
Alfian sedang asyik memilih buku di lemari, dan kini sudah ada 6 buah buku di tangannya. Sambil menimang buku, dia tersenyum-senyum.
"Ehm ehm nyari buku pake senyum, buat siapa tuh?"
tanya ibunya tiba-tiba membuat Alfian terlonjak kaget lalu menoleh.
" Eh Ibu, kaget deh aku," sambil tersenyum salah tingkah.
"Buat siapa?" goda ibunya lagi
"Ah bukan buat siapa-siapa bu," ujar Alfian malu-malu. kemudian melangkah menuju meja belajarnya kemudian meletakkan bukunya kedalam tasnya.
"Baiklah kalau begitu, ibu tunggu di meja makan ya!" ucap ibunya lalu melangkah pergi keluar kamar
di meja makan sudah hadir keluarga kecil Alfian.
"Fadil bilang kemarin dia nabrak teman kamu, kenapa tidak bilang sama kami?" tanya Ayahnya.
"Ah itu, aku minta maaf Ayah, aku cuma tidak mau kalian khawatir, lagian temanku ga papa, dia juga tidak berniat memperpanjang masalah," terang Alfian panjang lebar.
"Geman kamu itu, siapa namanya?" tanya ibunya.
"Zahira bu," ujarnya sambl tersenyum malu-malu
"Kak Fian suka sama dia bu," potong Fadil membuat Fian melotot padanya
"Benarkah? dari mana asalnya, terus keluarganya?" berondong ibunya.
"Ibu ini bagaimana sih, belum tentu saling suka sudah mau tau banyak, mereka kan belum tentu jadian, kalau pun jadian juga belum tentu jodoh!" kata ayahnya
"Iyya sih tapi kan memang sudah harus kenal sebelum lanjut," tukas ibu lagi.
Fadil cuma meringis lalu menggeleng mendengar ucapan ibunya. soalnya seakan-akan tidak boleh pacaran sama orang sembarangan.
Zahira orang kampung, anaknya sholehah anak pesantren juga. hanya itu yang saya tahu Bu," ungkap Fian sambil menyeruput tehnya.
"Saya bermaksud melakukan KKLPku di kampungnya nanti sekalian bisa mengenal keluarga Zahira lebih dekat,"
ucapnya malu-malu.
"Apa maksudmu, lalu bagaimana dengan perkebunan kita? bukannya kamu bilang mau mengelola perkebunan kita makanya masuk Fakultas pertanian?" Kata ayahnya sedikit meninggi
"Maaf Ayah, tapi bukannya lebih baik kalau kita memiliki pengalaman di daerah yang lain, kata pepatah lain lubuk lain ikannya, lain daerah lain juga suasana dan kondisinya." Tukas Alfian
"Lain daerah lain ceweknya, hahah," canda Fadil membuat Alfian melotot ke adiknya.
"Pokoknya tidak bisa, Ayah sudah bicara sama pak Kades di sana. jadi rencana kamu batalkan saja ganti dengan kampung kita." tegas Ayahnya lalu berdiri dan berlalu berangkat menuju kantornya. tak lupa mengecup kening istrinya.
Demikianlah keluarga Alfian dimana Ayahnya adalah seorang pegawai negeri sipil di kantor dinas pertanian yang merupakan kepala bagian penyuluhan dan pengembangan tanaman pangan. Selain itu, mereka juga memiliki beberapa hektar lahan persawahan dan perkebunan kakao di kampung, hanya saja dipercayakan pada pekerja di sana.
__ADS_1
Alfian sangat suka berada di kampung dan bertani sehingga dia memilih masuk Fakultas pertanian.
" Ya gagal donk PDKT sama camer," goda Fadil membuat Alfian semakin murka.
" Fadiiiil!!!" teriak Alfian pada adiknya, giginya gemeretak menahan marah.
sementara Fadil telah kabur keluar.
"Fian, kalau kamu suka marah begitu mana ada cewek suka sama kamu?" Tegur Ibunya.
" Ituu karena Fadil suka kelewatan bu, aslinya aku ramah sama siapa aja. buktinya banyak cewek yang cari perhatian sama saya," ujarnya membusungkan dada.
"Tapi siapa pun orangnya asal tidak sesuai selera Ayah jangan harap bisa!"
terang ibunya.
" Pokoknya ibu tenang saja, Zahira itu perfect bu." tukas Fian tak mau kalah.
"Aku berangkat dulu ya bu, Assalamu alaikum," pamit Fian sambil mencium tangan ibunya.
****
Masih sangat pagi saat Alfian sampai di kampus. Sengaja hari ini datang pagi-pagi meskipun sebenarnya jadwal kuliahnya nanti jam sepuluh, karena dia ingin mengobrol lebih lama dengan Zahira, apalagi setelah peristiwa kemarin Fian masih terus teringat wajah Zahira yang shok. dia berniat meminta maaf dan berjanji tidak akan membentak lagi di depannya.
Zahira masuk ke kampus sambil berjalan beriringan dengan ketiga temannya. lalu berhenti saat melihat Alfian tengah berdiri menunggunya di bawah pohon seperti biasanya.
"Kak Fian" sapa Zahira.
"Ehem , kami duluan ya Ra," sela Della sambil melambai kemudian berlalu disertai Meta dan Daniah dengan senyum penuh arti.
"Hai Ra, assalamu alaikum," sapa Fian kemudian.
" Wa alaikum salam, kak Fian menunggu saya?" tanya Zahira
"Iyya, nih!" sambil menyodorkan buku yang tadi dibawanya, "buku yang aku jajikan kemarin," ucapnya senyum.
"OoH, Alhamdulillah, makasih ya kak." ucapnya seraya menerima buku tersebut.
"Waah banyak juga," sambungnya.
"Iya kan buat referensi, itu bisa memperkaya isi makalah kamu nantinya!" terang Fian.
"Sekali lagi makasih banyak kak, aku permisi ya kak," pamit Zahira hendak pergi namun segera dicegah
"Ej bentar ya Ra, kamu mau aku ajarin cara menyusun makalah?" Fian menawari
"Emm gimana ya kak, ini kan kami bakalan kerja kelompok, jadi bagusnya kalau kakak jelasinnya nanti pas kami udah ngumpul bareng, gimana?" saran Zahira
"Tapi hanya pagi ini aku punya waktu, gimana?" tanya Fian sambil menatap Zahira penuh harap.
__ADS_1
" Ehmmmm" Zahira agak ragu, terbayang lagi suara Fian yang meninggi membuat Zahira tiba-tiba bergidik. Fian segera menyadari ketakutan Zahira
" Ra, maafkan aku soal kemarin, tapi sungguh aku tidak bermaksud begitu, aku hanya khawatir dengan keadaan adikku dan marah karena telah mencelakai kamu, hanya itu Ra, aku harap kamu mau maafkan aku ya" pinta Fian memelas
"iyya kak aku maafin, cuma ya gimana ya, kalau belajar berdua aja kan..." kata Zahira ragu.
"Kita bukan mau kemana-mana kok, jangan khawatir, kita duduknya di kursi koridor sana aja, gimana?" tanya Fian berusaha meyakinkan Zahira
"Iyya deh kak, boleh," mereka pun tersenyum lalu melangkah menuju koridor.
Saat mereka berlalu masuk kegedung kampus, dr.Khalid juga memasuki kampus, memarkir mobilnya lalu berjalan menuju fakultaz kedokteran, namun sebelum berbelok menuju gedung kedokteran, matanya tertuju pada taman samping yg terbiar, tampak olehnya mahluk aneh dengan mata merah menyala sedang memperhatikan sepasang mahasiswa yang berjalan beriringan masuk ke gedung pertanian.
Dokter Khalid terus menatap mahluk itu tak berkedip hingga pandangan mereka beradu, dengan segera dr.Khalid membuang pandangannya lalu bergegas meninggalkan tempat itu dengan wajah menegang.
"Ah mahluk itu ada lagi, apa akan ada korban lagi, tidak mungkin, ya ampuun kenapa harus ketemu mahluk mengerikan terus sih?" batinnya sambil berjalan terburu-buru.
*****
Mobil Honda Jazz berwarna putih meluncur dari dalam garasi rumah Yeni kemudian berhenti tepat di samping Yeni dan Nova.
"Kalian mau jalan kaki atau mau menumpang?" tanya Diana pada mereka.
"Mau naik mobil dong!" tukas Nova segera menghampiri mobil.
"Tidak terima kasih, kami mau naik angkot!" bantah Yeni sambil menarik lengan Nova.
"Jangan jual mahal gitu deh, ini juga karena papa kamu yang minta aku buat nganterin kalian, mending naik gih cepat!" perintah Diana
"Suoooryyy yaaah, aku ga demen sama mobil mewah, asyikan juga angkot, lagian kalau aku mau mobil bagus, aku sudah minta dari dulu. per..mi...siii."
ujar Yeni dengan muka mengejek.
"Terserah, aku juga tidak perduli." Kemudian berlalu meninggalkan mereka.
"Aduuh Yen, ko ga mau sih, sampai kapan dong kita naik angkot mulu. cape tau!" Ujar Nova kesal.
"Mau naik mobil bagus? kalau begitu tinggalkan aku dan pergilah bersama wanita sialan itu!" ujar Yeni sambil mendorong Nova.
"Oke aku ikut kamu, tapi kan sekali-kali Boleh gitu kita ga naik angkot," ucap Nova cemberut.
Yeni cuma tersenyum melihat temannya.
"Kamu tahu kan kalau aku selalu ketakutan naik mobil pribadi, mau bagus atau jelek sama aja. Aku hanya berani kalau ada banyak orang di dalam mobil. dan itu berarti ..angkoott!" ucapnya sambil memonyongkan mulutnya dengan muka condong kedepan hidung Nova.
"Iiih apa-apaan sih, hahhh coba wajahku secantik kamu, aku pasti akan menggoda cowok kaya biar bisa diantar jemput pake mobil baguuus...o..m..ji..." ucapnya gemas dengan kedua tangannya menopang dagu.
"Cewe matre" tukas Yeni mencibir sambil berlalu meninggalkan Nova.
"Kenapa tidak merayu dr.Kalid kamu tuh, kan ada kartu namanya?" sambung Yeni sambil menoleh memandangi Nova.
__ADS_1
Nova mengejarnya, "enak kamu ngomong, coba aku cantik pasti udah aku rayu sumpah!" mereka pun melangkah dengan tertawa bersama