
Sebelum mereka pulang, Pak Khalid tampak berbincang serius dengan Bapak pemilik rumah. Zahira hanya bisa memandangi mereka dari dalam mobil. Itu karena Pak Khalid sendiri yang memintanya untuk hanya menunggu di dalam mobil.
Begitu perbincangan mereka selesai, Pak Khalid pun kembali menuju mobil, dimana Zahira tengah menunggu dengan sabar.
Pak Khalid masuk ke mobil sambil menutup pintu kuat-kuat. Suara berdebum membuat Zahira yang hampir tertidur menjadi terkejut, hingga terlonjak dari duduknya. "Aastagfirullah!"
Pak Khalid langsung menoleh, "ada apa Ra!"
"Ah ga papa Pak, cuma kaget aja, dengar suara pintu tertutup!"
"Ooh!"
Pak Khalid pun menyalakan mobil dan melaju. Selama mobil melaju, Pak Khalid tampak begitu serius menatap jalanan di depannya. Pasalnya, banyak anak-anak yang sedang bermain di pinggir jalan. Bahkan terkadang ada yang di tengah jalan.
Zahira tidak sadar jika sudah sejak Pak Khalid menyalakan mobil, dia terus saja menatapnya tak berkedip. Sambil terus tersenyum Zahira memandangi wajah ganteng di sebelahnya. Merasa terus ditatap, Pak Khalid menoleh.
"Segitu gantengnya aku ya, sampai kamu ga bisa memalingkan wajah dari menatapku?"
Zahira terkejut bukan main, "eh!" dia pun langsung membuang muka memandang jendela. "Iih ga tuh!" Zahira tersenyum malu.
Pak Khalid menahan tawa. "Oh ya? jadi kalau bukan karena aku ganteng, apa karena kamu begitu merindukan aku?"
Zahira terbelalak. "Aa, Iihh Bapak narsis amat deh!" Zahira mencebik dan berusaha agar tidak tersipu.
Akan tetapi sekuat apa pun dia menahannya, bibirnya tak mau kompromi, hingga bibirnya terus bergerak-gerak karena hendak mengeluarkan senyumnya.
"Kalau mau senyum, ya senyum ajalah, jangan ditahan-tahan Ra!"
Zahira malu setengah mati, mukanya jadi semakin merah. "Iih siapa juga yang mau senyum!" Zahira menunduk malu. Meski bilang tidak, tapi bibirnya menipu.
"Oh gitu? jadi itu bukan senyum ya? udah lepas aja Ra, kalau tidak nanti keluarnya lewat bawah lho!"
"Bhaaahhahaha, iih apaansi Pak, iiih!"
Bibirnya tak mau melepaskan senyumnya. Akhirnya Zahira memilih menutupi wajahnya dengan jilbab panjangnya.
"Kenapa mukanya ditutup Ra, sayang dong, senyum manisnya ga kelihatan!"
"Biarin!"
"Ayolah biar aku melihat senyum kamu yang manis itu!"
"Iiih apaansih iiih, ga mau!"
"Ra!"
"Emm!"
"Kok emm!"
"emm emm!"
"Ra, Zahira!"
"Apaansih Pak!" Zahira tetap kukuh tidak mau membuka penutup wajahnya.
"Ra!"
"Apa!" Zahira membuka jilbabnya kasar, pura-pura memasang wajah geram, tapi tetap saja bibirnya berkhianat. Senyum malu masih mengembang.
"Kita sudah sampai!" Pak Khalid menatapnya dengan senyum geli menahan tawa.
Seketika Zahira terhenyak. Dia mengeratkan gigi kuat-kuat menahan malu. "Aduuh malunya!" Batinnya.
Wajah Zahira mengerut sambil menatap keluar jendela. Dengan lemas, dia mencoba membuka pintu. Tapi ternyata terkunci.
"Eh Pak, pintunya bukain dong!"
Pak Khalid tidak menggubris, malah bergerak mendekati Zahira. Zahira mundur kebelakang, hingga kepalanya terselip diantara sandaran kursi dan pintu mobil. "Bap...pak...mau ngap...pain?"
Pak Khalid tidak menjawab, dia terus saja bergerak dan makin mendekatinya. Zahira semakin ketakutan. Dia menaikkan kedua bahunya hendak menyembunyikan kepalanya. Matanya tertutup rapat.
Pak Khalid tersenyum melihat tingkahnya. Dengan menumpukan sikunya di sandaran kursi, dia menopang pipinya dengan tangan. Sementara tangan yang satunya berpegangan di pintu mobil. Hingga terlihat mengurung tubuh Zahira.
"Ra!"
Zahira tidak menjawab.
Begitu merasa tidak terjadi apa-apa, perlahan Zahira membuka mata. Tapi begitu melihat wajah Pak Khalid amat dekat dengan wajahnya, dia tersentak kaget, "Aaa!" dia kembali menutup mata.
Pak Khalid menahan geli. "Ra!"
Zahira tak bergerak, apalagi bersuara.
"Zahira! Ra, Zahira!" Suara mesra Pak Khalid membuat Zahira merinding, detak jantungnya melaju cepat.
"Zahira!"
"Emm!" Akhirnya Zahira bersuara.
"Kok cuma emm!"
"Eeemmm!"
"Zahira!"
"Yaaa!"
"Buka mata dong!"
"Mmmm!" Zahira menggeleng cepat.
"Ra!"
"Iih apasih, ga mau!" Zahira tetap tak membuka mata.
"Ga mau apa?"
"Emm!" Perlahan Zahira membuka mata, tapi saat pandangan mereka beradu, Zahira tak kuasa membuka matanya lama-lama. Dia pun terpejam lagi.
"Ra, aku sayang sama kamu!"
Sontak mata Zahira membulat, "Hhaaah!" Tapi begitu melihat senyum Pak Khalid, lagi-lagi matanya terpejam.
"Ra, kamu sayang aku ga?"
Zahira menggeleng, "Emmm!"
"Apa, jadi kamu tidak suka padaku?"
Seketika Zahira terbelalak lagi, "eh bukan begitu!" Pandangan mereka kembali beradu, Zahira tertunduk malu.
Tubuh Zahira makin diapitkan diantara sandaran dan pintu. Zahira tampak seperti kelinci yang tersudut di depan harimau.
"Terus apa dong?"
"Yaa gitu deh!"
"Gitu apa?"
__ADS_1
"Iih Bapak ii iih!" Zahira cemberut tapi bibirnya tersenyum.
"Ra!"
"Hemm!"
"Heem lagi?"
"Iih...yaa!" pandangannya terus menatap ke bawah. Dimana kedua tangannya saling meremas.
"Ra!"
"Iih apa sih manggil mulu?"
"Ra, i love you !"
Zahira langsung mendongak, jantungnya serasa berhenti berdetak. "Haaah!"
"Lo jawaban nya kok 'Haah' gitu?"
Zahira tertunduk lagi, memang mau jawab apa?"
"i love you too dong!"
"Emm!" Zahira menggeleng lagi.
"Bukan emm, i love you too!"
Zahira tetap menggeleng, "ga mau!"
"Aku ditolak lagi?"
"Iis Bapak iih, bukan gitu!"
"Terus?" Pak Khalid tersenyum dan terus menatap Zahira yang tampak menahan malu setengah mati.
"Ii iiih apa sih, ii iih Bapak gitu amat sih!" Zahira cemberut manja. "Aku nangis nih, Mm emm!"
"Aku cuma mau dengar, jawabannya doang sayang!"
"Hhhhppp!" Zahira terbelalak bagai terkena serangan jantung tiba-tiba. Tubuhnya panas dingin mendengar dirinya dipanggil sayang.
Melihat tingkahnya, Pak Khalid tak kuasa menahan geli di hatinya. Bahunya terguncang-guncang karena menahan tawa. Giginya dikeratkan kuat-kuat manahan hasrat hatinya. Andaikan Zahira telah resmi jadi miliknya, pasti dia sudah menerkamnya.
Tak kuasa memandang wajah manis nan manja di depannya, dengan cepat dia berbalik dan turun. "Ra, tunggu aku bukain pintu ya!"
Zahira mendongak, "Eh ga usah Pak, biar aku buka sendiri!" Seraya meraih gagang pintu. Tapi sayang, pintu terkunci otomatis. "Eeh Pak, bukain dong pintunya!"
Pak Khalid yang sudah turun, segera melongok ke dalam, "iya dong sayang, kan tadi aku sudah bilang mau bukain!" Seraya mengedipkan sebelah matanya. kemudian berlari kecil hendak membuka pintu buat Zahira.
Zahira mengamuk kecil di dalam mobil, "iiih bukan begitu maksudku, ii iii ih!" Zahira menghentak-hentakkan kakinya dan meninju udara berkali-kali karena kesalnya.
Pintu terbuka, Pak Khalid berdiri dengan gagahnya di samping pintu, "Silahkan turun cintaku sayang!" Sambil membungkuk dan menyilangkan salah satu tangannya di depan dada.
"Yaaaaa, Pak Khalid ngeselin amat sih eeeehhh!" sambil menguncang bahunya, Zahira memasang wajah kesal setengah tersenyum. Kakinya ikut dihentak-hentakkan.
Tingkahnya begitu lucu dan manja di mata Pak Khalid, membuat Pak Khalid gemas setengah mati. Dengan keras dia menahan diri untuk tidak memangsa kelinci manis di depannya.
Zahira langsung berlalu, tapi Pak Khalid kembali memanggilnya.
"Zahira! Tunggu!"
Zahira langsung berhenti, "Yaa!"
Pak Khalid mendekat, membuat Zahira dag dig dug tak karuan. Sambil menyodorkan HPnya, "Kasih nomor kamu dong, sayang!"
Zahira kembali terbelalak, "Iii jangan panggil gitu dong Pak!" Zahira cemberut. Dengan malas dia mengambil Ponsel Pak Khalid kemudian menuliskan nomornya. Begitu selesai dia pun menyerahkannya kembali.
"Iya Pak, ga papa kok!"
"Oh ya, soal surat-surat rumah, besok aku yang urus, jadi besok tinggal kamu datang tanda tangan aja ya!"
Zahira mengangguk setuju.
"Love You honey!"
"Iiiiiihhh!" Zahira menghentakkankakinya sambil memberengut lalu pergi.
"Ra!"
Zahira menoleh sejenak, lalu bergumam pelan. "Love you too!"
"Apa Ra, ulangi aku ga dengar!" Seraya mendekat.
"Ga ada!" Zahira langsung berlari.
"Zahira!"
Zahira tidak perduli, dia terus berlari menuju rumah. Begitu sampai di dekat pintu, Zahira menoleh.
Tampak Pak Khalid sedang bersandar di mobinya sambil tersenyum. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya.
Zahira tersipu malu kemudian segera masuk ke dalam. Senyumnya benar-benar lengket dan tak mau hilang.
Saat sampai di ruang tengah, tampak Della dan Meta sedang asik menonton TV. Sementara Adrian masih terlelap di sofa.
Zahira takut ketahuan sedang malu-malu kucing, hingga tak mau menegur temannya. Dengan cepat dia berlari naik ke kamarnya. Della dan Meta hanya menatapnya dengan wajah melongo.
Sesampai di kamar, Zahira langsung melompat naik ke ranjang. Dengan gemas, dia membenamkan wajahnya sambil memeluk guling dengan erat.
Zahira menendang-nendangkan kakinya di kasur. Terkadang tertawa, terkadang meringis, dan tersenyum. Zahira sudah seperti tidak waras. Hatinya sungguh berbunga-bunga.
Sementara di bawah, Meta begitu bingung melihat tingkah Zahira. Sambil terus mendongak menatap tangga, Meta menggamit Della.
"Eh, eh, Zahira kenapa ya, apa mereka ada masalah lagi? Biasanya kan beri salam, sekarang ga negur sama sekali?"
"Entahlah, mungkin ini yang dinamakan dimabuk asmara!"
Meta langsung menatap Della. "Dimabuk asmara itu bagaimana?"
"Heeehh dasar, belum pernah jatuh cinta ya?" Della mencebikkan bibirnya.
"Idiiih, kayak kamu pernah aja, bwee!" Meta menjulurkan lidah ke Della.
Della melotot tajam. "Eeeh jangan salah ya!"
"Ooh jadi kamu pernah jatuh cinta juga?" Meta menatapnya serius.
Della menarik napas, "haa jatuh cinta? Dulu pernah jatuh cinta, tapi...gagal" (Della memperagakan gaya Anggun dalam iklan Pantene) Sambil tersenyum geli.
Meta mengerut heran. "Haah gagal, kok bisa?"
Della berusaha menahan tawa. "Iya semua gara-gara emmakku!" Della mengulum bibirnya agar tidak tertawa.
"Maksud kamu, cinta kalian dihalangi?" Meta tampak makin bingung.
"Hhp..."Della sekuat tenaga menahan tawa. "Heeeppp, itu karna, hahaha" Tawa Della akhirnya pecah.
"Karena apa? kok malah tertawa sih!" Meta kesal jadinya.
__ADS_1
"Karena hahaha, hppp karena Emma bangunin aku, hahaha!"
"Haaaaahh!" Meta terbelalak "Berarti cuma mimpi doang jatuh cinta!"
"Hahaha iya!"
"Haaa hahahahaha!" Meta terpingkal-pingkal, membuat Adrian terbangun.
"Kalian berisik banget sih jadi orang, ganggu tidur aja!"
Della dan Meta langsung menoleh, "Iiiih ganggu apanya, emang kamu tidurnya yang sudah lama kali, sudah waktunya bangun Baang!" Seru Della tidak terima ditegur.
******
Dirumah sakit, Gina tengah menunggu dengan gelisah. Sudah sejak siang dia menunggu, akan tetapi menurut petugas jaga, ship dr. Khalid minggu ini malam hari, jadi dia terus saja bersabar meski hatinya gusar.
Sebenarnya, dia sangat malas menjaga pasien di rumah sakit, tapi demi menjalankan misinya, dia terpaksa menawarkan diri untuk menjaga sepupu mamanya.
Persiapan matang telah disusun rapi bersama sang Mama. Dia berharap persiapannya untuk merayu dan membuat Pak Khalid kembali dalam pelukannya bisa berhasil.
Jam menunjukkan pukul 8 malam. Senyum licik sudah terpampang bebas di bibirnya. "Mm Tante, aku permisi keluar dulu ya, mau cari angin!" Pamitnya pada Istri sepupu Mamanya.
"Ooh iya nak, silahkan!"
"Tante ga papa kan, jagain Om sendirian?"
"Iya ga papa, kamu jalan-jalan aja dulu, kalau Tante butuh bantuan, nanti aku telpon!"
"Ooh ya sudah deh Tante, aku pergi!"
Gina pun berlalu keluar kamar. Tujuannya kali ini adalah ruangan Pak Khalid. Karena sebagai dokter ahli, meskipun dia bertugas di UGD, tapi jika bukan penyakit yang sangat gawat dan genting, yang membutuhkan keputusan tepat, maka Pak Khalid tidak perlu untuk turun tangan. Dan biasanya Pak Khalid pasti ada di ruangannya.
Gina menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu. Perlahan dia mengangkat tangan hendak mengetuk, tapi tiba-tiba pintu terbuka. Gina jadi malu.
"Kamu siapa?" Tegur dokter perempuan yang baru keluar dari ruangan itu.
"Ooh saya Gina Dok, emm apa dr.Khalid sudah datang?"
Dokter itu mengerut, "ada apa mencari dokter kemari? kalau ada masalah dengan pasien, silahkan hubungi petugas jaga, keluarga pasien tidak dibenarkan langsung masuk ke ruangan dokter!" Dokter itu tampak tak senang.
'Oohh hoho, mm aku bukan bermaksud begitu, aa aku..."
"Silahkan pergi ke perawat yang bertugas menangani pasien rawat inap, jangan mengadu kemari, kalau memang pasien gawat, nanti petugas jaga yang akan menghubungi kami!"
Dokter itu segera menutup pintu. Tapi baru saja dia ingin pergi, Gina menahannya. Wajah Gina seakan sok kuasa. "Maaf Dok, perkenalkan saya Gina, calon istri dr. Khalid!" Dia mengibaskan rambutnya kebelakang dengan angkuh.
Dokter itu menoleh sambil mengerutkan kening. "Heeeh, apa aku salah dengar? maaf ya, yang aku tahu, pacar dr. Khalid ceweknya manja terus lembut banget bicaranya, ga jelek kayak kamu!" Sambil berlalu tanpa peduli dengan wajah Gina yang merah padam.
Dokter Priska terus mengerutkan kening sambil berjalan. Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa Pak Khalid mengganti pacarnya yang begitu imut dan manis juga manja, serta sholehah.
"Adduuuh!" Dokter Priska kaget karena menabrak seseorang. "Eeh dr. Khalid?"
"Jalan sambil melamun, ada apa? masalah keluarga?" Pak Khalid mencoba meledek Sahabatnya itu, karena suaminya terlalu over protektif.
"Iih sembarangan, aku melamunkan kamu tahu!" dr. Priska melotot.
Pak Khalid mengerutkan kening, "aku? Ooh sorry dong, aku takut selingkuh sama kamu ya, hahaha!"
"Sialan!" dr.Priska memukul lengan Pak Khalid keras.
"Siapa yang mau ajakin selingkuh? kamu tuh yang selingkuh, kemarin kamu bilang kalau Zahira itu nama pacar kamu, pasien waktu itu, lah sekarang muncul lagi cewe baru, katanya, namanya Gina!"
"Gina? dimana dia?"
"Sayang aku disini!" Seru Gina yang datang tiba-tiba. Senyum mengembang bak bunga yang bermekaran. Dengan genitnya dia mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Oke aku duluan ya, selamat selingkuh!"
Sambil geleng-geleng kepala. Priska masih tidak mengerti, padahal semua teman dokternya tahu jika pasien imut nan manja waktu itu adalah pacar Pak Khalid. Tapi kini begitu cepat berganti.
Setelah dr.Priska berlalu, Gina mendekati Pak Khalid sambil tersenyum dan memainkan ujung rambutnya.
"Sayang, kamu apa kabar?"
Melihat Gina mendekat, Pak Khalid langsung mundur. Dimata Pak Khalid, yang berjalan mendekatinya bukanlah Gina, melainkan Jin cantik dengan wajah menggoda dan menggiurkan.
Pak Khalid terus berjalan mundur. Gina pun terus mengikutinya. "Gina cukup! berhenti!" Teriak Pak Khalid geram.
Gina pun berhenti "Kenapa sayang, heemm?" Sambil mengedipkan matanya genit. Dia juga menggigit bibirnya seseksi mungkin.
Pemandangan itu bukannya membuat Pak Khalid mabuk kepayang, tapi malah mau muntah. Dimatanya, itu bukan Gina tapi Mahluk astral. Tentu saja Pak Khalid ketakutan.
"Gina cukup, apa kamu lupa kalau aku bisa melihat Hantu! Kenapa malah memakai Mahluk astral untuk menggodaku!"
Seketika Jin yang menempel di tubuh Gina jadi terkejut. Wajah aslinya langsung keluar. Mahluk itu sudah berniat menyerang Pak Khalid. Dia langsung keluar dari tubuh Gina dan melesat mendekati Pak Khalid.
Malihat itu, Pak Khalid cuma bisa pasrah. Suasana yang menegangkan itu membuatnya lupa membaca doa. Akhirnya dia pun hanya mengepalkan tangan dengan mata terpejam kuat, dia menunduk ketakutan.
Setelah merasa tidak ada yang terjadi, Pak Khalid membuka mata.
"Itu adalah mantra pemikat lelaki!"
Pak Khalid segera menoleh keasal suara, "Haaah Pak Jin!" Pak Khalid senyum lega. Mahluk astral tadi pun sudah hilang.
Gina sudah mengepal kuat-kuat. "Sayang, apa maksud kamu Mahluk astral?" Dia memasang wajah memelas.
"Gina, sudahlah, jangan pura-pura, kamu pakai mantra pemikat kan?"
Gina gemetar dan tak mampu berkata-kata.
"Percuma saja, aku tidak akan kembali lagi sama kamu, aku sudah mencintai perempuan lain, sebaiknya cari saja orang lain!" Pak Khalid pun berlalu pergi tanpa perduli dengan tatapan Gina.
Pak Khalid terus berjalan menuju ruangannya. Begitu masuk ke dalam, dr.Harun sudah menyambutnya dengan senyum meledek.
"Ada apa sih Run, senyum aneh begitu?" Seraya melepas jasnya kemudian menggantinya dengan pakaian kebesarannya kemudian duduk di kursi.
"Ekheem, tadi aku dengar si Gina mencari kamu di luar lho!"
"Haaah, aku sudah baikan sama Zahira, maaf Gina sudah aku lupakan!"
"Oh ya!" dr.Harun terbelalak senang.
"Terus gimana perkembangannya?"
Dokter Harun begitu antusias.
Pak Khalid tersipu malu, "kami sudah jadian!"
"Ooooohhh selamat dong!" seraya bangkit dan memeluk sahabatnya.
Hanya dr.Harun yang tahu tentang hubungannya dengan Gina waktu itu, mulai dari apa dan mengapa mereka pacaran, sampai mengapa mereka berpisah semuanya hanya Harun yang tahu. Demikian juga tentang hubungannya dengan Zahira, Pak Khalid begitu terbuka dengan temannya itu.
.
.
.
.
__ADS_1
Jumpa lagi diepisode mendatangπππππLike, vote dan komen yaππ
Ingat ya komen, komen ya, komen doooong, kalau baca. I love you readersπππππ