!" Ajak Pak Khalid. Zahira mengangguk kemudian mengikuti Pak Khalid dari belakang.
Mereka menuju ke sebuah ruangan yang agak elegan. Seperti ruangan pimpinan saja. Begitu sampai, mereka disambut oleh seorang Bapak.
"Mari silahkan duduk!" Bapak itu duduk lebih dulu.
"Terima kasih Pak Ramli!" Seraya ikutan duduk. "Ra, ayo duduk!"
"Iya Pak, makasih!" Zahira pun duduk pula. Zahira mengedar pandang mencari-cari sosok pemilik rumah. Tapi sama sekali tidak menemukan batang hidungnya.
"Jadi ini gadis itu?" Goda Pak Ramli.
"Heem!" Pak Khalid cuma tersenyum malu.
Zahira tidak menghiraukan pembicaraan itu, karena yang ada di pikirannya adalah dimana penjualnya. "Pak, penjualnya dimana?"
Pak Khalid kaget langsung menoleh, "Em?"
"Penjualnya mana?" Zahira mengulangi pertanyaannya.
"Ooh penjualnya ya...itu Pak Ramli!"
Zahira mengerutkan kening, "Lho tapi kan..."
Pak Ramli cuma tersenyum. Pak Khalid juga tersenyum, "Zahira, pemilik rumah yang kemarin itu bermasalah, dia menunggak cicilan 5 bulan, sementara jangka waktu pelunasan masih ada 10 bulan lagi!"
Mendengar penjelasan Pak Khalid, Zahira terkejut, "Haah jadi gimana dong Pak?"
Pak Khalid tersenyum, "ya ga papa, makanya aku bilang penjualnya itu ya Pak Ramli!"
Zahira makin bingung, dia semakin mengerutkan kening.
Melihat Zahira kebingungan, Pak Khalid melanjutkan ulasannya.
"Begini, karna pemiliknya masih dalam jangka pelunasan, atau masih terikat dengan perjanjian pengikatan jual beli, jadi kami melakukan pengalihan hak, dimana status kepemilikan dari penjual menjadi hak pembeli, jadi kamu tanda tangani surat jual belinya di hadapan Pak Ramli!"
"Terus penjualnya mana?"
"Sudah aku bereskan semua, sekarang kamu tinggal tanda tangan aja!" Pak Khalid pun menyodorkan akta jual beli pada Zahira untuk ditanda tangani.
Tentang semua data Zahira, Pak Khalid telah meminta semuanya lewat SMS tadi pagi, sehingga semua sudah beres sebelum Zahira datang ke kantor itu.
Zahira membaca dengan seksama akta jual belinya sebelum ditanda tangani. Namun keningnya berkerut saat nominal yang tertera tidak sesuai dengan yang ditawarkan oleh pemiliknya kemarin.
"Eh kok, harganya berkurang?" Zahira menatap Pak Khalid heran.
"Iya bagus, berarti dapat diskon kan?" Pak Khalid menahan senyumnya.
"Bukan begitu, maksudku kan, itu kemarin harganya..."
"Tidak perlu risau Dek, pria di sampingmu itu, bebas mau kasih kamu harga berapa, bahkan gratis juga bisa!"
"Pak Ramli, jangan jadi tukang gosip dong!" Pak Khalid memberi kode pandangan ke Pak Ramli.
"Maaf Pak, aku ga bisa tanda tangan kalau ini tidak jelas, aku takut lho!"
Pak Ramli tidak sanggup menahan tawa. "Hahahaha, Dek kamu dikasi setengah harga kok malah takut, seharusnya senang!"
"Tapi bagaimana kalau ini palsu?"
"Tidak mungkin palsu lah Ra, sertifikat dan surat pembelian semua asli, nih coba periksa lagi!" Sambil menyodorkan surat-surat kepemilikan rumah.
"Haah iya sih, tapi kan?"
Pak Khalid berbalik dan menghadap ke Zahira dengan muka serius. "Zahira, apa aku terlihat seperti penipu?"
"Aah baiklah aku tanda tangan!" Dengan agak ragu, Zahira menanda tangani AJB itu.
Begitu selesai, Pak Ramli menyodorkan kunci rumah beserta surat-surat kepemilikannya. "Selamat ya, dan terima kasih telah melakukan transaksi bersama kami!" Seraya menyodorkan tangannya hendak bersalaman, namun Pak Khalid yang menjabatnya segera.
"Takut banget diembat orang ya, hahaha!"
__ADS_1
"Yaah begitulah!" Pak Khalid tersenyum sembari mengedip ke Pak Ramli.
"Oke, sekarang semua sudah beres, jadi mulai sekarang, rumah itu milik kamu, karena semuanya sudah atas nama kamu!" Pak Khalid tersenyum, lalu perlahan mendekatkan wajahnya membuat Zahira menaikkan bahu. Pak Khalid pun berbisik "Sayang!"
Zahira lagsung mendongak, dan hampir saja bibirnya menyentuh dagu Pak Khalid. "Iisss!" Zahira cemberut langsung menghindar.
Zahira segera berlalu keluar dari ruangan itu, meninggalkan Pak Khalid yang masih tertawa kecil. Dia begitu senang menjahili Zahira.
"Ekhem, apa Mami kamu sudah tahu?"
Sontak Pak Khalid menoleh, "Oh iya tentu saja, mana bisa aku tidak memberi tahu Mami!"
"Bagaimana dengan Gina?" Pak Ramli kembali duduk.
Pak Khalid pun ikutan duduk. "Kami sudah putus, dia sendiri yang meninggalkan aku dulu!"
"Kalau memang sudah disetujui, kenapa tidak langsung lamar saja?"
"Aku masih belajar ngaji dulu Pak, calon mertuaku orang alim semua, takutnya nanti bakalan dites mengaji pas melamar nanti, kan malu Pak, kalau bacanya tersendat-sendat!"
"Hahaha, resiko juga mencari wanita sholehah ya!"
"Ya begitulah Pak." Baru saja Pak Khalid hendak berdiri, sebuah pesan masuk di ponselnya. "Zahira?" Gumamnya.
Segera dia membuka pesan dari Zahira.
*"Pak, aku pulang duluan, soal uangnya, Umi sudah kirim, tinggal aku transfer aja, jadi tolong kirim no.rek. Bapak aja ya!"*
Pak Khalid langsung terduduk lemas tak berdaya. "Haaah sudah pergi ya?"
"Kenapa, ditinggal?"
"Emm, dia sangat pemalu, makanya begitu!" Senyum penuh arti menghiasi bibirnya.
"Makanya segera halalkan, jangan pake lama!"
"Baiklah Pak, terima kasih sarannya!"
Mereka pun tersenyum bersama.
********
Di rumah Zahira, Daniah, Della dan Meta, tengah berdiri mematung menatap wanita seksi di depannya.Wanita seksi itu bersikeras untuk masuk ke dalam.
"Maaf kamu siapa ya?"
"Perkenalkan saya Gina, calon pemilik rumah ini!" Sambil menyibak rambutnya kebelakang dengan pongah.
"Calon pemilik?" Serempak Daniah dan temannya berpandangan.
Daniah, Della dan Meta saling pandang tidak mengerti.
"Eh apa kalian itu tidak punya telinga?" Bentak Perempuan itu.
Dikatai tak bertelinga, tensi Daniah langsung naik, "apa kamu bilang, tidak punya telinga? kamu yang tidak tahu sopan santun, masuk rumah orang tuh yang sopan, bukan pake teriak-teriak!"
Air liur Daniah sampai muncrat keluar.
"Waah dasar pembantu kurang ajar ya, beraninya teriakin saya, tunggu saja aku akan membuat kalian dipecat dan diusir dari sini!"
Adrian yang mendengar suara teriakan Daniah segera berlari keluar. "Sayang ada apa sih?"
Gina yang mendengar kata sayang, langsung melotot, tapi begitu melihat yang datang bukan Pak Khalid, dia segera tenang kembali. "Kalian ini sebenarnya siapa sih?"
"Dengar ya, kami ini mahasiswa, bukan pembantu!" Della angkat bicara.
Gina menjadi bingung saat mendengar ulasan Della.
"Lho, ini kan rumah Khalid, kenapa bisa kalian ada di sini?"
"Kami ini, mmm, teman kami pacarnya Pak Khalid, jadi kita dikasih rumah ini buat kita tempati selama kuliah!" Meta ikutan pongah.
"Heeh apa, pacar? dengar ya, pa...car...Khalid cuma aku se...o...rang!" Sambil menuding-nuding hidung Meta.
Sontak semua terbelalak mendengar pengakuan Gina. "Mana mungkin, Pak Khalid punya selera rendahan kayak gini sih, pakaiannya kok kayak cewek panggilan gitu?" Ledek Adrian.
Wajah Gina merah padam karena marah. "Apa kau bilang, pergi dari sini sekarang!"
"Maaf ya, kita ga mau pergi kalau bukan Pak Khalid yang bilang ke kami sendiri!" Daniah berdiri tegap di depan Gina.
Melihat Daniah menantang, Della dan Meta ikutan.
Pada saat itu juga, mobil Zahira memasuki halaman. Della terlonjak senang. "Nah itu teman kita, dia itu asli pacarnya Pak Khalid!"
Gina langsung menoleh. Matanya terbelalak demi melihat Zahira. "Haah benar, gadis murahan itu yang kemarin bersama Khalid" batinnya. Tapi dengan cepat dia menetralkan rasa kagetnya.
Gina tidak mau kalah, justru dia semakin merasa di atas angin sekarang. Dia berniat membuat Zahira segera menjauh pergi dengan mengaku kalau dia calon istri Pak Khalid.
"Zahira! sini cepetan!" Teriak Meta tak sabar.
Zahira mendekat dan menjadi bingung "Ada apa sih?"
"Apa kamu pacarnya Khalid? kalau memang iya, sebaiknya kamu segera pergi dari sini, karena mulai sekarang akulah yang akan menjadi Nyonya di rumah ini!"
__ADS_1
Zahira makin bingung, "maksudnya apa sih?"
"Ra, dia itu datang-datang langsung ngaku kalau dia mau mengusir kita karena dia calon istri Pak Khalid! Keluh Della.
"Kamu siapa memangnya?" Zahira penuh selidik
"Hah aku tunangannya Khalid, ga percaya, bentar aku perlihatkan photo kami!" Dia pun segera merogoh ponselnya lalu memperlihatkannya ke Zahira dan juga teman-temannya.
Baik Zahira ataupun yang lain, terbelalak melihat pemandangan romantis di depan matanya.
Di dalam ponsel itu, tampak Pak Khalid
tengah memeluk Gina dari belakang dengan mesra. Ada juga photo saat mereka tengah berciuman di bibir.
Zahira tak sanggup lagi melihat pemandangan itu. Air matanya langsung berlinang. "Kalau nemang kamu tunangannya, ga papa kok, kita juga mau pergi sekarang!"
Zahira pun segera berlari masuk ke dalam. Gina menatapnya penuh kemenangan. "Ngapain kalian masih berdiri di sini, sana kemasi barang kalian dan pergi dari rumahku!"
Dengan lemas, mereka berbalik dan masuk ke dalam. Adrian segera menahan Daniah, "Yang, aku merasa ada yang aneh deh, apa kita tidak menelpon Pak Khalid dulu, siapa tahu penipu?"
"Maksudnya?" Daniah langsung berbalik.
Gina langsung pura-pura menelpon. "Khalid sayang, ga papa kan, kalau aku meminta mereka pergi, soalnya kan sebentar lagi kita menikah, aku ga mau dong sayang, ada lalat di rumah kita?"
Daniah dan Adrian terbelalak mendengar dirinya dikatai lalat. "Yan, kamu dengarkan, sudahlah ayo kita pergi!"
Gina melangkah masuk ke ruang tengah dengan senyum kemenangan. Dia duduk dengan pongahnya sambil memandangi mereka yang tengah mengemasi baramg-barang.
"Haah tak salah juga aku mampir ke sini, hahha, Khalid sayang, meski tidak bisa merayu kamu, tapi membuat kamu putus dengan pacarmu pun aku sangat puas, haha!" Batinya. Gina terus tersenyum puas.
Begitu semua sudah selesai berkemas, Mereka pun menyeret koper dan ransel keluar. Akan tetapi Daniah dan kawan-kawannya kembali masuk ke dalam. Gina terus mengamati kegiatan mereka.
Begitu mereka keluar dari dapur dengan mengambil semua isi dapur, dengan cepat Gina berdiri dan menghadang mereka.
Dia berdiri sambil bersedekap "e..ee...eeh ngapain kalian mengangkut semua isi dapur, apa kalian mau merampok rumah ini?"
Daniah dan Della segera meletakkan bawaannya, "apa kamu yang membeli semua barang ini? kalau benar ini kamu yang beli, maka kami akan mengembalikannya!" Daniah ikutan bersedekap.
"Memang bukan aku, tapi semua itu milik tunangan aku, jadi itu juga milikku!"
Della tersenyum meledek, "Heeehhh, jangan asal ceplok ya cewek telanjang! ini semua Zahira yang beli! minggir atau kami menabrak kamu!" Della sudah siap melaju. Gina terpaksa menghindar.
Daniah tak mau kalah dengan Della, dengan cepat dia mengangkat barang bawaannya dan sengaja menabrak Gina, hingga terhuyung ke samping.
"Awas ya kalian!"
Della dan Daniah cuma mencibir sambil berlalu.
Meta dan Zahira muncul pula dari dapur, tapi Gina tak mau lagi cari masalah, dengan cepat dia kembali duduk di sofa. Dia sudah cukup kehilangan muka saat Della mengatakan semua milik Zahira. Dan yang sebenarnya dia takut ketahuan bohong.
"Ini sudah semua?" Adrian mengeluarkan kepalanya dari bagasi mobil yang sejak tadi mengatur barang.
"Iya sudah semuanya!" Seru Daniah.
"Oke, eeh tapi sekarang kita mau kemana?" Della bingung, demikian pula yang lainnya. Akhirnya mereka hanya bisa saling pandang.
"Kita kerumahku yuk!" Ajak Zahira.
Mereka bernapas lega dan segera berlomba masuk ke mobil. Meta dengan cepat naik ke kursi depan samping Zahira.
Sepenjang perjalanan, Zahira terus berlinangan air mata. Kini dia paham sudah maksud perkataan Uminya. Ternyata memang benar Pak Khalid bukan pria yang setia.
Meta sangat cemas melihat keadaan Zahira. Dia juga begitu sedih mengingat bagaimana hubungan mereka yang baru saja membaik kini hancur lagi.
"Ra, sabar ya, jangan sedih gitu dong!"
Zahira tidak menjawab, dia hanya menganggu pelan. Tak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah Zahira.
Mereka berdiri mematung begitu melihat keadaan rumah itu. Dimana rumah itu kosong melompong tak berisi sama sekali. Tidak ada perabot atau pun tempat tidur.
"Ayo masuk!" Pinta Zahira disela isak tangisnya. Temannya cuma bisa mengangguk lemah.
Setelah semua barang mereka diangkut masuk ke dalam rumah, mereka pun menghempaskan tubuhnya di lantai dengan lemas. "Haaaahh, capek bener, udah gitu lapaaar, mau masak ga ada panci, huaaa!" Meta histeris.
"Diam ga, berisik tahu!"
"Biar aku pesan makanan aja!" Tawar Adrian. Tak ada yang menyahut, mereka cuma bisa pasrah.
Adrian pun mengeluarkan ponselnya dan memesan makanan di restoran langganannya, yang menyediakan jasa pesan-antar.
"Maaf ya teman-teman, malam ini kita tidurnya dilantai dulu, heks!" Zahira masih terus terisak-isak.
Meskipun mereka iba, tapi tak ada yang berani bersuara. Karena mereka sendiri sangat tidak menyangka jika Pak Khalid tega mempermainkan Zahira.
Zahira terus saja memainkan cincin yang melingkar di jari manisnya. Cincin yang baru kemarin disematkan Pak Khalid padanya, sebagai bukti hubungan mereka. Hal itu membuat Zahira makin terisak-isak.
.
.
.
Maaf ya kalau ceritanya sedih dikitππ, jangan baper ya readersππππ.
__ADS_1
Like dan Komen dong yaπππ