Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
TALI GANTUNGAN ~PART 21~


__ADS_3

“ Dan ingat, begitu kamu ketemu orang itu, pokoknya kamu jangan lepaskan dia, kalau wanita, segera nikahi, kalau laki-laki, angkat saudara, ngerti!”


“Tapi Mi, kalu cewe yang sudah nikah, gimana?”


“Yaaaa, yaa gimana yaa?mmm.”


“Hahahahahah” mereka tertawa bersama.


“Pokoknya Mami dukung apapun keputusan kamu sayang, dokter kah, dosen kah, mana saja yang membuat kamu nyaman, Mami setuju!”


“Makasih Mi, tapi Mi, dari mana Mami tahu kalau aku keluar dari rumah sakit?”


“Siapa lagi, Gina yang ngadu ke Mami barusan, ah pokoknya kamu ga usah pikirin Gina, kalau dia mau putus biarkan saja, mami yakin ada seseorang yang tepat buat kamu, kamu hanya harus lebih bersabar, ya sayang.”


“Iyyaa Mi, makasih”


"Baiklah Mami tutup dulu ya, assalamu alaikum.”


“Alaikum salam,” jawab dr.Khalid menutup telpon.


Dia menarik nafas lega namun masih mengenang sang kekasih, kemudian menggelengkan kepala lalu melajukan mobilnya dari halaman restoran.


****


Hari telah senja saat Yeni dan Nova sampai rumah. Dengan perlahan Yeni mencoba membuka pintu lalu menengok kedalam, melihat tak ada seorang pun di dalam, dia segera masuk diikuti Nova, tapi seorang bocah segera menghampiri dan memandangi mereka,


“Mamaa ada tamu!” teriaknya membuat Nova dan Yeni saling pandang,


“Eeh bocah, bukannya kamu tuh yang tamu!” bentak Yeni.


Bocah itu segera masuk ke dalam, Yeni dan Nova ikut masuk ke dalam, tak lama muncul seorang wanita mentereng dengan gaya yang glamor, wajahnya begitu cantik, disampingnya mengikut bocah yang tadi.


“Yeni kamu sudah pulang, Papa dari tadi udah nunggu di ruang keluarga,” kata wanita itu dengan senyum kearah Yeni yang hendak naik ke kamarnya, dibelakangnya Nova Cuma diam membego.


“Yeni, aku duluan ya,” pamit Nova sambil berlalu naik tangga.


Yeni berjalan memberengut mengikuti langkah Ibu tirinya ke ruang keluarga, di sana tampak papanya lagi nonton redaksi sore, melihat kedatangan Yeni, papanya tersenyum.


“Kamu suda datang sayang?” kata Papanya tersenyum.


“Mmmm” gumam Yeni. Lalu duduk di sofa dekat papanya.


“Pa dia siapa?” tanya si bocah lalu duduk di pangkuan papanya sementara ibu tiri Yeni duduk agak jauh dari mereka, mencoba memberi ruang pada mereka.


“Ini kak Yeni, kakaknya Putra,” jawab papa Yeni sambil mengelus pipi Putranya.


“Oohhh” jawabnya lalu beranjak dari pangkuan papanya terus duduk di samping kakaknya, menatap kakaknya sambil tersenyum, yeni cuma melirik adiknya datar,

__ADS_1


“Kakak cantiiiik deh, ya kan Mama” ujarnya menoleh ke mamanya, Yeni langsung tersenyum mendengar ucapan polos Adiknya.


sementara Mamanya cuma tersenyum mengangguk.


“Bagaimana kabar kamu Yeni”, tanya papanya,


“Ga baik, nih” jawabnya sambil menunjukkan perban di lengannya.


“Ya ampuuun kamu kenapa sayang?” tanya papanya kaget dan langsung memeriksa lengan anaknya.


Demikian juga dengan Ibunya langsung kaget dan hampir berdiri, tapi kemudian urung, lalu duduk kembali. Dia takut berantem lagi sama Yeni.


“Tadi ketabrak motor tapi aku baik, cuma lecet sedikit,” jawabnya menepis tangan papanya.


Bapak Junaedi yang memiliki perkebunan sawit di kalimantan, tidak bisa terus datang untuk menjenguk anaknya, hanya waktu Yeni lulus SMA saja dia datang dan baru hari ini dia datang lagi.


“Ada urusan apa Papa datang kemari, pake bawa mereka lagi,” tanya yeni dengan muka menunduk memainkan jari-jarinya.


“Apa maksud kamu bilang begitu, ya mau ketemu kamu, mau sampai kapan kamu benci sama Diana, biarpun kalian hampir seumuran tapi dia itu ibu kamu, jadi kamu harus hormat sama dia!” bentak Papanya.


“Haaaaaaah “ Yeni cuma menghela nafas.


“Apa kamu tidak merindukan adikmu ini?” tanya papanya lagi


“Ah tidak tuh, biasa aja, lagian aku tidak pernah ketemu gimana mau kangen, aahh aku capek, badanku sakit semua, aku mau ke kamar” sambil berdiri dan langsung pergi.


“Aaahhhh dasar anak bandel kamu ya!” teriak Papanya yang langsung berdiri, Diana ikut berdiri mencegah suaminya


“Pa kakak kenapa ko dimarahi?” tanya Putra bingung sambil memandangi papanya.


“Tidak salah apa-apa” jawab pak Junaedi sambil duduk kembali di sofa.


Yeni masuk ke kamar, disambut oleh Nova,


“Eh gimana?” Tanya Nova penasaran.


“Gimana apanya?” balas Yeni cuek lalu meletakkan tasnya diatas meja belajar, kemudian mengambil handuk terus menuju kamar mandi.


“Yaah di cuekin” gerutu Nova sambil mendengus, kamudian tersenyum


“Aku ke bawah ya bantu ibu!” teriak Nova lalu keluar dari kamar.


Sementara di dalam kamar mandi Yeni mengguyur badannya dengan air tanpa bergerak sama sekali, lama dan sangat lama. Setelah merasa kedinginan, barulah ia meraih sabun dan menyelesaikan mandinya.


Nova muncul di kamar saat Yeni keluar dari kamar mandi.


“O.m.g ….Yeni, kamu baru selesai mandi??? Teriak Nova kaget.

__ADS_1


“Santai aja kaliii” ucap Yeni sambil menggosok rambutnya lalu duduk didepan lemari hias.


“Kamu ga menggigil, mandi sampai 1 jam?" tanya Nova sambil duduk memperhatikan Yeni di pinggir ranjang.


“Kamu kenapa liatin aku begitu” Tanya Yeni sambil menoleh ke Nova.


“Yeni, kamu pasti kesal ya, Ibu tiri kamu ikut kemari” ujar Nova.


“Haahhhh rasanya aku mau mengobrak abrik mukanya, kamu lihat gayanya kan, nyentrik banget” gerutu Yeni sambil mengepalkan kedua tangannya.


“itu semua pake uang Papa pastinya” lanjutnya.


“Ya iyyalah say, secara dia itukan Nyonya Junaedi” tegas Nova bikin yeni berpaling padanya semakin geram.


“Kamu itu ya, benar-benar, ga Zahira, ga Diana kamu bela semua, kamu ini temanya siapa sih!” bentak Yeni dan kali ini dia sudah berhadapan dengan Nova dengan muka geram memandanginya.


“Aduuuh Yeni sayangku, manisku, manjaku, babyku, honeyku, dan sebagainya, ya temanku itu kamulah, hanya kamu satu-satunya temanku di dunia ini, cuma saja aku bicara soal kebenaran, bukan membela mereka!” terang Nova dengan gayanya yang manja.


“Hahh terserah, I don’t care!” lalu beranjak dari duduknya hendak berganti baju.


Yeni dan Nova berjalan beriringan menuju ruang makan, di sana sudah ada keluarga kecil papanya.


“Kakak…” panggil Adiknya sambil menarik kursi di sampinngnya.


“Mmmm” jawabnya datar sambil meraih kursi itu lalu duduk.


Ibunya menyodorkan piring berisi nasi, Nova sendiri berlalu masuk ke dapur menemui ibunya.


“Ga usah sok perhatian deh, aku bisa ambil sendiri,” kata Yeni sembari menyambut piring berisi nasi itu.


“ Yeni tidak bisakah kamu berbicara sedikit sopan sama Ibumu!” tegur papanya, namun Yeni tak menyahut teguran Papanya , hanya melanjutkan kegiatannya mengambil lauk lalu makan tanpa basa basi.


“Yeni mulai sekarang kita akan tinggal bersama” lanjut papanya membuatnya kaget


“Uhuk..uhuk…” yeni tersedak karena kaget.


Diana segera menyuguhkan air minum. Dengan rasa tak senang dia mengambilnya lalu minum.


“Kenapa? kamu keberatan?” Tanya papanya lagi.


“Terus, Kalimantan?” tanya Yeni sambil melanjutkan makannya yang tertunda masih dengan rasa dongkol.


“Perkebunan akan Papa jual” jawab Pak Junaedi. Tak ada lagi basa-basi semua makan dengan tenang, namun Yeni segera menyudahi makannya, karena perasaan dongkolnya tidak bisa lagi ditahannya. Lalu segera kembali ke kamarnya.


 


~BERSAMBUNG~

__ADS_1


 


hai ketemu lagi....jangan lupa like komen vote dan ratingnya yaa😘


__ADS_2