Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
Part 66. Salah paham


__ADS_3

Hidangan beraneka macam terhidang di atas meja. Tampak sangat nikmat dan menggugah selera. Aroma masakan pun merasuki hidung membuat perut langsung berkoar-koar minta jatah. Air liur seakan tak mau kalah ikutan meleleh.


Sayang semua kenikmatan yang terpajang di depan Zahira, justeru tidak mampu menggugah seleranya sama sekali, akibat rasa canggung dari suasana di depannya. Alfian sendiri terus tertunduk tak berani menatap wajah Ayahnya.


Saat ini, Zahira merasa seperti bukan tamu, melainkan seorang tersangka sebuah kasus berat yang tengah diintrogasi.


Ayah Alfian menatap Zahira lekat-lekat. "Jadi kamu ini orang mana?"


"Saya orang Soppeng Om!"


"Pekerjaan orang tuamu?"


Zahira terdiam sejenak untuk berpikir. "Abi cuma Petani Om, Umi juga cuma Ibu Rumah tangga!" Zahira sengaja menyembunyikan kebenaran tentang orang tuanya karena dia tahu kalau dirinya saat ini sedang diintimidasi.


Dia tidak ingin menyombongkan keadaannya kepada keluarga Alfian. Zahira tahu jika Alfian hendak mengenalkan dirinya ke keluarganya sebagai pacar bukan sebagai teman biasa. Sebab itulah dia tidak ingin menonjolkan dirinya, agar orang tua Alfian tidak terkesan sehingga menolak dirinya.


Zahira dari sejak awal tidak pernah punya perasaan apa-apa dan tidak pula mengerti apa-apa tentang cinta, sehingga sebisa mungkin Ia ingin menolak Alfian dengan halus. Apalagi Alfian tengah dijodohkan dengan Yeni. Zahira tidak mau dianggap memancing di air keruh.


Pernyataan Zahira tentang pekerjaan orang tuanya memang bukanlah kebohongan. Karena Abinya memang punya sawah dan ladang serta perkebunan cokelat, juga peternakan.


Ayah Alfian tampak manggut-manggut mendengar jawaban Zahira. "Kalian dekat sudah lama?"


Alfian mengangkat wajah hendak menjawab, tapi malah mendapat tatapan sinis, membuatnya diam tak berkutik. Alfian kembali tertunduk.


"Belum lama Om, kami kenal pas waktu baru kuliah!"


"Baru kenal tapi sudah pacaran?"


Alfian langsung terdongak mendengar pertanyaan Ayahnya yang dianggap kelewatan. "Ayah!"


"Ayah mau dengar jawaban Zahira bukan kamu!"


"Maaf Om, sepertinya ada kesalahpahaman disini, aku sama Kak Fian ga pacaran Om, kami cuma teman!"


"Benarkah?"


"Iya Om, maaf kalau agak lancang, tapi aku ke sini karena Tante yang undang kemarin, dan aku juga sudah janji untuk datang!"


"Dan mmm aku dilarang pacaran sama Umi dan Abi, makanya aku ga mau punya pacar, kalau sampai ketahuan pacaran, Abi pasti langsung menyuruh aku pulang kampung!"


Mendengar itu, Alfian langsung menganga. Wajahnya memerah menahan malu serta cemas. "Zahira aku...aku tidak bermaksud untuk...."


Jangankan Alfian, Bu Dewi pun tak kalah kagetnya. Dia benar-benar malu saat ini sama Zahira. Dalam pemikiran Bu Dewi Zahira sama Alfian sudah pacaran, kenyataannya mereka sama sekali belum pacaran.


Pak Gunawan pun langsung merasa bersalah, karena telah salah menilai orang. Dengan sedikit salah tingkah, Pak Gunawan mencoba meminta maaf pada Zahira.


"Ehem, Ibu kok tidak bilang kalau mereka cuma teman, Ayah kan jadi salah paham, ehem, emm maafkan Om ya!"


Zahira tersenyum dan sedikit bernapas lega, karena wajah Pak Gunawan sekarang tampak lebih santai. " Iya Om, ga papa kok, aku juga tidak begitu ambil hati!"


Bu Dewi segera menengahi biar suasana jadi lebih baik. "Oh ya dari tadi ngomong-ngomong terus nih, gimana kalau kita langsung makan aja, keburu dingin entar!"


"Assalamu alaikum!!"


Suara Fadil membahana dari luar.


Serentak semua orang menjawab. "Wa alaikum salam!"


Pak Gunawan dengan cepat memanggil Fadil untuk ikutan makan. "Dil sekalian sini kita makan bareng!"


"Duluan aja Yah, capek banget, lagian tadi aku makan dikantin!" Teriak Fadil masih dari luar sambil berlari naik ke kamarnya.

__ADS_1


"Ayo Zahira, kita makan yuk!" Ajak Bu Dewi yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Zahira sambil tersenyum.


Alfian berusaha keras menahan rasa kecewa di hatinya. Rasa pahit dan getir merambah jiwanya. Makanan enak di piringnya terasa hambar dan pahit di tenggorokannya. Dia pun menyudahi makannya dengan cepat.


Melihat Alfian cepat selesai, Bu Dewi menegurnya, "Fian kok makannya dikit?"


"Kebelet Bu, aku ke kamar dulu!"


"Lho kebelet malah ke kamar?" Bu Dewi heran.


"Ke kamar kecil maksudku!" Sambil berlalu pergi.


"Zahira kamu nambah ya makannya!"


Zahira cuma tersenyum sambil mengangguk " makasih Tante ini juga sudah banyak" dan meneruskan makannya sampai isi piringnya habis.


Alfian segera masuk ke kamarnya sambil melayangkan tinjunya ke udara. "Haah kenapa Ayah harus merusak semua rencanaku!" Gerutu kesal Alfian yang tak kedengaran keras karena giginya terkatup rapat.


Dengan kesal dia menghempaskan tubuhnya dengan keras di kasur.


Sejak awal Alfian berencana menembak Zahira di depan Ibunya agar Zahira tidak dapat menolaknya. Dia pikir dengan kehadiran Ibunya bisa membantu meyakinkan Zahira agar menerima cintanya.


Semua harapan Alfian kini pupus gara-gara kesalahpahaman Ayahnya, atau lebih tepatnya intimidasi Ayahnya. Dada Alfian terasa sesak. Tanpa disadari mata Alfian memanas, seakan ada air yang tergenang di sana.


Dengan keras dan berat, Alfian mencoba menarik napas agar sesak di dadanya bisa berkurang dan air matanya tidak jadi tumpah.


Terdengar suara ketukan pintu di luar kamarnya. "Alfian, kamu di dalam?"


"Ya Bu, sebentar ya, aku lagi ganti baju!" Balas Alfian.


Dengan terburu-buru, dia mengganti bajunya lalu keluar.


"Baik Bu!" Dengan gontai Alfian turun ke bawah menemui Zahira di ruang tamu.


"Maaf ya Ra, tadi bajuku sedikit basah waktu habis di kamar kecil, makanya aku ganti dulu!" Alfian beralasan.


Zahira cuma tersenyum


"Ayo aku antar kamu pulang ya!"


"Baik Kak, Om, Tante aku pulang dulu, assalamu alaikum!"


"Waalaikum salam, hati-hati di jalan ya!" Ucap Bu Dewi sambil mengantar mereka sampai di pintu.


Selama perjalanan Zahira dan Alfian tetap diam. Lama Alfian menimbang antara mau bicara atau tidak, lalu dia menetapkan hati untuk bersuara.


"Zahira, aku minta maaf soal yang tadi, aku benar-benar tidak menyangka kalau Ayah akan bersikap begitu sama kamu!"


Zahira menoleh sebentar " ga papa kok Kak, wajarlah kalau orang tua mau tahu banyak soal teman anaknya, orang tuaku juga gitu kok!"


Alfian sontak menoleh, "Maksud kamu?"


"Iyaa Abi sama Umi ga bakal ngizinin aku buat pacaran, jadi kalau Umi sama Abi tahu aku ada teman lelaki, ya pasti tanya banyak dan macam-macam, masih mending Ayah Kak Fian, kalau Abi eeehhh, sudah bakal bikin orang terbirit-birit deh pas lihat tatapannya!"


Nyali Alfian langsung ciut, "apa Abi kamu itu killer orangnya?"


"Hahaha sangat killer sampe ga ada orang yang mau sembarang menegurnya, aku aja takut banget sama Abi, biasanya aku cuma ngadu dan minta sama Umi!"


Alfian diam tak bersuara. Dalam hatinya bertanya-tanya seperti apa keluarga Zahira sebenarnya. Dia hanya berharap jika nanti saat KKLP di kampung Zahira, dia bisa mengenal mereka lebih dekat.


Tak terasa mereka pun telah sampai di depan rumah Zahira. Zahira langsung turun tanpa menunggu dibukakan pintu oleh Alfian, walaupun Alfian semula punya maksud demikian. Karena Zahira telah membuka pintu terpaksa dia mengurungkan niatnya.

__ADS_1


Begitu mobil Alfian berlalu pergi, Zahira masuk ke rumahnya. Perlahan dia mengetuk pintu. Beberapa kali dicoba tapi tak seorang pun yang muncul membuka pintu.


Dengan terpaksa, Zahira memutar ke samping dan naik ke tangga menuju lantai dua. Barulah dia turun ke bawah dimana kamarnya berada. Dengan cepat dia melaksanakan sholat duhur. Setelah itu dia pun beristirahat.


Baru saja dia merebahkan diri di kasur, ponselnya berbunyi. Dengan malas dia mengangkatnya.


*"Halo, assalamu alaikum?"*


*"Wa alaikum salam, kamu sudah makan Ra?"*


*"Heem?"* Zahira mengerutkan kening, curiga dengan suara yang mirip Pak Khalid, dia pun memperhatikan nama pemanggilnya. Zahira langsung terlonjak bangun saat tahu yang menelpon benar Pak Khalid.


*"Lho Ra, kok heeemm?*


*"Eh iya Pak, sudah, tadi di rumah Kak Alfian!"*


*"Ooh udah makan sama pacar kamu ya, yaa padahal aku juga baru mau ngajakin kamu makan!"*


*"Iih Bapak apaan, siapa yang pacaran, aku sama Kak Fian cuma teman doang kok Pak!"*


*"Eh maaf kalau gitu, aku salah paham ya ternyata, maaf ya Zahira, kamu ga marah kan?" *


*"Iya Pak aku ga marah kok Pak!"*


*"Lagi ngapain sekarang?"*


*"Ini cuma lagi istirahat aja di kamar!"*


*"Aku bawain cemilan ya!"*


*"Eh ga usah Pak, aku ga mau merepotkan!"*


*"Ga kok, lagian aku sekalian bahas soal Amanda!"*


*"Eemm tapi Pak, aku...eee...cuma sendirian di rumah, nanti dikira ada apa!"*


*"Ga usah kawatir, nanti pintu ga usah di tutup!"*


*"Masalahnya pintu rumahku terkunci, Daniah dan yang lain belum pulang, aku ga tahu mereka kemana!"*


*"Oh ya sudah, nanti kalau mereka udah pulang aku ke situ ya!"*


*"Iya deh Pak, aku istirahat dulu ya Pak, assalamu alaikum!"*


*"Wa alaikum salam!"*


Zahira menutup telponnya lalu kembali berbaring. Alhasil berkat suara Pak Khalid di telpon tadi, jantung Zahira sampai sekarang tak mau diajak kompromi. Dadanya terus saja berdebar seakan mau mengeluarkan isinya.


Beberapa kali Zahira berguling tapi tetap saja tak mau berhenti. Akhirnya dia pun memilih kembali berwudhu dan berdzikir agar pikirannya kembali jernih. Tak lama kemudian dia pun terlelap dan terlena dengan nyenyak.


.


.


.


Ketemu lagi lain waktu.


Ingat likenya yah😘😘😘😘😘😘.


Komen dan vote jangan lupa😆😆😆😆

__ADS_1


__ADS_2