
Saat makan malam tiba, suasana di meja makan begitu canggung. Karena kehadiran Adrian diantara mereka. Terutama Zahira yang dari sejak awal, sudah tidak senang dengan kemesraan Daniah dengan Adrian.
"Dengar ya semua, mulai hari ini, Adrian bakal tinggal sama kita!" Nada ketus Daniah membuat temannya langsung mendongak, menatapnya dengan mata melebar.
"Whaaaat!!" Teriak Meta dan Della bersamaan.
"Ga bisa!" Zahira menolaknya.
Daniah menatap Zahira dengan kesal. "Kenapa ga bisa?"
Zahira balas menatapnya dengan tegas. "Itu karena dia cowok, dan kita ini cewek, dia itu bukan muhrim kita, entar apa kata tetangga, kita tinggal seatap dengan cowok!"
Daniah menarik napas berat, sementara Adrian cuma terdiam bagai orang diadili.
"Ra, aku tahu kalau kita ga boleh nenampung cowok di sini, tapi Adrian beda Ra, dia lagi ga punya tempat pelarian yang lain, dia lagi ada masalah dengan keluarganya!" Daniah menjelaskan.
Della terkejut. "Haah, Adrian, kamu memangnya ada masalah apa sih, masa ga punya tempat tujuan lain?"
"Iya..." Meta menimpali.
Adrian tertunduk dalam, sambil menarik napas "hhhhpp haaah, aku lagi broken home, orang tuaku dulu bercerai, kemudian masing-masing menikah lagi, aku selama ini tinggal sama nenek, tapi minggu lalu nenekku meninggal, belum lagi sedihku hilang, Mama dan saudara-saudaranya malah sibuk memperebutkan harta warisan!"
"Terus, terus!" Meta mendesak.
"Semua harta warisan nenek ternyata diberikan padaku, akhirnya saudara-saudara Mama membenciku, tapi Mama begitu tahu semua warisan ada ditanganku, dia malah memerasku dan berniat mengambil semua dariku, dia meminta aku kembali, tapi aku benci dengan Papa tiriku!"
Mereka menjadi iba mendengar kisah Adrian, tapi Zahira tetap saja tidak setuju. "Tapi bukan berarti harus kita yang merawat dia kan Daniah!"
Daniah menatap Zahira tambah kesal. "Zahira, apa kamu tidak punya perasaan? teman lagi susah, masa ga dibantu, lagian ini kan bukan rumah kamu juga!"
Zahira mencoba untuk bicara lembut. "Daniah, bukan begitu, aku hanya tidak mau terjadi fitnah dimata orang-orang!"
"Ra, kita kan ada banyak di sini, jadi ga bakal ada fitnah kok, karena akan ada banyak saksi, lagian Adrian sudah janji, tidak akan melanggar privasi kamu,
ya kan Adrian?" Seraya melirik Adrian.
Adrian mengangguk, "Iya, aku janji, aku hanya akan berkeliaran di ruang tengah dan ruang tamu aja, masuk dapur cuma saat makan saja, terutama lantai atas, aku tidak akan naik kesana jika tidak terpaksa!"
"Iya Ra, aku sudah bilang ke Adrian, kalau kamu ga mau ada cowok yang melihat aurat kamu, dan dia janji akan menjaga sikap dan jaga mata!" Jelas Daniah.
Zahira mendengus "Haah, masalahnya, yang punya rumah kan belum tahu!"
"Kalau itu, nanti kalau Pak Khalid sudah datang, atau kalau ketemu di kampus, baru kita bilang, lagian Adrian cuma sebentar aja kok, sampai masalah warisannya selesai, dia juga akan pergi!"
"Iya Ra, aku janji akan segera pergi jika masalahku sudah selesai, sekarang masih ditangani pengacara!"
Zahira tertunduk kesal, "terserah deh, aku sudah ga peduli, jika nanti ada tetanga yang keberatan, kalian yang tanggung jawab!"
Diapun menyantap makanannya dengan cepat lalu segera meninggalkan tempat itu.
Sepeninggal Zahira, keempat muda-mudi itu saling pandang. "Dia kenapa sih?" Adrian merasa heran dengan sikap Zahira.
"Lagi galau, soalnya Pak Khalid ga pernah muncul!" Meta asal ceplos.
Mereka pun menatap Meta dengan intens tapi tak ada yang bersuara. Mereka seakan enggan membahas masalah Zahira. Adrian sendiri bisa memahami kegalauan hati Zahira, mengingat kemesraan mereka tempo hari di Rumah lesehan.
Begitu sampai di kamarnya, Zahira duduk bersandar di ranjang. Dia terus merenung memikirkan dirinya. "Kenapa aku jadi begini, memangnya kenapa kalau Pak Khalid tidak datang, kenapa aku harus sedih?"
Zahira terdiam sesaat. "Ih lucu deh, apa aku sudah gila, hahaha, aku kan ga harus sedih gitu, emang apa salahnya kalau dia tidak datang, ah bodohnya aku!"
Zahira mengusap wajahnya sambil menegakkan punggungnya yang bersandar. "Hhhhp haaah, aku harus bangkit, semangat dan ga usah mikirin orang yang ga pernah mikirin kita, oke Zahira!" Ucapnya menyemangati diri sendiri.
"Haah mending aku ngaji aja deh, biar plong!" Seraya bangkit dari duduknya menuju kamar mandi.
Beberapa saat kemudian, suara lantunan ayat suci Alquran pun terdengar di lantai atas. Suara merdunya membahana hingga terdengar pula di lantai bawah. Dimana teman-teman Zahira berada.
Adrian yang tengah duduk di ruang tengah, tampak menajamkan telinga mendengar suara syahdu Zahira. Dia terdiam seakan memikirkan sesuatu. Ada cairan bening yang keluar dari sudut matanya. Rasa sesak di dadanya tiba-tiba muncul begitu dia menghayati setiap lantunan Zahira.
Daniah and the gank ikut bergabung di ruang tengah. Mereka langsung heran melihat Adrian menyeka air mata.
"Adrian! kamu kenapa, mikirin keluarga?" Tanya Daniah sembari ikutan duduk di sampingnya. Sedangkan Della dan Meta lebih suka duduk di karpet depan TV.
"Aku ga papa, cuma tiba-tiba aku sedih mendengar suara Zahira mengaji tadi!"
Daniah tersenyum mendengarnya. "Hem Zahira yang ngaji kenapa kamu yang sedih?"
Adrian melirik Daniah. "Karena aku ga bisa ngaji!"
Sontak Della dan Meta menoleh dengan mata melebar. Demikian juga Daniah. "Haaah ga bisa ngaji?"
"Iya, waktu kecil aku lebih suka bolos dari pada pergi mengaji, karena Nenek ga mau paksa aku, jadi dia pasrah aja kalau aku menolak pergi!" Adrian menunduk. Air bening kembali jatuh dari sudut matanya.
Ada rasa menyesal tidak mematuhi Neneknya dulu. Sekarang Neneknya sudah tidak mungkin lagi untuk memintanya mengaji. Rasa sesal itulah yang membuat dadanya sesak dan bergemuruh.
__ADS_1
"Yaaa Adrian, udah besar begitu ga bisa ngaji, entar matinya kuburan kamu gelap gulita lho, kata guru mengajiku dulu, Al-Quran itu, lampu penerang dalam kubur nanti, jadi kalau tidak tahu mengaji, nanti kuburan kita gelap gulita!' Meta menerangkan dengan serius.
Della meliriknya sambil mencibir. "Elleh, memangnya kamu pintar ngaji gitu?"
Meta balik menatap Della ketus. "Ya iyalah, meski aku ga mahir tilawah, tapi aku lancar kok ngajinya!"
"Ajari aku kalau gitu!" Adrian bermuka serius membuat mereka saling pandang.
"Kalau belajar ngaji, ga usah sama Meta, aku juga bisa ngajarin, dulu di sekolah, aku selalu juara tilawah!"
Ulasan Daniah membuat temannya semakin tercengang. Apalagi Della dan Meta. Selama ini, mereka tidak pernah menyangka jika Daniah mahir pula baca Alquran. Pasalnya, dia tidak pernah sekalipun memperlihakan kemampuannya.
"Maksud kamu!" Seru Della dan Meta berbarengan. Sementara Adrian cuma menatapnya lekat.
"Ya aku bisa mengaji, ada yang salah?"
Meta dan Della langsung menggeleng. "Enggak kok, ga ada masalah!" Sontak mereka berbalik dan kembali menonton TV.
"Yang, ajari aku mengaji ya nanti!" Pinta Adrian tiba-tiba. Daniah cuma tersenyum sambil mengangguk pelan.
Adrian tersenyum senang.
Sementara di latai atas, Zahira terus bersenandung ria. Sesaat dia benar-benar lupa akan masalah hatinya yang galau. Tapi ketika tiba-tiba kata Qorin terucap dari bibirnya, ingatannya langsung melayang ke Amanda. Sejenak dia berhenti.
"Haaah Amanda apa kabarnya ya?"
Zahira pun tersenyum lalu memanjatkan doa untuk Amanda. Begitu selesai, Zahira bergumam "semoga Amanda benar-benar tenang di alam sana."
Zahira menutup Al-qurannya kemudian.
"Haah coba masih ada hantu Amanda, mungkin Pak Khalid juga masih menemuiku!" Zahira menelungkupkan kepalanya di atas lututnya.
"Andainya Amanda masih di sini ya?"
Seketika Amanda menegakkan kepalanya. "Astagfirullah apa yang aku pikirkan, bisa-bisanya aku bilang begitu, Hantu kan Syetan juga!" Seru Zahira kaget.
Zahira pun segera menyimpan Al-Qurannya dan segera berdzikir memohon ampunan dari Allah. Dia takut kualat dengan kata-katanya yang baru saja terucap. "Astagfirullahallazi la ilaha illahua alaihi tawakkaltu wa atubu ilaih" demikian yang dibacanya berulang-ulang.
******
Di tempat lain, di rumah kontrakan Pak Khalid, tampak perseteruan sengit yang terjadi. Pak Jin mendensak Pak Khalid. "Kapan kamu akan menemui Zahira!"
Pak Khalid terdiam, tak sepatah kata pun terucap. Dia hanya memandangi Pak Jin dengan malas.
"Haaah, aku tidak sanggup menemui Zahira, hatiku selalu sakit jika mengingat dia mencintai orang lain!" Pak Khalid beranjak hendak naik ke kamarnya.
Belum lagi sempat mencapai tangga, Jin itu menghalanginya. "Bagaimana kalau ternyata kamu salah paham sama Zahira, kamu akan menyesal nantinya!"
"Haah ayolah, kalau kamu mau ke sana, ya sudah kesana saja, tidak perlu pake ditemani segala, kalian kan bisa berbuat sesukan hati kalian!" Pak Khalid terpaksa kembali dan duduk di sofa.
"Kami bisa saja ke sana, tapi tidak mungkin mendapat pengakuan dan izin darinya, hanya kamu yang bisa menjadi penyambung kata antara kami!"
"Maaf Pak Jin, aku tidak bisa!"
"Jangan mengundang amarah kami!" Jin itu sudah mulai emosi.
"Kukira kalian baik, apa kalian bisa marah juga?" Pak Khalid menatapnya tak percaya.
Seketika Jin yang semula berwajah mirip denga Pak Khalid berubah wujud. Tubuhnya perlahan membasar. Tubuh itu dipenuhi dengan bulu berwarna putih dengan tampang seperti monyet raksasa.
Pak Khalid terbelalak, tapi belum selesai rasa kagetnya, muncul lagi Mahluk yang tak kalah mengerikannya. Sesosok gorilla dengan mata merah menyeramkan berdiri di samping monyet raksasa itu.
Pak Khalid langsung menarik kedua kakinya dan memeluk lutut di sofa.
Napasnya jadi tersengal. Belum lagi napasnya stabil, seekor buaya putih dengan kepala sebesar gentong, merayap di sampingnya. "Aaaakkhhh!!"
Teriak Pak Khalid ketakutan.
"Hahaha, kamu takut? ini baru tiga, lihatlah ini!"
Pak Khalid segera melirik kearah yang ditunjukkan monyet itu. Seketika jantung Pak Khalid serasa berhenti berdetak.
Dua Mahluk yang sangat tinggi, tanpa bulu dengan telinga lebar dan runcing. Selain itu ada pula dua mahluk lagi yang menyerupai monyet, tapi juga tidak berbulu dengan warna kulit seperti orang bule. Mereka menyeringai lebar seakan akan hendak menerkamnya.
"Kalian mau apa?" Teriak Pak Khalid seraya menutup mata rapat-rapat.
"Kami hanya mau kamu memenuhi permintaan kami, sesuai janji kamu yang lalu!" Suaranya yang besar dan serak seakan memekakkan telinga Pak Khalid.
"Oke, oke, besok aku antar kalian!" Pak Khalid tertunduk pasrah. Dadanya kembang kempis mengatur napasnya yang terasa berat.
"Terima kasih!" Tiba-tiba semua Mahluk menyeramkan itu pun berubah wujud kembali. Akan tetapi bukan lagi mirip Pak Khalid, melainkan pada wujud asli mereka yang lain. Pak Khalid begitu tercengang hingga mulutnya menganga lebar.
Betapa tidak, sosok yang semula seram, kini berganti dengan sosok alim bak seorang kiyai. Mereka memakai gamis panjang berwarna putih lengkap dengan sorbannya. Hanya warna sorban yang berbeda. Ada yang putih semua, adapula yang merah dan putih, juga ada yang hitam dan putih.
__ADS_1
"Ini adalah wujud kami yang baik, sedangkan yang tadi adalah wujud kami yang jahat, jadi aku ingatkan, jangan pernah membuat kami naik pitam, kalau tidak mau bertemu dengan wujud kami yang jahat!"
Pak Khalid cuma mengangguk pelan. Dia tak bisa mengedipkan matanya menatap wujud di depannya.
*******
Waktu terus bergulir, dan malam pun semakin merangkak pelan. Waktu tengah malam pun kini sudah menjelang.
Tak ada lagi manusia yang tak lelap di saat seperti itu.
Di saat semua orang terlelap, Zahira malah terbangun karena mendengar seseorang memanggil namaya.
Perlahan dia bangkit dan mengedar pandang, tapi tak ada seorang pun di kamarnya. Kecuali Meta yang kini sedang terlelap.
"Zahira!"
Suara itu terdengar lagi. Zahira pun memutuskan untuk keluar dari kamar. Begitu sampai di luar, tetap saja tak menemukan seseorang. Akhirnya Zahira turun ke lantai bawah.
Tetap saja tak ada orang, meski Zahira telah memeriksa setiap ruangan. Semua orang tampak pulas. Zahira pun memutuskan untuk kembali ke kamar dan melaksanakan sholat tahajjud seperti biasanya.
Selesai sholat, Zahira tidak lagi mencurahkan isi hatinya. Karena dia sendiri merasa sangat bodoh telah meratapi sesuatu yang tak mungkin. Sehingga dia lebih memilih untuk berdoa memohon keselamatan untuk diri dan keluarganya. Tak lupa Ia mendoakan Amanda.
Begitu selesai, dia pun kembali melanjutkan tudurnya.
Belum lagi terlalu lelap, suara panggilan terdengar lagi. Zahira begitu malas untuk bangun. Dia hanya menarik napas tanpa berniat meninggalkan kasurnya yang hangat.
Tiba-tiba saja Zahiramendengar suara panggilan itu sangat dekat d telinganya. Belum sempat dia membuka mata, tiba-tiba dia merasa tubuhnya melayang entah kemana.
Saat dia membuka mata, alangkah kagetnya saat melihat pemandangan di depan matanya. Sebuah rumah reot yang sangat gelap, dengan suasana yang menyeramkan. Tampak pepohonan yang mengelilinginya bagaikan genderuwo raksasa yang siap menerkam. Semua tampak gelap gulita.
Zahira tak bisa melangkahkan kakinya karena kegelapan. Tak lama kemudian, suara wanita yang memanggilnya terdengar lagi. "Zahira!"
Segera Zahira menoleh ke sumber suara. Alangkah kagetnya Zahira saat tahu siapa yang memanggilnya. "Amanda!" Seru Zahira kegirangan. Seakan-akan rindu di hatinya terlepas.
Zahira tersenyum sumbringah. "Amanda kamu datang lagi?" Seraya memeluk lalu memegang kedua bahu Amanda. "Apa kamu sekarang bisa hidup tenang?" Zahira menatapnya penuh selidik.
Amanda mengangguk dan tersenyum. Wajah pucatnya menyiratkan kebahagiaan. "Zahira terima kasih ya, aku sudah terima kiriman kamu!"
"Kiriman?" Zahira mengerutkan dahi.
"Kiriman apa, kapan aku kirim?"
"Tadi kiriman kamu sampai, jadi aku bisa makan lagi, selama ini aku kelaparan, tapi sejak kamu suka mengirimkan aku uang, aku bisa makan dengan baik!"
"Ooh begitu ya, memang keluarga kamu tidak pernah mengirimkan apa-apa?"
Amanda hanya menggeleng lemah. "Zahira rumahku gelap, jadi maaf ya, aku tidak bisa mengajak kamu masuk!"
Zahira mengagguk menanggapinya. Perlahan bayangan Amanda tampak memudar lalu menghilang. Zahira terlonjak kaget dan berseru. "Amanda!"
Suara teriakan Zahira membuat Meta terbangun. Begitu melihat Zahira masih tidur sambil bergumam tidak jelas, Meta meraih guling memukul Zahira.
"Zahira, bangun!"
Zahira membuka mata perlahan, "Meta!"
"Iya aku, kamu tadi mimpi apa sih, kenapa manggil nama Amanda?"
"Oh tadi aku mimpi ketemu Amanda!"
"Haaah kirain apa!" Seru Meta seraya kembali merebahkan tubuhnya.
Zahira bangkit lalu bersandar di sandaran ranjang. Ingatannya melayang kembali pada mimpi yang baru saja dialaminya.
"Apa karena aku baru saja mendoakannya?" Batinnya.
"Lalu rumahnya, gelap sekali, ah mungkin selama hidupnya Amanda tidak pernah beribadah." Zahira memejamkan matanya. Senyum simpul tergambar di bibirnya. Entah mengapa ada rasa bahagia telah bertemu dengan Amanda walau hanya dalam mimpi.
"Apa aku memang merindukan Amanda selama ini?" Lirih ucapan Zahira hingga tak ada sesiapa yang mendengarnya termasuk Meta.
Semua itu tak lepas dari tatapan sedih dari sesosok mahluk tak kasat mata, yang kemudian menghilang tertiup angin. Menghilang ditelan suara Adzan yang sayup-sayup terdengar di kejauhan.
.
.
.
.
Maaf ya Readers, baru bisa up lagi. Author sempat galau karena level tak berubah meski telah berusaha up setiap hari. Sekali lagi maaf ya🙏🙏🙏.
Semoga episode kali ini bisa memuaskan.
__ADS_1