
Pagi datang terasa sangat cepat bagi Zahira. Kejadian semalam membuat seluruh tubuhnya seakan malas untuk beranjak dari tidurnya. Sementara suara adzan subuh telah berlalu sekitar setengah jam yang lalu. Bahkan para jemaah sholat subuh pun telah kembali dari mesjid.
Dengan malas Zahira bangkit dan berjalan menuju kamar mandi. Sholat kemudian menyiapkan sarapan adalah rutinitasnya setiap pagi.
Akan tetapi karena gorengan yang semalam dibawa Pak Khalid tidak tersentuh, maka Zahira tidak lagi bersusah payah membuat sarapan. Hanya membuat teh saja.
"Eheemmm semalam ngapain aja kamu Ra?" Della berbisik pada Zahira.
Zahira menoleh dan heran, "ga ngapa-ngapain kok!" Zahira ketus.
Della cuma menaikkan alisnya berulang kali sambil tersenyum. Zahira jadi gerah. Dia pun menarik napas berat.
Della tersenyum lagi, "maaf ya Ra, cuma bercada kok, jangan diambil hati ya!"
"Hehhhhaaahh, minum aja deh mendingan, dari pada curigaan ga jelas!" Zahira duduk di kursi.
Daniah dan Meta datang beriringan. "Siapa yang curigaan?" Daniah ikutan duduk.
"Bukan apa-apa kok!" Della berbohong.
Daniah dan Meta diam tak menggubrisnya. Mereka langsung menikmati gorengan dingin di depannya.
Della menatap Zahira dan Daniah bergantian. Merasa ditatap, Zahira sedikit jengah. "Della kamu kenapa sih, liatin kita begitu?"
"Ada apa sih sebenarnya?" Daniah ikutan curiga.
Della menarik napas. "Hhhaaah, Zahira semalam aku dengar semua yang kamu bicarakan sama Pak Khalid!"
"Ukhuuk." Zahira tersedak teh. "Maksud kamu?" Lanjutnya kemudian.
Daniah dan Meta saling pandang. "Ada apa sebenarnya?" Daniah menyelidik wajah mereka satu persatu.
Della tampak ragu, "Emm Daniah, kamu percaya ga, kalau Kak Yeni itu bisa nekat sampai menyantet Zahira?"
Meta dan Daniah langsung terbelalak. "MAKSUD LOOO!!" Serempak.
"Tanya aja Zahira, aku dengar semalam, mereka melawan Mahluk kiriman dari Yeni, ya kan Zahira?"
Zahira bernapas lesu. "Haah Della, itu kan cuma perkiraan Pak Khalid doang, lagian yang semalam itu, bukan Mahluk yang sama yang pernah dikirim Yeni, jadi kemungkinan bukan Kak Yeni dong!"
Mereka saling pandang tak mengerti.
Zahira pun melanjutkan. "Iya sih, pernah dulu aku diikutin Mahluk mengerikan, tapi katanya Mahluknya ga bisa menyentuh aku, lama-lama hilang, terus waktu di rumah sakit itu, yang merasuki Kak Yeni itu adalah Mahluk yang sama, jadi Pak Khalid menyimpulkan kalau kemungkinan Kak Yeni termakan senjatanya sendiri, gitu!"
Mereka kembali saling pandang. "Aku sih tidak heran, bukannya dulu Kak Yeni yang menyuruh kita mengerjai Zahira, dengan mengajaknya tinggal di kamar berhantu!" Meta mengomel santai.
Mendengar omelan Meta, Daniah melotot. "Meta!!ngomong apa sih kamu?!" Della ikutan melotot.
Perlahan mereka melirik Zahira yang juga menatap mereka dengan tenang.
"Eemmm Zahira...itu...eee..."
Della terbata-bata.
Zahira tersenyum, "Ga papa kok, aku sudah tahu dari sejak pertama tinggal di sini." Daniah dan Della makin melotot dan saling pandang. "Kok bisa??"
Meta jadi gelisah, sebisa mungkin dia ingin memberi kode pada Zahira agar tidak mengatakan kalau dia yang memberi tahunya. Tapi Zahira malah diam dan tak meresponnya.
"Emm aku mendapat pirasat aja, hehe!"
Zahira berbohong agar tidak memperpanjang masalah.
Daniah dan Della langsung merasa bersalah. "Zahira, apa kamu marah? Maaf ya!"
Zahira tersenyum melihat mereka. "Tidak kok, aku malah berterima kasih, karena kalian, aku diizinkan untuk hudup mandiri."
Mereka pun tersenyum lega dan makan dengan segera. Meta bernapas lega karena telah lepas dari kemungkinan amukan Daniah.
Selesai sarapan, mereka pun siap berangkat. Saat keluar dari rumah, mobil Pak Khalid telah standby di depan sana. Mereka saling pandang. Meta dan Della tersenyum geli.
__ADS_1
"Eheem kayaknya ada yang bucin deh, hehe." Della mengedip ke Meta.
"Haha asik juga punya teman pacarnya kaya, bisa nebeng gratis tiap hari, haha, AAAUUUU!" Meta mengelus kepalanya yang terkena gamparan buku Daniah.
"Hahahahahhha!" Della terbahak-bahak. Meta cuma menyeringai kesal. Zahira sendiri malah kelihatan tidak senang.
Mereka pun berjalan menuju mobil. Pak Khalid yang melihatnya langsung membuka pintu untuk Zahira. Sontak Della dan Meta bersorak, "uuuuhh romantisnyaaaaaa, hahaha!"
Pak Khalid cuma tersenyum keki.
Zahira merasa gerah dengan tingkah Pak Khalid. Matanya mendelik kesal ke Pak Khalid. Dengan kesal dia membuka pintu belakang. Tapi saat dia hendak masuk, Meta langsung mendahului.
"Eeiiit di balakang tempat kita para jomblo, nyonya besar di depan ya!"
"Hahaahaha!" Meta dan Della tertawa ngakak. Tak ada tempat lagi bagi Zahira kecuali di depan. Zahira manyun tak bergerak. "Aku jalan kaki aja!" Lalu berbalik hendak pergi.
Buru-buru Pak Khalid mencegahnya.
"Zahira tunggu! kalau kamu tidak mau naik, aku tidak akan pergi, apa kita harus bersitegang di sini? banyak orang lho?"
Zahira memberengut manja. Tangannya diayun-ayunkan hendak menolak tapi mau berdebat juga tak mau. Zahira benar-benar tidak tahu mau berbuat apa. "Haah baiklah." Dia pun mengalah pada akhirnya.
Pak Khalid tersenyum penuh kemenangan. Sambil memberi jalan buat Zahira untuk masuk ke mobil, dia pun berdiri di dekat pintu. Begitu Zahira sudah masuk, dia segera menutup pintu.
"Cie cie...hahaha, ada yang jatuh cinta nieee!" Della dan Meta saling pandang dengan usil sambil tersenyum geli. Daniah sendiri cuma manyun tak menanggapi.
Mobil mereka pun melaju meninggalkan tempat itu.
Sepeninggal mereka, sebuah mobil berhenti di depan rumah. Ternyata Bu kos sudah kembali di rumahnya. Dengan dibantu oleh Tono, Bu kos menaiki tangga dengan pelan.
Sesampainya di kamar, Tono membaringkan Ibunya yang masih lemah. "Bu mau aku ambilkan minum?"
Bu kos hanya mengangguk pelan.
Amanda yang menghuni kamar itu sejak semalam, kini tersenyum puas. Tidak ada lagi yang mampu menghalanginya untuk balas dendam. Baru saja dia hendak menakuti Bu kos, Tono datang membawa air minum.
Entah mengapa, saat melihat Tono, rasa takut dan trauma langsung menyerangnya. Dengan terpaksa dia mengurungkan niatnya.
Lambat tapi pasti, Tono masuk ke dalam rumah itu. Setelah memastikan tidak ada seorang pun di sana, dia langsung membuka kamar Zahira dengan kunci cadangan yang dimilikinya.
Dengan gusarnya dia mengotak-atik isi kamar Zahira. Seluruh isi lemarinya di buang keluar. Tapi tak satu pun benda aneh yang ditemukannya. "Dimana benda aneh yang dimaksud Pak tua itu?"
Tono berdiri sambil berkacak pinggang. Dengan keras dia mencoba mengingat setiap kata-kata dukun tua yang di datanginya.
Dukun yang didatangi setelah dia dikejar oleh Amanda waktu itu. Dia terkenal sebagai Dukun sakti diantara para dukun yang sakti. Selama ini, tak ada satu orang pun yang mampu melawan ilmunya.
Akan tetapi kali ini, dukun itu bagai kebakaran jenggot. Tadi pagi, Tono mendapat telpon dari Dukun tua itu. Tono masih ingat betul bagaimana Dukun itu marah-marah di telpon. Dia tidak menyangka lawannya cukup tangguh. Sudah dua peliharaannya yang lenyap.
Dukun itu memintanya untuk memeriksa kamar Zahira. Karena menurut hematnya, pasti ada benda penangkal santet yang disimpan Zahira di kamarnya.
Melalui mata batin Pak Dukun itu, dia bisa tahu jika Amanda berlindung di balik kesaktian seorang wanita berkudung besar. Karena itulah, dia menyarankan pada Tono agar melenyapkan dulu Zahira jika ingin mengusir Hantu Amanda.
Setelah puas mencari di kamar Zahira yang tak kunjung ketemu, dia pun merambah juga ke kamar yang lain. Tapi hasilnya sama saja. Merasa tidak puas, dia malah mengacak-acak isi dapur bahkan semua kamar mandi. Tetap saja hasilnya nihil.
Tono sangat kesal. Sambil menggerutu dia kembali ke atas. Sambil mondar-mandir tak karuan, dia berpikir keras bagaimana caranya melenyapkan Zahira. Seketika dia tersenyum lalu meraih ponselnya.
Tangannya menari dengan cepat mengetik pesan buat seseorang. Tiada lama pesan pun terkirim. Senyum menyeringai penuh kelicikan tergambar di bibirnya.
********
Sepanjang jalan saat keluar dari kampus, Daniah tersenyum-senyum. Dia begitu geli mengingat Zahira ketahuan tertidur oleh Pak Dosen tadi.
Zahira cuma pasrah diketawai oleh Daniah. "Yaah ketawa ajalah terus, itung-itung kamu kan jarang banget ketawanya."
Daniah terdiam sejenak lalu tertawa lagi. "Hahaha, Ra, baru kali ini lho, aku lihat kamu begitu, hahaha, makanya jangan jatuh cinta kalau ga mau kayak orang ****!"
Zahira menoleh menatap Daniah, "emang kamu pernah merasakan jatuh cinta Dan?"
Daniah terdiam, hampir saja tersedak ludah sendiri. "Ekhem, maksudku, begitu kata orang-orang."
__ADS_1
"Haaahhh," Zahira melengos "orang jatuh cinta itu gimana sih Daniah?"
Daniah menoleh, "aku juga tidak mengerti, aku masih jomblo!"
Dari belakang, Della dan Meta datang mengendap-endap. Begitu mereka mendengar percakapan mereka, Della langsung bernyanyi nyaring dengan suara cemprengnya.
*"Jatuh cinta berjuta rasanya, menangis tertawa karena jatuh cintaaaa!!" *
Daniah menutup telinga mendengar suara cemprengnya. "Della!! Diam ah, suaramu jelek amat!" Teriaknya.
Zahira terdiam mendengarnya. "Apa iya aku beneran jatuh cinta?" Batinnya. "OH TIDAAK!" Tanpa sadar Zahira berteriak keras.
Sontak semua temannya menatapnya lekat. Kemudian tertawa keras. "HAHAHAHAA!" Mereka tertawa bersamaan.
"Zahita kamu kenapa, haa?" Daniah penuh selidik sambil tersenyum geli.
"Aw aw aw...jangan-jangan kamu beneran jatuh cinta ya?"Meta meledeknya.
"Aa...hahaha..." Della mulai melanjutkan nyanyianya.
*"Dia jauh, aku cemas tapi hati rindu,
Dia dekat aku senang tapi salah tingkah
Dia aktif aku pura-pura jual mahal
Dia diam aku cari perhatiaaaan!" Sambil bergaya layaknya penyanyi tenar.
Tak pelak lagi, Daniah langsung memberinya hadiah sebuah tamparan buku tebal. "Aadduuhhh!" Della mengelus keras punggungnya yang sakit dan terasa ngilu.
"Hahahahaha!" Meta tertawa puas. Baru saja Daniah berbalik hendak memukulnya, Meta sudah kabur duluan.
Tanpa mereka sadari, Zahira ternyata meresapi nyanyian Della di dalam hatinya. "Apakah aku benar sedang jatuh cinta?" Batinnya. Zahira akhirnya membuang napas keras.
Dari arah depan, Yeni berjalan gontai ditemani oleh Nova. Zahira and the gank, terdiam tak bergeming melihat kedarangan Yeni. Ada ketegangan di wajah mereka.
Yeni berhenti dan menatap mereka. Terutama pada Zahira, Yeni menatapnya lekat. Karena tak kunjung bicara, Nova menyikut Yeni.
"Aahh, eemmm Zahira...aku...eee...aku mau emmm minta maaf sama kamu!" Yeni tertinduk lesu.
Zahira dan yang lainnya saling pandang tak memgerti. "Kenapa harus minta maaf, Kak Yeni tidak salah apa-apa kok!"
Yeni menatap Zahira, lalu menatap Nova dengan penuh iba. Nova mengerti maksud tatapan Yeni. Dia pun menceritakan semua perbuatan Yeni pada Zahira tanpa ada yang ditutupi.
Kedatangan Yeni untuk meminta maaf pada Zahira itu karena desakan dari Papanya. Setelah apa yang menimpanya di rumah sakit, dia terus saja diinterogasi sampai akhirnya dia berterus terang.
Selesai bercerita, Yeni menekuk wajahnya penuh penyesalan. Apalagi setelah mengatahui bahwa Zahira dan Alfian ternyata tidak pacaran. Dia semakin merasa bersalah.
"Zahira, apa kamu mau maafin aku?"
Zahira tersenyum, "iya aku maafin, sebenarnya aku ga pernah benci atau marah sama Kak Yeni kok, jadi ga usah dipikirkan, asal Kak yeni sehat aku sudah senang."
"Makasih ya Zahira!" Air matanya menetes penuh penyesalan dan haru.
Mereka pun berpelukan dan semua tersenyum penuh haru.
"Sebagai rasa penyesalanku, siang ini aku traktir kalian makan siang gimana?"
"Apa aku tidak diajak?"
Semua menoleh ke asal suara....
.
.
.
.
__ADS_1
Jumpa lagi ya di episode selanjutnya.
Jangan lupa like, vote dan komen yaaa😘😘😘😘😘😘