Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
Part 50. Terima kasih Amanda


__ADS_3

Matahari sudah lengser agak ke barat saat mobil Pak Khalid berhenti di depan rumah kosan Zahira. Dengan cepat Pak Khalid turun dari mobil kemudian dengan agak berlari dia menuju pintu samping Zahira.


Zahira yang heran, memandangi Pak Khalid tanpa mengedip, matanya dipicingkan. Begitu pintu dibuka oleh Pak Khalid, Zahira langsung kaget.


"Ee...eh Pak, ga usah pake dibukain lho, aku bisa sendiri." Zahira jadi ga enak.


Daniah bersungut sambil turun dari mobil, membuat Zahira makin tidak nyaman. Saat Zahira menurunkan kakinya, Pak Khalid mengulurkan tangannya hendak menyambut Zahira.


Melihat itu, Zahira mendongak dengan heran, ada raut kesal menempel di sana. Pak Khalid yang menyaksikan raut kesal itu, langsung menarik tangannya lalu mengepalkannya sebentar kemudian melepaskannya ke samping. Terpaksa tersenyum kecut.


Zahira pun turun dari mobil tanpa berbicara sedikit pun. Pak Khalid segera menutup pintu mobilnya. Daniah and the gank sudah turun juga. "Makasih ya Pak, udah diantar dan ditraktir, hehe." Meta cengengesan.


Zahira cuma menghela napas berat. Daniah menatap Zahira lekat-lekat dengan muka kesal. Della melihat Daniah bermuka masam, segera menggandengnya dan menariknya masuk sambil berseru. "Pak makasih ya, kami masuk dulu!!"


Meta ikutan masuk.


Zahira menatap Pak Khalid sambil memperbaiki letak tali tasnya di bahu.


"Pak makasih ya, atas bantuan dan makan siangnya, dan aammp...." Zahira mengulum bibirnya erat, karena ragu kata yang akan diucapkannya nanti akan membuat Pak Khalid tersinggung.


Malihat hal itu, Pak Khalid sangat merasa bersalah, dia berpikir kalau Zahira marah dan benci padanya. "Aah Ra, emm aku minta maaf soal tadi, aku tahu kamu marah, tadi itu aku...aku...ee."


Zahira tersenyum lirih, "Ah aku bukan marah kok, cuma aku merasa ga enak aja kalau diperlakukan kayak tadi, takutnya malah disangka yang tidak-tidak sama temanku."


"Ooh iya maaf ya Zahira." Pak Khalid memasang muka memelas.


Zahira cuma mengangguk pelan. "Tapi jangan begitu lagi ya Pak, aku ga mau sembarang pegang orang, takutnya malah dosa Pak, kita bukan muhrim lho."


Pak Khalid mengangguk senang, kini wajahnya cerah lagi. " Makasih ya Ra, aku janji aku ga bakalan begitu lagi," Mereka tersenyum


"Baiklah aku masuk dulu ya Pak, Assalamu alaikum."


"Wa alaikum salam."


Zahira masuk ke dalam rumah, sedangkan Pak Khalid kembali ke dalam mobilnya. Dia pun melaju menuju kediamannya. Sambil terus tersenyum sesekali mengelus bibirnya.


Bayangan tadi waktu di rumah makan padang, terus menghiasi pelupuk matanya. Tanpa sadar dia bergumam, "Makasih ya Amanda," Pak Khalid menggigit bibirnya sambil terus tersenyum bahagia. Mobilnya terus meluncur di atas aspal yang licin.


******


Sesampainya Zahira di dalam rumah, Daniah dan yang lain sedang mengaso di sofa. Melihat Zahira datang, Daniah membuang muka. Della dan Meta cuma saling tatap.


Zahira cuma tersenyum sepintas, kemudian terus berlalu masuk kamarnya. Maklumlah waktu dzuhur sebentar lagi akan bergulir.

__ADS_1


Daniah mendengus kesal "Huuuuuuuh, kenapa bukan aku sih yang diperlakukan romantis gitu!"


Della dan Meta langsung menoleh menatap Daniah. Lama mereka terdiam lalu..."Bwaaahahaahaha." Della dan Meta tertawa berbarengan.


"Kamu bukannya takut sama kebiasaan Pak Khalid tadi?" Mendengar pertanyaan Meta, Daniah menatapnya dengan kesal.


"Iya, kalau aku sih dah ihlas deh, ihlas bener, iih ngeri banget aku, iiiih, biarlah buat Zahira." Della menyela.


"Mereka kayaknya memang cocok deh, yang satu bisa lihat hantu, yang satu lagi ga takut hantu, iya kan?"


Mendengar itu, Daniah manyun, bibirnya yang tebal tambah tebal dimanyunkan.


Della dan Meta semakin geli melihat mukanya. "Hahaahaha,"


"Dan, mukamu lucu, sumpah!"


Dengan kesal Daniah melempar Della dengan bantalan sofa. "Diam ga sih, lihat orang lagi patah hati, bukannya menghibur malah meledek, kalian ini teman apa musuh sih, haa!"


Daniah bangkit dari sofa sambil bersungut-sungut kemudian masuk ke dalam kamarnya. Della dan Meta mengulum senyumnya kuat-kuat menahan tawa, hingga bahu mereka terguncang-guncang.


Setelah puas tertawa dikulum, mereka pun bangkit pula menuju kamar masing-masing.


Amanda pun demikian, tidak mau mengganggu teman Zahira lagi. Saat ini, dia sedang ingin kembali ke Rumah sakit dimana Marni tengah berbaring lemah di sana.


******


Di Rumah sakit, Bu Marni telah terbangun. Dengan lemas dia melirik ke samping, berharap menemukan seseorang.


Perempuan yang menemaninya segera bangkit dan memegang tangan Bu Marni. "Bu, alhamdulillah Ibu sudah bangun ya."


Marni menatapnya lekat. Begitu iya mengenali wajah di depannya, dia tersenyum lemah. " Lina."


Perempuan yang dipanggil Lina itu mengangguk. "Iya Bu ini aku." Dia tersenyum lembut.


"Maaf ya Ibu merepotkan, apa kamu ga kerja?"


"Ini kan hari minggu Bu."


"Ooh gitu ya."


Marni menerawang jauh ke langit-langit kamar. Teringat lagi kejadian masa lalu yang mengharuskan dia membunuh Amanda dengan kejam.


Dengan cepat, Marni kembali menutup mata. Erat dan sangat erat dia merekatkan matanya. Dia berharap dengan memejamkan matanya, bayangan itu bisa hilang.

__ADS_1


Akan tetapi, semakin terpejam, semakin jelas pula bayangan itu. Bukan hanya bayangan perbuatannya yang muncul, tapi wajah seram Amanda juga datang hendak menerkam dan mencekiknya.


Marni sudah tidak tahan lagi. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tetap terpejam. Napasnya mulai tidak teratur. Keringat dingin mengucur di kening dan dahinya. Marni mulai tersengal-sengal.


Melihat kondisi itu, Lina menjadi sangat panik, dengan cepat dia berlari menuju meja perawat. "Suster, tolong tante saya kumat lagi, cepetan Suster!!"


Lalu kembali berlari masuk ke tempat Marni.


" AAAAAA, TIDAAAAAAAK, PERGIIIII, JANGAN BUNUH AKU JANGAAAAAAN!!"


Teriakan Marni menggema si seluruh ruangan. Suster yang bertugas segera berlari menuju sumber suara. Di sana Marni tengah meronta-ronta di bawah tekanan tangan Lina.


"Suster cepetan tolong, aku ga kuat menahan tangannya!" Suster segera menyuntikkan sesuatu di lengan Bu Marni. Tak lama kemudian Marni semakin lemah dan makin lemah, hingga akhirnya terlelap dalam tidurnya.


Lina bernapas lega melihat Marni sudah kembali tenang. "Maaf Suster, apa tanteku ga bakal kenapa-napa kalau disuntik begituan ya?"


"Ini hanya akan membuatnya tenang sebentar,"


Lina mengangguk pelan menanggapi perkataan Suster.


Sepeninggal Suster, Lina menjadi gelisah. Tubuhnya sangat lelah, sudah sejak kemarin malam, tubuhnya belum pernah direbahkan dengan baik. Rasa ngantuk dan letih menyerangnya silih berganti.


Ada rasa gerah di hatinya, tapi ingin pulang, dia juga segan. Mungkin inilah yang dikatakan orang-orang, pulang segan, tinggal tak mau. Maaf dipelesetin. (Hidup segan mati tak mau)


Lina meraih HP Marni, dengan sangat ragu, dia mulai menghubungi setiap nomor yang ada di sana. Alhasil, seseorang mengaku sebagai anak Marni. Setelah mengabarkan kondisi Marni, lelaki yang mengaku sebagai anak Marni berjanji untuk datang dan menjaganya.


Hati Lina menjadi lega. Diletakkannya HP itu lalu berbaring di lantai yang dingin. Dengan segera, lelap pun datang menyambutnya.


Amanda yang mendengar percakapan itu, tiba-tiba shok, dia terhenyak di pojokan ranjang. Air matanya meleleh, mengenang betapa bejatnya lelaki itu padanya. Amanda menangis terisak- isak lalu menghilang entah kemana.


.


.


.


.


Sampai ketemu lagi esok hari.


Jangan lupa tinggalkan jejak jika membaca ya. Cukup like, vote dan komen. Itu aja sih harapan Author nih. Makasih banyak bagi yang telah menyempatkan sedikit waktu buat membaca, atau sekedar like.


Wassalam๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜.

__ADS_1


__ADS_2