
Samar-samar Zahira mendengar perempuan itu menggerutu dan mengumpat. Zahira yang penasaran langsung menguping di depan pintu.
"Dasar pria mesum tidak tahu diri, tega sekali melecehka aku, dasar tidak tahu terima kasih, aku sudah merawat Ibunya dengan susah payah, tapi ini balasannya padaku dengan melecehkan aku, dasar laki-laki baj**ngan!!" Umpatan dan cacian terlontar begitu keras dari perempuan itu.
Zahira mendengar semuanya dan menutup mulut tak percaya. Dia masih ingat bagaimana payahnya Perempuan itu merawat Bu Kos, tapi ternyata malah dilecehkan. Tanpa sadar Zahira bergumam "Pantas saja mukanya tampak kesal banget ya."
Zahira tidak sadar kalau Pak Khalid telah berdiri di belakangnya. Zahira yang berbalik langsung kaget dibuatnya. "Ahh Astagfirullahal Adzim Pak!!" Zahira memegang dadanya.
Pak Khalid tertawa melihatnya. "Hahaha baru lihat orang aja kaget, apalagi lihat Hantu, hahaha!"
"Haah bagimana tidak kaget, orang lagi tegang, eh tiba-tiba ada orang!" Zahira melangkah menjauh dari pintu.
"Hayooo ketahuan nguping, ga baik lho!"
Sambil mengikuti langkah Zahira.
Zahira berhenti lalu menatap Pak Khalid lekat, kemudian menarik lengan bajunya agak menjauh ke dekat pembatas teras. Pak Khalid tersenyum karena merasa lucu dengan sikap Zahira, yang seperti anak kecil memaksa dibelikan sesuatu.
Begitu sampai Zahira berhenti. Perlahan dia berbisik, "Pak, sepertinya para penghuni di sini pada pindah bukan semata-mata karena Amanda deh!"
Zahira jadi lupa pada prinsipnya untuk tidak mengurusi orang lain. Itulah akibat jika seseorang yang memegang prinsip dan tiba-tiba melanggar prinsip, dengan alasan sekali saja. meski cuma sekali, maka percayalah hal itu akan berlaku kembali dan selamanya tanpa disadari.
Demikian juga Zahira, selama ini dia tidak pernah dan tidak mau mengurusi orang lain, apalagi bergosip atau pun curhat kecuali pada Uminya dan Allah. Akan tetapi sejak dia mulai mengurusi masalah Amanda, dia tidak menyadari jika dia sudah mengurusi orang lain.
Pak Khalid mengrutkan keningnya, "maksud kamu?"
"Itu...."
Zahira tak sempat melanjutkan kata-katanya, karena perempuan itu telah keluar dengan menyeret kopernya dan menggendong ransel besar.
Zahira dan Pak Khalid memandanginya dengan penuh tanda tanya. Mereka langsung salah tingkah saat perempuan itu menatap mereka.
"Dek, sebaiknya kalian cepatlah cari rumah yang lain, anaknya Bu Kos, orang gila, dia bahkan tidak peduli kawan atau lawan, asal ada kesempatan, dia pasti beraksi!" Sambil berlalu tanpa menoleh lagi.
Zahira dan Pak Khalid saling pandang. "Zahira, apakah yang mau kau katakan tadi ada hubungannya dengan yang dikatakannya?"
Zahira mengangguk, "iya Pak, aku dengar kalau dia dilecehkan."
Pak Khalid menganga lebar, tapi segera ditutup mulutnya. "Dia benar-benar bejat, dasar!!" Giginya gemeretak.
"Eh Pak, mana koreknya?"
Pak Khalid tersentak dari rasa geramnya. "Ehh, oh iya ini!" Sambil menyerahkan koreknya.
Zahira menerima korek itu lalu mulai membakarnya. "Bismilahir rahmanir rohim!"
Kertas itu pun terbakar. Zahira kemudian meletakkannya di lantai. Mereka terus mengawasi ketas dan kainnya itu hingga semua terbakar habis menjadi abu.
Sambil bersandar di dinding pembatas teras, Pak Khali memandangi langit yang agak terang dengan cahaya bulan separuh di atas sana. "Ra!" Sambil tetap mendongak.
"Ya Pak!" Seraya menatap Pak Khalid.
__ADS_1
"Coba lihat bulan separuh di atas!"
Zahira ikutan mendongak, "kenapa emang Pak?"
"Kamu tahu ga, kenapa bulan separuh tidak seterang bulan purnama?"
Zahira mengerutkan kening sambil melirik Pak Khalid, dia merasa aneh dengan pertanyaan yang lebih pantas buat anak kecil itu. Dia pun menjawab sekenanya. "Yaa itu kan cuma separuh, jadi terangnya tidak sempurna juga."
Pak Khalid tersenyum sambil melirik Zahira. Zahira makin tidak mengerti.
"Salah Ra!"
Zahira makin heran "haaa!!"
"Hhahaha, cahaya bulan separuh itu tidak terang, karena sebagian cahayanya pindah ke wajahmu!"
Mendengar itu Zahira langsung merona, dan tersipu malu. "Iiihhhh apaan sih Bapak!" Dia pun membuang muka.
"Bintang di sana juga kurang ya?" Sambil melirik Zahira yang masih membuang muka. Zahira menoleh dan ikutan mendongak lagi. "Eeemmm."
"Padahal langit cerah, kenapa bintangnya kurang ya?" Tetap mendongak.
"Yaa, kan banyak awan tipis di sana, jadi bintangnya tidak kelihatan Pak!"
"Tapi aku rasa bukan itu masalahnya."
"Terus apa dong Pak?" Zahira memandangi Pak Khalid menunggu jawaban. Pak Khalid juga melihatnya. Meraka pun salin pandang.
"Itu karena mereka malu menampakkan dirinya pada gadis manis di depanku!" Pak Khalid tersenyum jahil.
Pak Khalid memandangi wajah tersipu itu dengan gemas. Ingin rasanya Ia mencubit pipi di depannya, tapi dengan keras ditahannya. "Ra!" Zahira tidak menoleh, malah makin membuang pandang. "Zahira!"
Zahira tetap tak mau menoleh, dengan kuat dia menahan diri untuk tidak tersenyum. "Zahira kamu tahu kenapa langit tidak begitu terang, meski ada bulan yang bersinar?"
"Ah ga tau Pak, ga mau jawab!" Zahira benar-benar malu dibuatnya. Wajah Zahira tersipu-sipu, hingga tak mampu menatap wajah tampan di depannya.
"Lho kenapa?" Pak Khalid menatap Zahira lekat. Zahira makin tertunduk dalam. "Pasti jawabannya gombal lagi!"
"Hahaha ga kok Ra, aku serius,!"
"Ga percaya!"
"Ga aku ga gombal percaya deh!" Sambil mengacungkan dua jarinya.
Zahira mengangkat wajah dan tersenyum, "baiklah, em itu karena banyak awan tipis yang menghalangi sinar bulan." Senyum di bibirnya seakan tak mau pergi.
Pak Khalid menggeleng pelan sambil memandang Zahira. "Langit sengaja memberi nuansa lembut untuk kita, agar lebih nyaman bersama, seakan merestui kebersamaan kita!" Sambil mengedipkan sebelah matanya.
"YAAAAA!!!! Tuuuuh kaaan, gombal lagi iihh!" Zahira makin tersipu malu, dia mengeluh manja. Wajahnya yang imut makin membuat gemas.
Pak Khalid tertawa garing. "Hahaha, Zahira kamu imut banget kalau kamu begitu."
__ADS_1
Zahira yang tersipu kini cemberut. Dia merasa sedang di kerjai oleh Pak Khalid.
Sementara Amanda yang sedang merasa senang, kini duduk manis di tangga. Kekuatan mantra yang menghalangi tangga dan rumah Bu Kos kini telah hilang. Akhirnya Amanda bisa dengan leluasa naik dan turun serta masuk ke dalam rumah Bu Kos.
Amanda ikut tersipu-sipu mendengar rayuan gombal Pak Khalid. Bahkan ikut tertawa saat melihat Zahira mati kutu digombal oleh Pak Khalid.
Zahira yang cemberut, melangkah pergi. "Zahira, kamu mau kemana?" Tegur Pak Khalid.
"Aku mau turun, aku ga mau lagi di sini!" Sambil terus melangkah. Pak Khalid nengejarnya. "Ra, tunggu!"
Zahira tak menoleh, dia tetap saja melangkah. Pak Khalid mengejarnya dan mencegat lengannya. "Ra, kamu marah ya?" Zahira hanya diam dan tertunduk.
Perlahan dia melepaskan tangan Pak Khalid yang mencegat lengannya.
"Zahira, aku minta maaf, aku ga ada maksud bikin kamu marah, aku cuma bercanda Ra!"
Zahira tetap diam, dia semakin menunduk. Saat dia hendak berjalan lagi, kembali Pak Khalid mencegahnya. "Zahira, plis bicara sesuatu, jangan diam begitu dong, Ra maafin aku ya!"
Sambil mengatupkan tangan di depan dada, Pak Khalid duduk berlutut di depan Zahira, sambil memasang wajah memelas.
Zahira kaget dan salah tingkah, "Bapak apa-apaan sih, iiih, bangun iih Pak!" Zahira mundur selangkah ke belakang.
"Aku ga bakal bangun sampai kamu bilang mau maafin aku Ra!"
"Yyy ya u...dah deh, aa...aku maafin deh!" Zahira gelagapan dibuatnya.
Dengan senyum sumbringah, dia bangkit berdiri. "Makasih ya Ra, kamu memang gadis yang baik dan lembut, selembut cintaku yang bersarang di hatiku begitu lama!"
Zahira makin cemberut, kali ini dia benar-benar marah. "Iih Bapak ingkar janji padahal baru saja berjanji, sudah dilanggar, aku ga mau lagi ngomong sama Bapak!" Sambil berlari turun tangga.
Pak Khalid mengejarnya dengan cepat. "Zahira tunggu!" Tapi Zahira tak mau lagi mendengarnya. Dia tetap berlari turun tangga.
Meta dan Della yang lagi sibuk beresin dapur, langsung kaget mendengar suara kaki berlari turun tangga. "Ada apa ya?" Della melirik Meta yang dibalas dengan angkat bahu oleh Meta.
Pak Khalid melompat mendahului Zahira di lekungan tangga, membuat Zahira sontak berhenti. "Pak, Anda sudah gila ya, kalau jatuh gimana?"
"Aku rela, asal kamu mau maafin aku!"
Meta dan Della yang melihat dan mendengar gombalannya langsung berseru "UUUUUU, hahhaha!"
Zahira dan Pak Khalid sontak menoleh ke bawah. Begitu menyadari keadaan, Wajah Zahira langsung merah padam menahan malu. Sedangkan Pak Khalid hanya tersenyum.
"Pak Minggir dong, aku mau lewat!"
Tapi Pak Khalid malah merenntangkan tangannya. "Maafin aku dulu ya!"
Zahira menatapnya dengan kesal. "Gak, aku ga mau!" Dengan kasar Zahira menepis lengan Pak Khalid dan menerobos turun ke bawah lalu berlari masuk ke kamarnya.
Meta dan Della saling pandang dengan heran. Akan tetapi meski di hati mereka sangat penasaran, namun mereka enggan untuk bertanya.
Dengan lesu, Pak Khalid melangkah turun, "Della, Meta, aku permisi dulu ya, makasih makan malamnya!"
__ADS_1
"Eh kami yang harus makasih Pak."
Pak Khalid cuma tersenyum lesu, "Iya sama-sama." Dia pun melangkah dengan gontai ke luar. Saat melewati kamar Zahira, Pak Khalid berhenti sejenak, ada rasa hendak mengetuk pintu, tapi kemudian diurungkannya. Akhirnya dia memilih pergi.