
Gina berputar dan menari merayakan kemenangannya. Sambil tertawa riang, dia memeriksa seluruh ruangan di rumah itu. "Waah sekarang rumah ini akan jadi milikku, sekarang tinggal bagaimana caranya aku merayu Khalid lagi!"
Senyum sumbringahnya melebar saat dia memasuki kamar Pak Khalid. Perlahan dia mendekati ranjangnya. Kemudian dia duduk dengan hati-hati. "Apa mereka sudah tidur bareng di kamar ini?"
Sambil menatap photo Pak Khalid yang terpampang di dinding kamar, Gina merebahkan tubuhnya.
"Sayang, tidak lama lagi, photo pernikahan kita yang akan terpajang di sana, dan aku akan menjadi Nyonya dr.Khalid, waaaahh aku pasti akan pamer ke semua temanku, haha!"
Gina berguling kesana kemari, dengan leluasa.
Setelah puas berguling, dia pun segera bangun. "Sebentar lagi, dia pasti akan datang, biar aku memasak sesuatu!"
Dia pun segera keluar menuju dapur. Akan tetapi saat tiba di bawah, tiba-tiba seutas tali tambang jatuh terjulur mengenai kepalanya.
Gina sangat kesal karena dikejutkan oleh tali itu. "Iis tali apaansih ini!" Dengan keras dia menghentakkan tali itu dan melemparnya.
Gina pun melanjutkan langkahnya menuju dapur. Belum lagi sampai ke dapur, lagi-lagi ujung tali itu menghalangi wajahnya.
"Tali apaansih ini!" Gina menampar tali itu kuat-kuat hingga terayun menjauh. Saat Gina hendak melangkah, kembali tali itu terayun keras ke arahnya dan mengenai wajahnya, "aauu!" Sontak Gina meraih tali itu dan menariknya keras-keras.
Tali itu pun tertarik ke bawah. Tapi seketika itu juga, sebuah benda besar jatuh tepat di depan wajahnya. Gina menjadi semakin kesal. "Haaah apa sih ini!" Seraya mendorong benda tergantung itu dengan keras.
Begitu benda itu melayang ke depan, mata Gina seakan mau keluar dari tempatnya. Sesosok tubuh wanita tergantung dengan leher terikat.
Secepat kilat, Gina berbalik hendak berlari keluar, tapi sayang, tubuh tergantung itu mengayun kembali dengan keras hingga menghantam punggung Gina. "Aaakkhh!" Gina terjerembab ke lantai.
"Hahaahaaah hahahahahhh!"
"Hahahaaaha hahahahaa!"
Suara khas kuntilanak terdengar nyaring di telinga Gina. Dengan gemetar dia berusaha menoleh. "HAAAAAA...NTUU!" Gina berdiri dengan cepat hendak berlari lagi.
Hantu yang tak lain adalah Amanda itu, lagi-lagi menghantam punggung Gina yang hendak kabur. Tak ayal lagi, Gina kembali jatuh terjerembab.
Begitu Gina menoleh, Amanda sudah memasang wajah khasnya. Mata merah melotot dengan lidah terjulur panjang.
"Haa ampun, ampuuuun, ampuuun!"
Gina bersimpuh memohon ampunan kepada Amanda.
Sayang sekali Amanda tidak peduli dengan permohonan Gina. Dia tidak bisa menerima perlakuan Gina pada Zahira dan teman-temannya. Sekali lagi Amanda mendekat dan mengangkat tubuh Gina tinggi-tinggi lalu melepasnya.
"AAAAAAKKH!" Gina terhempas ke lantai. "Aku mohon maaf, ampuun, toloooooong!!!" Gina kembali mencoba untuk kabur. Begitu dia berdiri, dengan cepat dia berlari keluar.
Lagi-lagi Amanda menghadangnya. Gina segera mundur. Saat dia melihat sapu ijuk, dengan cepat Gina menyambarnya dan melemparkannya ke tubuh Amanda.
Gina seakan terkena serang jantung saat tubuh Amanda langsung raib, saat sapu itu melayang kearahnya. Belum lagi Gina sadar, Amanda telah berdiri di depan Gina begitu dekat.
Seketika itu juga Gina lemas tak sadarkan diri.
*********
Pak Khalid yang tengah menikmati waktu istirahatnya, terbangun karena suara Pak Jin yang memanggil-manggilnya. Begitu dia tahu siapa yang mengganggu tidurnya, Pak Khalid pun kesal.
"Haah Pak Jin, bisa ga sih tidak berisik, aku mau istirahat, aku mengantuk banget, huwaaaakkhhh!" Pak Khalid menguap lebar.
"Ada masalah di rumah kamu, sebaiknya kamu ke sana sekarang!"
"Haah masalah apa sih? apa Adrian sama Daniah berbuat mesum, haah?" Pak Khalid berguling dengan malas di kasurnya. Kembali dia memejamkan matanya.
"Perempuan yang semalam merayu kamu, mengacau di rumah kamu!"
Mata Pak Khalid langsung terbelalak. "Gina?" Dengan cepat dia memutar tubuhnya menjadi telentang.
"Iya!"
Pak Khalid langsung melompat dan berdiri. "Apa yang dia lakukan Pak Jin? kenapa tidak membantu Zahira?" Pak Khalid melompat turun dari ranjang.
"Kamu lupa kalau dia tidak ingin mendapat bantuan kami?"
"Terus apa yang terjadi?" Pak Khalid memasang bajunya.
"Sebaiknya lihat sendiri!" Jin itu pun langsung menghilang.
"Hei pak Jin, jangan kabur dulu! aakkh dasar Jin, datang tak dijemput, pulang tak diantar!" Umpat Pak Khalid sambil meraih ponsel dan kunci mobilnya.
Begitu sampai di luar rumah, Bu kos yang lepas dari penjagaan segera berlari dan bersimpuh di kaki Pak Khalid. "Pak aku membunuhnya Pak, aku pembunuh, tangkap aku Pak, ayo tangkap aku!"
Pak Khalid tak bisa berbuat apa-apa. Dia sungguh tidak tahu harus bagaimana melihat kondisi Bu kos saat ini. Sudah 2 kali dia dimasukkan ke rumah sakit jiwa, akan tetapi segera dipulangkan lagi, karena menurut hasil analisa, dia tidak gila. Akan tetapi begitu sampai di rumah, kelakuannya seperti orang gila.
__ADS_1
Pernah pula dia dibawa ke kantor polisi, tapi sama saja karena Pak Polisi malah menyarankan agar dibawa ke RSJ.
Untung saja, keluarga Bu kos yang selalu merawatnya saat ini, segera datang dan membawa paksa Bu kos. Pak Khalid pun bernapas lega. Dengan cepat dia melajukan mobilnya menuju rumah Zahira.
Sesampainya di sana, Pak Khalid berlari-lari kecil ke rumahnya. Perlahan dia mendorong pintu. Ternyata tidak terkunci. "Zahira!" Tidak ada sahutan.
"Daniah! Della! Meta!" Tetap saja tidak ada suara. Pak Khalid pun segera berlari masuk ke ruang tengah.
Karena tidak menemukan siapa pun, Pak Khalid berlari naik ke atas. Melihat pintu kamar yang ditempati Zahira tertutup, dia segera membukanya.
"Zah..." Pak Khalid tak mampu berkata-kata saat melihat kamar itu kosong melompong. Tubuh Pak Khalid seakan lunglai memasuki kamar.
Dadanya berdebar kencang saat dia tidak menemukan selembar pun pakaian disana. Begitu dia membuka lemari, dia langsung jatuh terduduk, tatkala melihat lemari itu sudah kosong.
"Zahira apa yang terjadi?"
Tangan Pak Khalid mengepal kuat, dengan gigi gemeretak. "Gina apa yang sudah kamu perbuat!"
Gina yang tengah pingsan di dapur, perlahan tersadar saat mendengar suara orang menggil-manggil. Begitu dia membuka mata, dengan cepat dia bangkit dan melihat sekeliling. Begitu menyadari Hantunya sudah pergi, Gina segera berlari keluar.
Pak Khalid yang turun dengan terburu-buru dari atas, hendak masuk ke dapur, langsung bertabrakan dengan Gina yang berlari keluar. "Aaakkhhh Hantuuu!"
Di teriaki Hantu, Pak Khalid tidak terima. Tanpa sadar, dia menampar wajah Gina begitu keras.
"Aakhh!" Tubuh Gina terhuyung ke samping dan terjatuh. Dengan cepat dia mendongak sambil memegang pipinya.
Begitu sadar siapa yang menamparnya, dia segera menangis sendu dan meratap. "Sayang, kenapa kamu tega menampar aku, heks heks!"
"Gina, kemana semua orang yang tinggal di sini?" Mata Pak Khalid sudah melotot.
Gina bangkit seakan tidak bersalah. "Sayang, disini hanya ada aku, siapa yang kamu maksud?" Dia mencoba mendekat.
"Jangan berlagak pikun, kamu sangat tahu siapa yang aku maksud!"
"Sayang aku benar-benar tidak mengerti!"
"Ooh tidak mengerti, baiklah, sebaiknya kamu pergi sebelum aku memanggil polisi!"
"Sayang apa maksud kamu?" Gina mencoba meraih kedua tangan Pak Khalid. Tapi sayang Pak Khalid mundur, hingga tangan Gina meraih angin.
"Aku kasih dua pilihan sekarang, pergi dari sini atau aku lapor polisi?"
"Kamu tidak merasa salah? baiklah silakan bertanya pada polisi nanti apa salah kamu!" Pak Khalid meraih ponselnya.
"Sa...sayang, aku bisa jelasin ini, oke!"
"Jangan pernah memanggil aku dengan sayang, aku benar-benar muak!"
"Say..."
"Cukup Gina! PERGII!" Mata Pak Khalid sudah memerah karena menahan marahnya.
Selama hidupnya, baru hari ini dia meninggikan suaranya apalagi sampai memukul perempuan. Bahkan ketika Gina memutuskanya dulu, dia tidak bisa marah.
Pak Khalid dibesarkan dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Maminya wanita yang bertutur kata lembut, dan ramah. Meskipun dia telah yatim sejak masih kecil, akan tetapi tidak pernah sekalipun dia dibiarkan oleh Maminya.
Maminya telah mengajar dan mendidiknya agar tidak berlaku kasar dan temperamental. Sehingga Pak Khalid tumbuh menjadi lelaki yang lembut dan ramah. Tak jarang teman-temamnya bahkan mengejeknya cowok gemulai semasa sekolah.
Gina yang mendengar suara bentakan Pak Khalid terdiam seribu bahasa. Saat bibirnya bergerak hendak bersuara, Pak Khalid membentaknya lagi.
"Jangan pernah berharap aku mau kembali sama kamu, asal kamu tahu, aku sudah melamar Zahira, jadi pergi dan jangan pernah mengangguku lagi, kalau tidak, aku pastikan, kamu akan berahir di penjara!"
Dengan lemas Gina melangkah keluar. Seluruh tubuhnya yang kesakitan dihajar Hantu, kini makin sakit, karena mendapat bentakan dan amarah dari Pak Khalid. Dada Gina sesak karena penyesalan yang mendalam.
Pak Khalid mengikutinya dari belakang. Begitu sampai di luar, Pak Khalid segera mengunci pintu rumahnya. Dengan cepat dia masuk ke dalam mobilnya tanpa peduli dengan Gina yang masih menatapnya sedih.
********
Adrian yang telah selesai makan lebih dulu, diam-diam mengirim pesan ke Pak Khalid. "Haah untung aja, semalam aku sempat meminta nomor Pak Khalid" Batinnya.
Adrian merasa ada yang aneh dengan perempuan tadi. Dia tidak bisa percaya meski dia melihat dengan mata sendiri photo mesra mereka.
Adrian masih ingat dengan baik bagaimana dia melihat Pak Khalid belajar mengaji subuh kemarin.
'Bapak rajin mengaji juga ya?"
"Iya, aku sedang belajar!"
"Untuk apa belajar kalau sudah bisa baca Pak?" Adrian heran.
__ADS_1
"Untuk persiapan melamar Zahira, hehe!"
"Hhaa kok bisa?"
"Aku takut saat melamar nanti, bacaanku tidak lancar terus ditolak, hehe!"
"Oo aku juga mau belajar dong Pak!"
"Boleh, tapi kalau kamu minta aku yang ajar, aku jawab tidak bisa, aku tidak punya waktu, belajar sama Zahira aja!"
Adrian menarik napas mengenang semua itu. Dengan cepat dia menuliskan pesan dan mengirimnya segera. Saat Adrian hendak kembali ke dalam, tak sengaja melihat mobil Pak Khalid berhenti di depan.
Saat Pak Khalid hendak turun, ponselnya malah berdering. Pesan Adrian ternyata baru masuk. Terpaksa Pak Khalid berhenti sejenak meski sebelah kakinya telah diturunkan dari mobil.
Adrian yang melihatnya segera berlari menyambutnya. "Akhirnya Anda datang Pak!" Adrian bersemangat.
"Adrian apa yang terjadi?" Pak Khalid segera turun. Dia pun menutu pintu mobil perlahan.
"Anu Pak, tadi ada perempuan yang ngaku-ngaku tunangan Anda, terus mengusir kita semua, sebenarnya aku menolak percaya, tapi ternyata dia punya photo mesra Anda, kasihan Zahira Pak!"
"Ada apa dengan Zahira?" Seraya melangkah nenuju rumah.
"Dia menangis terus dari tadi!" Adrian mengikutinya dari belakang.
Pak Khalid membuka pintu dengan perlahan. Tapi tak ada suara yang terdengar.
Begitu dia masuk dan melongok ke dalam kamar, tampak Zahira tengah berbaring dengan mata terpejam. Akan tetapi air matanya terus saja mengalir.
Daniah and the gank terkejut dengan kedatangan Pak Khalid tapi segera dikode oleh Pak Khalid agar tidak berisik. Pak Khalid meminta mereka keluar dari kamar.
Begitu di luar, Daniah sudah memasang mode sewot, "Pak bagaimana bisa seperti ini?"
"Kita bicara di halaman ya!" Pinta Pak Khalid dan segera keluar. Mereka pun mengikutinya dari belakang.
Setelah merasa agak jauh dari rumah, Pak Khalid berhenti. Yang lain pun ikut berhenti. Mereka sudah tidak kuasa lagi menahan rasa penasarannya.
"Perempuan itu, mantan aku!"
Mereka semua terbelalak. "Haah jadi..." mereka saling pandang.
"Dia meninggalkan aku waktu dia tahu aku berhenti jadi dokter dan malah menjadi dosen."
"Whaat!" Mereka tampak kesal.
"Tapi kemarin dia melihat aku kembali jadi dokter, dia pun memohon agar kami balikan!" Lanjut Pak Khalid.
"Iiih perempuan gila!" Umpat Meta.
"Haah dan semalam, dia sengaja datang ke ruangan aku untuk merayuku dengan mantra pemikat, tapi sayang aku malah bisa melihat isi mantranya, jadi semua gagal!"
"Hhooohh jadi hari ini, dia sebenarnya pasti datang mau merayu Bapak lagi kan, makanya pake baju kurang kain begitu!" Seru Della sewot.
"Yaah aku minta maaf karena gara-gara mantanku itu kalian sampai kesusahan!"
"Bukan kami masalahnya Pak, tapi Zahira, dia sepertinya sudah patah hati Pak!" Daniah mengingatkan.
"Iya Pak, sebaiknya Bapak ke dalam dulu jelasin ke Zahira, biar kami cari angin sambil jalan-jalan!" Saran Adrian.
"Baiklah, oh ya ini kunci rumah, sebaiknya kalian pulang, sebentar lagi malam, kalian ga mungkin tidur di sini!" Seraya menyerahkan kunci rumah pada Adrian.
"Baiklah Pak, semoga berhasil!"
"Pak Semangat ya!"
"Pak jangan menyerah sampai Zahira maafin Bapak ya!"
"Kita dukung Bapak kok, semangat!"
Pak Khalid tersenyum mendapat dukungan dari mereka. Dia hanya bisa mengangguk pelan. Begitu mobil Adrian melaju pergi, Pak Khalid pun segera masuk ke rumah.
.
.
.
.
Semoga memuaskan ya😆😆😆
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan vote ya😘😘😘😘😘😘