
Senja tergelincir makin ke barat. Langit yang semula berwarna jingga kini telah berubah agak temaram. Suara sholawat berkumandang menunggu waktu adzan tiba.
Pak Khalid yang tertidur pulas, menggeliat perlahan. Suara alunan sholawat dari mesjid mengganggu tidurnya. Dengan malasnya dia membuka mata. Karena jendela rumahnya yang tak tertutup tirai, membuat pemandangan di langit tampak jelas.
"Aaahhh sudah hampir malam ternyata!" Dia pun bangun dan duduk di tepi ranjang. Senyum malu-malu terukir di wajahnya mengingat mimpinya.
Mimpi yang baru saja dialami, membuatnya lupa untuk bangun. Mimpi indahnya seakan tak mau Ia kehilangan, sehingga seakan menyesali dirinya yang harus terbangun. Mimpi indah bersama Zahira bersenda gurau bersama, memeluknya erat dan hangat.
Kenangan akan mimpinya membuat dia menggigit bibirnya begitu gemas. "Ahh semoga jadi kenyataan." Lagi-lagi dia tersenyum sambil memejamkan mata erat-erat. Lalu mengusap kasar wajahnya serta mengacak-acak rambutnya.
Dia bangkit menuju kamar mandi. Setelah membasuh muka, dia pun bersiap-siap pergi ke mesjid, dimana suara adzan magrib telah berkumandang. Dia lupa jika sholat ashar belum Ia tunaikan.
Tidak ada rasa penyesalan baginya jika dia ketinggalan salah satu waktu sholat, karena dia memang bukanlah orang begitu taat dalam sholat. Sehingga jika sempat, dia tunaikan, jika tidak sempat maka tidak pula Ia tunaikan. Begitulah jika iman belum menetap dalam dada.
Sepulang dari mesjid, dia menelpon Zahira. "Biar mereka tidak kaget saat aku datang, mending aku telpon dulu."
Zahira menyudahi Zikirnya saat telponnya berdering. "Pak Khalid?"
Zahira pun segera menjawab teleponnya.
*"Halo Pak, assalamu alaikum!"*
*"Wa alaikum salam Ra, boleh ga aku makan malam di rumah kamu?"*
*"Eeehh itu...."
*"Kalau tidak, bagaimana kalau kita makan di luar aja?"*
*"Eh tidak Pak, emm di rumah aja, aku tidak mau keluar malam-malam!"*
*Baiklah, biar aku yang bawa lauknya ya, kamu tinggal sediakan nasi saja!"*
*"Iya baiklah Pak!"*
*"Baik, nanti habis isya ya, aku kesana!"*
*"Iya Pak!"*
*"Okelah, assalamu alaikum!"*
*"Wa alaikum salam!"*
Begitu menutup telponnya, Zahira segera masuk ke dapur, dimana Della dan Daniah tengah menjalankan tugasya."Daniah, Pak Khalid mau makan malam di sini, kalian belum masak kan?"
"Apa? Pak Khalid mau ke sini?" Della kaget.
"Iya, apa kalian sudah masak?"
"Belum, nih lagi mau nyuci beras!" Ujar Daniah seraya nengangkat baskom berisi beras.
"Emm oh ya, Pak khalid bilang, lauknya dia yang akan beli!"
"Yeeyy makan enak dong kita!!" Teriak Meta yang datang tiba-tiba.
Daniah langsung merasa geram. "Meta! dasar kamu ya, mata gratisan!"
"Ya apa salahnya, rejeki datang jangan ditolak, pamali kata nenek moyang, hahaha!"
"Nenek moyang kau doang kali!" Kesal Daniah sambil meletakkan beras di westafel.
"Iya tuh rejeki datang cuma sekali jangan disia-siakan!"
"Setuju sama Della, haha!"
Daniah menoleh dengan kesal. "Emang jodoh, datang cuma sekali!"
__ADS_1
Meta makin gereget, niat usilnya naik 100%. "Lah tuh tau, jodoh datang sekali, makaya jangan tolak Adrian mulu deh, langsung terima kalau ditembak, hahaha!"
Dengan cepat Daniah menyambar centong di sampingnya lalu mengayungkannya ke udara. Tapi belum sempat centong melayang, Meta sudah bersembunyi di belakang Zahira yang cuma tersenyum geli melihat tingkah mereka. Tak ayal lagi, centong yang melayang kini menghantam kepala Zahira.
"Adduuuhhhh, aa...sshhhhh!" Zahira mengelus kepalanya sambil meringis.
Daniah kaget langsung mendekat. "Zahira kamu ga papa kan?"
"Iya aku ga papa!"
Meta menyembul dari belakang punggung Zahira. Sementara Della cuma tertawa garing. Daniah makin kesal dibuatnya.
"Kalian ini, lihat orang kesakitan bukannya prihatin malah tertawa, apa sih kalian!"
"Hahaha makanya jangan maen lempar aja dong, lihat dulu baru menyerang, salah sasaran kan!"
"METAAA!!" Centong siap dilempar lagi.
Tapi dengan cepat Meta berlari keluar.
"Awas kau nanti ya!"
"Hahaha Daniah, kalau kamu tiap hari maraaah terus, yang ada kamu bakal cepat keriput!"
"DELLAAAA!!, kau juga ikutan ngeledek ya!"
"Lho ledek gimana, aku cuma peringatkan!"
Zahira yang kesakitan pun jadi lupa dengan sakitnya melihat tingkah teman-temannya. "Sudah dong, kapan nasinya masak kalau kita berantem mulu?"
Tanpa ada basa-basi lagi, Daniah melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.
Della membantu menyiapkan keperluan lainnya di meja makan. "Waah kira-kira lauk apa ya yang akan dibawa Pak Khalid?"
"Denger tuh kata Ustadzah, ga boleh mengandai-andai, apalagi harapkan orang lain!" Ujar Daniah sambil meletakkan panci di atas kompornya.
Zahira yang merasa tersindir, memilih tersenyum, dari pada cari ribut. Lebih baik cari aman saja.
Meta yang sudah kabur, muncul lagi.
"Kalau aku sih, berharap ada sate, ayam goreng, ikan bakar gede...Aauuu!" Meta mengusap lengannya yang terkena lemparan centong.
"Hahahahaha!" Semua tertawa. Meta hanya bisa cemberut dengan wajah ditekuk.
suara dering ponsel Zahira terdengar nyaring. "Telpon siapa tuuuuhh?" Della mengedip ke Zahira.
Tanpa menjawab, Zahira langsung pergi ke kamarnya. Begitu sampai di kamar, betapa kagetnya saat melihat nama Umi muncul di sana.
*"Halo Umi, assalamu alaikum!"*
*"Alaikum salam Ra, kamu apa kabar nak?"*
*"Aku baik Umi, Alhamdulillah!"*
*"Benar kamu baik?"*
*"Iya Umi, masa Zahira bohong!"*
*"Haà hh syukur deh, kalau kamu baik-baik saja!"*
*"Ada apa Umi, kok cemas gitu?"*
*"Haah Umi akhir-akhir ini suka kepikiran sama kamu terus!"*
*"Umi kangen kali sama aku, haha!"*
__ADS_1
*"Iya juga sih kayaknya ya, hehehe!"*
*"Umi sama Abi apa kabar?"*
*"Kami juga sehat, Alhamdulillah, oh ya udah dulu ya Ra, sudah mau adzan, kamu baik-baik ya di sana!"*
*"Iya Umi, ya udah assalamu alaikum!"*
*"Wa alaikum salam!"*
Zahira pun menyudahi panggilannya. Suara Adzan berkumandang, Zahira pun kembali bersiap-siap hendak sholat. Sementara yang lainnya tetap santai di dapur sambil bergosip yang entah apa yang digosipkan.
Suara ketukan pintu terdengar dari luar. Dengan antusias Meta berlari membuka pintu. Tampak Pak Khalid telah berdiri sambil menenteng dua kantong palstik berukuran sedang.
Tadi setelah sholat Isya, Pak Khalid segera keluar ke pinggir jalan besar yang mana di sana terdapat banyak warung makan sederhana. Setelah membeli beberapa tusuk sate dan ayam panggang, dia pun membeli beberapa macam gorengan buat cemilan.
Dengan senyum mengembang, dia menyerahkan kantongan itu kepada Meta. Dengan senang Meta menyambutnya. "Waah banyak sekali Pak, mari silahkan masuk!"
Pak Khalid mengangguk pelan, lalu mengikuti Meta masuk ke dalam. Della yang baru keluar segera membantu Meta membawa salah satu kantongan itu. Pak Khalid sendiri memilih duduk di sofa.
Zahira yang baru saja membaca beberapa ayat, harus menghentikan senandungnya karena tamunya sudah datang. Segera dia mengganti mukenanya dengan jilbab lalu keluar menemui Pak Khalid.
"Assalamu alaikum Pak!"
Pak Khalid menoleh dan tersenyum, "wa alaikum salam!"
Zahira pun ikut duduk di sofa depan Pak Khalid.
"Kenapa berhenti mengaji, aku suka dengar suara kamu yang merdu!"
Zahira tersipu malu lalu tertunduk. "Biasa aja kok Pak."
Baru saja Pak Khalid mau menyela, Meta sudah datang lagi. "Pak, Zahira, makan malam sudah siap, mari silahkan makan Pak!"
Zahira pun bangkit dari duduknya, "ayo Pak, mari kita makan!"
Pak Khalid mengangguk pasti lalu ikutan berdiri dan mengikuti Zahira yang sudah lebih dulu melangkah.
Di ruang makan, semua telah terhidang, bahkan gorengan yang dibeli Pak Khalid pun ikut terhidang. Melihat itu, Pak Khalid cuma tersenyum-senyum.
"Sambil menyodorkan piring, Daniah mempersilahkan Pak Khalid. "Ini Pak, silahkan makan!"
Pak Khalid menerima piringnya lalu mengambil makanan. Setelah Pak Khalid, barulah mereka ikutan mengambil makanan. Tak ada yang bersuara, karena rasa canggung yang menyerang setiap insan yang lagi makan malam.
Mau tak mau, Meta terpaksa menahan dirinya untuk tidak menggasak makanan di atas meja. Karena setiap Meta ingin mengambil sate yang banyak, maka Daniah pasti akan menggigit bibir bawahnya sambil meliriknya tajam. Tanda larangan yang keras bagi dirinya.
Pak Khalid yang tengah asik menikmati makan malamnya, tanpa sengaja menoleh ke bawah tangga. Hampir saja dia tersedak saat melihat di sana, Amanda tengah nangkring dibawah tangga.
Pak Khalid mencoba menahan diri untuk tidak mengatakan hal itu, karena dia tidak mau acara makan malamnya ini kacau balau hanya karena menyebut nama Amanda.
Begitu dia selesai, Amanda sudah berdiri di depannya, tepatnya di belakang kursi Meta. Sekuat mungkin Pak Khalid menahan matanya agar tidak memandangi Amanda lama, supaya Meta tidak curiga dengan arah pandangannya.
Saat dia mencoba untuk menatap Amanda lagi, tampak Amanda memberi isyarat kepadanya untuk naik ke teras atas. Pak Khalid pun mengerutkan keningnya.
.
.
.
.
Esok disambung lagi ya😆😆😆😆.
Jangan lupa like, vote dan komen ya😘😘😘😘😘😘
__ADS_1