
Zahira tertegun sejenak. Setelah menarik napas berat dia mencoba menjawab. "Apakah maksud Anda sholat bareng?" Sembari menunduk memainkan pinggiran jilbabnya.
Pak Khalid tersenyum, "iya, kalau boleh."
"Baiklah Pak, Anda bisa pakai kamar mandi yang di sana!"
Pak Khalid mengangguk lalu pergi ke kamar mandi yang ditunjukkan Zahira. Sedangkan Zahira sendiri segera masuk di kamar mandi yang ada di depannya.
Di dalam kamar mandi, Zahira menutupi wajahnya dengan kedua tangannya "aduuh aku kenapa sih, haaahh dadaku kenapa sih, sampe ga karuan begini, aaaa!"
Zahira mencoba sebisa mungkin agar detak jantungnya segera normal, tapi tetap saja tidak bisa. Berulang kali dia mencoba menarik napas, tapi tetap saja sama. Sampai pintu diketuk dari luar.
"Zahira, kamu ga papa kan?" Terdengar suara Pak Khalid dari luar. Dengan cepat Zahira menyahut "Ya Pak, aku ga papa kok, aku segera selesai. Zahira pun segera menyelesaikan wudhunya.
Daniah dan Della sudah kembali dari membeli es batu. Mereka jadi bingung karena Pak Khalid sudah tidak ada lagi di ruang tengah. "Della, kemana Pak Khalid?"
"Tau ah, kan kita bareng?"
"Allahu Akbar!"
DeΔΊla dan Daniah saling pandang saat mendengar suara orang lagi takbir. Dengan perlahan, mereka melangkah keasal suara. Begitu mereka sampai di depan kamar Zahira, tampak di dalam sana, Pak Khalid tengah sholat bersama Zahira. Della cuma angkat bahu lalu memutar arah menuju kamarnya.
Daniah pun tak mau ambil pusing, meski ada rasa dongkol di hatinya, dia pun meletakkan es batunya di meja kemudian masuk pula di kamarnya.
Amanda yang telah kembali dari mengejar Tono, tersenyum bahagia saat melihat Zahira sedang diimani oleh Pak Khalid. Dengan rasa gembira dia melesat masuk dan meringkuk nyaman di bawah tangga.
Masih ada rasa kesal di hatinya karena dia gagal mengejar Tono. Semua itu karena Amanda tidak mau terjadi kecelakaan yang mengakibatkan orang lain celaka. Dia terpaksa mengurungkan niatnya untuk meneror Tono dijalan yang tengah ramai.
Selesai sholat, Pak Khalid menoleh ke Zahira, tapi Zahira buru-buru menunduk diam dan tak mau menatapnya. Pak Khalid tahu diri dan tak mau membuat Zahira terbebani. Dia pun beranjak ke luar kamar.
Begitu di luar kamar, dia melihat es batunya tergeletak di atas meja. Dengan segera dia mengambilnya dan mencari kain. Terpaksa dia bertanya pada Zahira. "Zahira apa kamu punya sapu tangan atau semacamnya?"
"Emm ooh ada kok Pak, kain yang kemarin Anda kasih waktu hidungku sakit, aku aahh...." Zahira melongo.
"Kamu kenapa Zahira?"
"Mm eh hehe maaf Pak, belum aku cu...ci...." Wajah Zahira jadi kecut.
"Biarlah ga papa."
Dengan sangat canggung, Zahira masuk kembali dan mengambilnya di dalam kamar. Kemudian diberikannya pada Pak Khalid.
Pak Khalid pun segera menempelkan es batu pada pipinya yang lebam.
Zahira menemaninya meski cuma diam tak bersuara.
__ADS_1
Setelah agak lama saling diam, Zahira pun angkat suara.
"Em Pak, biar aku buatkan minum ya Pak!"
"Eh ga usah Ra, ga usah, ini aku juga mau pulang kok, sebaiknya kamu istirahat aja ya!"
"Ya udah deh Pak kalau gitu, makasih banyak atas bantuan Anda hari ini Pak, emm maaf juga karena sudah merepotkan Anda seharian ini."
"Ah bukan apa-apa kok Ra, kamu tenang aja, aku ga kerepotan kok."
" Baiklah Pak, makasih sekali lagi."
"Baiklah aku pamit ya, assalamu alaikum."
"Wa alaikum salam Pak!" Sembari mengikuti Pak Khalid sampai di depan pintu. Begitu Pak Khalid pergi, dengan cepat Zahira menutup pintu lalu masuk ke kamarnya.
Begitu di kamar, Zahira segera duduk di ranjangnya sambil memegangi dadanya.
"Ahh ada apa dengan dadaku, ya Allah, aku kenapa?"
Zahira mencoba memejamkan mata, tapi bayangan Pak Khalid justru melintas di matanya. Dengan cepat dia membuka mata. Tapi bukannya mengilang, bayangan tentang kejadian yang baru saja dia alami ikut bermunculan.
Zahira mengelengkan kepalanya. "aaah tidak tidak tidak kenapa aku keingat terus siih, ooh astagfirullahal adziim!"
Zahira kembali memejamkan matanya.
Kenangan demi kenangan tentang kebersamaan mereka beberapa hari ini, muncul satu persatu. Hal itu membuatnya kadang tersenyum kadang meringis dan menggigit bibirnya. Zahira kini tampak seperti orang setengah waras.
Amanda yang merasa bosan di bawah tangga, melesat masuk ke kamar Zahira. Betapa herannya dia saat melihat Zahira bagaikan orang stres.
Amanda lebih terkejut lagi saat melihat sinar kuning keemasan yang selama ini menyelimuti Zahira menjadi pudar. Sinar kuning keemasan yang selalu melindungi Zahira yang tak mampu Ia sentuh.
Dengan perlahan Amanda mencoba mendekati Zahira dan menyentuhnya dan berhasil. Semula Amanda agak ragu untuk merasuki Zahira. Akan tetapi setelah teringat bahwa Zahira sudah bersedia menjadi medianya, dia pun meyakinkan dirinya.
Tanpa pikir panjang lagi, Amanda kini merasuki tubuh Zahira yang tanpa perlindungan lagi.
Zahira yang awalnya bergerak kesana-kemari tiba-tiba diam dan menjadi lemas bagaikan orang yang pingsan. Matanya terpejam seakan dia tidur nyenyak.
Tak lama kemudian, mata Zahira langsung terbuka dengan tatapan tajam dan tak berkedip. Dengan cepat dia bangkit lalu meraih ponselnya.
Tangan Zahira pun bergerak mengetik sesuatu di layar ponselnya. Begitu selesai, Zahira meletakkan ponselnya dan kembali diam mematung dengan mata tetap tak berkedip.
Di tempat lain, Pak Khalid baru saja sampai. Begitu Ia hendak turun dari mobilnya, ponselnya berdering. Dia pun mengurungkan niatnya untuk turun. Dengan malas dia meraih ponselnya.
Mata Pak Khalid sedikit memicing saat melihat pesan itu datang dari Zahira.
__ADS_1
"Pak saya berhasil masuk ke tubuh Zahira, saya Amanda mau membuat pengakuan." Demikian isi pesan Zahira membuat dada Pak Khalid berdegup kencang.
Tanpa berpikir panjang, Pak Khalid pun kembali melajukan mobilnya menuju rumah Zahira. Sesampainya di sana, dia segera mengetuk pintu dengan kasar.
Karena tak ada yang membuka pintu, meta yang lagi asik main game di ponselnya, terpaksa bangkit dengan malas. Betapa kagetnya dia saat melihat Pak Khalid dengan wajah yang tegang berdiri di depan pintu.
"Pak Khalid, ada apa Pak?"
"Meta, dimana Zahira?" Sambil melangkah masuk.
"Di kamarnya mungkin Pak!"
Pak Khalid segera masuk ke kamar Zahira. Tampak di pingir ranjang, Zahira diam mematung dan tak bersuara. Pak Khalid mencoba menyapanya.
"Zahira, assalamu alaikum!"
Zahira menoleh. Betapa terkejutnya Pak Khalid saat melihat di tubuh itu kini bergabung tubuh Amanda.
Meta yang mengikuti Pak Khalid di belakang, menjadi ketakutan melihat perubahan wajah Zahira. Dia melotot tak percaya.
Pak Khalid dengan pelan sekali mencoba menyapa Amanda. "A...aman...da!"
Zahira mengangguk.
Begitu mendengar dan melihat Zahira mengagguk, Meta langsung kabur ke kamar Daniah. "Dan...Daniaahh!! cepat bangun, Zahira kerasukan sama Amanda, cepetaan!!"
Meta nenarik-narik lengan Daniah.
Daniah langsung terbangun saat mendengar kata Amanda meski tidak jelas kata-kata awalnya. "Haaa Amanda? kenapa dengan Amanda?" Daniah terbelalak kaget.
"Amanda merasuki Zahira, cepetaaann!"
Meski tubuh masih oleng karena baru terbangun, Daniah tak peduli. Dia ikut berlari dan tubuhnya pun langsung menabrak daun pintu. Tapi dia tak meperdulikannya dan tetap berlari ke kamar Zahira.
Di dalam sana, Pak Khalid sudah tampak duduk berhadapan dengan Zahira. Wajah mereka terlihat sangat serius.
.
.
.
.
Maaf ya, semalam tidak Up. Semua gara-gara HP tiba-tiba mati ketika saya sedang menulis. Saking asyiknya menulis cerita sampe tidak sadar kalau HP sudah lowbat. Dan tiba-tiba HP langsung mati tanpa sempat aku saveπ’π’π’π’π’.
__ADS_1
Makanya semua cerita yang sudah 879 kata hilang raib begitu HP menyala. Rasanya kesal sampe keubun-ubun, jadinya ga bisa UP lagi.
Maaf yaππππ.