Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
Part 73. Sepiring berdua


__ADS_3

"Apa aku tidak diajak?"


Semua menoleh keasal suara.


"Kak Fian!"


"Fian?" Seru mereka hampir serempak.


Alfian berjalan mendekat. "Jadi apa aku boleh ikut?" Yeni tersenyum demikian juga yang lainnya.


Yeni tersenyum senang. "Tentu saja!"


"Bagaimana kalau naik mobilku saja?"


Semua mengangguk kecuali Zahira. Dia tampak ragu-ragu. "Ayo!"


Mereka pun mengikuti Alfian yang melangkah menuju parkiran.


Alfian membuka pintu depan, entah buat siapa. Akan tetapi pintu belakang dibuka pula oleh Nova, Zahira buru-buru naik dan duduk di kursi paling belakang. Dia tidak mau sok-sok an duduk di depan. Dia yakin jika itu buat Yeni. Karena mobil Alfian adalah Avansa, maka mereka semua bisa muat di dalamnya.


Yeni dengan senang hati duduk di depan. Apalagi yang membukakan pintu adalah Alfian. Meski Alfian tampak kurang tulus, tapi Yeni tidak peduli.


Mobil berjalan pelan menyusuri jalanan yang sedang mampet. Entah kenapa Zahira malah kepikiran sama Pak Khalid. "Gimana kalau Pak Khalid datang menjemput kita?" Bisiknya pada Meta.


Meta yang dibisiki bukannya memberi tanggapan, malahan melirik dengan jahilnya. "Hayoo, kamu kepikiran ya?"


Zahira menjadi dongkol karenanya. Akhirnya Zahira memilih diam dan bersandar di kaca mobil. Alhasil Zahira tertidur pulas.


Tak berapa lama, mobil pun berhenti di sebuah rumah makan lesehan. Meta yang duduk di samping Zahira langsung menyikutnya. "Ra, Zahira, bangun, sudah sampai nih!"


Zahiramembuka mata, "Mmm Pak Khal...."


Meta kaget mendengar ucapan Zahira. "Haaa, hahaha, Zahira, kamu habis mimpikan Pak Khalid ya? Hahahaha!"


Untung semua orang sudah pada turun.


Dengan cepat Zahira membungkam mulut Meta. "Diam ah, jangan bilang-bilang ya, Meta!" Meta cuma mengangguk pelan. Saat Zahira melepas tangannya dari mulut Meta, Meta menertawainya lagi. "Kepikirn ni yeee!" Lalu segera turun dengan cepat.


Zahira berjalan lesu di belakang Meta. Sementara yang lainnya sudah duduk manis di dalam rumah makan. "Lama amat sih!" Tegur Daniah saat Meta sudah duduk di samping Della.


Begitu semua duduk, seorang pelayan datang mengantarkan menu. Mereka pun memilih menu sesuai dengan selera masing-masing. Tiba-tiba ponsel Zahira berdering.


"Ekheeemm!" Meta mendehem. Daniah menatapnya sambil mengangkat alis tanda bertanya. Meta cuma menggeleng sambil menahan senyum gelinya.


Zahira segera menjawab ponselnya.


*"Halo, Assalamu alaikum, Pak!"


Meta makin tersenyum dikulum.


*"Maaf Pak, kami lagi di rumah makan lesehan sekarang, kami ditraktir sama Kak Yeni!"*

__ADS_1


*"Eh tapi Pak!"*


Semua mata tertuju pada Zahira, mereka penasaran dengan siapa dan apa yang mereka bahas.


*"Wa alaikum salam!"*


"Kenapa Ra?" Daniah tidak sabaran ingin tahu masalahnya.


"Pak Khalid katanya lagi di kampus, mau jemput kita."


Meta langsung berbinar, "waah udah kayak jodoh aja ya, baru aja Zahira ngomongin dia, eeh langsung telpon, tadi Zahira kepikiran kalau-kalau Pak Khalid datang ke kampus, eeeh datang beneran kan?" Sambil mengedip ke Zahira.


Semua mata menatap Zahira yang membuatnya tertunduk malu. Dengan ragu-ragu Zahira melanjutkan penjelasannya. "Maaf ya, mm Pak Khalid bilang dia mau kesini juga!"


Della ikutan senyum, waah beneran bucin ya, hahaaha!"


"Waah selamat ya Zahira, ternyata kamu sudah jadian sama Pak Khaid ternyata!" Yeni mengulurkan tangan hendak menyalami Zahira. "Maaf Kak, aku...."


"Alaah sambut aja napa!" Della mengangkat tangan Zahira agar menjabat tangan Yeni. Mau tak mau Zahira menjabatnya juga.


Alfian yang sejak tadi diam dengan tatapan tidak senang, kini angkat suara. "Zahira, apa kamu beneran jadian sama Pak Khalid?"


Zahira mendongak menatap Alfian. "Tidak kok Kak, kami cuma... emmm..." Zahira bingung mau bilang apa. Mau bilang teman, tidak mungkin karena Pak Khalid seorang Dosen dan juga Dokter. Tapi mau bilang pacaran, tentunya juga bukan. Akhirnya dia menggantung ucapannya.


"Bukan pacar, lebih tepatnya belum, hahaha!" Meta meneruskan ucapan Zahira yang menggantung. Semua ikutan tertawa kecuali Alfian yang tersenyum kecut.


Tak menunggu lama, pesanan mereka datang. Dengan penuh semangat, mereka menyambut makanan lezat itu.


"Waah enak ya!" Semua mata menatap pemilik suara. "Pak Khalid!" Seru Della dan Meta. Daniah sendiri cuma tersenyum. Sementara Alfian mengepalkan tangan yang disembunyikan di bawah meja.


"Zahira, kamu keberatan kalau aku duduk di samping kamu?"


Zahira mendongak menatap Pak Khalid tanpa bisa berkata-kata.


Della segera tahu diri dan langsung bergeser ke samping lagi. "Meta sanaan dikit yuk!"


Meta cuma senyum sambil ikutan bergeser.


Begitu sudah luas, Della mempersilahkan. "Silahkan duduk Pak, selalu ada tempat di hati Zahira, eeit di sampingnya maksudku, pfffftt." Della menutup mulutnya menahan tawa, Begitu juga yang lain.


Pak Khalid pun duduk meringsut di samping Zahira. Muka Zahira benar-benar terasa panas. Duduk berdekatan dengan Pak Khalid membuat jantungnya berdegup kencang. Dia pun tertunduk malu.


Kesempatan emas itu tidak disia-siakan oleh Yeni. Dengan beralasan memberi tempat pada Meta, dia ikutan bergeser hingga agak lebih dekat lagi dengan Alfian. Alfian pasrah tak lagi berkutik, apalagi ada Nova di sebelahnya. Dia terpaksa membiarkan Yeni sedikit menempel padanya.


Daniah dan Nova saling pandang. "Waah kita-kita para jomblo rasanya risih deh sama yang lagi kasmaran." Nova mengerling Daniah. "Iya nih, pindah kursi yuk!" Daniah sudah mengangkat makanannya.


Pak Khalid mencegahnya. "Daniah, kamu disini saja, biar aku sama Zahira yang pindah!" Zahira kaget langsung menoleh, "Eh tapi Pak!"


"Ayolah, ada yang mau aku tanyakan!"


Sambil mengangkat piring Zahira.

__ADS_1


"Waah mau ditembak ni yeee!"


"Hhaha mau bermesraan ga mau diganggu ya Pak!"


"Uuuh mesranya!"


Seru Daniah and the gank.


Pak Khalid cuma tersenyum, "Mau makan sepiring berdua, tapi tempatnya terlalu sempit, takutnya kalian iri!" Zahira memberengut manja menatap Pak Khalid.


Pak Khalid meletakkan piringnya di meja seberang. Tapi Zahira tak kunjung beranjak dari duduknya. "Ayo Ra, sana!" Desak Meta. "Iya Ra, ayo!" Della ikut mendesak.


Pak Khalid kembali mendekat. "Ra!" Panggil Pak Khalid sambil mengangguk pelan dan memberi kode agar ikutan pindah. Zahira menggeleng, tapi Meta dan Della sudah mendorongnya agar berdiri. Mau tak mau Zahira pun berdiri dari duduknya.


Serempak semua teriak, 'Uuuuuuuuhhh, hahahaha!" Meski Nova tersenyum, tapi dadanya terasa sesak. "Jadi beginikah rasanya sakit hati?" Batinnya. Tapi tak ada yang menyadari senyum kecutnya, karena semua terlena oleh pasangan mesra di meja seberang.


Seperti halnya Nova yang merasa sakit, demikian juga Alfian. Dengan cepat, dia menggigit paha ayam dengan kuat, sebagai pelampiasannya.


"Bapak kenapa sih, aku kan malu Pak!"


Zahira cemberut. Pak Khalid tersenyum. "Maaf kalau kamu marah, tapi aku memang ada sesuatu yang mau aku tanyakan!"


Zahira menarik napas berat lalu dihembuskan dengan keras. Pak Khalid menatapnya dengan perasaan bersalah. "Ra maafkan aku, sebagai permintaan maaf, nih aku suapin ya!"


"Iih Bapak, ada-ada aja, bukannya dimaafin, malah tambah kesel deh!" Zahira tambah manyun. Pak Khalid semakin geli melihat wajah manyunnya.


"Bapak mau tanya apa sih?"


Pak Khalid bukannya menjawab malah memakan nasi pesanan Zahira. "Eh Pak, itukan punyaku?"


"Lho tadi mau kusuapi tidak mau, jadi aku makan sajalah, hehe."


"Pak, aku serius, katanya mau tanya sesuatu?"


"Emm kita makan aja dulu ya, entar baru aku tanyakan!" Pak Khalid tersenyum. Sementara Zahira makin dongkol.


Pak Khalid kembali menyodorkan sendoknya hendak menyuapi Zahira. "Pak nanti mereka pikir kita memang pacaran!"


"Tapi kan nyatanya tidak!"


"Terus ngapain makan sepiring berdua?" "Ya kan kalau aku baru pesan, yang ada aku menonton dong, heemm!" Sambil tetap menyodorkan sendonya.


Tanpa sadar Zahira menganga juga. Dengan cepat Pak Khalid menyuapinya. Saat makanannya masuk ke mulut, barulah Zahira tersadar. "Emmm, heemm!" Zahira menunjuk mulutnya dengan heran. Pak Khalid tertawa ditahan. Sambil menyuap juga.


Zahira meringis menahan malu. Pada akhirnya mereka benar-benar makan sepiring berdua.


.


.


.

__ADS_1


Jumpa lagi di episode berikutnya.


__ADS_2