
Malam datang menyambut, Zahira and the gank sudah santai di ruang makan sambil menikmati makanan mereka. Tak ada basa basi karena Daniah masih saja cemberut.
Rasa kecewanya begitu dalam, membuatnya terus diam tak mau bicara sepatah kata pun. Meta sesekali melirik Daniah yang bermuka datar. Dalam kondisi demikian, Meta sudah tidak berani lagi menegurnya.
Zahira dan Della sendiri tetap diam tak memperhatikan Daniah. Mereka asik saja dengan piringnya masing-masing.
Di bawah tangga, Amanda sedang terpuruk lesu. Entah mengapa, rasa takut yang amat besar menyerangnya. Kenangan buruk membuatnya meringkuk tak berdaya di bawah sana.
Saat semua sedang asik dengan pikiran masing-masing, tiba-tiba suara pria terdengar jelas dari atas, seakan akan hendak turun di tempat mereka. Spontan semua saling pandang. Lalu mendongak ke atas tangga.
Benar saja, tak berapa lama mereka mendongak, muncul sepasang kaki besar turun di tangga. Seutas tali menjuntai di samping kakinya. Karena Zahira sedang tak memakai jilbab, dia segera kabur masuk kamar, begitu mendengar suara pria hendak turun.
Semakin lama, tubuh pria itu pun kelihatan juga seluruhnya. Seorang pria dengan tubuh lebar dan perut yang agak buncit, sampai di dasar tangga. Sembari memegang tali jemuran Zahira, dia berdiri memandangi para gadis yang sedang makan .
Melihat wajah sangar di sampingnya, wajah ketiga cewek ini menjadi tegang dan ketakutan.
)Daniah memberanikan diri bertanya.
"Maaf Pak ada perlu apa kemari?"
Pria itu tak menjawab, malah memandangi mereka bergantian. "Siapa yang sudah memasang tali ini di atas sana, cepat katakan!!" Suara berat dan lantang membentak para gadis tak bersalah itu.
Della dan Meta saling berpegangan tangan begitu erat. Tubuh mereka gemetaran. Begitu pula dengan Daniah, mereka terdiam dalam ketakutan.
Pria itu semakin marah, "CEPAAT KATAKAAAAN!!" Wajahnya merah padam karena marah.
Zahira datang tergopoh-gopoh mendengar pria itu berteriak. "Maaf Pak, ada apa ya?"
Pria itu menoleh, saat melihat Zahira, dia langsung melempar talinya ke depan Zahira. "Apa tali itu punya kamu?" Nada kasarnya membuat Zahira gemetar.
Zahira tertunduk dengan bahu terangkat sebelah. Seakan hendak menyembunyikan kepalanya dalam lehernya. "Iya Pak, itu punyaku."
"Dimana kamu mendapatkannya, haaah!!"
"A...a...di...di...bawah kolong ranjang situ Pak!" Sambil menunjuk ke kamarnya.
"Apa kamu mau menipu saya, kamu sengaja beli tali begini buat balas dendam untuk teman kamu, YA KAAAN!"
Zahira sudah sangat ketakutan, demikian juga semua temannya. Kini mereka sudah memahami rasa takut yang dialami Zahira saat mereka juga telah merasakannya.
Pria itu melangkah mendekati Zahira dengan muka sangat garang. Amanda yang menyaksikan itu, sudah menebak jika dia pasti akan menyakiti Zahira. segera dia melesat menghadang di depan Zahira.
Benar saja, tangan pria itu sudah melayang hendak memukul wajah Zahira. Tapi di saat bersamaan Amanda menampakkan wajah seramnya, sambil melotot tajam menampilkan bola matanya yang bulat dan merah seakan hendak meloncat dari pupilnya.
Pria itu kaget bukan main. "AAAAAAA AAMANDAAAA, PERGIII KAMUUUU, KAMUUU SUU SUDAAAH MAAA TIII!" Pria itu terus mundur ke belakang hingga menabrak kursi yang tadi di duduki Zahira.
Amanda terus berjalan mendekatinya, dengan tangan terangkat hendak mencekik leher pria itu. Dia semakin mundur membuat kursi plastik itu terdorong dan mentok di tepi meja.
__ADS_1
Daniah and the gank segera berhamburan melompat dari kursinya, begitu pria itu semakin tersudut di antara kaki kursi plastik yang terjungkang kebelakang.
"AAAAAAHHHH HAAAANTUUUUU!"
Daniah melompat ke samping sementara Della juga melompat, membuat keduanya bertubrukan. Meta yang tak mau melewati pria itu juga berlari mengikuti Della. Tanpa Ampun lagi, Meta menabrak punggung Della.
"AAAAA, LEWAAAT SAANAAA CEPEEET!" Saat mereka memutar, Pria itu malah hendak meraihnya. "Heeii tolong aku!!"
Mereka pun berlari kembali ke tempat semula. "AAAAA DAAAN, AAAKUU MAUU PIPIIIS, AAAAA!"
Mereka jadi saling tabrak. Hingga akhirnya memilih untuk berjongkok di bawah meja makan. "Aku mau pipis!!" Daniah segera menyumpal mulut meta dengan telapak tangannya agar tidak berisik lagi.
Mereka pun terdiam, tapi Meta malah meringis sambil mengatupkan pahanya rapat-rapat. ke dua tangannya mencengkeram bawahannya kuat-kuat.
Pria itu terus saja gemetar memandang Amanda yang semakin dekat. Saat tangan Amanda sudah mulai meraba dadanya , dengan cepat dia menepis tangan Amanda dan lari tunggang langgang melompati kaki kursi yang mengapitnya. Dengan cepat dia menaiki tangga seakan hanya dua kali lompatan saja.
Zahira yang tak mampu melihat hantu, hanya bengong melihat tingkah semua orang di depannya. Dia merasa ingin ketawa tapi juga kasihan dengan temannya. Sejak tadi dia berteriak-teriak memanggil temannya namun mereka tak mendengar sama sekali.
Ingin mendekat pun rasanya dia takut sama pria besar di depannya. Meski dia tampak terpojok, tetap saja Zahira ketakutan.
Begitu pria itu pergi, Zahira memberanikan diri mendekati temannya.
Sambil memegang pundak Daniah Zahira mencoba memanggilnya. "Dan...."
"Aaaaa pergiiii Hantuuuu, jangan ganggu akuu, haaaaaa!!!" Daniah semakin menyembunyikan kepalanya diantara lututnya.
Suara Zahira membuat temannya langsung berdiri, tapi karena Zahira sedang membungkuk di atas kepala Daniah, sehingga kepala Daniah langsung menghantam hidung Zahira. Dia pun terjungkang kebelakang.
"AAAAKKKH ASTAGFIRULLAH, AAAKKHHH!" Zahira memegangi hidungnya yang sakit.
Semua temannya tersentak kaget. "ZAHIRAAA!!"
"Maaf Ra, aku ga sengaja, kamu ga papa kan?" Daniah sangat kawatir.
Zahira tak menjawab, dia terus meringis menahan sakit di hidungnya. Belum lagi sakitnya hilang karena berbenturan dengan Pak Khalid tadi siang, kini harus terbentur lagi.
Zahira jatuh terpojok sambil bersandar di dinding. Dia terus meringis tak bersuara. sambil terus mengelus-elus hidungnya, dia berpaling kiri-kanan, berharap sakitnya segera hilang.
Daniah duduk berjongkok dengan wajah cemas karena rasa bersalah. "Ra maafin aku yah, aku benar ga sengaja."
"Ra ngomong dong, kamu benar ga papa kan?"
Zahira melepas tangannya karena merasa ada yang basah. "Aaah darah..." Zahira terbelalak melihat tangannya berdarah. Seperti Zahira, temannya pun tak kalah kagetnya.
"Zahiraaa!"
"Bagaiamana ini?"
__ADS_1
"Ga tau juga, haaaaah kita mau ngapain?" Meta menghentak-hentakkan kakinya karena bingung.
Della sendiri berlari keluar, tapi sampai di luar, dia kebingungan mau ngapain, lalu masuk lagi dan berjongkok di dekat Zahira, "aduuh mau ngapain kita!!" Della mulai menangis.
"Della tenang dulu bisa ga siih!"
Meta yang mondar mandir tak karuan sambil menghentakkan kakinya langsung berhenti mendengar teguran Daniah.
"Ra kita ke kamar dulu yuk!"
Zahira memgangguk lalu berdiri dibantu oleh Daniah. "Dell cari tisu gih!"
Della terbelalak "Aku, sendiri, cari tisu kemana?"
"Sama Meta tuh!"
Meta cuma menggeleng pelan sambil menutup sebagian wajahnya dengan kedua tangannya.
Bukannya mencari tisu, mereka malah ikutan masuk kamar Zahira.
Sesampai di kamar Zahira, Daniah terbelalak melihat Meta dan Della juga di sana. "Lho mana tisunya?"
"Takuut!"
"Bisa ga kita minta bantuan Pak Khalid buat beliin kita gitu, heee aku benar-benar takut."
"Ya ampuun gitu aja takuut sih!"
Mendengar penuturan Daniah, Della dan Meta saling pandang, dengan muka mencibir, mereka menoleh menatap Daniah. " Eeemmmn emang kamu berani?" Daniah bungkam mendengarnya.
Hidung Zahira terus mengeluarkan darah. Mereka semua makin panik tak tahu harus bagaimana. "Gimana dong, Ra telpon Pak Khalid yuuk!"
Zahira mendongak menatap temannya. Sambil menggeleng lemah dia menyumpal hidungnya dengan ujung jilbab.
"Ga usah lah, biar aku berbaring aja, mungkin juga nanti berhenti kok!"
"Zahiraaa!" Suara temannya memanggil begitu lirih. "Aku temani ya Zahira!" Pinta Meta lalu duduk di samping Zahira yang telah berbaring telentang.
Amanda yang melihat kondisi Zahira begitu menghawatirkan, langsung melesat pergi entah kemana.
Pergi kemanakah Amanda?
Bagaimana pula keadaan Zahira nanti?
Simak kelanjutan ceritanya hanya di MISTERI DIBALIK TALI GANTUNGAN.
Jangan lupa vote, like dan komennya yah.
__ADS_1