
Zahira dan Daniah pulang lebih awal karena Dosennya untuk materi berikutnya tidak sempat masuk. Mereka memutuskan pulang lebih awal setelah Daniah menghubungi Della, Dan ternyata mereka akan pulang telat.
Begitu sampai di dekat gerbang, mobil Pak Khalid berhenti di dekatnya. "Kalian sudah pulang?"
Zahira dan Daniah menoleh. "Eeh iya Pak, Dosen kami tidak masuk hari ini!"
"Ya sudah, ayo aku antar pulang!"
Zahira dan Daniah saling pandang, lalu naik ke mobil. Zahira tidak ingin mengambil inisiatif sendiri untuk duduk di depan, hingga akhirnya ikut naik di belakang bersama Daniah.
Belum lagi sempat duduk, Pak Khalid menegurnya. "Zahira, aku bukan sopir kalian lho!"
Zahira terhenyak sebentar. "Ooh!"
Zahira terpaksa turun lagi dan naik di depan. "Maaf Pak, aku ga bermaksud begitu tadi!"
"Heem!" singkat jawaban Pak Khalid membuat Zahira sedikit heran.
Sepanjang jalan, suasana dalam mobil sangat hening. Tak ada suara yang terdengar. Hanya sesekali suara helaan napas berat dari Pak Khalid yang keluar.
Daniah sendiri sejak di dalam kelas, sudah merasa gundah. Pasalnya, Adrian hari ini tidak ada kabar beritanya. Ingin menelponnya, tapi dia juga merasa gengsi dan jual mahal.
Sesekali Pak Khalid melirik Zahira. Zahira yang sedikit heran dengan tingkah Pak Khalid, juga meliriknya sesekali.
"Ada apa dengan Pak Khalid ya, kok agak beda saat ini?" gumam Zahira dalam hati.
Tanpa sengaja, pandangan mereka bertemu. Dengan segera mereka membuang muka. Tapi Pak Khalid segera menoleh lagi. "Emm Ra, aku..."
"Ya, ada apa Pak?" Zahira menoleh menatapnya.
"Ah tidak lupakan saja!" Pak Khalid kembali mengemudi dengan serius.
"Ah ada apa denganku, kenapa hanya menanyakan hubungannya dengan Alfian, rasanya begitu berat?" Batinnya.
Zahira makin penasaran. "Pak, ada apa sebenarnya? Bapak kelihatan aneh saat ini?"
"Ah ga papa kok, aku ...aku...cuma ada sedikit masalah di kantor tadi!"
"Haah, sebenarnya aku sedikit patah hati Ra!" Batinnya.
"Ooh begitu ya Pak!"
Pak Khalid hanya tersenyum getir. Dia menggenggam erat stir mobinya. Dia begitu keras menahan hatinya untuk tidak bertanya. "Zahira, aku begitu pengecut, aku benar-benar ingin tahu, hubungan apa antara kamu dan Alfian, tapi aku juga takut mendengar kenyataan jika nanti jawaban kamu tidak sesuai harapanku, Ya Allah kuatkan aku!" Batinnya lagi.
"Mm Zahira, apa kamu bisa menyetir mobil?"
Zahira kaget mendengar pertanyaan Pak Khalid. "Eh...ee...iya, aku bisa menyetir, kenapa Pak?"
Pak Khalid tersenyum walau sangat dipaksa. "Kalau kamu bisa, aku akan meminjamkan mobilku padamu, biar nanti kamu bisa pakai buat kemana-mana!"
"Ooh tapi Pak, aku belum terbiasa menyetir di Kota, begitu banyak kendaraan!"
"Kamu nanti akan terbiasa kok, asal pelan-palan saja, tidak jadi masalah!"
Daniah heran mendengar penawaran Pak Khalid, "lho kalau Bapak kasih mobilnya ke Zahira, terus Bapak pake apa?"
"Aku bisa pake motorku!"
"Ooh gitu ya!" Daniah mengangguk mengerti. Dia ingat jika di dalam garasi Pak Khalid, ada motor yang tertutup tirai.
"Tapi Pak, aku jadi ga enak, gara-gara kita, Bapak malah kemana-mana pake motor!" Zahira mencoba menolak.
"Ga papa, lagian, aku akan sangat sibuk besok, jadi tidak bisa menjemput kalian, makanya aku mau meminjamkan mobil!"
Pak Khalid lalu terdiam dan asik bertarung dengan hatinya. "Apa yang aku lakukan, apa aku harus menjauhi Zahira? tapi kan belum tentu juga mereka ada hubungan? Tapi bagaimana bisa mereka berpelukan begitu mesra, jika mereka tidak ada hubungan?" Pak Khalid memejamkan matanya sesaat lalu mencengkeram stir kuat.
Zahira menatap Pak Khalid dengan perasaan heran yang teramat sangat. "Ada apa dengan Pak Khalid, apa dia sedang marah ya? Tapi kok, dia masih lembut gitu bicaranya, atau masalah di kantornya begitu rumit ya?" Batin Zahira gundah.
Suasana canggung pun tercipta, membuat mereka terdiam. Sekian lama, hingga mereka telah sampai di rumah tak terasa.
Mereka pun turun dari mobil. Pak Khalid memarkirkan mobil di dalam garasi. Dia segera keluar menemui Zahira yang berdiri tertegun melihat Pak Khalid menyimpan mobil.
"Zahira, ini kunci sama STNKnya, kalian boleh memakainya kapan saja kalian mau!" Pak Khalid menyerahkan kunci mobilnya, yang sebelumnya membuka kunci motor yang tercantol bersama kunci mobilnya.
Zahira tak bisa berkata apa-apa. Tapi dengan terpaksa dia menerima juga kunci dan STNK itu. "Tapi Pak, bagaimana dengan Bapak?" Zahira tampak sedih.
Entah mengapa, Zahira merasa jika Pak Khalid mau meninggalkannya. Hatinya terasa sedih tiba-tiba. Dia merasa perkataan Pak Khalid seakan mau pergi jauh saja.
"Apa Bapak tidak akan datang lagi ke sini?" Zahira menatapnya sedih.
"Maaf Ra, aku tidak mampu melihatmu dekat dengan Alfian, maaf!" Batin Pak Khalid seraya menatap Zahira lekat. Mereka jadinya saling pandang.
Daniah segera menyela. "Iya Pak, memangnya urusan apasih Pak, sampai sangat sibuk besok?"
"Oo itu...aku...mm mulai besok, aku ditugaskan di UGD, jadi akan selalu siap setiap saat di Rumah sakit!" Pak Khalid berdalih. "Ya sudah kalian masuk, aku mau pergi lagi!" Seraya kembali masuk ke garasi dan mengeluarkan motornya.
Zahira dan Daniah menatap kepergian Pak Khalid dengan nanar. "Zahira, apa kamu tidak merasa Pak Khalid sedikit aneh?"
__ADS_1
"Iya aku juga merasakannya, sepertinya dari nada suaranya, Pak Khalid sedang sedih!"
"Aku rasa dia cemburu saat Alfian memeluk kamu tadi deh?"
Mereka langsung saling tatap. "Cemburu? tapi bagaimana bisa cemburu kalau tidak pacaran?"
"Haiiih nih bocah, kamu ga bisa lihat kalo Pak Khalid itu suka banget sama kamu!"
Daniah jadi sewot lalu berjalan masuk ke rumah. "Ra kuncinya!" Serunya kemudian, karena kunci rumah dipegang Zahira.
"Iya bentar!"
Zahira pun bergegas membuka pintu.
*******
Sesampai di Rumah sakit, Pak Khalid tidak langsung memeriksa pasiennya. Dia malah masuk ke ruangannya dan duduk melamun di sana.
"Ooh tuhan, kuatkan aku, aku harus tahu apa yang terjadi sebenarnya, tapi kenapa aku begitu pengecut!"
Pak Khalid menggigit bibirnya kuat, dia memejamkan mata, dan berusaha menahan air matanya yang sudah hampir keluar. "Haah apa aku harus ditinggalkan lagi?"
"Apa kamu memerlukan bantuanku?"
Suara serak dan berat itu terdengar lagi. Pak Khalid terkejut dan langsung membuka mata. Tak ayal lagi, air matanya lolos keluar setetes.
"Heeeppp haaah!" Pak Khalid menarik napas berat seraya menyeka air matanya. "Kau lagi?" Matanya melebar saat tahu siapa yang bersuara.
"Perlu aku berikan pelajaran pada pemuda itu?"
"Pak Jin, aku sudah bilang, dia tidak ada urusan denganmu, aku bukan orang jahat yang suka maen belakang!"
"Tidak mau main belakang tapi tidak mau berterus terang, apa itu namanya?"
"Namanya pengecut!" Ujar Pak Khalid datar.
"Pengecut apa itu? apakah jeruk nipis?"
Pak Khalid terkejut mendengar pertanyaan konyol itu, seketika dia menjadi geli. "Hahahahaha, jeruk? itu kecut!" Seketika sedihnya hilang.
"Hahaha aku kira kamu pintar, ternyata oon juga, hahaha!"
"Pada dasarnya kami tidak begitu paham kehidupan manusia, tapi kami bisa mendengar dan membaca isi hati mereka, dari situlah kami mengetahui semuanya!"
"Haaihh terserah deh, aku mau pergi bertugas dulu, sana kamu pergi saja, aku sama sekali tidak butuh bantuanmu!" Sambil mengibaskan tangannya tanda mengusir Pak Jin.
Dia sendiri segera berganti dengan pakaian kebesarannya, lalu keluar dari ruangannya hendak menjalankan tugasnya.
*******
Sejak saat itu, Zahira menjadi banyak diam. Dia tidak pernah lagi menanggapi keisengan temannya. Meski jelas-jelas dia diledekin, tapi dia tidak menggubrisnya.
Setiap pagi, Zahira tetap menjalankan tugasnya menyiapkan sarapan. Dan setiap itu pula dia haru menghela napas kecewa karena yang dinanti tak pernah datang.
Tak ada seorang pun dari temannya yang tahu, jika setiap tengah malam, Zahira bangun sholat hanya untuk curhat pada Allah. Jika selama ini, dia sholat tengah malam untuk meminta keselamatan diri dan keluarganya, tapi kali ini dia sholat untuk curhat.
Dia selalu berharap, setelah berdoa dan curhat tengah malam, besoknya Pak Khalid akan datang dan mengetuk pintu pagi-pagi. Tapi harapan tak seindah espektasi.
Seperti pagi ini, Zahira terus melamun sambil menatap keluar, berharap Pak Khalid datang berkunjung. Melihat ekspresi Zahira yang sedih, Della sudah tak tahan.
Della menegurnya. "Zahira!" Tak ada sahutan.
Della mencoba memanggi lagi, "Ra,"
tetap tak ada sahutan. Daniah, Meta dan Della benar-benar cemas.
Dengan suara lantang Daniah menegurnya. "ZAHIRA!"
Zahira terlonjak kaget. "Iyaa, ah astagfirullah, Daniah bikin kaget aja!" Zahira mengelus dada.
"Habisnya kamu dipanggil dari tadi, tapi tidak dengar!" Celetuk Meta.
"Zahira, ada apasih sebenarnya?" Della menatap Zahira iba.
Zahira tersenyum sambil menggeleng. "Aku ga papa kok!"
"Ga papa gimana, jelas-jelas kamu berubah begitu!" Daniah ketus.
Tiba-tiba air mata Zahira jatuh tanpa di sadarinya. Daniah and the ganknya langsung panik dan tidak enak hati.
"Zahira, kamu marah ya?"
"Zahira kita ga bermaksud menyinggung kamu kok!"
"Zahira kita bukan marah sama kamu lho!"
Zahira menyeka air matanya. "Aku tidak menyalahkan kalian, aku cuma tiba-tiba sedih aja, ga tahu kenapa!" Zahira tertunduk. Air matanya lolos tak tertahankan.
__ADS_1
"Ra, kamu ga kesambet Ama..." Meta tak sanggup meneruskan ucapannya. Dia segera melirik kiri-kanan, takut jika Amanda benar-benar ada.
"Meta! ngomong apa sih!!" Bentak Daniah geram.
Zahira menggeleng, "aku sadar kok, ga kesambet, lagian mungkin Amanda sudah menghilang!"
Mereka terbelalak serempak. "Haah sudah menghilang?"
Zahira mengangguk, "Hiks...Zahira mengatur napasnya, "aku sempat mendengar Pak Khalid waktu itu bergumam, dia bilang'semoga arwah Amanda bisa tenang sekarang' begitu aku dengar!"
"Maksudnya?" Daniah tak mengerti.
"Mungkin setelah dia tahu, kalau keluarganya ternyata sudah mengikhlaskan kematiannya, dia menjadi tenang!"
"Oooh, begitu ya!" Seru mereka bersamaan.
Zahira berdiri dari duduknya, "kalian makan aja, aku mau ke kamar dulu!"
Tanpa menunggu jawaban, Zahira sudah berlari naik ke kamarnya.
Begitu masuk ke dalam kamar, dia langsung mengunci pintu. "Kalau saja Amanda masih ada, pasti Pak Khalid masih menemui kita, apa karena Pak Khalid tidak ada urusan lagi denganku, makanya dia tidak mau datang lagi?"
Zahira terus berbicara sendiri dan bertanya pada dirinya. Akan tetapi tak ada sesiapa pun yang mampu menjawabnya. Dia juga enggan untuk curhat pada temannya. Selain malu, dia juga tidak mau berbagi rahasia pada orang lain.
"Ah kenapa juga aku harus menangis, kenapa juga aku merindukan Amanda, hiks...hiks..., Amanda apa aku kangen sama kamu atau aku kangen sama Pak Khalid ya, hiks...hiks...tega banget sih dia...hiks...!"
Zahira meraih guling di sampingnya lalu memeluknya erat. "Apakah Pak Khalid sebenarnya tidak suka padaku, apa aku hanya salah paham dengan perhatiannya?"
Zahira sesenggukan dan kadang tersenyum sedih, karena merasa sangat bodoh telah mengharap dia disukai Pak Khalid.
"Haah, mungkin Pak Khalid memang cuma ingin membantu Amanda saja, jadi sekarang, dia sudah tidak ada urusan lagi di sini!" Zahira merebahkan tubuhnya kemudian.
Daniah and the ganknya, cuma bisa saling pandang saat melihat Zahira mengunci dirinya dalam kamar hampir seharian.
Saat makan malam, Zahira baru keluar dari kamarnya. Dengan cepat temannya segera menyambutnya dengan perasaan cemas. "Ra kamu ga papa kan?" Della bertanya penuh selidik.
"Iya ga papa!"
'Ga papa apanya, lihat mata kamu sembab gitu!" Seru Meta.
"Kalian diam ga!" Tegur Daniah.
Zahira hanya diam, dia tidak mampu menjawab setiap pertanyaan temannya. Dia pun duduk dan makan tanpa banyak bicara.
"Ra, apa kamu tidak mau menelpon Pak Khalid?" Tanya Della pelan.
"Aku tidak mengambil nomornya lagi, saat Umi beliin HP baru kemarin itu, aku tidak memberi tahu juga nomorku!"
"Haah, iya juga sih, ahh mana kita juga tidak nengambil nomornya lagi!" Celetuk Meta.
Tak ada lagi yang bersuara, mereka terus diam hingga makan malam selesai.
Begitu kembali di kamar, Zahira terkejut melihat ada beberapa panggilan dari uminya.
Dengan cepat Zahira menelpon Uminya.
*"Assalamu alaikum*
*"Alaikum salam Miy, ada apa menelponku?"*
*"Ini, Umi mau bilang, kalau Alfian sudah berKkN di kampung kita lho!"*
*"Ooh aku sudah tahu Miy, kemarin Kak Fian sudah bilang!"*
*" Ooh gitu ya, oh iya, Umi mengundang Fian sama teman-temannya lho bikin acara bakar-bakar ikan di empang, apa kamu tidak libur, biar bisa ikutan sama mereka?"*
*"Kayaknya tidak deh Miy!"*
*"Ooh ya sudah lah, eh kalau nanti Alfian mau pulang ke Makassar, kamu mau Umi kirimin apa?"*
*Emm pisang masak aja, sekalian telur asin juga!*"
"Ya sudah nanti Umi kirimin ya, baiklah mending kamu istirahat, Assalamu alaikum!"*
*"Alaikum salam Miy!"*
Meta yang masuk sejak tadi cuma diam, dan begitu Zahira selesai bicara, dia langsung kepo. " Ra, ada apa dengan Kak Fian?" Sambil bersimpuh di samping Zahira.
Zahira meletakkan Ponselnya di atas nakas. "Umi cuma mau ngasih tahu, kalau Kak Fian sekarang udah berKKN di kampungku!"
"Ooh, Meta merebahkan tubuhnya. "Terus pisang sama telur asin, buat apa?"
Zahira ikutan berbaring, "buat dikirim kemari, jika Kak Fian ada waktu mau ke Makassar!"
"Ooh gitu ya," Della tersenyum " hmm asik dong, ga sabar pengen makan telur asin, yeeeyyy!" Teriak Meta dalam hati.
.
__ADS_1
.
Jumpa lagi ya😍😍😍😍😍