
Agak lama juga Pak Khalid dan rombongannya menikmati makan siang di tempat itu. Banyak hal yang mereka perbincangkan. Hanya saja semua sekedar berkelakar dan candaan santai semata.
Meskipun demikian, tetap saja tatapan iri dan cemburu dari sepasang mata yang mengawasi mereka tambah panas jadinya. Betapa tidak, perlakuan Pak Khalid pada Zahira mampu membuat hati para jomblo meradang.
Della dan Meta tak henti-hentinya tertawa dan bersorak kegirangan melihatnya. Daniah dan Adrian cuma geleng-geleng kepala.
Pak Khalid bahkan berani menyuapi Zahira dengan sendok yang baru saja dia pakai sendiri. Selain itu, Pak Khalid juga menyeka bekas saus di bibir Zahira, memakai tissu.
Pemandangan yang begitu panas di mata Gina, mantan pacarnya Pak Khalid. Sudah hampir 2 jam dia menunggu dan mengintip aksi romantis itu. Meski telah merasa pegal, tapi dia tetap saja tidak mau meninggalkan tempat persembunyiannya.
Setelah merasa puas, akhirnya rombongan mesra itu pun meninggalkan restoran pizza. Dengan senyum cerah ceria mereka keluar dan menuju parkiran dimana mobil mereka berada.
Gina yang menyaksikan kepergian mereka semakin geram. Dengan mengepal kuat dia mengumpat-ngumpat. "Pokoknya, aku harus membuat Khalid kembali padaku.
Segera dia meraih ponselnya dan menelpon seseorang.
******
Begitu sampai di rumah, Zahira segera turun tanpa menunggu perintah. Dari mobil Adrian, Daniah and the gank juga sudah turun dari mobil.
Wajah-wajah bahagia itu memasuki rumah sambil menenteng paper bag yang mereka beli. Hanya Zahira yang tidak menenteng apa-apa.
Begitu mereka sampai di dalam, saat teman Zahira memamerkan belanjaannya, Pak Khalid masuk dengan menenteng begitu banyak paper bag.
Semua mata melotot tidak percaya.
Pak Khalid berjalan mendekati Zahira sambil tersenyum. "Ra, nih buat kamu!"
Seraya meletakkan semua tas itu di dekat Zahira.
"Tapi Pak, saya kan ga beli?" Zahira jadi bingung.
"Itu aku yang beliin tadi, coba periksa deh!"
"Tapi Pak, aku...."
"Udah dong Ra, lihat aja isinya!" Desak Meta.
"Iya kalau kamu ga mau buka, biar aku yang buka!" Tanpa menunggu jawaban, Della langsung membuka tas itu.
"Waah gilaaa! Semua yang tadi kamu suka ada di sini Ra!" Seru Della dengan mata melebar.
Meta pun ikut memeriksa semuanya.
"Waah, tas, sepatu, baju, waah ini, jilbab yang tadi Zahira suka banget kan ya!" Meta mengabsen semua isi tas itu.
"O Em jii! Jam tangan ini, eh ini bukannya cuple ya?" Della berbalik menatap Pak Khalid.
Pak Khalid tersenyum seraya mengangkat lengan kirinya.
Sontak Meta dan Della berseru. "Aaaaaahhh iri aku iri, heee heee, kapan kita punya pasangan juga ya!"
Meta dan Della berpelukan sambil meringis cemburu.
"Eh Daniah, kamu ga beli jam tangan cuple juga kan?" Della penasaran.
Daniah menatap Adrian, lalu mengangkat lengannya. Adrian pun ikut mengangkat lengannya sambil tersenyum.
Meta dan Della makin meringis, "Heee heee, derita cewek jomblo!" Mereka kembali berpelukan.
Tingkah kocak mereka membuat yang lainnya tertawa tak tertahankan.
Merasa diketawai, Della segera menyambar tasnya lalu segera masuk ke dalam kamar, meninggalkan pekerjaannya yang tak dibereskan.
Zahira jadi tidak terima, "eh Della sudah bongkar kok ga dirapiin balik!"
Tapi bukannya memperbaiki, bahkan menoleh pun tidak.
Meta menyeringai licik. "Hehe, beresin sendiri, siapa suruh bikin iri!" Dia pun segera berlari naik ke atas.
"Haah maaf Pak, bisakan barang ini...?"
"Zahira, apa kamu tidak suka?" Pak Khalid nampak kecewa.
"Bukan begitu Pak, cuma..." Zahira tertunduk.
__ADS_1
"Udah dong Ra, terima aja, Pak Khalid ga bakal minta imbalan juga kok!" Saran Daniah.
Zahira tak mampu berkata lagi, dengan lunglai dia memungut semua barang yang telah berserakan di lantai, akibat ulah si duo jomblo tadi.
Baru saja dia hendak membawa semua barang-barangnya, ponselnya berdering. "Eeh pemilik rumah."
*Halo, assalamu alaikum!"*
*"Oh iya baik, aku akan datang!"*
"Ada apa Ra?"
"Itu Pak, pemilik rumah katanya sudah ada di sana, katanya mereka menunggu!"
"Ya sudah ayo aku antar!"
"Ga usah Pak, aku ga mau merepotkan, aku pergi sendiri saja!"
"Ga bisa, aku ga bisa membiarkan kamu kesana sendirian!"
"Iya dong Ra, gimana kalau pemiliknya malah macam-macam?" Daniah meyakinkan.
"Emm ha sudah deh Pak, tapi biar ini aku bawa dulu ke atas, emm aku juga mau sholat dulu Pak!"
"Oke, aku tunggu diluar aja ya!"
Zahira mengangguk lalu segera ke atas. Daniah pun masuk pula di kamarnya. Sedangkan Adrian memilih tiduran di sofa.
Begitu selesai menjalankan kewajibannya, Zahira segera turun ke bawah. Tidak peduli dengan cericit Meta yang tukang kepo.
Sampai di dekat mobil, Zahira celingukan mencari keberadaan Pak Khalid yang tak nampak batang hidungnya. Setelah puas menacari lewat pandangan, akhirnya Zahira melihat Pak Khalid tengah berbicang dengan seorang Bapak.
Tak lama kemudian, Pak Khalid pun kembali. "Zahira, sudah selesai?"
Zahira cuma mengangguk pelan, "Iya Pak, bisa berangkat sekarang?"
"Oke ayo!" Mereka pun naik ke mobil.
Sepanjang jalan, Zahira terus menghadap ke jendela, karena dia tidak bisa menahan rasa groginya di dekat Pak Khalid. Senyum di bibirnya seakan tak mau pergi.
"Emm!"
"Lho kok cuma emm?" Pak Khalid melirik Zahira dengan tersenyum.
"Iya Pak!" Zahira harap-harap cemas, takut jika dia sampai dirayu lagi.
"Alamat rumah yang mau kamu periksa dimana?"
Zahira langsung menoleh, "eh apa yang aku harapkan memangnya!" Batin Zahira. "Emm itu di kompleks ini juga, cuma ada di Blok F, lorong 2 nomor 36!"
"Yaah kenapa ga bilang dari tadi Ra, terpaksa kita mutar deh!"
"Eeh kok mutar? aku waktu pulang lewat jalan ini juga!" Seraya menatap Pak Khalid bingung.
Pak Khalid tersenyum. "Iya tapi harus memutar dulu, kalau tadi dari rumah, lurus aja, terus belok kanan, udah langsung ketemu Blok D terus ke blok F sayang!"
Mendengar panggilan Pak Khalid, mata Zahira makin melebar. Kemudian dengan cepat berpaling melihat jendela. Detak jantungnya bagai dipacu. Pak Khalid yang tidak sadar dengan ucapannya, bersikap santai dan biasa saja.
"Ra, yang mana rumahnya?"
Zahira kaget, karena sepanjang jalan dia terus melamun, mengingat semua perlakuan Pak Khalid padanya sewaktu makan tadi.
"Emm eeh yang...." Zahira celingak-celinguk memandang kiri kanan. "Yang di depan sana!" Seraya menunjuk sebuah rumah yang masih asli dan belum pernah di renovasi.
"Oh baiklah!"
Begitu mereka berhenti, seorang pria gemuk menyambut kedatangannya. Melihat orang itu, Zahira langsung bergidik, dia teringat lagi dengan sosok Tono. "Haah untungnya ada Pak Khalid deh!" Batinnya.
"Mari dek, mari silahkan!" Sambut Bapak itu ramah. Mereka cuma mengangguk dan mengikuti pemilik rumah itu.
"Maaf ya Dek, isinya sudah dikeluarkan semua, begitu rumah ini mau dijual!"
"Iya Pak, ga papa kok!"
Mereka pun berkeliling mengitari dan memeriksa rumah itu. Rumah dengan 2 kamar tidur, 1 kamar mandi serta dapur dan ruang tamu yang agak sempit, namun halaman depan dan belakang masih agak luas.
__ADS_1
"Gimana Ra, apa kamu suka?" Tanya Pak Khalid begitu mereka berdiri di halaman belakang rumah.
"Iya Pak, meski di dalam agak sempit, tapi kan halamannya luas, jadi bisa direnovasi juga supaya lebih luas nanti!"
"Jadi kamu mau beli?"
"Biar aku kasih tahu Umi dulu, soalnya aku belum punya uangnya!"
"Kalau kamu mau, biar aku bayarin dulu, nanti kalau Umi kamu sudah kirim uangnya, kamu bisa menggantinya!"
Zahira menatap Pak Khalid lekat, "Makasih ya Pak!"
Pak Khalid tersenyum "iya sama-sama Ra!"
Pemilik rumah mendekat, "Bagaimana Dek, apakah istri Anda setuju?"
Zahira terkejut "eh kami bukan..."
"Iya Pak, dia setuju, kami mau beli rumah ini!" Pak Khalid memotong ucapan Zahira.
Zahira hanya bisa memandangi Pak Khalid dengan wajah agak kesal.
"Baiklah, kalau begitu bagaimana kalau besok kita selesaikan surat-surat pembeliannya dikantor kelurahan?"
"Baik Pak, terima kasih banyak!"
Mereka pun berjabatan tangan.
"Maaf Pak kami masih ingin melihat-lihat sebentar!" Tawar Pak Khalid.
"Ooh silahkan, aku akan menunggu di luar!"
Begitu Bapak itu keluar, Pak Khalid menoleh memandang Zahira. Demikian juga Zahira yang merasa heran dengan Pak Khalid. Pandangan mereka pun bertemu.
"Pak"
Pak Khalid menaikkan telunjuknya di depan bibir Zahira agar tidak melanjutkan bicaranya.
Dengan cepat dia mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Setelah itu dia langsung berlutut di depan Zahira.
Zahira terlonjak kaget dan mundur selangkah, "eh Bapak ngapain?"
Pak Khalid menyodorkan sebuah kotak kecil warna biru tua ke Zahira. "Ra maukah kamu menerima aku sebagai teman hidupmu?"
Zahira terdiam sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Apa ini, apa aku dilamar?" Batinnya.
"Aah maaf Pak, tapi bukannya harus Abi yang memutuskan, Bapak diterima atau tidak?"
Pak Khalid tersenyum lagi, "Jika kamu sudah bersedia menerimaku, selanjutnya aku akan menemui orang tua kamu!"
"Tapi Pak, aku dilarang pacaran!"
"Kita ga pacaran kok, cuma emm anggap saja sebagai ikatan aja, supaya aku bisa lebih merasa memiliki hak untuk dekat sama kamu, jangan kawatir, aku tahu batasan kok Ra!"
"Ee... tapi Pak, aku takut!"
"Cukup bilang iya aja kok, apa yang harus ditakutkan?"
"Iii...i...iii..."
Pak Khalid tidak lagi menunggu Zahira menyelesaikan ucapannya. Dengan sigap dia berdiri dan memasangkan cincin perak permata kecil yang berkilau di jari manisnya.
"Makasih ya Ra!"
"Ooohhh mmm!" Zahira tertunduk sambil mengamati cincin di jarinya itu.
"Pulang yuk, hampir Ashar tuh!"
Zahira cuma mengangguk pelan seraya mengikuti Pak Khalid yang telah melangkah lebih dulu.
.
.
.
__ADS_1
Ketemu lagi di episide berikutnya.