Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
Part 63. Santet lagi


__ADS_3

Pak Khalid duduk santai sambil mengamati rumah Zahira di teras atas rumahnya. Tak terasa waktu berlalu hingga jam sepuluh malam.


Rasa ngantuk kini menyerang Pak Khalid. Dengan berat hati dia beringsut dari duduknya hendak masuk kamar. Tapi alangkah kagetnya saat tak sengaja dia melihat sesutu di teras atas rumah Zahira.


Sambil memicingkan matanya, dia memastikan hal itu. Benar saja, di sana tampak Amanda tengah asik berayun ria. Pak Khalid pun segera menutup pintu kamarnya.


Kamar yang ditempati oleh Pak Khalid adalah kamar yang berhubungan langsung dengan teras. Dengan jendela kaca yang cukup lebar, membuat penghuni kamar bisa dengan leluasa melihat semua hal di depan rumah.


Kini Pak Khalid tengah duduk di kasur sambil terus memperhatikan aksi Amanda di depan sana. Tanpa terasa, dia pun tertidur dengan pulas.


Lain halnya dengan Zahira, karena kepalanya terus dipenuhi oleh wajah Pak Khalid, akhirnya dia memutuskan untuk terus mengaji bakan hingga kini waktu telah menghampiri tengah malam.


Sudah sejak dari magrib tadi Zahira berdzikir. Akan tetapi setelah selesai sholat isya dan makan malam, saat dia hendak tidur, matanya malah tak mau terlelap. Semakin dia mencoba untuk terpejam, semakin gencar pula wajah Pak Khalid bermunculan. Saat dia menutup mata, bukannya tertidur malah semakin mengingat Pak Khalid.


Karena merasa kesal dengan dirinya sendiri yang tidak dimengertinya, dia pun memilih untuk bangun dan mengaji. Meskipun sudah membaca beberapa Jus, tapi rasa ngantuk belum juga datang. Hingga Zahira pun terus melanjutkan mengajinya.


Waktu kini telah menunjukkan pukul 23.30, dan mata Zahira pun mulai meredup. Akan tetapi Zahira tetap saja bertahan. Setelah kantuknya benar-benar kuat menyerang, barulah dia merebahkan diri sambil mendekap Al-qur'annya.


Amanda yang tengah asik berayun, sungguh merasa bosan. Sangat ingin rasanya dia turun dan memasuki mimpi Zahira seperti biasanya. Namun karena Zahira terus saja berdzikir dan mengaji tiada henti, sehingga seluruh ruangan di bawah sana terasa begitu panas.


Amanda benar-benar tidak tahan dengan aura panas di sana. Dengan gelisah Amanda terus berayun tanpa hentinya. Tiba-tiba sebuah cahaya terang mengagetkannya.


Dengan cepat Amanda menoleh. Amanda langsung kabur bersembunyi begitu dia tahu cahaya apa yang datang. Sebuah cahaya merah bagaikan kembang api besar tengah melayang ke rumahnya.


Bunyi berdebum yang ditimbulkan oleh Cahaya merah membara itu membuat Amanda gemetar ketakutan. Tidak ada yang mendengarnya kecuali Amanda.


Begitu wujud asli dari cahaya itu kelihatan, Amanda semakin ketakutan. Sosok Mahluk menyeramkan yang lebih menyeramkan dari yang datang sebelumnya. Amanda tahu betul jika Mahluk itu kiriman dari dukun santet lagi.


Mahluk itu segera masuk ke dalam rumah. Amanda hanya menyaksikan dari kejauhan. Dia tidak sanggup memasuki kamar Zahira karena aura panas bahkan terasa sampai di pintu masuk ke bawah sana.


Mata Amanda kembali melotot kaget saat Mahluk itu terpental keluar. Dia pun langsung bersembunyi. Tanpak Mahluk itu kembali masuk ke dalam rumah. Kemudian terpental lagi lagi dan lagi. Setelah berulang kali dicobanya, mahluk itu pun segera menghilang.


Amanda menarik napas lega. Dengan cepat dia melesat masuk ke dalam rumah. Amanda lupa jika di dalam terasa panas. secepat dia masuk secepat itu pula dia keluar. Dengan wajah sedih, dia pun memilih untuk menggantung diri di tali gantungannya.

__ADS_1


Pagi menjelang, karena Pak Khalid tidur tanpa menutup tirai jendelanya, matahari pagi yang masih temaram sanggup mengusik matanya. Dengan malas dia bangkit hendak sholat.


Belum lagi dia menyelesaikan sholatnya, sudah terdengar ketukan pintu dari luar. Tanpa membaca dzikir dan doa, Pak khalid menyudahi sholatnya dan bergegas ke bawah untuk membuka pintu.


"Eh Bapak, pagi-pagi sekali kemari ada apa?"


"Hehehe maaf ya Pak sudah mengganggu Anda, kami bermaksud mengambil pakaian kami yang masih tersisa, takutnya Anda nanti mau pake lemarinya."


"Ooh mari Pak, Bu silahkan masuk!"


Pasangan suami istri yang juga pemilik rumah itu masuk ke dalam.


"Ini Pak sedikit sarapan!"


Pak Khalid menerima kotak sarapan dengan berat hati. "Ooh makasih banyak Bu, jadi merepotkan ini!"


"Tidak apa-apa Pak, kami memang selalu menyiapkan sarapan setiap pagi, jadi sekalian aja kami bawakan."


"Kalau begitu, kami langsung ke atas ya Pak, kami mau ambil pakaian kami dulu!"


Saat pasangan suami istri itu naik, Pak Khalid segera masuk ke dapur menaruh kotak makanannya. Karena tak ada isi dapur yang bisa dibuat makanan atau minuman, Pak Khalid pun keluar untuk membeli beberapa di warung.


Sambil menunggu PASUTRI itu selesai berkemas, Pak Khalid membuat teh hangat untuk dirinya dan juga tamunya, begitu dia telah kembali dari warung.


Saat Mereka turun, Hidangan telah tersedia di ruang tamu. "Mari Pak, Bu minum dulu baru pulang, soalnya ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan!"


Pasutri itu tampak saling pandang, kemudian mereka duduk di sofa.


"Apa yang bisa kami jawab Pak?" Lanjut Si Bapak.


"Maaf Pak kalau ini sedikit lancang, tapi jika boleh aku bertanya soal pemilik rumah yang di depan sana, apakah di sana pernah terjadi kasus pem...eh kematian?"


Mereka lagi-lagi saling pandang, lalu sang istri memgangguk pada suaminya.

__ADS_1


"Iya memang pernah ada kasus kematian bunuh diri, tapi itu sudah lama, mungkin sekitar lima tahunanlah!"


"Apa menurut Anda itu benar-benar bunuh diri?"


"Yaaah kami tidak tahu Pak, yang jelas, polisi menyatakan itu bunuh diri!"


"Terus kenapa Bapak dan Ibu memilih pindah, maaf saya bukan mau menuduh tentang kasusnya, cuma semalam aku...."


Sesaat mereka saling pandang mendengar penuturan Pak Khalid. Dengan wajah sedikit tegang, sang istri berusaha menjawab. "Emm sebenarnya anak kami sakit setelah melihat penampakan di teras rumah itu!"


"Waktu kami bawa ke rumah sakit, demamnya tidak mau turun, begitu kami bawa ke orang pintar, dia bilang kalau avak kami mau sembuh, kami harus pindah dari rumah kami."


"Itulah kenapa kami memilih pindah, tapi maaf apakah Anda tidak jadi menyewa rumah kami?" Timpal suaminya.


"Oh bukan Pak, bukan, saya hanya mau tau aja, apakah ada hubungannya dengan teras rumah itu, dan ternyata memang benar, soalnya semalam aku juga sempat melihat sesaat ada penampakan, makanya aku bertanya."


"Ooohhh!" jawab mereka serempak. Ada raut lega di wajah mereka.


Tanpa canggung lagi, mereka pun menikmati minuman hangat yang dibuat oleh Pak Khalid untuknya. Sambil sesekali tertawa renyah karena candaan kecil yang dibuat Pak Khalid.


Begitu minuman mereka habis, dengan segera mereka berpamitan dan pulang.


Sepeninggal mereka, Pak Khalid kembali duduk menikmati sarapannya. Dia tersenyum geli saat mengingat kata-kata mereka tadi. "Orang pintar, hehehe, memangnya dokter bukan orang pintar ya, haàaah makin hari makin berubah juga istilah dukun, hehehe."


.


.


.


.


Sampai jumpa esok hari ya. 😙😙😙😙😙.

__ADS_1


Jangan lupa kasih semangat ya dengan Like vote dan komen ya😆😆😆


__ADS_2