Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
Part 47. Biar adil.


__ADS_3

Setelah mobil berhasil menepi, Pak Khalid menoleh memandangi Zahira yang tegang, dan sepertinya dia sedang berusaha menetralkan perasaannya.


Pak Khalid mencoba menegurnya. "Zahira kamu ga papa kan?"


Zahira mengangguk pelan sambil terus mengatur napasnya yang terasa sesak.


Sementara temannya di belakang begitu cemas seakan menahan napas karena takut.


Agak lama Zahira terdiam dengan wajah pucat dan gemetar, sambil mengatur napas. Akhirnya kondisinya kembali normal lagi. Mereka semua bernapas lega.


Pak Khalid sekali lagi bertanya ingin memastikan kondisi Zahira. "Gimana, udah baikan?" Zahira memgangguk sambil mencoba tersenyum. Pak Khalid pun bernapas lega lalu kembali melajukan mobilnya.


Kondisi jalanan masih ramai sehingga mobil merangkak lambat bagai kura-kura. Sesekali Pak Khalid melirik Zahira. Terus terang saja, dia masih sangat penasaran dengan fobia Zahira.


Hal itu membuatnya lupa akan tujuan awalnya menjemput dan bertemu Zahira. Yakni hendak menanyakan perihal Hantu Amanda yang kata Zahira, mereka bertemu di dalam mimpi.


Tangan Pak Khalid mencengkeram kuat-kuat stir mobil karena menahan hasrat hatinya. Bibirnya pun digigit agar pertanyaan konyol tak keluar dari sana.


Perlahan Pak Khalid memutar otak bagaimana caranya agar Zahira mau mengungkap rahasianya tanpa memaksanya.


Waktu berjalan seakan melambat karena keheningan dalam mobil. Tak seorang pun yang berbicara. Mereka semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Meta sendiri masih asik dengan ponselnya.


Tiba-tiba Amanda yang penasaran dengan kemampuan Pak Khalid muncul lagi. Kini dia bukan muncul di depan Pak Khalid, melainkan di sela-sela kursi antara Zahira dan Pak Khalid.


Pak Khalid yang mau melirik Zahira, kaget bukan kepalang. Betapa tidak, saat dia menoleh, bukannya melihat wajah imut Zahira tapi malah wajah pucat menakutkan yang muncul beberapa senti dari matanya.


"Aaaastagfirullaaaah!" Pak Khalid terangkat dari kursinya dan menabrak jendela mobil.


Sontak seisi mobil tertawa melihat tingkah Pak Khalid. Namun Pak Khalid malah tegang, wajahnya pucat. Dia terus saja bersandar di pintu mobil.


Zahira terus tersenyum geli melihat wajah ketakutan Pak Khalid. Melihat itu, Pak Khalid merasa punya kesempatan menggali informasi tentang trauma Zahira.


"Kalian ketawa itu sangat kejam bagiku lho." Pak Khalid memasang wajah kesal.


Seketika wajah-wajah gadis itu berubah kecut. Apalagi Zahira, dia merasa sangat bersalah.


"Zahira, kamu sudah beberapa kali menertawai aku lho!"


Zahira menganga kecut mendengar penuturan Pak Khalid itu. "Eh maaf Pak, aku ga sengaja, maaf Pak." Zahira memelas. Temannya pun sudah tak lagi berani angkat suara.


Pak Khalid melirik Zahira. Hatinya girang bukan kepalang karena rencananya berhasil. Masih dengan bersandar di pintu mobil menghindari Amanda yang tetap setia menatapnya, Pak Khalid melanjutkan. "Coba aku tanya ke kamu ya Ra, gimana perasaan kamu saat ada yang berteriak atau membentak kamu?"


Zahira cuma bisa menganga, wajahnya semakin kecut. Rasa bersalah benar-benar menyerangnya. Karena dia bisa merasakan gimana tidak enak dan menderitanya saat fobia lagi kumat.

__ADS_1


Kini sepertinya Pak Khalid benar-benar kecewa padanya. Entah mengapa ada rasa sedih di hatinya.


"Seperti kamu yang fobia sama bentakan, aku juga fobia sama hantu dan sejenisnya." Pak Khalid berhenti bicara karena Amada kini semakin mendekatkan wajahnya. Hal itu membuat Pak Khalid menutup mata sejenak.


"Zahira, bisa gak kamu minta teman Hantumu ini menjauh sedikit ke belakang, jantungku sudah mau copot nih!" Pinta Pak Khalid sambil menyandarkan kepalanya di kaca jendela.


Zahira langsung menoleh "Manda pliz dong, jangan ganggu!" Meski Zahira tidak bisa melihat dan merasakan kehadiran Amanda tapi dia sangat percaya dengan yang dikatakan Pak Khalid.


Pak Khalid segera bernapas lega saat Amanda sudah benar-benar mundur kebelakang.


Della yang duduk di tengah-tengah kursi jadi panik saat melihat arah pandangannya.


"Eh Hantunya ada dimana Pak? jangan bilang ada di dekat gue, haaaaaa!" Wajah Della meringis ketakutan.


Pak Khalid menoleh sebentar ke belakang. Demi dilihatnya Amanda sedang nangkring di belakang sana diatas bagasi, dia kembali menghadap ke depan. "Tidak, dia di belakang lagi."


"Bapak fobia Hantu, kok bisa?" Meta jadi penasaran. "Ya elaaah, kalau fobia Hantu, bukan cuma Pak Khalid doang, tapi kita juga kali, eh bukan, semua orang fobia sama Hantu kecuali Zahira, ya kan Pak?"


Della menimpali pertanyaan Meta.


Pak Khalid menoleh sebentar menatap Della lalu tersenyum. "Aku memang fobia sama hantu dan mahluk astral lainnya, dulu sebelum kejadian itu, aku tidak bagitu takut sama mahluk begituan, tapi sejak aku menyaksikan kematian Papi yang mengenaskan di depan mataku, aku selalu ketakutan bila bertemu dengan mahluk seperti itu.


Amanda menyimak setiap penuturan Pak Khalid dengan seksama. Akan tetapi Daniah and the gank malah saling tatap tak mengerti.


"Ra, aku sudah ceritakan trauma terbesarku dulu, apa kamu ga mau cerita juga tentang trauma kamu?"


Zahira tersentak dari lamunannya mendengar pertanyaan Pak Khalid. "Aaa, eh iya, cuma ituu aku...mm maaf tapi aku malu Pak, maaf ya." Zahira tertunduk.


"Ya ampun Zahira, masa cerita aja pake malu sih, itu sih malah bikin kita makin penasaran lho! " Meta tak sabar ingin mendengar kisah Zahira.


"Eh gimana kalau Pak Khalid sama Zahira bertukar kisah, biar ga garing di dalam mobil, ya gak?" Sambil melirik Daniah dan Meta bergantian. Mereka mengangguk setuju.


Pak Khalid tersenyum seakan mendapat lampu hijau meski kenyataanya mereka terjebak lampu merah. Terpaksa mobil berhenti. "Iya Ra, mumpung lagi lampu merah, kamu cerita dong, jangan kawatir, kita ga bakal ngetawain kamu kok."


Dengan berat hati Zahira pun bercerita.


"Mm semua bermula waktu aku masih kecil. Aku tidak pernah sedikitpun dimarahi atau dibentak oleh Umi sama Abi, kalau pun mereka marah, tapi ga besar suaranya, mereka tetap bijaksana. Yaah paling menegur kemudian dinasehati."


"Tapi saat aku masuk Sekolah Dasar, ada seorang guruku di sana terkenal sangat galak. Waktu itu aku sedang main bersama temanku di dalam kelasnya.


Tiba-tiba seorang kakak kelasku datang dan main lempar bola, vas bunga kesayang Bu Nena kena dan jatuh berantakan di lantai. Kakak kelasku kabur, tinggal aku dan temanku di sana.


Anak-anak kelas 2 langsung menuduhku yang melakukannya. Mereka pun mengadu ke Bu Nena. Bu Nena datang dan langsung marah-marah tanpa bertanya dulu hal ihwal kejadiannya.

__ADS_1


Aku tak sempat membela diri, karena Bu Nena sudah teriak dan memaki-makiku. "Dasar anak nakal, tidak tahu aturan!! anak kurang ajar, apa kamu tahu betapa mahalnya vas ini haah! emang Mama kamu mau ganti haaa!"


Suaranya begitu keras hingga rasanya telingaku jadi pengang. Tubuhku gemetar dan karena ketakutan aku jadi pipis di celana. Melihat aku pipis, bukannya kasihan, malah semakin menjadi-jadi amarahnya. "Hoo dasar anak ****! kamu ga pernah diajar Mama kamu kalau kencing itu di wc! bukan di celana! Anak-anak! kasih aku sapu lidi!!"


Mendengar kata sapu lidi, lututku semakin gemetar, tangisku pecah dan tak mampu lagi aku tahan, aku pun menangis terisak-isak. Dia semakin gelap mata.


"Mana sapunya!!! cepat kemarikan, aku mau menghajar anak tak tahu diri ini, cepaaaat!!!" Seorang anak menyodorkan sapu, aku semakin ketakutan, seluruh tubuhku gemetar semakin keras.


Saat sapunya sudah diangkat tinggi-tinggi, penglihatanku tiba-tiba kabur dan lenyap, aku tidak sadarkan diri. Sejak saat aku selalu ketakutan sama suara besar apalagi dibentak-bentak."


Zahira pun menyudahi ceritanya. Daniah merasakan sesak di dadanya, demikian juga halnya dengan Della dan Meta. Sesaat suasana hening.


Tanpa mereka sadari, Amanda yang ikut mendengarnya, ikutan menangis terisak-isak di belakang. Tapi sayang tak seorang pun yang mendengarnya.


"Kok ada ya guru segitu galaknya." Meta membuka suara. Della dan Daniah mengangguk setuju.


Della sebenarnya masih ingin bertanya soal Zahira, tapi lebih penasaran dengan traumanya Pak Khalid, dia pun meminta Pak Khalid bercerita juga.


"Pak, Zahira kan udah cerita tuh, sekarang giliran Bapak dong!"


Daniah membenarkan Zahira " Iya tuh Pak." Meskipun tadi Pak Khalid sudah bercerita sedikit, tapi sepertinya mereka belum puas dan makin penasaran.


Pak Khalid tidak menjawab karena lampu sudah kembali hijau. Pak Khalid memilih melajukan mobilnya terlebih dahulu. Setelah mobilnya bergerak, Pak Khalid pun angkat bicara. "Aku sudah cerita kok dulu sama Zahira, ya kan Zahira?"


Zahira cuma mengangguk mengiyakan sambil tersenyum. Della dan Daniah tidak terima. "Ya tapi kan kita ga tahu ceritanya, jadi biar adil, Bapak ceritakan ke kita juga dong!"


Pak Khalid tersenyum kemudian mengangguk mengiyakan. Baru saja Pak Khalid ingin membuka mulutnya, Rumah sakit kini telah terpampang jelas di depan mata. "Yaah lain kali aja yah aku ceritanya, soalnya kita sudah sampai tuh, hehehe!"


Dengan serempak mereka bertiga berteriak "Yaaaa tidak adil banget doooong!!!" Daniah sangat terlihat kecewa.


"Nanti aja kalau kita sudah bersantai sambil makan siang ya!" Janji Pak Khalid membuat mereka kesenangan. "Janji lho Pak!" Pak Khalid cuma tersenyum.


.


.


.


.


Besok lagi ya disambungπŸ˜™πŸ˜™πŸ˜™πŸ˜™.


Jangan lupa like, vote dan komen biar author tambah semangat up nya ya😍😍😍😍😍😍.

__ADS_1


__ADS_2