
"Hah Zahira mana sih, jam segini belum pulang?" Daniah bersungut.
Dia bolak-balik melongok ke pintu, kalau -kalau Zahira sudah datang, namun yang ditunggu tak kunjung batang hidungnya.
"Jangan kesal gitu dong, kan bagus kalau dia belum datang, bisa lama bareng kamu," sahut Adrian sambil menaikkan alis kirinya dan tersenyum nakal.
"Eeeerrrggggg." Daniah menggeram sabil duduk di sofa.
"Makin marah makin maniiiiis deh," Adrian mengerling.
"Wuaaaahhh, kamu mau diusir dari sini ya!" Dania sewot.
"Haha kalian kayak Tom and Jerry!" Rasti tertawa melihat tingkah temannya.
"Hah ini gara-gara Zahira yang telat!" gerutu Daniah.
"Aku rasa sih dia sengaja memberi waktu lama buat kita bersama." Adrian tersenyum Ke Daniah.
Daniah cuma memelototinya.
"Memangnya dia kemana kok lama?" tanya Rasti menatap Daniah.
"Tau tuh kencan kali sama Pak Khalid!" Daniah ketus.
"Eh ngomongin Pak Khalid, gimana kabarnya, terus, kok bisa pergi sama Zahira?" tanya Rasti beruntun karena penasaran, matanya melebar menatap Daniah menunggu jawaban.
"Katanya minta bantuan buat ngusir hantu di Rumah sakit." terang Daniah.
"Jadi beneran Zahira jago ngusir hantu?" tanya Adrian penasaran.
"Aaaasssssalamu alaikum!!!" teriak Meta yang muncul tiba-tiba.
"Tadaaaa, minuman datang!!!" Della ikutan berseru sambil mengacungkan kresek berisi minuman dingin.
"Biasa aja kali, siniin minumannya!" tegur Daniah sambil mengulurkan tangannya.
Sementara Rasti dan Adrian masih bermuka penasaran.
Daniah membuka kresek lalu membagi minumannya di atas meja.
"Bentar ya aku ambilin cemilan dulu!" ucap Meta sambil berlalu masuk dapur. Della sendiri ikutan duduk di samping Daniah.
"Silahkan minum!!" Della mempersilahkan.
"Makasih." Adrian dan Rasti hampir bersamaan.
"Sumpah aku masih penasaran sama apa yang terjadi tadi di kampus. Soalnya banyak gosip yang beredar!" sergah Rasti tiba-tiba.
"Memangnya ada gosip apa?" Tanya Della santai sambil menyeruput minuman kalengnya.
"Iyya, gosip apaan, kok kita ga dengar?" Daniah menimpali.
"Au, au, auuu begini kalau dekat sama cewek, yang diomongin gosiiiip mulu!" Adrian angkat suara.
"Heh kalau tidak suka dengar gosip ga usah ikutan, sana pulang!" bentak Daniah.
"Waah diuuusir!" Adrian melongo.
"Hahahahha" Rasti tertawa.
Daniah hanya mendelik kesal.
"Gosip apaan dong?" Della jadi tak sabar.
"Tentang hantu penunggu kampus," Terang Rasti.
"Esstoooop!!!" Meta datang memekik. Jangan ngomongin hantu di sini" Meta mendekat sambil berbisik. Bola matanya melirik kanan kiri, seolah takut ketahuan. wajahnya tegang.
"Mm mm" Della dan Daniah mengangguk saling pandang lalu menoleh ke Rasti.
"Kenapa?" Rasti agak curiga
"Karena..." Della tak melanjutkan karena Meta menyikut pinggangnya.
"Ada apa sih, di sini ada hantu beneran?" Rasti makin cemas.
Meta dan Della cuma mengangguk pelan. Wajahnya meringis.
"Aaahh santai aja, kan Zahira jago ngusir hantu, kan, kan?" ucap Adrian santai sambil senyum ****.
"Adriaaaaann!!!"teriak para wanita itu serempak, seakan dapat komando. Wajah Meta benar-benar pias.
Di dalam kamar Zahira seraut wajah pucat yang tak senang sedang memandangi mereka.
Adrian melongo tak mengerti kenapa dia diteriaki.
"Apa salahku? kan emang Zahira jago," Adrian mengedar pandang ke mereka.
"Ah udah deh, mending kamu diam, nih minum aja biar lo adem, ga banyak bacot!" sergah Daniah sambil melempar minuman kaleng ke Adrian. Dengan sigap Adrian menangkapnya.
"Hehe makasih ya" sambil mengacungkan kaleng minumannya lalu membukanya.
Suasana hening, tidak ada yang bersuara, hanya suara seruputan Adrian yang membahana. Meta menggelayut di lengan Della denga muka ketakutan.
*****
Mobil yang dikendarai Pak Khalid melaju perlahan, sambil melirik kiri-kanan jalan mencoba memilah- milah restoran mana yang akan disinggahinya.
"Enaknya makan dimana nih?" tanya Pak Khalid sambil menoleh ke Zahira.
"Ah maaf Pak, bukannya menolak, cuma kalau bisa kita langsung pulang aja ya, soalnya pasti temanku sedang menunggu!" pinta Zahira.
"Wah ga enak dong, masa kamu bantu aku, tapi malah bikin kamu kelaparan" timpal Pak Khalid.
"Mm gimana kalau lain kali aja Pak, hari ini aku benar-benar ga bisa Pak, maaf ya! lagian aku bisa makan ini!" Zahira mengucungkan kreseknya.
"Benar janji, lain kali kita makan bareng?" tanya Pak Khalid.
"Aa" Zahira tersadar dengan kata-katanya, "ah ituuu, mm maksudku kalau ada kesempatan!" Zahira mencoba meralat.
"Ya aku anggap itu iyya" Khalid tersenyum senang.
Zahira cuma nyengir kuda. Wajahnya tampak menyesali ucapannya sendiri. Rasa cemas menghampiri dirinya mengingat pesan Uminya untuk tidak keluyuran.
"Ya Allah, semoga aja nanti Pak Khalid lupa janji makan bareng ini" batin Zahira.
"Ra aku boleh minta diajarin mantra kamu yang tadi ga?" Tanya Khalid ragu-ragu.
__ADS_1
"Eeh kok mantra, haahahaha, memangnya dukun, pake mantra, bwahahaa" Zahira tertawa garing.
"Terus?" Khalid menoleh memandangi Zahira kemudian beralih lagi kejalan raya.
"Cuma doa kok, ditambah beberapa ayat Al-qur'an, itu saja, bukan mantra!" terang Zahira senyum geli.
"Apapun itu aku mau diajarin, jadi nanti kan aku ga harus merepotkan kamu!" timpalnya.
"Bukan apa-apa kok, cuma doa-doa harian yang biasa diajarkan di Sekolah SD dan TK!" bantah Zahira.
"Lagian masa aku ajarin Bapak, kan Bapak udah senior?" Zahira tetsenyum.
"Tapi aku benar-benar ga tahu, ada sih yang aku tahu, doa sebelum makan,"
"Nah bagus tuh, nanti kan pas ketemu mahluk begituan langsung baca aja, pasti mereka langsung kabur, takut dimakan, hahaha" Zahira tertawa lagi.
Pak Khalid cuma diam, wajahnya sedikit kecewa di tertawakan.
"Ah maaf Pak cuma bercanda," Zahira langsung pias saat melihat Khalid sepertinya kecewa.
"Mungkin bagi kamu ini sebuah lelucon, tapi aku benar-benar serius, dari sejak kecil aku menderita karena ini." Khalid ketus. Wajahnya sedikit kesal.
Zahira merasa bersalah.
"Maaf banget Pak, ini pertama kalinya aku mengalami hal begini, jadi aku masih kurang yakin, maaf!" Zahiran menyesal.
Dokter Khalid memandang jalanan dalam diam, perlahan menarik napas.
"Hhhh hhaaaahh."
"Aku sudah begini sejak kecil, itu kata Mami, tapi aku hanya mengingat sejak SD, malam itu sebuah cahaya sebesar bola yang menyala bagaikan dibakar api melayang masuk ke dalam kamar Papi, aku melihatnya di jendela kamarku. Dan sesaat kemudian Mami berteriak histeris. Saat aku dan kakakku sampai Papi sudah tak bergerak, darah mengucur dari mulut dan hidungnya. Tubuhnya menghitam. Kami melarikan Papi ke Rumah sakit, Menurut Dokter, pembuluh darah Papi pecah." Khalid berhenti.
"Apa hubungannya dengan Bapak bisa lihat hantu?" Zahira menyelidik ragu.
Khalid menoleh ke padanya, lalu kembali menatap jalan, wajahnya datar.
"Itu kata dokter, tapi yang aku lihat lain. Ada mahluk jelek dengan tubuh besar menghunjam tubuh Papi dengan senjatanya, terus menerus sampai darah terus mengucur dari mulut dan hidungnya, seluruh tubuhnya memghitam."
"Mahluk itu terus menerus berdiri di dekat Papi sampi dia dikebumikan." Suara dr.Khalid sedikit tercekat, rasanya sesak di dadanya. Perlahan air matanya meleleh.
"Jadi sejak saat itu Bapak bisa lihat mahluk gaib?" tanya Zahira lagi.
"Mami bilang sejak kecil, hanya saja aku mulai ingat bisa lihat sejak saat itu," terang Khalid.
"Terus, apa yang terjadi?" Zahira penasaran.
"Saat aku bilang ke Mami tentang hal itu, Mami memutuskan untuk mendatangi Paranormal, menurutnya Papi diguna-guna." Jelasnya lagi.
"Ahh kenapa ada yang begitu sih, apa Maminya Bapak percaya sama omongan Paranormal itu?" tanya Zahira lagi.
"Iyya, karenanya kami pindah sesuai anjurannya karena katanya tetangga kami yang melakukannya,"
"Dan kalian pindah lalu ikut membenci tetangga Bapak, gitu kan?" Zahira jadi merasa kasihan.
"Maaf pak, bukannya menggurui, cuma pendapat aja, menurutku kita ga boleh percaya ramalan dukun, karena itu menyesatkan, benar atau tidak omongannya, dia udah bikin orang lain saling benci, itukan salah, lagi pula ga ada bukti kan?" terang Zahira dengan wajah sedih.
Khalid menoleh memandangi Zahira lekat lalu menghadap lagi ke jalanan.
"Itulah mengapa kami pindah, karena kami tidak mau ada saling mencurigai, jadi kami mengalah. Lagian mahluk itu terus datang tiap malam dan tak mau menghilang." jelasnya lagi. Wajanya dingin.
"Ohh gitu ya, maaf ya Pak!" Zahira menyesal.
Suasana menjadi hening seketika. Sesekali Zahira menoleh memandangi Pak Khalid. Sementara Khalid sendiri tetap dingin memandangi jalanan. Dia fokus menyetir.
"Alamat kamu dimana nih?" Khalid memecah suasan setelah cukup lama terdiam.
"Ah iyya, di Perintis Kemerdekaan, lorong 10," jawab Zahira cepat. Dia sedikit kaget.
"Dekat kampus?"
"Iyya, cuma jalan kaki biasanya."
"Baiklah."
Khalid melajukan mobilnya lalu berbelok mengambil jalur menuju alamat Zahira.
*****
Mobil yang ditumpangi Zahira sudah sampai. Zahira turun begitu pula dengan Khalid.
Mendengar suara pintu mobil berdebum, Meta segera menghambur keluar. Keheningan di ruang tamunya membuatnya benar-benar takut. Namun tak ada yang berani berpindah.
"Aaaakkhh akhirnya bisa bernapas lega!!"teriak Della.
"Jadi kami sudah boleh bersuara sekarang?" tanya Adrian, takut diteriaki lagi oleh empat cewek manis di dekatnya.
"Terserah deh" ucap Daniah dingin sambil berdiri lalu keluar.
"Iyya aku masih penasaran tapi takut juga buat dengar!" Rasti meringis.
"Nanti aja yah kalau Zahira udah duduk dekat kita, kami bakal cerita semuanya," ujar Della sambil mengelus tengkuknya yang terasa dingin.
"Zahiraaa!!" seru Meta menyambut Zahira lalu memeluknya erat.
Khalid memandang mereka heran.
"Aaa aduuuh Meta, apaan sih, kayak anak kecil ketemu emaknya!" Zahira mencoba mendorong Meta.
"Zahira, aku pulang dulu ya!" pamit Khalid.
Zahira menoleh. "Iyya Pak, makasih sudah antar aku pulang," ucap Zahira.
"Aku yang terima kasih, lagian ini sudah tanggung jawabku mengantar kamu kan aku yang sudah merepotkanmu," ulasnya.
"Iyya deh Pak"
"Aku pergi dulu ya"
"Ya, Assalamu alaikum"
"Wa alaikum salam" balas Khalid sambil berlalu dan masuk ke mobilnya kemudian melaju pergi.
"Waahh sudah selesai pamitan?" Daniah datang dengan sewot.
"Daniah, maaf aku agak lama ya" ujar Zahira.
"Maafnya sama mereka tuh di dalam, mereka udah nunggu dari tadi!" Daniah ketus lalu kembali ke dalam.
__ADS_1
Zahira dan Meta mengikuti di belakang.
Sementara Ibu Kos memandangi mereka dari lantai atas dengan muka tidak senang.
"Ingatlah, jangan sekali-kali ada laki-laki yang datang ke rumah kamu, karena diantara mereka, ada yang akan mematahkan mantraku." Kata-kata dukun sakti yang membantunya masih terngiang di telinganya. Tiba-tiba wajahnya berubah menjadi geram.
Di dalam rumah, Della sudah siap bercerita.
" Ra kamu duduk di sini deh, kita mau cerita sesuatu, tapi kami takut kalau ga ada kamu!" ajak Della sambil menepuk sofa di sampingnya.
"Maaf ya aku mau sholat dulu, hampir telat nih!" balasnya sambil terus berlalu masuk kamarnya.
Daniah menghempaskan tubuhnya di samping Della, Meta ikutan duduk.
"Udah cerita aja, kan sudah ada dia?" pinta Rasti tak sabar.
" Oke lah" Della mulai serius, "Begini, di sini ada han...." Della melirik Kiri-kanan, "tuu cewek yang digantung!" lanjutnya.
Rasti bergidik, tak sadar dia memeluk lengan Adrian.
"Ehem, ehem..." Adrian mendehem.
" Eh hehe sorry..ga sengaja" Rasti merasa malu sendiri lalu melepaskan pelukannya.
"Ahh coba Daniah ya" Adrian mengerling Daniah sambil tersenyum.
"Yah segitunya, emang kenapa kalau aku!" Rasti sewot sambil memukul bahu Adrian.
"Bukan gitu, cuma kan lebih romantis kalau Daniah yang peluk, hihihi" Adrian cekikikan. Lalu.... Daniah menendang betisnya.
"Aaauuu" Adrian kesakitan memegangi betisnya yang ditendang oleh Daniah.
"Itu romantisnya Daniah!!" betak Daniah.
"Haahhahah, aku puaasss, rasain, tanks Daniah, hahahaha" Rasti tertawa puas.
Meta dan Della ikutan tertawa.
Tiba-tiba cemilan yang di atas meja terjatuh kelantai tanpa ada yang menyentuhnya...
Mereka saling pandang dengan muka tegang, mereka saling melotot satu sama lain.
"Itu kamu kan Ras!" tuduh Daniah
"Eng...gak, bu...kan Aku.."
"Lalu siapa?" tanya Adrian..
Della dan Metaa saling tatap.
"Aaaaaaaaa hantuuuuuuu" sambil mengangkat kakinya dan memeluk lututnya, mereka meringkuk di sofa.
Yang lain ikutan meringkuk sambil menutup mata. Mereka menahan nafas karena takut.
Hantu berwajah pucat sedang memandangi mereka satu persatu. Dengan wajah tidak senang, dia mengepalkan tangannya menahan rasa marahnya. Lalu menghilang dari hadapan Daniah dan teman-temannya.
Zahira sudah selesai sholat, dengan segera dia keluar menemui temannya tak lupa kresek berisi roti dan cemilan yang dibelinya dibawa serta keluar kamar. Akan tetapi betapa herannya dia saat mendapati teman-temannya meringkuk bagaikan anak kecil habis kena damprat dari emaknya.
"Haahhaa kalian kenapa? kompakan gitu?, hahahahaha, hahah!" seru Zahira terpingkal-pingkal. Lalu ikutan duduk di samping Rasti.
Sontak semua mengangkat kepala. Dan begitu melihat Zahira, mereka menghela napas lega.
"Iyya nih, aku pake ikutan segala, padahal ga ngerti ada apa?" Adrian mencoba menutupi rasa takutnya.
"Alaaaah, kalau takut bilang aja takut!" Rasti kembali menghantam bahu Adrian.
Adrian meringis kesakitan.
"Aaaaaahhh sakit tau Rasti" Adrian meringis menahan sakit.
"Lembek amat, segitu aja udah meringis!" imbuh Daniah meledek. Wajahnya ketus.
"Ini karena Rasti yang pukul, coba kalau kamu, aku akaaaaan bahagia, kalau dipukulnya pakai bibir, ah hayyy!" balas Adrian jahil.
Wajah Daniah merah padam memandangi Adrian.
Tapi belum sempat dia teriak, Ibu Kost datang dengan murka.
"Apa kalian sudag lupa dengan aturan sewa!" Bentak Bu kos.
Semua langsung kaget dan menoleh. Tampak Ibu kos sedang berdiri bekacak pinggang di depan antara kamar Zahira dan Della. Tak ada lagi yang bersuara. Ibu kos pun makin mendekati.
"Bukannya Ibu sudah bilang, tidak boleh membawa pria di rumah ini!!" suara Ibu Kos menggelegar membahana memenuhi seluruh ruangan.
"Maaf bu, kami datang buat belajar, habis itu kami pasti pergi!" Adrian mencoba menjelaskan.
"Kalau mau belajar, ya belajar, bukannya bikin gaduh!" suara Bu kos masih meninggi.
Zahira kaget bukan main, Roti yang baru saja dikunyahnya seakan tercekat di mulutnya dan tidak bisa ditelan. Air matanya berlinang.
"Iyya bu, kami akan belajar dengan tenang habis itu aku akan menyuruh temanku pulang, maaf Bu!" sergah Daniah.
"Ingat, setelah ini, jangan pernah bawa laki-laki lagi kemari, mengerti!!!, atau aku akan mengusir kalian semua!!" bentaknya lagi lalu berbalik dan pergi.
Zahira terisak-isak.
"hesskk, hessk., maaf teman-teman, ini semua karena aku terlambat datang, hik..hik.." Zahira mengusap air matanya sambil tetap mengunyah rotinya yang tak mau masuk ditenggorokannya.
"Ya sudah deh, ayo kita mulai cepat, sebelum dia marah lagi" ajak Rasti..
"Ah tunggu aku ambil buku dulu." Dia pun masuk kembali ke kamar. Lalu keluar membawa beberapa buku yang dipinjamnya dari Alfian. Mereka pun mulai bekerja.
Sementara Ibu kos terus menaiki tangga menuju teras lantai dua. Dia tidak sadar kalau di belakangnya seseorang dengan wajah pucat tengah mengikutinya.
Perlahan dia mengelus tengkuknya yang terasa dingin. Dia pun segera berhenti, lalu menoleh, dan.....
.
.
.
.
Lain waktu baru dilanjut yah..Salam manis dari aku....
Harapan tak pernah hilang dari seorang amatiran seperti aku..berharap ada yang sedia memberi dukungan dan kritikan, agar amatiran ini bisa berkembang jauh lebih baik..
__ADS_1
Tak lupa ucapan terima kasih buat para readers yang telah sudi untuk mampir dan berbagi ilmu, like serta semangat padaku...LOVE U so much.😘😘😘😘😘