Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
Part 87. Cemburu


__ADS_3

Pagi menjelang, seperti hari sebelumnya, Zahira yang bertugas menyiapkan sarapan.


Akan tetapi pagi ini ada yang berbeda. Zahira membuat porsi sarapan yang agak lebih. Hal itu karena, penambahan jatah sarapan buat Pak Khalid.


"Sarapan banyak begini, buat siapa Ra?" Daniah heran begitu melihat isi meja.


"Yaah buat Ayang Khalid dong, siapa lagi?" Meta mengedipkan Mata ke Daniah.


"Waah jangan sembarangan pake kata Ayang, itu cuma buat Ayang Daniah,hahaha!"


Daniah melirik Della kesal, "makan aja deh, ga usah banyak ngomong!"


Zahira ikutan duduk tanpa ada basa-basi.


Baru saja mereka memulai sarapan, terdengar suara ketukan di pintu. Della langsung menatap Zahira.


"Ra, Ayang, eh salah, kalian panggilan sayangnya apa sih?"


"Pak Khalid!" Jawab Zahira pendek sambil beranjak ke luar untuk membuka pintu.


Senyum Pak Khalid mengembang begitu Zahira membuka pintu. "Assalamu alaikum Ra!"


"Alaikum salam, Pak, mari masuk, kita semua lagi sarapan!" Sambil berbalik dan masuk ke dalam. Pak Khalid pun mengikutinya.


Tak ada basa-basi lagi, karena Della dan Meta selalu segan untuk bercanda berlebihan sama Pak Khalid.


**********


Zahira dan teman-temannya turun dari mobil Pak Khalid di halaman Kampus. Mereka langsung terheran-heran saat melihat Yeni digandrungi beberapa temannya.


"Eh lihat deh, itu Kak Yeni kan?" Colek Della pada Daniah. "Iya, emang kenapa?"


"Eh Kak Yeni pake jilbab, ga salah tuh?"


Della menatap Daniah penuh tanya.


Daniah menarik napas lalu menoleh ke Della, "ya ga salah lah, kan waktu jalan sama tante Diana kemarin, dia emang beli jilbab!"


"Lagian aku udah pernah lihat dia sebelumnya kok, pake jilbab!" Lanjut Daniah.


"Waah Kak Yeni tambah cantik ya pake jilbab!" Meta kagum.


Zahira tersenyum mendengar temannya. "Perempuan itu memang akan selalu cantik kalau pakai jilbab, karena jilbab akan menutupi setiap kekurangan yang ada pada tubuh kita!"


Daniah sudah mulai gerah mendengar nasehat Zahira. "Hadeeeh mulai lagi ceramahnya, kita juga tahu kalee!"


"ZAHIRA!" Teriak seseorang.


Mendengar orang berteriak memanggil Zahira, semua menoleh. "Kak Fian?"


Alfian tersenyum dan melambai dari arah parkiran. Sambil berlari-lari kecil dia menemui Zahira dan juga temannya. Pak Khalid yang juga baru keluar dari mobilnya setelah diparkir, langsung tertegun melihat Alfian mendekati Zahira.


Sama dengan Pak Khalid, Yeni pun langsung terkejut mendengar Alfian memanggil dan berlari menuju ke Zahira, bukannya memanggil dan menemuinya.


Daniah and the gank baru saja mau pamit jalan duluan sebagaimana biasanya, tapi buru-buru tertegun dan menganga saat Alfian mendekat dan langsung memeluk Zahira.


"Aduh, ih Kak Fian apaan sih?" Sambil menoleh menatap Alfian yang wajahnya kini hampir menempel di pipi Zahira.


"Lho kenapa? emang ga boleh memeluk adikku sendiri, hem?" Seraya menempelkan pipinya di pipi Zahira.

__ADS_1


"Ya bukan gitu Kak, tapi apa kata orang, mereka kan ga tau kalau kita sodara!" Elak Zahira.


"Aku ga peduli, aku kan cuma kangen sama adikku sendiri, kalian ga keberatan kan?" Seraya memandangi Daniah and the ganknya.


Mereka hanya mengangguk.


"Tapi tetap aja aku jadi risih Kak, perasaan kita ga seakrab ini kan sebelumnya?" Zahira mencoba melepas pelukan Alfian.


"Kita sekarang sudah muhrim kan, jadi mulai sekarang aku akan terus menempel sama kamu, dan aku sekarang bebas mencubit pipi cantik adikku ini!"


Sambil mencubit pipi Zahira.


Zahira menjerit "Aadduuuh Kak, aaakhh pipiku masih sakit Kak!" Alfian langsung melepas tangannya. "Oh maaf Ra, aku lupa kalau pipi kamu belum sembuh benar!" Zahira meringis sambil mengelus-elus pipinya.


Melihat itu, Daniah pun gerah. Dia segera mencolek lengan Della dan memberi kode dengan matanya agar mereka segera pergi. Della ikutan menyikut Meta.


Daniah and the ganknya pun pergi tanpa bicara apa-apa.


Melihat Daniah meninggalkan Zahira, Yeni yang kabakaran jenggot melihat kelakuan Alfian, segera menyusul Daniah. "Daniah tunggu!" Panggilnya.


Daniah pun berhenti begitu mendengar namanya dipanggil. "Eh Kak Yeni, ada apa?"


Yeni tergagap "eemm...eee...anu...aku mau tanya, tapi..."


"Mau tanya soal Alfian dan Zahira Kak? Jangan kuatir, mereka ga pacaran kok!" Celetuk Meta tanpa diminta.


"Maksudnya? Tapi mereka mesra begitu?" Yeni tak percaya.


"Eemm itu, eee aduh gimana ngomongnya yah?" Meta garuk-garuk kepala.


Belum lagi sempat Yeni mendengar jawaban Meta, Nova datang memanggilnya karena ada urusan. "Yeni cepetan dong, kita ada pertemuan!"


Dengan terpaksa Yeni meninggalkan mereka dengan wajah memendam tanya. Daniah and the ganknya pun bernapas lega, lalu bejalan ke tempat tujuan masing-masing.


Tampak nun di depan sana, Alfian menggandeng tangan Zahira bagai sejoli yang tak mau berpisah. Pak Khalid terus menerus menarik napas berat menyaksikannya.


Matanya terasa panas, namun sekuat tenaga ditahannya agar air matanya tidak menetes. "Apa aku akan ditinggalkan lagi?" Dia pun mengeratkan rahangnya kuat.


"Mau aku bantu memberi pelajaran pada lelaki itu?"


Pak Khalid tersentak mendengar suara serak dan berat di sampingnya. Dengan cepat dia menoleh, "Aa...astagfirullah, Pak Jin!"


Pak Jin tidak menyahut. Dia tetap saja menatap Alfian dan Zahira yang berjalan semakin jauh. "Bagaimana, ingin meluapkan amarahmu? aku bisa membantumu!"


"Oo..aah haha tidak perlu, tidak perlu, ini bukan urusan kamu , jadi tidak usah ikut campur!"


"Tentu saja aku tidak mau ikut campur, aku hanya menawarkan bantuan!"


"Aku tidak butuh bantuan, ini urusan lelaki, jadi harus diselesaikan dengan cara jantan!"


"Kamu yakin, tidak butuh bantuan, setidaknya kamu bisa tahu, hubungan mereka seperti apa tanpa bertanya pada mereka!"


"Ah tidak perlu, lagi pula aku percaya sama Zahira, dia tidak mungkin membiarkan lelaki menyentuhnya tanpa alasan!"


"Yah kamu memang bijak, tak salah jika kami memilihmu sebagai teman!"


Pak Khalid terdiam mendengar penuturan Jin itu, "dari semalam, kamu bilang 'kami' padahal kamu sendirian, apa Pak Jin tahu apa arti kata 'Kami'?"


Jin itu menoleh menatapnya. "Iya aku tahu, kami adalah aku dan beberapa orang!"

__ADS_1


"Nah mana beberapa orang itu?" Pak Khalid ikut menatap Pak Jin.


Tiba-tiba saja muncul beberapa Jin lagi dan mengepung dirinya. Enam wajah seram yang jauh lebih seram dari yang tadi. Tubuh tinggi besar, tubuh berbulu bak orang utan namun memiliki ukuran tubuh lebih lebar dan lebih menakutkan dari orang utan. salah satunya memiliki mata merah merah menyala.


Pak Khalid menganga tak percaya, tiba-tiba lututnya terasa lemas. Tubuhnya sudah gemetaran. "Ka...kalian...ap...pa...yang kalian inginkan?"


"Hahaha mereka temanku, jangan takut, mereka baik seperti aku pula!"


"Maaf tapi wajah kalian begitu menyeramkan, aku jadi ketakutan!"


"Baiklah, kami akan membuatmu lebih nyaman dengan kami!" Seketika mereka menciut menjadi seukuran Pak Khalid. Bukan hanya ukurannya, tapi wajahnya pun jadi mirip.


"Eh kok malah mirip dengan aku?" Pak Khalid makin terbelalak. Dia bingung membedakan mereka. Kini dirinya menjadi kembar 8. "Bagaimana aku bisa membedakan kalian?"


"Tidak perlu dibedakan, kami juga tidak akan muncul setiap saat. Kami akan datang jika butuh perlindungan, begitu pula sebaliknya, kami akan datang jika kamu atau Zahira butuh bantuan kami!"


"Haah, maaf aku masih bingung, bantuan apa yang sedang kamu bicarakan, kami manusian tidak butuh bantuan Jin!" Seraya berlalu menuju ke kantornya.


Tapi kemudian dia meloleh lagi, "kalian siapa sih sebenarnya?"


"Kami adalah pitue, penguasa 7 tempat keramat terkemuka di wilayah Sulawasi Selatan!" Ujarnya seraya menghilang.


Pak Khalid mengerutkan kening. "Pitue?" Pak Khalid tertegun di tempatnya berdiri beberapa saat. Kemudian kembali melangkan menuju kantor ruangan Dosen.


******


Zahira yang terus berjalan sambil digandeng mesra oleh Alfian, berhenti di koridor. "Ra, duduk bentar yuk, aku mau ngomong sesuatu!"


"Mau bilang apa Kak?"


"Duduk dulu yuk!" Zahira pun ikutan duduk.


"Zahira, lusa aku dan kelompokku akan melakukan KKLP di Soppeng!"


"Oh ya, waah baguslah, nanti biar aku kasih tahu Abi soal ini!" Zahira tampak senang.


"Tidak usah, tadi Ayah bilang, nanti dia yang akan menelponnya!"


"Ooh gitu ya, terus Kak Yeni?"


"Kami satu kelompok, dan hari ini, mau diadakan pembekalan buat ke sana nanti!"


"Semoga sukses ya Kak!"


" Iya makasih, haah aku pasti akan sangat merindukan kamu!" Sambil menatap Zahira lekat dan sendu.


Zahira langsung menghempaskan genggaman tangan Alfian begitu melihat tatapannya. "Ih Kak Fian, kalau Kak Fian ada napsu memegang aku, biarpun sodara, tetap saja haram Kak!"


Zahira langsung berdiri dan menjauh dari Alfian. Alfian tak mampu berucap apa-apa. Melihat itu, Zahira jadi merasa takut, dan segera berlari meninggalkan Alfian yang terhenyak sendirian.


"Zahira, sampai sekarang aku masih tidak rela dan tidak bisa menganggapmu hanya sebagai adikku, kenapa harus kamu, ah tidak, kenapa harus Ibuku yang menyusui kamu, padahal masih banyak Ibu menyusui yang lain?"


Alfian menjambak rambutnya kuat-kuat menahan gejolak amarah di hatinya.


.


.


.

__ADS_1


Jumpa lagi di episod mendatangπŸ˜†πŸ˜†.


Semoga saja episode ini tidak membosankan ya😊😊😊😊.


__ADS_2