
Sesampai di kampus, mereka tidak langsung masuk kelas, melainkan masuk ke kantin. Sebagaimana janji Zahira kalau dia akan mentraktir mereka sarapan.
Tak jauh dari mereka, mata Yeni melotot memandangi Zahira yang baik-baik saja tanpa sakit sedikit pun. Padahal masih sangat nyaring di telinganya janji Mbah Dukun kemarin saat ditemui di rumahnya. Kalau hanya dengan sekali sentil saja Zahira tidak akan berkutik lagi.
Begitu payahnya Yeni saat mencari dan menemukan tempat tinggal Mbah Dukun itu, hanya dengan harapan bisa membuat Zahira kapok dan tau diri agar Zahira tidak mendekati Alfian lagi.
Setelah akhirnya dia bisa menemukan Dukun sakti, dia sudah sangat senang sehingga bela-belain datang ke kampus meski tak ada mata kuliah. Demi mengetahui kabar angin tentang Zahira. Akan tetapi apa yang dilihatnya sungguh jauh dari pengharapan.
"Eeeggghhh, masa iya sih dia masih sehat- sehat saja?" Yeni geram.
"Ya kan udah kubilangin ga percaya, dia itu anak alim, ga bakal mempan sama santet." Sergah Nova.
Hah tidak bisa dibiarkan, aku harus ke rumah Mbah dukun lagi." Yeni melangkah pergi.
Nova ternganga mendengar ucapan temannya itu. "Sadar dong Yeni, sadar!" Sambil mengikuti Yeni. Tapi Yeni tidak perduli dengan perkataan Nova. Dia terus saja melangkah pergi menuju jalan raya.
Nova berlari-lari kecil berusaha mengimbangi langkah Yeni. Dia hanya bisa menoleh memandangi temannya itu. Kemudian menghela napas sambil geleng-geleng kepala. Dia tahu benar, kalau Yeni tidak akan pernah bisa mendengar nasihat orang lain.
Baru saja Yeni sampai di jalan raya, mobil Honda Jazz milik Diana berhenti tepat di depannya. Dengan perasaan dongkol Yeni berdiri menatap mobil Mama tirinya yang lebih seperti Kakaknya. Mengingat usia mereka hanya terpaut beberapa tahun saja.
Pintu mobil terbuka, Diana keluar dari mobil sambil tersenyum pada Yeni.
"Pada mau kemana nih?"
Yeni melengos sambil membuang muka.
Nova tersenyum pada Diana mendengar pertanyaannya. "Kita mau jalan-jalan, habisnya hari ini ga jadi kuliah, hehe."
Yeni segera menarik lengan Nova mencoba menjauh. Nova terpaksa mengikuti Yeni. Diana hanya mengerutkan kening. Saat melihat Alfian datang dengan motornya, Diana memanggilnya.
"Hai Alfian!!"
Alfian menoleh lalu berhenti seketika.
"Tante Diana!!"
Dia pun segera menepikan motornya lalu turun hendak menemui Diana.
Yeni yang mendengar Alfian memanggil Diana tante, langsung menoleh. Begitu pula dengan Nova. Mata mereka terbelalak saat Alfian dan Diana berpelukan dengan erat. Tanpa sadar mereka langsung saling pandang masih dengan mata terbelalak.
Perlahan Yeni mendekat dengan wajah penuh tanda tanya. "Eh Fian, lo kenal sama dia?"
Alfian melepas pelukannya, lalu menatap Yeni sambil tersenyum. "Iyalah, dia kan tante aku."
Mulut Yeni menganga, Nova pun ikutan menganga tapi cepat dibungkamnya.
__ADS_1
"Eh kok bisa sih?" Yeni masih tidak percaya. "Iya kok bisa?" Nova ikutan bertanya.
Diana hanya tersenyum melihat Anak tirinya itu begitu kaget.
"Apa kalian satu kampus?" Diana masih tersenyum.
"Iya Tante, kami satu kelas malah,"
Yeni hanya melongo. "Tapi gimana ceritanya, dia tante kamu tapi umurnya?"
"Hahaha nanti aja ceritanya, asal kamu mau ikut aku jalan-jalan." Diana tertawa renyah melihat wajah penasaran Anak tirinya itu.
"Tapi Nyonya, Yeni takut naik mobil kalau penumpangnya dikit." Nova mencoba menjelaskan ke Diana perihal fobia yang diderita temannya itu agar Diana tidak salah paham.
Diana mengangguk kecil mendengar penjelasan Nova. "Ya sudah kalau begitu, selamat penasaran aja yah."
Yeni dan Nova hanya bisa saling pandang.
Diana kembali menatap Alfian. "Eh Fian, Ibu kamu ada ga di rumah, tante baru mau ke sana?"
Alfian mengangguk mengiyakan pertanyaan Tantenya. "Iya tante, Ibu selalu ada kok di rumah."
Yeni dan Nova semakin lekat saling pandang tanpa mengeluarkan suara.
"Yeni, aku duluan yah, kapan-kapan aku cerita soal aku dan Fian, kalau kamu udah mau baikan ma aku, hehehe."
Yeni hanya bisa mencibir tak bergeming dan tanpa suara. Daniah pun masuk ke dalam mobilnya kemudian melaju pergi.
Yeni dengan cepat berpaling dan memandangi Alfian dengan sorot mata tajam. Alfian hanya mengangkat satu alisnya. "Ada apa?"
Yeni perlahan mendekatinya. "Ceritakan soal Diana, sekarang!" Alfian hanya tersenyum lalu menganngguk.
"Diana itu adik Ibuku se Bapak tapi tidak se Ibu. Waktu Kakek meninggal, Ibunya menikah lagi setelah dua tahun menjanda." Yeni terdiam selama penjelasan Alfian.
"Terus bagaimana bisa Diana menikah dengan Papaku?" Alfian hanya tersenyum mendengar pertanyaan Yeni. "Nanti tanya sendiri lah, kan tadi dia udah janji, daah aku masuk dulu!" Alfian melangkah meninggalkan Yeni dan Nova yang terbengong-bengong.
Melihat Alfian pergi, Nova segera berteriak.
"Eeeh bukannya ga ada kuliah?"
"Aku mau ketemu dosen!" Alfian melambaikan tangannya tanpa menoleh.
Tiba-tiba Nova terbelalak sambil tersenyum sumbringah.
"Waahhhh pucuk dicinta ulam tiba nih."
__ADS_1
Yeni mengerutkan kening, "Maksud kamu?"
Nova nyengir kemudian menggandeng tangan Yeni berjalan.
"Aduuh Yeni, masa ga ngerti juga sih, kalau bener Diana itu Tantenya Alfian, berarti peluang kamu deketin Fian besar dong, yah meskipun resikonya kamu harus mau akur sama Nyonya."
Yeni hanya bengong memikirkan penjelasan Nova. Dengan pasrah Yeni mengikuti langkah kaki Nova yang menggandengnya. Naik angkot pun dia tetap diam tanpa protes sama sekali. yang dia pikirkan sekarang hanyalah bagaimana caranya nanti dia harus akur dengan Diana yang sudah dimusuhinya.
Nova senyum-senyum sendiri melihat Yeni yang bengong dari tadi, hingga tidak sadar kalau angkot yang ditumpanginya bukan mengarah ke luar kota melainkan menuju ke rumahnya sendiri. Nova terus tersenyum membayangkan murka Yeni katika nanti dia tahu kalau dia tidak ke rumah Mbah Dukun.
Saat angkot berhenti, Nova menggamit lengan Yeni yang masih bengong.
"Hei udah nyampe nih, ayo turun!"
Yeni tersentak kaget, lalu mengedar pandang ke sekeliling.
"Eh ini dimana Nov?"
Nova tertawa mendengar pertanyaan Yeni sambil segera turun. Diikuti Yeni yang masih bingung.
"Hahahaha ini di rumah lah Yen."
Yeni memberengut sambil membayar angkotnya. Yeni jadi sewot merasa ditipu oleh Nova.
"Nova kenapa malah pulang, bukannya kita mau ke rumah Mbah...." Yeni segera menutup mulutnya saat menyadari suaranya terlalu besar. Dia takut ketahuan kalau dirinya berhubungan dengan Mbah Dukun.
Nova hanya tersenyum sambil berjalan masuk pekarangan diikuti Yeni yang masih kesal.
"Ngapain juga kita kesana kalau ternyata ada jalan yang lebih bagus dan lebih aman buat pedekate."
Yeni hanya mengerucutkan bibirnya mendengar seloroh Nova. Dengan rasa dongkol dia melangkah dengan cepat meninggalkan Nova yang masih tetap tersenyum penuh kemenangan. Nova benar-benar merasa sangat senang karena niat buruk Yeni berhasil dia gagalkan.
Nova kemudian melangkah masuk dengan perlahan sambil melenggak-lenggok penuh rasa gembira. Sementara Yeni sudah duduk dengan santai di ranjang empuknya. Dia masih saja mengenang kejadian yang sangat mengejutkan tadi. Sampai saat itu pun dia masih tidak percaya dengan apa yang dialaminya.
.
.
.
.
Sampai ketemu di episode selanjutnya.
Jangan lupa tinggalkan like, vote dan komennya jika kalian menyukai ceritaku...😘😘😘😘😘😘😘😘
__ADS_1