Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
Part 78. Dosen atau Dokter


__ADS_3

Sepeninggal Yeni, Abi Zahira keluar untuk menerima telpon. Daniah and the gank langsung bernapas lega.


"Zahira, kamu tetap sholat kan?" Tanya Uminya kemudian. "Iya Umi, tapi cuma duduk, soalnya diinfus."


Uminya senyum, ga papa sayang, asal tetap sholat aja."


"Zahira habis ini, kamu mau tinggal dimana lagi?"


Zahira melongo mendapat pertanyaan dari Tantenya. Mau jawab belum tahu, dia takut disuruh tinggal lagi sama dia. Tapi mau bilang sudah ada, belum tentu juga Pak Khalid mau menyewakan rumahnya.


Della yang sejak tadi cuma menyimak, langsung menyela. "Eeh maaf Tante, kalau soal rumah, kami sudah ada kok, jangan kuatir!"


Spontan semua menoleh. Zahira mengerutkan dahi menatap Della yang cuma dibalas dengan senyum kecut.


"Ooh baguslah, dimana rumahnya?" Lanjut Tante Zahira.


"Ee di sekitar situ juga Tante, soalnya kami ga mau terlalu jauh dari kampus."


"Apa kalian tidak takut sama orang itu lagi?" Tanya Tante yang satu lagi.


"Zahira, pokoknya mulai sekarang, kamu ga boleh tinggal ngekos!" Uminya ketus.


Meta yang lagi makan hampir tersedak, sedangkan Daniah yang tadinya bersandar langsung tegak. Mereka saling pandang dengan mata melebar.


Della tak kalah kagetnya. "Ta...tapi Tante, kami...!" Matanya melebar.


"Maaf Nak, kalau kalian mau menyewa silahkan, tapi Zahira tidak boleh ikut kalian, kami tidak mengizinkan lagi!"


Zahira memberengut, "Ummyy!"


"Zahira, kalau membantah Abi resikonya pulang kampung, mau?" Zahira terdiam. Air hangat jatuh membasahi pipinya.


Abinya kembali ke dalam ruangan. "Miy, teman-teman Aby pada mau datang katanya, mungkin entar habis isya!"


"Oh ga papalah, oh ya Biy, apa Zahira boleh tinggal sama mereka lagi?" Sambil menatap suaminya penuh harap.


Abi Zahira duduk di tepi ranjang. "Boleh, tapi bukan di kontrakan.!"


"Maksud Abiy?" Zahira mengernyit.


"Nanti Abiy belikan perumahan yang dekat dengan kampus, kalian bisa tinggal bareng, jadi teman kamu ga perlu keluar uang sewa!"


Daniah dan Meta kembali saling pandang sambil membekap mulutnya. Dalam hati mereka terkagum-kagum. "waah gilaaa, Zahira beneran tajir melintir, apa mungkin Zahira malah lebih kaya dari Kak Yeni?" Batin Daniah.


*****


Waktu bergulir tak terasa, kini waktu magrib datang menjelang. Abinya Zahira bersama Umi dan Tantenya telah berpamitan hendak ke mesjid untuk sholat.


Seperti hari sebelumnya, Pak Khalid selalu datang menjenguk jika telah petang sekalian menjaga mereka sepanjang malam. Namum saat Pak Khalid membuka pintu, tampak Zahira sedang sholat di tempat tidurnya. Hingga dia urung buat masuk.


Melihat kedatangan Pak Khalid, teman-teman Zahira langsung panik, "Dan bagaimana ini, Pak Khalid datang, kalau ketahuan gimana?" Meta jadi tegang demikian pula Daniah.


Begitu Zahira menyelesaikan Sholatnya, Pak Khalid langsung masuk.


"Assalamu alaikum?" Kening Pak Khalid mengerut melihat tatapan cemas di wajah gadis-gadis itu. Termasuk Zahira. 'A...alaikum salam Pak!"


"Ini ada apa ya? kelihatannya tegang banget, apa aku kelihatan menyeramkan?" Pak Khalid senyum tapi heran.


Mereka tetap diam dan saling pandang. Meta tergagap mencoba memberi tahu. " Ee...anu Pak, Abinya Zahira datang!"


"Ooh baguslah, jadi kan Zahira bisa lebih tenang ya kan Ra?"


Zahira cuma senyum masam. "Iya Pak!"


Pak Khalid duduk di kursi dekat ranjang. "Oh ya apa kalian sudah makan?" Sambil mengedar pandang.


Daniah dan Meta melengos. "Della sudah tapi kita berdua belum." Meta pun tertunduk lesu.


"Baiklah tungu aku pesankan ya!"


Daniah dan Meta berbinar. Sedangkan Pak Khalid meraih ponsel dan memesan makanan.


"Oh ya Zahira, kamu sudah makan?" Sambil melirik kotak makan yang telah disiapkan oleh petugas gizi Rumah sakit.


Zahira menunduk, dia tidak berani menjawab. Pak Khalid berdiri dan mendekatinya. Zahira menoleh dan mulai tegang. Dia tahu kalau pasti Pak Khalid akan membujuknya lagi seperti kemarin.

__ADS_1


"Eemm Pak, tapi aku sudah makan bubur ayam yang dibawa sama Umy!" Matanya memandang sayu ke Pak Khalid berharap dapat kepercayaan.


"Benarkah?" Pak Khalid melirik Meta, "Meta! apa tadi Zahira makan bubur ayam?"


Meta menatap Zahira yang kini memberi kode agar tidak bicara. "Ee...anu Pak, Zahira tadi sudah makan!"


"Yakiiin?" Pak Khalid melirik Meta dengan senyum menyelidik. "Atau makan malam kali ini...."


"Eh benar Pak, Zahira tadi sudah makan, tapi masih tadi sore, itu pun cuma sekali suap doang!"


Daniah dan Della menahan senyum. "Dasar Meta, ga kuat kalau udah diancam pake makanan!" Batin Daniah.


Pak Khalid kembali menatap Zahira sambil menaik turunkan alisnya. Zahira sudah merinding. Dia ingat betul saat pertama dia dirayu buat makan.


Saat itu, keadaan Zahira yang shok terus menangis dengan tubuh gemetaran. Dengan lemah lembut Pak Khalid memeluknya. Meski sebelumnya dia telah meminta maaf untuk menyentuhnya. Karena dia tahu jika Zahira tak mau disentuh sama orang yang bukan mahromnya.


"Zahira maafkan aku terpaksa lancang lagi, tapi ini darurat dan aku tidak punya niat yang macam-macam selain intuk menenangkan kamu, maaf ya." Lalu mendekap erat tubuh Zahira yang sangat shok.


Meski semula Zahira meronta, tapi sesaat kemudian dia malah merasa jika yang memeluknya adalah Uminya. Hal itu membuat Zahira merasa nyaman dan tertidur.


Saat dia bangun, barulah sadar jika dirinya sedang diinfus dan lagi dia sendirin tanpa temannya. "Eeh mana temanku?" Zahira yang hendak berdiri langsung ditahan oleh Pak Khalid. "Zahira kamu masih lemah, sebaiknya jangan banyak bergera. "Pak aku mau mencari temanku!"


"Mereka ada di sebelah!"


"Aku mau kesana!" sambil menatap sayu.


"Baiklah nanti aku minta suster menambah satu ranjang di sini!"


Demikianlah hingga Della and the ganknya bisa sekamar dengan Zahira.


Tapi saat makanan tiba, Zahira yang mau makan jadi urung karena mulutnya sangat nyeri. Begitu Pak Khalid datang dan makanannya tidak tersentuh, dia pun menyuruh Zahira makan, tapi ditolak.


Dengan lembut Pak Khalid membujuknya. "Zahira, kalau kamu tidak makan, kamu akan makin lemas, dan itu akan membuat kamu makin lama diinfus, kamu makan ya!"


Zahira menggeleng, "ga bisa Pak, sakit!" Mata Zahira telah berkaca-kaca.


Pak Khalid tersenyum, lalu dengan lembut dia mengelus pipi Zahira. "Kalau kuelus begini apa masih sakit?"


Zahira gelagapan, jantungnya berdetak kencang, "E..ee...maaf Pak, jangan...!"


Mau tak mau Zahira mengangguk pelan. Makan sekali, tapi disuruh lagi sekali, terus sekali sampe nasinya habis semua. Pak Khalid pun tersenyum penuh kemenangan.


Kali ini pun, Zahira mulai tegang, jantungnya berdegup lagi, harap-harap cemas antara mau dibujuk dan menolak dibujuk. Pak Khalid telah memegang kotak makan malamnya. Saat Pak Khalid siap menyuapinya Zahira menahan tangannya sambil menatapnya.


"Pak, biar aku saja!"


Pak Khalid menarik tangannya. "Tidak boleh, harus aku suapi, kalau tidak, kamu pasti akan segera berhenti makan, ayo AAAA!" Sambil ikut menganga. Mau tak mau Zahira membuka mulutnya.


Seketika Zahira meringis sambil menutup mulutnya. "Eemmmmmm!"


Pak Khalid segera memberinya minum.


"Nih sekalian langsung minum biar perihnya berkurang!"


Adegan mesra itu menjadi tontonan gratis bagi Daniah and the gank. Dan saat acara suap-suapan itu tengah berlangsung, Uminya Zahira masuk ruangan. Daniah and the gank, langsung terbelalak. "Zahiraaa Umi datang!"


Zahira ikutan terbelalak. Tapi Pak Khalid tetap santai memegang sendoknya. Dia pikir Daniah cuma bercanda. Zahira segera merebut sendok dari Pak Khalid begitu melihat Uminya melihat mereka.


Umi Zahira mengerutkan kening melihat anaknya disuapi lelaki asing. "Zahira, dia siapa nak?" Sambil mendekat ke samping ranjang Zahira dan menatap Pak Khalid heran.


Pak Khalid langasung berdiri. "Assalamu alaikum Tante!" Sambil mengulurkan tangan hendak bersalaman. Tapi Uminya Zahira malah menundukkan kepala sedikit lalu mengangguk pelan. "Alaikum salam Nak!"


Dengan cepat Pak Khalid menarik tangannya.


Umi Zahira menatap Pak Khalid dengan Zahira bergantian. Zahira menunduk merasa bersalah. "Umi saya minta maaf, ini...." Air mata Zahira sudah jatuh.


"Maaf Tante, bukan salahnya Zahira, ini karena aku yang membujuknya untuk makan, aku sama sekali ga ada maksud lain, selain berusaha membujuknya makan, soalnya dari kemarin dia malas makan, aku jadi kawatir!"


Umi Zahira terdiam sambil menatap Pak Khalid dan Zahira lagi bergantian. Perlahan dia tersenyum, apa lagi setelah dia melihat kotak makan Zahira sudah habis lebih dari setengah.


"Makasih ya Nak, sudah mau bujukin Zahira, padahal ga ada yang bisa bujukin dia selain Umi lho, hehe, Abinya sampe nyerah jika hadepin Zahira kalo lagi sakit!" Sambil menatap Zahira lekat.


Pak Khalid yang semula berpikir akan diamuk sudah mempersiapkan mentalnya langsung terbelalak. Dia tidak menyangka kalau ternyata Umi Zahira begitu lembut. "Ooh pantas Zahira manja, Uminya lembut gini!" Batin Pak Khalid.


Zahira pun tak kalah kagetnya. "Ummyy!" Zahira menatap Uminya nanar. Dengan cepat dia mengahapus air matanya.

__ADS_1


"Ra, apa Dosen yang kamu bilang sudah nolongin kamu itu..." Seraya menatap Pak Khalid "Dia?" Lalu kembali menatap Zahira.


Zahira ikut menatap Pak Khalid. "Iya Miy!" Lalu tertunduk karena tak mampu menahan senyumnya. Dan dia pun tersenyum malu.


Umi Zahira kembali menatap Pak Khalid dengan senyuman lembutnya. "Sebagai orang tua Zahira, saya berterima kasih yang sebesar-besarnya karena sudah menolong anak kami, ditambah lagi, sudah mau bersabar mengahadapinya!"


Pak Khalid tersenyum keki. "Ah ga perlu terima kasih Tante, saya melakukan semua ini karena saya ikhlas, lagi pula, Zahira tidak menyusahkan sama sekali kok Tante!"


"Siapa dia Miy?" Suara barithon Abi Zahira terdengar dari luar. Zahira langsung tersentak dan tegang. Dia menatap Uminya penuh harap dapat pembelaan.


Pak Khalid menoleh, sementara Abiy Zahira berjalan mendekat. Umiy Zahira dengan cepat angkat bicara. "Oh ini Biy, Dosennya Zahira yang sudah menolongnya!"


Pak Khalid mengulurkan tangan, "Assalamu alaikum Om!"


"Waalaikum salam!" Sambil menjabat tangan Pak Khalid. "Jadi kamu yang menolong anakku?"


Pak Khalid mengangguk pasti sambil tersenyum. "Siapa nama kamu?"


"Khalid Om!"


Abiy Zahira menatapnya lekat. "Masih muda sudah jadi Dosen, berapa umurmu?" Sambil melepaskan jabatan tangannya.


"Dua puluh delapan Om!"


Abiy Zahira terus menatap Pak Khalid lekat tanpa suara. Pak Khalid yang ditatap cuma tersenyum sambil ikutan menatap Abiy Zahira tanpa takut sedikit pun.


"Oh ya, kamu pasti sudah keluar banyak biaya dengan memasukkan putriku di kamar VIP ini, jangan kawatir, kami pasti menggantinya." Abiy Zahira akhirnya angkat bicara.


"Ooh ga Om, ga usah, semua ini, aku dapat diskon, solanya aku juga Dokter di sini!"


"DOKTER?" Abi dan Umi Zahira bersamaan. Mereka tercengang.


"Kamu bilang Dosen, sekarang Dokter, mana yang betul?" Abi Zahira mengintimidasi. Tapi Pak Khalid tetap senyum dan tenang.


"Iya Om, aku Dosen pembantu di kampus, dan Dokter tetap di sini!"


Abi dan Umi Zahira saling tatap seakan tak percaya. Merasa diragukan, Pak Khalid mengeluarkan kartu namanya.


"Oh biar Om dan Tante percaya, ini kartu namaku, dan ini KTP ku!"


Abi dan Umi Zahira mengambil masing-masing satu kartu dan mengamatinya. Tiba-tiba seorang perawat datang dengan buru-buru. "Dokter, anda disini, sukurlah!"


Semua menoleh, termasuk Pak Khalid. Begitu melihat siapa yang datang, Pak Khalid berjalan mendekatinya. "Ada apa suster?"


"Aah itu Pak, pasien di kamar interna 1 gawat, sebaiknya lihat dulu Dok!"


Pak Khalid menatap arlojinya, "tapi sekarang waktu istirahatku, apa dr.Priska belum datang?"


"Iya belum Dok, katanya terjebak macet, aku disuruh minta bantuan Anda!"


Pak Khalid menarik napas berat. "Hhaaahh selalu saja telat," gumamnya. "Baiklah, kamu duluan saja, sebentar lagi aku datang!"


Suster itu mengangguk, lalu melirik ke Zahira sebentar kemudian segera keluar ruangan.


Pak Khalid segera berbalik dan mendekat ke orang tua Zahira. "Maaf Om, Tante, saya ada pasien lagi, jadi saya pamit dulu!"


"Iya, sekali lagi, terima kasih atas batuannya pada putriku!" lalu beralih menatap kartu nama ditangannya. "Pemuda ini hebat juga, sudah Dokter, Dosen pula!" Gumam Abiy Zahira.


Baru saja Pak khalid membuka pintu, pesanan makan malamnya juga datang. "Maaf Pak, pesanan Anda!" Dengan cepat Pak Khalid membayar makanan itu lalu segera pergi. "Lho makanannya?"


Meta segera berlari menyambut makan malamnya. "Pak sini makanannya!"


Kurir itu pun menyerahkan kotak makannya pada Meta lalu pergi. Begitu sampai di dalam, Meta melongo, dia merasa tidak enak karena makanan yang dipesan cuma 2 sementara ada orang tua Zahira juga. " Mmm maaf Om Tante, aduuh kotak makan cuma 2..."


Umi Zahira tersenyum, "ga papa Nak, kalian makan saja, kami juga akan keluar makan nanti!"


Meta langsung tersenyum, "Ooh ya sudah deh, kalau gitu kami makan dulu ya Om, Tante!"


Daniah menyambut kotak makan dari meta, dan mereka makan dengan lahap. Della cuma menatap mereka dengan senyum.


******


Jumpa lagi ya di eps selanjutnya.


Jangan lupa buat like dan vote serta komen.

__ADS_1


__ADS_2