
Amanda melayang menerobos malam yang kerlap-kerlip, karena banyaknya lampu yang bertebaran di tengah kota.
Tujuannya kali ini adalah rumah Pak Khalid.
Bagaiman Amanda bisa tahu rumah Pak Khalid? Amanda mengetahuinya tadi siang, saat dia hendak kembali ke rumah sakit, dia penasaran kemana Pak Khalid pergi setelah mengantar Zahira.
Sambil mengikuti dari jauh, Amanda ingin memastikan apakah Pak Khalid lelaki baik atau malah lelaki brengsek seperti anak Bu Kos.
Saat Pak Khalid memasuki sebuah rumah mewah, di kawasan perumahan elit daerah Daya, Makassar, Amanda menyelinap masuk tanpa sepengetahuan pemiliknya.
Begitu mengetahui bahwa rumah itu milik Pak Khalid seorang, Amanda tersenyum bahagia lalu segera pergi ke rumah sakit.
Kali ini, Amanda berniat meminta bantuan Pak Khalid untuk Zahira.
Dengan cepat dia masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah, Pak Khalid tengah asik memeriksa makalah yang di setor oleh Mahasiswanya. Saat tengah asik memeriksa, tiba-tiba kepala Amanda menyembul di atas kertas makalah itu.
Dan....
"Aaaa Astagfirullaaaaa..!!,"
Pak Khalid kaget bukan kepalang, dan terlonjak sampai melompat dari kursinya. Namun salah satu kakinya terkait di salah satu kaki kursi, sehingga tubuhnya jatuh terjerembab. Sedangkan kursi yang dikaitnya pun ikut terjungkang. Tentunya istilah 'Sudah jatuh tertimpa kursi pula' menjadi gelarnya saat ini.
"Aaakkkkhhh!" Pak Khalid mengerang kesakitan. Dia tak mampu bergerak karena kursi kayunya agak berat.
Amanda merasa bersalah sekali. Dengan cepat dia memgangkat kursi itu, lalu membantu Pak Khalid berdiri.
Begitu Pak Khalid menyadari siapa yang membantunya, dia berteriak lagi sambil melompat kebelakang. "Aaaa!!" Apa sih mau kamu?" Pak Khalid sudah bersiap untuk kabur. Tapi Amanda mencegahnya. Dia hanya bisa mengelus dada.
Amanda terus mengoceh panjang lebar bahkan sampai teriak-teriak, tapi Pak Khalid sama sekali tidak mendengarnya.
"Amanda maaf, bisakah kamu pake bahasa isyarat, atau kamu menuliskan huruf gitu biar aku bisa tahu apa yang kamu mau?"
Amanda mengangguk cepat. Tangannya pun mulai menari di udara dan Pak Khalid mulai mengejanya.
"Z A H I... Zahira?" Amanda mengangguk
"Zahira kenapa?"
Amanda melanjutkan.
"H I D U...hidupnya?"
Amanda menggeleng
"Baiklah teruskan!"
Amanda malah menunjuk-nunjuk hidungnya. Pak Khalid mengerutkan dahi.
"Hidung Zahira?" Amanda mengangguk lagi.
"Hidung Zahira kenapa?"
Kembali Amanda menulis kata di udara.
"D A R A H...daraaah, hidung Zahira berdarah?" Amanda kembali mengangguk cepat.
__ADS_1
Dengan bahasa tangannya, Amanda mengajak Pak Khalid agar pergi menolong Zahira. Pak Khalid mengangguk setuju.
"Baiklah kita kesana sekarang, ayo!"
Amanda langsung melesat pergi.
Pak Khalid segera memakai jaket lalu masuk dapur mengambil kotak obat, tak lupa mengambil es batu dikulkas.
Dengan cepat dia keluar menuju mobilnya, lalu meluncur membelah jalan raya yang tak pernah sepi.
Sesampai di rumah Zahira, Pak Khalid segera mengetuk pintu.
Di dalam kamar Zahira, keempat jomblowati itu kaget mendengar suara ketukan pintu. "Eeh siapa malam-malam gini ketuk pintu?"
"Tau ah, bukain dong Daniah, kamu kan ga takuut?"
"Ga ah, kamu aja sama Meta!"
Meta terbelalak karena jadi sasaran. "Eeh kok aku?"
"Ya sudah biar aku saja." Zahira lalu bangkit hendak bangun.
Della segera menahan bahunya. "Ga ga usah, biar aku sama Meta aja."
Saat mereka sedang berdebat, pintu rumah mereka sudah terbuka dengan sendirinya. Begitu Della membuka pintu kamar, Pak Khalid sudah ada di ruang tengah. Meta langsung terbelalak.
"Paak, gimana bisa masuk?" Della ikutan bingung, "eh iya ya, padahal rumah udah kita kunci lho tadi."
"Ooh itu, emm," ada keinginan untuk bilang pintu dibuka oleh Amanda, tapi dia takut mereka ketakutan. "Ehhehehe, aku punya kekuatan supra buat buka kunci, hehehee."
Della sama Meta saling pandang lalu angkat bahu. "Eh tapi Pak, ada apa kemari dan itu apaan?"
"Aku dengar Zahira lagi habis celaka ya, hidungnya sampe berdarah?"
Della semakin heran begitu pula dengan Meta. "Bapak tahu dari mana?"
Pak Khalid terdiam sejenak, dia bingung harus jawab apa, karena tidak mungkin bilang kalau Amanda yang menyuruhnya kemari. "Aaahh itu, Mm aku..., ah bagaimana kalau bicaranya nanti aja, aku mau lihat Zahira, dimana dia?"
Daniah dan Zahira menjadi heran dengan percakapan Della dengan seseorang di ruang tengah. Mereka saling pandang lalu mencoba untuk mencari tahu, tapi belum sempat mereka bangkit, Pak Khalid telah masuk ke dalam kamar, diantar oleh Meta dan Della.
"Zahira aku dengar kamu terluka, benar ga?" Sambil duduk di samping Zahira.
Zahira merasa tidak nyaman langsung bangkit, tapi Pak Khalid malah menahan lengannya agar tetap berbaring.
Daniah menjadi heran dengan kedatangan Pak Khalid. Dia menoleh memandangi Della dan Meta mencoba mencari tahu. Dengan mengangguk kecil sambil menaikkan alisnya, dia bertanya dalam diam pada mereka.
Della yang mengerti akan kode pertanyaan itu, hanya mengangkat bahunya tanda tidak mengerti.
Pak Khalid mengulurkan tangan hendak membuka penyumbat hidung Zahira, tapi Zahira malah menjauhkan mukanya. Pak Khalid tersenyum. "Zahira, aku ini Dokter, kamu masih ingat kan?"
Zahira mengangguk, lalu dengan patuh, dia membiarkan Pak Khalid memeriksa hidungnya. Zahira terpaksa memutup mata menahan rasa malu, karena hidungnya disentuh lelaki.
Ketiga gadis jomblo yang berdiri di depan ranjang, kini ikutan meringkuk di dekat Zahira, mereka menyaksikan tangan cekatan Pak Khalid bekerja membersihkan dan mengolesi obat di hidung imut Zahira.
Pak Khalid sesekali menghela napas untuk menetralkan jantungnya yang tak karuan. Wajah mungil dan bulat telur serta hidung mancung yang kecil membuat dadanya berdesir.
Saat mata Pak Khalid tak sengaja menatap mata Zahira yang terpejam, tiba-tiba muncul godaan di hatinya, ingin sekali mengecupnya. Dengan cepat dia menggeleng untuk membuang pikiran kotornya itu.
__ADS_1
Daniah yang sejak tadi memandangi Pak Khalid tak berkedip, heran dengan tingkahnya. "Bapak kenapa menggeleng?"
Pertanyaan itu membuat Pak Khalid gelagapan. "Aa eh ga papa, cuma agak mengantuk aja." Dia tersenyum sambil menarik napas. "hhhhaah, oke selesai."
Sambil menempelkan es batu yang dibungkus plastik dan dibalut kain tebal di hidung Zahira. "Ini tolong pegang baik-baik ya, tahan sebentar, biar hidungnya tidak bengkak."
Zahira langsung membuka matanya. "Makasih ya Pak, sudah datang." Dia pun bangkit dari tidurnya, sambil memegangi es batu dihidungnya.
"Sama-sama Zahira, aku juga senang bisa membantu."
"Tapi Pak bagaimana Anda tahu kalau Zahira lagi sakit?" Pertanyaan Daniah membuat Pak Khalid malah diam dan memandang ke sudut kamar.
Serentak keempat jomblowati ikutan menoleh ke sudut kamar. Akan tetapi tak ada apa-apa di sana. Mereka kembali menatap Pak Khalid.
"Ada apa di sana Pak?" Della langsung merasa curiga.
Pak Khalid menoleh kembali ke mereka. "Emmm kalau aku bilang, apa kalian janji tidak histeris?"
Della langsung memeluk lengan Zahira.
"Nah kan sudah takut duluan?"
"Enggak kok Pak, cerita aja, selama ada Zahira, kita berani kok, hehe." Meta meyakinkan, sementara Daniah mengangguk.
"Amanda yang kasi tahu aku, kalian kenal Amanda kan? Hantu yang tinggal sama kalian itu."
Daniah menggeleng, begitu pula dengan Meta dan Della, tapi Zahira malah mengangguk. Hal itu membuat temannya langsung kaget "Kamu kenaaaal!!" Zahira mengangguk lagi.
"Eh kok bisa?"
"kapan kamu kenal?"
"Jadi hantu tergantung itu yang Amanda? Bukannya Amanda yang selalu ikutin Pak Khalid?"
Berondongan pertanyaan dari Daniah and the gank membuat Zahira tersenyum geli. Lagi-lagi Pak Khalid terlena dengan senyuman itu. Matanya tak berkedip.
"Maaf ya teman-teman, aku ga pernah cerita ke kalian, soalnya kalian pasti histeris lagi."
Temannya hanya diam mendengar penuturan Zahira. Tiba-tiba Meta bertanya. "Ra, kamu juga bisa lihat Hantu?"
Zahira menggeleng pelan, membuat temannya semakin heran "Ga bisa lihat tapi kok kenal?"
Zahira tersenyum lalu menceritakan semua kejadian yang dialaminya tentang mimpi-mimpinya, sampai menemukan tali di kolong ranjangnya.
Mereka semua mengangguk-angguk mengerti. Della yang menyimak, langsung menyela. "Eeiit bentar deh, apa jangan-jangan, Hantu Amanda ada hubungannya dengan Bu Kos dan lelaki tadi?" Della memandangi temannya satu persatu juga Pak Khalid, berharap ada yang berpihak pada pendapatnya.
.
.
.
.
Penasaran dengan kisah selanjutnya?
Silahkan pantengi terus MISTERI DIBALIK TALI GANTUNGAN.
__ADS_1
UP setiap malam hari, agar nuansa horornya bisa sangat terasa.
Jangan lupa vote, like dan komen ya😘😘😘😘😘.