
Begitu Malam menjelang, orang tua Zahira pun akhirnya datang. Dengan cepat Bu Zaenab masuk dan memeluk Zahira. "Zahira bagaimana kabar kamu Nak!" Bu Zaenab sudah berlinangan air mata.
Zahira melepas pelukan Uminya, "udah baikan kok Miy!"
Pak Rasyad ikutan mendekat, "bagaimana bisa sakit Ra?"
"Yaah Abiy, mana saya tahu, kenapa bisa sakit!"
"Maksudku kamu habis ngapain, habis makan apa sampai muntah dan terkena dehidrasi?"
Zahira melongo, dia sendiri tidak tahu apa nama penyakitnya, tapi Abinya malah sudah tahu kalau dia dehidrasi. "Abiy tahu dari mana?"
"Tadi Khalid yang kasih tahu!"
"Ooh begitu ya, aku ga tahu juga kenapa Biy, tiba-tiba pusing dan mual habis itu muntah terus, tapi sejak dikasih infus, aku sudah baikan dan tidak pernah lagi muntah!"
"Haah baguslah, Alhamdulillah!" Ucap Uminya sambil memeluk Zahira erat.
Daniah, Adrian juga Della datang pula menjenguknya. Tapi Meta dengan cepat menyambutnya. "Adrian gimana sidangnya, kelar?"
"Boleh ga kita duduk dulu baru kamu tanya!" Sentak Daniah sambil terus mendorong Meta hingga terduduk di sofa. Adrian dan Della cuma tersenyum begitu pula dengan Zahira dan orang tuanya.
"Nah kalian sudah duduk, cerita dong, penasaran nih!"
"Sidangnya selesai, Adrian yang menang, seluruh warisan Neneknya dikasih ke Adrian!" Terang Della.
Abi Zahira yang merasa janggal dengan pembagian warisan ikut duduk di dekat Adrian. "Maaf Nak, bukannya mau ikut campur, tapi bagaimana bisa warisan Nenek jatuh langsung ke Cucu, apakah tidak ada ahli waris yang lain?"
"Ada kok Om, Mama bersaudara 3 orang, cuma mereka sudah mengambil hak mereka semenjak Nenek masih hidup, sementara yang diberikan Nenek padaku itu hanyalah milik Nenek untuk nafkahnya selama akhir hidupnya, dia berikan padaku karena akulah yang membantu dalam pengembangan toko, aku juga yang merawat nenek selama sakit!"
"Ooh, begitu ya, maaf ya Om jadi kepo!"
"Ga papa kok Om!" Adrian tersenyum.
Della berbisik ke Meta yang membuat Meta histeris. "Whaaaaattt!! dilamar?"
Meta langsung menatap Daniah.
"Della, ember bocor banget sih!" Daniah geram jadinya.
Mendengar teriakan Meta, Zahira ikut penasaran. "Siapa yang dilamar?"
"Adrian tadi melamar Daniah, yeeeyy!" Teriak Meta kegirangan.
"Waah selamat ya Dan!" Seru Zahira bahagia.
"Yakin serius melamar gadis? Memangnya berapa umur kamu Nak, masa sudah mau menikah?" Abi Zahira menegurnya.
Adrian malu-malu, "sudah 24 Om!"
Baik Della, Meta maupun Zahira langsung menganga, "haaah 24? Kok bisa?"
"Sebenarnya, aku sudah tahap akhir, di manajemen, tapi saat aku melihat Daniah waktu pendaftaran, aku langsung pindah ke Pertanian, hehe!"
'Ooh makanya ga ikut OPAK!" Seru mereka serempak. Bahkan Della dan Daniah tidak tahu soal itu.
"Tapi kok bisa?" Meta penasaran.
"Bisa saja, aku kan Mahasiswa bandel, haha!"
"Iikh bangga banget dibilang bandel!" Cibir Daniah.
Semua tertawa melihat pasangan Tom And Jerry itu.
Pak Khalid yang tadi keluar untuk urusan pertukaran ship, kini hadir pula. Dia sempat kaget karena suasana begitu riuh. "Assalamu alaikum.
"Waalaikum salam!" Jawab semuanya serempak.
"Ada apa kok rame?" Pak Khalid ikutan duduk.
"Daniah habis dilamar Pak, sama Adrian!" Seru Meta cepat.
"Waah ada yang keduluan nih, kalah sama ABG tuuh!" Ledek Della pada Pak Khalid.
"Iya Pak, kapan melamar juga?" Adrian memojokkan Pak Khalid, membuat muka Pak Khalid merah padam karenanya.
"Adrian katanya kamu lagi sidang tadi, gimana hasilnya?" Pak Khalid bencoba mengalihkan perhatian.
"Lancar aja Pak, terus kapan Bapak melamar Zahira, mumpung ada orang tuanya!" Adrian senyum jahil.
Pak Khalid dan juga Pak Rasyad langsung menegakkan punggung mendengarnya. "Apa maksudnya ini?" Suara sangar Pak Rasyad sudah terdengar.
"Ah dasar Adrian sialan kamu ya!" Batin Pak Khalid.
Nyali Adrian langsung ciut, demikian pula yang lainnya. "Aah Om, Pak, kami pamit dulu, seharian di pengadilan sungguh membuat lelah!" Sambil memberi kode pada Daniah agar ikut pulang.
"Iya deh kami pulang dulu!"
"Aku ikut ya!" Meta sudah berlari keluar duluan. Demikian juga Della ikut keluar.
Tak ada yang bersuara, mereka terdiam menatap kepergian Daniah and the gank yang tampak ketakutan.
Begitu mereka menghilang dibalik pintu, Pak Rasyad menoleh menatap Pak Khalid. Saat tatapan mereka bertemu, Pak Khalid berusaha mengalihkan pandangan. "Emm maaf Pak, mereka tidak tahu caranya berbincang dengan orang tua!"
"Apa maksudnya melamar itu Nak?"
"Emm itu..." Pak Khalid sangat gugup hingga telapak tangannya digosok-gosokkan di pahanya. "Em jika Om dan Tante tidak keberatan, aku...aku...aa...bisakah aku...maksudku...bolehkah aku me...melamar...Zahira?" Pak Khalid langsung menggit bibirnya begitu ucapannya selesai.
Zahira langsung tersenyum malu mendengar Pak Khalid melamarnya. Akan tetapi wajah Uminya tampak sangat sedih melihat senyum putrinya.
"Ra, apa kamu senang?" Bisiknya.
"Zahira tertunduk malu sambil mengangguk. Uminya semakin sedih.
Sama dengan Umi Zahira yang sedih, Abinya pun nampak terdiam. Pak Khalid langsung kalut melihat ekspresi tak senang di depannya.
Lama mereka terdiam, semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Hati Pak Khalid semakin kalut karenanya. Zahira yang tampak bahagia langsung redup begitu tak mendengar jawaban dari orang tuanya.
"Umi ada apa?" Zahira melirik Uminya.
"Zahira maafin Umi Nak!" Mata Uminya berkaca-kaca.
Melihat Uminya berkaca-kaca, jantung Zahira seakan berhenti. "Abiy ada apa?" Serunya tak sabar.
Abinya menatapnya datar. "Zahira, kamu masih ingat sama Indra kan? dia juga melamar kamu lusa kemarin!"
Tangis Zahira langsung pecah, "Abiy Zahira ga mau!" Zahira menangis sesenggukan.
Pak Khalid tak mampu bersuara. Hanya air matanya yang meleleh. Hatinya terasa beku dan jantungnya seakan berhenti. Dia pun tertunduk pilu.
__ADS_1
"Tapi Umi, aku sama Pak Khalid, kami sudah...hiks...aku...hiks...aku ga mau lagi yang lain, huaaa...haaaa...."
Mendengar pengakuan anaknya, Pak Rasyad dan Bu Zaenab langsung berdiri dengan wajah tegang. "Ra, kamu bilang apa, sudah apa ha, jawab Umiy!" Tubuh Bu Zaenab serasa ngilu.
"Zahira! Jawab!" Bentakan Abinya membahana memecah keheningan.
Zahira sudah mengggil ketakutan. Dengan cepat Pak Khalid berdiri hendak menengahi.
"Maaf Om, jangan salah paham, itu bukan seperti yang Om pikirkan, aku tidak..."
"Ga Biy, kami memang sudah bersentuhan, Pak Khalid sudah menyentuhku beberapa kali, huaa...aku ga mau lagi sama yang lain, haaa!"
Pak Rasyad mengepalkna tangannya kuat-kuat. Pak Khalid sendiri menjadi resah dan ketakutan.
"Maaf Om, ini...ini salah paham, menyentuh yang dimaksud Zahira, bukan menyentuh yang hubungan intim, aku cuma...aku..." Pak Khalid tidak sanggup melanjutkan kata-katanya tenggorokannya tercekat.
"Zahira katakan apa yang dia lakukan padamu!" Tampang Pak Rasyad sudah sangat mengerikan.
Mendapat intimidasi dari Abinya, Zahira langsung memeluk Uminya. "Dia...Pak Khalid menyentuh tanganku, hiks, dia juga sudah memelukku, tadi pagi, Pak Khalid menggendong aku tapi aku cuma pake da...dalam huaa!" Zahira bersembunyi di dada Uminya.
Mendengar pernyataan Zahira, sontak Uminya menoleh menatap suaminya dengan mata melebar. Pak Rasyad sendiri langsung lunglai dan jatuh terduduk di sofa. Pak Khalid hanya tertunduk ketakutan.
"Hahahahaha, haaahahaha!" Abi dan Uminya Zahira tertawa terbahak-bahak, membuat Pak Khalid langsung menatap mereka.
Zahira sendiri langsung melepas pelukannya. Sementara Umi dan Abinya masih terus tertawa hingga mengeluarkan air mata.
"Umi sama Abi kenapa sih?"
Uminya menatap Zahira lagi. "Bwaahahaha, Zahira kamu ini, hahaha, apa itu yang kamu bilang disentuh?"
Zahira kebingungan, "I...iyalah...disentuhnya begitu, memang disentuh apa yang Umi pikir?"
"Ahh...haah..haha ga ada kok, haha ga ada, hahaha!" Sambil mengusap air matanya.
Pak Khalid tersenyum lega melihat kedua orang tua Zahira tertawa. Dia pun kembali duduk.
"Aku minta maaf Om, saat itu aku harus menenangkan Zahira, jadi aku memeluknya, dan tadi, aku hanya dapat pesan dari temannya kalau Zahira lagi sakit sendirian di rumah, jadi aku sangat cemas dan langsung masuk ke kamar, aku tidak tahu kalau Zahira lagi tak berpakaian layak!"
"Apa yang bisa kamu berikan pada anakku untuk membahagiakan dia?"
Pak Khalid terhenyak mendengar pertanyaan Pak Rasyad yang tiba-tiba. Dia langsung berpikir keras. "Tidak mungkin Pak Rasyad menanyakan harta!" Batin Pak Khalid.
"Maaf Om, selain rasa sayang yang tulus dan cinta yang dalam, aku tidak bisa menjanjikan apa-apa!" Pak Khalid menjawab sekenanya.
Pak Rasyad tertegun, "anak ini memang rendah hati, dia bahkan tidak menyebutkan kemampuannya!" Batin Pak Rasyad. Dia mengelus janggot sambil terus menatap Pak Khalid tak berkedip.
Pak Khalid langsung salah tingkah dibuatnya. Demikian juga Zahira yang terus meremas tangan Uminya cemas.
Sebenarnya, Pak Rasyad tengah membandingkan antara sosok Indra dan Pak Khalid. Yang mana saat dia menanyakan pada Indra tentang apa yang dimiliki untuk membahagiakan Zahira, dengan gamblang Indra menyebutkan semua hartanya.
Sementara Pak Khalid justru mengaku tidak memiliki apa-apa. Sementara jelas-jelas Pak Rasyad tahu betapa kayanya dia.
"Lalu dengan apa kamu mau melamar Zahira? Kamu yakin mampu memenuhi kriteria lamaran kami?"
Sekali lagi Pak Khalid harus terhenyak. "Dengan apa? jelas bukan dengan uang kan? Pak Rasyad bahkan tidak kekurangan uang!" Pak Khalid membatin lagi.
"Eemm maaf Om, aku tidak tahu harus bagaimana, ini adalah pengalaman pertamaku melamar gadis, jadi aku tidak tahu harus memberi apa, tapi apa pun itu, jika buat Zahira, apapun akan aku berikan, jika boleh aku akan melamarnya dengan seluruh hati dan jiwaku juga Iman yang aku punya, agar kelak bisa menjadi keluarga yang sakinah mawaddah dan warahmah!"
Pak Khalid meremas jemarinya karena rasa tegang dan gugup. Bibirnya sangat kaku. Pak Khalid merasa lebih mudah menghadapi pertanyaan tim penguji tesis dibanding menjawab pertanyaan calon mertua.
Pak Rasyad mengangguk pelan. Kemudian beralih menatap putrinya. "Zahira! apa kamu mencintai Khalid?"
Pak Khalid sendiri langsung mengulum senyum sambil mengepalkan tangannya senang. Mereka seakan terbang melayang hingga ke langit.
"Nak Khalid!"
Seketika Pak Khalid langsung menatap Pak Rasyad. "Ya Om!" Lamunannya langsung buyar.
"Kamu tahu, Indra kemarin menawari kami akan memberikan mahar 100 juta sebagai bukti keseriusannya sama Zahira!"
Hati Pak Khalid yang berbunga langsung layu seketika. "Ooh, aku...aku..." Pak Khalid menunduk perlahan. Matanya terasa hangat.
"Tapi kamu menjanjikan segalanya buat anakku, karena itu aku memilih kamu!"
Bagaikan tersengat listrik, Pak Khalid mendongak dengan mata melebar. "O...Om...terima kasih!" Air matanya sudah lolos ke pipinya. Tanpa sadar, dia langsung melorot dan berlutut hendak bersujud. Tapi Pak Rasyad buru-buru mencegahnya.
"Sudah jangan berlebihan, ayo bangun, bangun!" Pak Khalid pun bangkit dan kembali duduk di sofa.
"Lho tapi bagaimana dengan Indra?" Zahira sedikit bingung.
Uminya tersenyum "Zahira kamu tenang aja, sebenarnya tadi pagi kami menelpon itu buat menanyakan ke kamu, mau atau tidak sama Indra, tapi yang kami dapat malah kamu masuk rumah sakit, nah sekarang kita sudah tahu jawabannya, jadi ya sudah pasti lamaran Indra ditolak!"
Zahira tersenyum senang dan langsung memeluk Uminya dengan erat. "Aa...Ra longgar dikit bisakan? Umi sesak nih!"
Zahira menggeleng sambil menyembunyikan senyum malu-malunya. Pak Khalid yang saling menatap dengan Pak Rasyad juga tersenyum keki.
*******
Sudah menjadi tradisi orang Bugis-Makassar, besarnya mahar pasti akan menjadi sorotan utama. Apalagi Zahira adalah anak orang berada.
Banyak tetangga dan handai taulan yang sudah menanyakan hal ini berkali-kali, tapi baik Umi dan Abinya Zahira cuma mengatakan terserah bepara pun yang mereka bawa. Sehingga menjadi gosip terhangat di daerahnya.
Alfian,Yeni dan juga Nova yang berKKN di daerah itu, kini tahu jika Zahira sudah dilamar oleh Pak Khalid. Ada rasa sedih yang menyerang Alfian. Hingga seharian dia mengurung diri di kamar.
"Fian, Alfian, keluar dong!" Teriak Yeni diluar kamar. "Kamu ngapain sampe mengurung diri, sedih Zahira dilamar orang, biar pun Zahira perawan tua, kamu juga ga bakal bisa melamarnya, dia kan adik kamu!"
Alfian sebenarnya mengerti akan hal itu, tapi tetap saja hatinya sakit bukan kepalang. Dia terus sesenggukan sendirian. Seakan hendak melampiaskan semua kesedihannya. Dia meraung keras di dalam benaman bantal di wajahnya, hingga suaranya tidak terdengar oleh siapa pun.
Sudah 3 hari Zahira pulang ke rumah. Sementara kuliahnya, dia telah mengajukan permohonan cuti. Itu karena proses lamaran akan segera berlangsung.
Persiapan sudah dilakukan dan kini telah rampung. Tinggal menunggu hari esok untuk pelaksanaan lamaran. Alfian dan teman-temannya pun diundang untuk makan siang bersama.
"Zahira!" Yeni dan Nova tak kuasa menahan diri untuk tidak berteriak begitu mereka melihat Zahira.
"Kak Yeni, Kak Nova!" Zahira segera menemui temannya. "Eh Kak Fian juga di sini?" Zahira tersenyum.
Tanpa pikir panjang, Alfian langsung memeluk Zahira begitu erat. "Selamat ya adik manisku, akhirnya kamu menikah!"
"Aaakhh, Kak lepas aah, sakit!" Jerit Zahira kesal. Zahira bersungut.
"Eeh kalian sudah datang, ayo langsung makan aja, kalian pasti lapar kan sudah bekerja seharian!" Sambil menarik lengan Yeni lembut dan membimbingnya masuk.
"Nak Fian ayo ajak temannya masuk!"
"Baik Tante!" Alfian mengangguk ke teman-temannya sebagai tanda ajakannya.
Zahira sendiri menggandeng Nova masuk ke ruang makan.
Mereka pun makan dengan lahapnya.
__ADS_1
Hari yang dinanti telah tiba, semua keluarga dan handai taulan telah menunggu dengan pakaian cantik masing-masing. Demikian juga teman-teman Alfian turut hadir dalam acara lamaran itu. Dalam istilah Bugis-Makassar Mappasiarekeng.
Dimana keluarga calon pengantin pria datang hendak mengukuhkan perjanjian pernikahan, termasuk membawa uang mahar, yang telah disepakati oleh kedua belah pihak.
Bisik-bisik pun terdengar. "Eh berapa uang Panainya (Mahar)?"
"Entahlah katanya berapa saja yang dibawa nanti!"
"Iih kok bisa?"
" Iya biasalah orang alim, mereka tidak mau memberatkan katanya!"
"Lho bukannya calonnya orang kaya? masa tidak bawa Mahar?"
"Iya padahal Indra itu berani kasi 100 juta lho, tapi ditolak!"
"Haaaahh, apa sih yang mereka pikir?"
"Ekhem..." Umi Zahira mendehem keras mendengar bisik-bisik tidak enak itu. Tanpa melihat siapa yang bergosip dia terus berjalan menuju tempat pertemuan nanti.
Para tamu langsung terdiam karena malu ketahuan orang yang digosip. Walaupun rasa penasaran mendera hati mereka. Akan tetapi tidak adalagi yang mampu berkomentar.
Hingga jam yang dijanjikan tiba, rombongan dari Makassar pun akhirnya datang juga. Seluruh tamu dan keluarga langsung berdiri menyambut kedatangan mereka.
Acara rapat penerimaan pun berlangsung. Sesuai permintaan keluarga Zahira, uang Mahar secukupnya sesuai kebutuhan acara resepsi. Maminya Pak Khalid pun menyerahkan peti kecil berukiran emas ke Uminya Zahira.
Sontak rasa penasaran para tukang gosip langsung bangkit. Mereka berlomba-lomba mengintip hendak tahu berapa besar mahar Zahira.
"Silahkan dilihat Bu!"
Pinta Maminya Pak Khalid.
Rasa tak sabar di hati tukang gosip semakin menjadi-jadi. Mereka berdesak-desakan hendak menguping pembicaraan.
"Baiklah!" Bu Zaenab pun membuka petinya. Kemudian dengan kedua tangannya dia mengangkat selembar kertas dari dalam peti tinggi-tinggi. Dengan suara lantang dia membaca nominal yang terdapat pada kertas itu.
"Eh kok kertas doang?" Seru Ibu-ibu tamu
"Cek sebesar se..." Bu Zaenab mengerutkan keningnya. Mencoba mencerna jumlah nol di kertas itu. "Eeh ini...apa aku salah lihat ya atau mungkin salah tulis?" Bu Zaenab menyerahkan kembali kertas itu ke Maminya Pak Khalid.
"Tidak kok Bu, itu benar segitu, memang Khalid yang menulisnya!"
"Ooh!"
"Berapasih, berapa berapa?" Kasak-kusuk diantara para tukang gosip terdengar. Teman-teman Alfian tersenyum-senyum geli melihat tingkahnya.
"Abiy aja yang baca, Umi bingung ini berapa namanya!"
sontak semua tertawa mendengar pengakuannya. Pak Rasyad pun meraih cek itu. "Ah Umi ini kan ada tulisan hurufnya di bawah kenapa bingung?"
Kembali suara tawa riuh terdengar.
"Maklum lah Pak, Ibu lagi grogi, hahaha!" Kelakar seorang keluarga.
"Maharnya Nak Khalid itu, Se...ehh satu milyar rupiah!"
"Haaaaahhhh!" Teriak seluruh tukang gosip heboh. Bahkan ada yang memegang dada. "Beneran orang kaya!"
"Maaf Bu, kenapa banyak begitu?" Umi Zahira sangat heran. Soalnya dari awal mereka tidak pernah mempersoalkan tentang Uang panainya.
"Itu Khalid yang mau sendiri, lagi pula semua itu uangnya sendiri, hasil kerja kerasnya juga, jadi tidak salah juga kalau dia mau meberikan miliknya buat calon istrinya!"
"Tapi maaf kami takutnya menyusahkan Bu!"
"Bapak sama Ibu tenang saja, perusahan real estet yang dimiliki oleh Khalid tidak akan bangkrut kalau cuma ngasih segitu!" Tukas keluarga Pak Khalid.
Acara penerimaan lamaran itu pun berkhir juga. Tak ada lagi yang berani bergunjing. Di dalam hati mereka terus menerus memuji-muji kekayaan Pak Khalid.
Sebulan lamanya menunggu, akhirnya, acara resepsi pernikahan pun berlangsung dengan megah. Meskipun sempat terjadi sedikit masalah. Dimana Indra yang tidak terima dengan pernikahan Zahira. Namun semuanya dapat diselesaikan dengan damai.
Saat resepsi di rumah Pak Khalid, tanpa sengaja Pak Khalid melihat sosok yang begitu dikenalnya, "Amanda!" Pak Khalid mengerutkan kening. Tapi sosok itu langsung raib entah kemana.
********
Pernikahan pun selesai, kini kedua pengantin telah menikmati malam pertamanya dengan penuh kebahagiaan meski sempat membuat Zahira sedikit ketakutan.
Meski subuh telah menyambut, tapi Zahira masih enggan bangkit dari ranjang. "Sayang ayo mandi, waktu subuh sudah masuk!"
"Em em" Zahira menggeleng sambil meringis, "hiks...hiks...sakit banget huaa!"
Zahira menyembunyikan wajahnya dibalik bantal.
Pak Khalid tersenyum mendengarnya. Dengan mesra dia membopong tubuh Zahira ke kamar mandi. "Ehh!" Jerit Zahira tertahan saat mata mereka beradu.
Zahira langsung mengalihkan pandangannya karena merasa sangat malu. Itu karena Pak Khalid mengangkatnya yang tanpa balutan busana sama sekali.
Pelan-pelan Pak Khalid meletakkan tubuh Zahira di bath up. "Sayang kamu mandi sendiri aja ya, aku tidak kuat melihatnya, kalau lama-lama, aku mesti mandi junub lagi entar!"
Cepat-cepat Pak Khalid keluar meninggalkan Zahira yang merona menahan malu.
Saat asik menunggu pesanan sarapan mereka, Pak Khalid duduk santai sambil membaca koran pagi. Meski telah berlalu sehari tapi tetap saja Pak Khalid membacanya.
"Astagfirullah, Inna lillahi wainna ilaihi rojiun!" Seru Pak Khalid tiba-tiba.
"Ada apa Pak, eh maaf sa...sayang!" Zahira meralat ucapannya. Mengingat semalam saat cumbuan panas malam pertamanya belangsung, Pak Khalid meminta agar Zahira memanggilnya sayang.
"Bu kos, ini ada beritanya, katanya kemarin Bu kos meninggal, dia melompat dari rumahnya di lantai 3!"
Zahira cuma bisa terbelalak sambil membekap mulutnya rapat-rapat.
"Terus di sini juga ditulis, kalau sehari sebelumnya, anaknya Bu Kos, mati bunuh diri di penjara, katanya dia mengikatkan tali tambang dilehernya sendiri dan menariknya kuat-kuat!" Lanjut Pak Khalid.
"Apa itu Tono?"
Pak Khalid cuma mengangguk pelan. "Akhirnya mereka mendapat ganjaran yang setimpal." Pak Khalid mendekati Zahira lalu memeluk dan menciumnya
lembut.
Bersambung....
Jika para reader menyukai karya Author, boleh dong mampir juga di ceritaku yang lainnya.
LIKA-LIKI HIDUP TKW DI ARAB SAUDI
ANTARA CINTA DAN SENGKETA
LOVE FROM FACEBOOK.
😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘
__ADS_1