Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
Part 99. Berbaikan


__ADS_3

Zahira merasa heran saat dia membuka mata dan tidak seorang pun di sampingnya. Perlahan dia bangkit dan melihat lagi ke sekeling, namun tetap saja tidak melihat siapa pun.


Zahira pun beranjak keluar dari kamar. Begitu sampai di luar, dia menjadi semakin heran karena suasana begitu sepi.


Baru saja dia hendak melihat ke halaman, pandangannya tertuju pada Pak Khalid yang sedang menuju ke rumahnya. Buru-buru dia menutup pintu.


Sayangnya, Pak Khalid segera menahan pintu dengan kakinya, sehingga pintu tidak dapat menutup rapat.


"Zahira aku mau bicara!" Seru Pak Khalid dari balik pintu.


"Maaf Pak, ga ada yang perlu dibicirakan kok, silahkan pergi aku mau istirahat!" Zahira terus mendorong pintu kuat-kuat.


"Aaakkhhh!" Pak Khalid pura-pura kesakitan terjepit pintu.


Zahira kaget langsung melepaskan pintu. Kesempatan itu segera digunakan Pak Khalid. Dengan cepat dia masuk ke dalam.


Melihat Pak Khalid masuk, Zahira berpaling membelakanginya. Dia takut jika sampai ketahuan menangis.


Perlahan Pak Khalid mendekatinya. "Zahira, apa yang baru saja terjadi, itu adalah salah paham, aku sama Gina hanya masa lalu!"


Zahira tidak berkomentar apa-apa. Dia hanya terdiam kemudian melangkah masuk. Dia mengacuhkan Pak Khalid.


Merasa diacuhkan, Pak Khalid mengikutinya. "Zahira, tolong maafkan aku jika memang aku bersalah, tapi tolong percaya padaku Ra!" Pak Khalid memelas.


Zahira berhenti. "Aku tidak marah kok sama Bapak, aku hanya merasa sedih aja memikirkan kebodohan aku!" Zahira memainkan cincin di jarinya.


Pak Khalid merasa sangat bersalah dengan kata-kata Zahira. Dengan cepat dia berjalan ke hadapan Zahira. "Zahira, apa maksud kamu dengan bodoh, aku tidak pernah menipu apalagi berbohong sama kamu!"


"Maaf Pak, sudah membuat Bapak meninggalkan calon istri Bapak, aku..."


"Ra, aku mohon dengarkan aku, Gina itu bukan tunangan aku!"


"Mana ada orang berani mengaku kalau memang bukan?"


"Zahira, Gina itu tidak punya urat malu Ra, apapun akan dia lakukan demi keuntungannya!"


"Apa untungnya dia berbohong?"


"Dia ingin kita pisah!"


"Memangnya Gina siapa, kenapa harus membuat kita pisah, kalau memang ga ada alasannya!"


"Ra, izinkan aku menceritakan hubunganku dengan Gina ya!"


Zahira tidak menjawab, dia semakin tertunduk menyembunyikan wajah sedihnya. Dia sungguh tidak bisa mendengar kenyataan, jika memang Pak Khalid ada hubungan dengan Gina.


Merasa tidak direspon, Pak Khalid menarik napas. "Zahira, aku sama Gina dulu memang pernah pacaran, tapi kami sudah putus!"


"Karena aku kan, heks...heks!" Zahira tak kuat membendung air mata dan sesak di dadanya.


"Sama sekali bukan Ra, kami putus jauh sebelum aku mengenal kamu, Yeni dan Nova, saksi putusnya kami!"


Zahira langsung mendongak, lalu menyeka air matanya. "Apa maksudnya?"


"Waktu aku dan Gina putus, ada Nova dan Yeni di sana, waktu itu mereka sedang makan siang juga, kamu boleh bertanya sama mereka jika kamu tidak percaya sama saya!"


"Kenapa bisa putus?" Suara Zahira sudah sedikit enteng.


Mendengar suara Zahira yang sudah lebih lega, Pak Khalid tak kuasa menahan bahagianya. Tanpa sadar Pak Khalid menarik lengan Zahira dan merengkuhnya dalam pelukan.


"Aaaa, lepasin Pak!" Zahira meronta karena kaget dan takut.


"Zahira biarkan aku memelukmu sebentar, sebentar saja Ra!" Pak Khalid tak kuasa menahan haru, hingga akhirnya air mata lolos keluar.


Zahira terus meronta, tangannya memukul-mukul dada Pak Khalid. Namun Pak Khalid tidak melepasnya. Malah lebih mengeratkan pelukannya. Bahkan kepala Zahira dibenamkan dalam dadanya.


'Iiih Pak lepas ah, haraaam!"

__ADS_1


Pak Khalid tidak bergeming, dia masih terus memeluknya. "Hanya sebentar Ra, kumohon!"


"Ga mau, ga boleeeeeh!" Zahira menucibit dada Pak Khalid kuat-kuat.


Tapi tetap saja tidak digubrisnya. "Iiih, lepaaas!"


"Zahira maafkan aku, hanya sebentar!"


"Aa...aaah, Pak!! Kalau sampai Abi tahu, kita bisa menikah mendadak Pak!"


Seketika Pak Khalid melepaskan pelukannya dan menatap Zahira. Sementara kedua tangannya masih memegang bahu Zahira. "Benar begitu?"


"Iya, makanya ja..., Aaaakkh!"


Pak Khalid langsung memeluk Zahira lebih erat. "Aku setuju jika harus menikahimu sekarang!"


"Pak Khalid iiiihhh, jahaaaat!" Zahira terus memukul dan mencubit pinggang Pak Khalid. Akan tetapi, pinggangnya seakan tidak merasakan apa-apa.


"Ra silahkan bilang sama Abi, aku bersedia melamar kamu, hmm!"


Zahira tak kuasa melawan. Berontak pun bahkan tidak mempan. Meskipun Zahira merasa hatinya berbunga-bunga, tapi tetap saja separuh hatinya melarang. Dia pun terdiam sambil memikirkan alasan yang tepat.


"Pak, Paaak!" Zahira meninggikan suaranya karena Pak Khalid tidak menyahut.


"Emm!"


"Katanya mau cerita tentang Gina, mana?" Alasan Zahira mengena. Pak Khalid melonggarkan pelukannya. Zahira tersenyum menang.


Merasa sudah longgar, cepat-cepat Zahira mendorongnya lalu mundur menjauh. Saat Pak Khalid hendak melangkah mendekat, Zahira menahannya.


"Stoop, kalau sampai Bapak nekat lagi, aku tidak mau lagi dekat-dekat sama Bapak, Bapak mesum!"


Pak Khalid tertegun mendengar ucapan Zahira. Dia menelan ludah. "Ah maafkan aku, tadi itu aku terlalu bahagia Ra!"


"Ya sudah, Bapak disitu, dan aku disini, Bapak mau cerita kan, silahkan cerita aku akan dengar!"


Zahira mengangguk pelan. Pak Khalid pun duduk bersandar di dinding. Demikian juga Zahira. Meski duduk berseberangan, tapi karena luas ruangan itu hanya 4x3, sehingga jarak mereka tidaklah begitu jauh.


Sejenak Pak Khalid menatap Zahira. "Zahira, kamu memang wanita yang teguh pendirian ya, aku tidak akan rela kehilangan kamu!" Batinnya.


"Ekhem, mm tentang aku dan Gina, dulu dia yang putuskan aku, hanya karena aku berhenti jadi dokter, dan memilih menjadi dosen, kamu juga tahu kan tentang itu?"


Zahira mengangguk mengiyakan.


Lalu Pak Khalid pun melanjutkan. "Gina malu jika status dokterku harus berubah jadi dosen, dia memaksa aku untuk kembali ke rumah sakit tapi aku tidak bisa, waktu itu aku sangat ketakutan."


"Dia menyuruh aku memilih, antara dia atau jadi dosen, tapi aku tetap memilih dosen, karena itulah dia meninggalkan aku, sejak saat itu aku tidak pernah lagi berhubungan dengan dia, hingga aku bertemu kamu!"


"Tapi kemarin, kebetulan keluarganya yang menjadi pasienku, dia melihatku kembali jadi dokter, jadi dia meminta untuk balikan. Aku menolak, dia malah nekat mencoba merayuku dengan mantra pemikat, tapi aku mengetahui dan nengusirnya pergi!"


"Hari ini pun dia datang ke rumahku, dia berniat merayuku dengan pakaian seksinya, tapi karena yang dia temui kamu, makanya dia berbohong agar kita terpisah, begitu Ra!"


"Lalu photo itu?"


"Heeeh, itu waktu kami masih pacaran dulu, maaf kalau agak vulgar, tapi Gina yang selalu memulainya, ah bukan maksudku mengelak, tapi begitulah kenyataanya Ra!"


Zahira tak berkata apa-apa, dia hanya mengangguk-angguk pelan sambil menatap Pak Khalid.


Pak Khalid ikutan menatap Zahira menanti tanggapannya. "Ra, kamu percaya padaku kan?"


"Ya, kalaupun memang Bapak berbohong, aku tetap memilih percaya!"


Seketika senyum bahagia mengembang bebas di bibir Pak Khalid. Sontak saja dia berdiri hendak mendekati Zahira. Tapi Zahira segera menelungkup, seraya menyembunyikan kepala diantara lututnya. "Jangan mendekat lagi!"


Pak Khalid pun berhenti dan menyadari kelakuannya. "Aah maaf aku terlalu senang!" Dia kembali duduk.


"Ra balik ke rumah lagi ya!"

__ADS_1


"Tapi kan, temanku semua..."


"Mereka semua sudah kembali duluan kok!"


"Haah!" Zahira terbelalak. "Mereka ninggalin aku?"


"Tapi kan ada aku!" Pak Khalid senyum.


Zahira memanyunkan bibirnya sampai berkerucut lucu. Pak Khalid tertawa melihatnya.


Setelah lama berpikir sambil manyun, Zahira akhirnya menyetujui untuk pulang. Sementara untuk barang-barang yang memang belum sempat mereka bongkar, Pak Khali mengangkut semuanya sendirian.


Begitu mereka sampai di rumah, Daniah and the gank menyambut mereka dengan bahagia. Begitu tahu mereka baikan lagi, Meta langsung memeluk Zahira. "Yeeeey balikan lagi, selamat ya!"


"Iiih memang siapa yang lagi musuhan, sampe harus baikan?"


"Iya deh iya..."


Daniah situkang sewot, menggepur Meta dengan ranselnya. "Addduuuh Daniah!" Teriak Meta sembari mengelus punggungnya.


"Makanya angkut barang, jangan malas!" Daniah berlalu tanpa peduli dengan Meta yang kesakitan.


Zahira pun ikutan mengangkat barang. Saat Zahira hendak masuk pintu, Pak Khalid pun hendak keluar. Tak ayal mereka berpapasan tepat di pintu.


Zahira kesulitan menghindar karena barang bawaanya sedikit berat. Jadi Pak Khalid berinisiatip menghindar. Tapi Saat Zahira berlalu melewatinya, Pak Khalid langsung mendekatkan wajahnya, seakan hendak menciumnya. Hal itu membuat Zahira terpekuk dengan dada berdebar.


"I love you!" Bisik Pak Khalid kemudian berlalu tanpa menoleh. Zahira menoleh menatap Pak Khalid dengan rasa kesal tapi hati berbunga. "Dduuh Umiy bagaimana ini?" Batinnya.


Untung saja kejadian itu tak ada temannya yang melihat. Jika tidak, maka habislah Zahira, dia akan menjadi korban ledekan teman-temannya.


"Wooi Ra, jalan dong!" Seru Meta di belakangnya.


"Eeh iya, iya!" Zahira pun segera melanjutkan langkahnya.


Tiada berapa lama, acara angkat mengangkat barang pun telah pula selesai. Kini mereka tengah duduk beristirahat di ruang tengah.


"Kalian silahkan istirahat ya, aku harus pulang dan bersiap ke rumah sakit!" Pak Khalid pun segera bangkit.


"Pak, bolehkah aku menginap di sini, selama Bapak tugas malam, soalnya horor banget di rumah Bapak, tuh Bu kos teriak terus soal pembunuh dan Hantu sepanjang malam, aku takut Pak, sumpah!"


"Tapi Adrian, kamu tahukan kalau..."


"Aku janji Pak, ga melanggar aturan, lagian Daniah pasti akan merebusku kalau sampai macam-macam!" Adrian menaikkan dua jarinya di depan dadanya.


"Zahira, apa kamu mengizinkannya?"


Pak Khalid menatap Zahira.


Cepat-cepat Adrian berlutut memohon. "Zahira aku mohon bolehkan aku menginap ya Zahira, cuma di kamar tamu doang kok!" Adrian mengatupkan kedua tangannya.


Zahira sangat merasa tidak enak hati. "Iya deh, tapi jangan kayak gitu juga kali gayanya!"


"Terima kasih ya Zahira!" Adrian malah menyembah layaknya hamba sahaya.


"Iih Adrian cukup aah, ga enak lihatnya!" Tegur Daniah sewot.


Adrian bangkit dan duduk kembali di sofa dengan senyum lega. "Hehe makasih ya!"


.


.


.


Maaf baru bisa up lagi, soalnya hari ini author sibuk banget. Adik aku menikah hari ini.


Besok pun akan up cuma sekali lagi, semoga sempat....

__ADS_1


__ADS_2