
Mendengar penuturan Della, Pak Khalid mengerutkan dahi. "Maksudmu, kemungkinan Amanda itu dibunuh oleh mereka?"
Della mengangguk mengiyakan. "Soalnya nih Pak, sejak melihat Tali gantungan itu, Bu Kos langsung histeris ketakutan." Della menerangkan ala Professor.
"Selain itu, dia juga sampe datang kemari untuk memastikan kalau di sini tuh ga ada dukun sakti." Lanjutnya.
"Dan yang ketiga, baru saja ada laki-laki besar datang melempari Zahira dengan tali gantungan yang pernah ditemukan itu, dan yang bikin curiga banget itu, dia malah nuduh Zahira sengaja ingin membalaskan dendam Amanda." Wajahnya meyakinkan.
"Kalau bukan dia yang bunuh Amanda, ga mungkin dong dia sebut-sebut soal balas dendam, bener ga? bener ga?" Sambil mengedar pandang ke temannya satu-satu mencoba mencari pendukung.
Pak Khalid diam berpikir sambil menatap ke sudut kamar, seakan-akan mencari jawaban di sana. Benar saja, di sana tampak Amanda mengangguk pasti melihat pandangan Pak Khalid.
"Kalau benar itu pembunuhan, kita seharusnya melapor, tapi masalahnya apa ada bukti yang bisa kita ajukan?" Pak Khalid memandangi anak kosan itu satu persatu.
Mereka semua terdiam, lebih-lebih Amanda, dia bahkan tidak tahu bagaimana dan apa yang terjadi dengan keluarganya. Dia menangis darah lagi mengenang semua itu.
Zahira menurunkan bungkusan es batu di hidungnya. "Selain tali itu, ga ada petunjuk lain Pak."
Semua makin terdiam mendengar ucapan Zahira. "Atau mungkin kita bisa membuat mereka mengaku?" Meta memberi usul sambil tersenyum bangga.
Tapi tiba-tiba Daniah menampar kepalanya dengan guling, hingga badannya terguling ke samping. " Aaaa!"
Semua tertawa melihat tingkah Meta yang lucu. Meta bangkit dengan muka cemberut.
"Sakiit?" Daniah bertanya mengejeknya. " Lagian mana ada maling ngaku?"
"Haaahahaha." Semua tertawa.
"Maling aja ga ngaku, apalagi pembunuh, Meta!!" Della menimpali sambil mendorong bahu Meta. Meta makin cemberut karena menjadi bulan-bulanan.
Pak Khalid tiba-tiba mengangguk-angguk. "Tapi usul Meta ada benarnya juga kok."
Mendengar itu, semua bungkam lalu menatap Pak Khalid tak mengerti.
"Emang bisa Pak?" Tanya Daniah tak percaya.
"Itulah yang harus kita pikirkan dulu, karena kalau tidak ada bukti, mana bisa kita melaporkannya, selain itu, Amanda bukan kerabat kita, kronologis kejadian juga kita tidak tahu, jadi satu-satunya cara adalah buat mereka mengaku!"
Keempat cewek cantik itu saling pandang. " Maaf Pak, apa Anda tidak bisa bertanya langsung sama Amanda, Bukannya Anda bisa melihatnya?"
Semua mengangguk setuju sama pendapat Zahira. "Iya yah, kenapa ga kepikiran dari tadi?" Sergah Daniah.
"Tapi saya tidak bisa mendengar suaranya Ra." Kilah Pak Lhalid.
"Lho kalau tidak bisa dengar, kok bisa tau Zahira sakit Pak?" Meta heran.
"Oh tadi itu, Amanda pake bahasa isyarat."
__ADS_1
"Kenapa kita ga minta Amanda pake bahasa isyarat lagi, ya kan?" Della mengedar pandang lagi menunggu persetujuan.
"Haah cerita banyak sepanjang satu episode begitu, mau pake bahasa isyarat, mana bisa? tadi itu, Amanda cuma nulis nama Zahira habis itu nunjuk hidung, jadi aku menerka aja, terus aku diajak kemari, isyaratnya begitu doang."
"Ooooohhhh." Serentak mereka melongo.
"Terus gimana dong?" Meta bingung sendiri.
"Waktu mimpi kemarin, Amanda memintaku pake tali itu, mungkin Amanda mencoba membuat mereka takut dengan menampakkan tali itu agar mereka jadi stress, mungkin dengan itu mereka mau mengaku?" Pendapat Zahira.
"Sepertinya memang kita harus meneror mereka dengan tali itu." Pak Khalid kembali memandangi Amanda. Yang dipandangi cuma mengangguk setuju.
"Amanda setuju dengan usul Zahira, menggunakan tali gantungan itu untuk meneror Bu Kos." Ujar Pak Khalid.
"Gimana caranya Pak?" Daniah jadi penasaran.
"Sebaiknya aku balik dulu, ini sudah larut, kalian juga istirahat, besok kita bahas lagi masalah ini, oke?"
Mereka mengangguk, Pak Khalid pun beranjak dari duduknya, lalu mengambil kotaknya. "Zahira cepat sembuh ya, aku pulang dulu." Zahira mengangguk memandangi kepergian Pak Khalid. Sementara ketiga temannya mengantar Pak Khalid sampai di pintu.
"Hati-hati ya Pak di jalan!"
"HADIJA Pak!"
"Mimpiin aku ya Pak!" Seru Daniah dalam hati. Senyumnya menggambarkan itu di wajahnya.
Della bergumam.
"AAAAAAAAA!!" Mereka berebutan masuk kamar Zahira, dengan cepat mereka melompat naik ke ranjang Zahira. Terang saja, sang empunya ranjang kaget bukan main.
"Eeh apa-apaan sih kalian?" Zahira melotot melihat mereka yang kini telah merapat kebahunya.
"Zahira malam ini, kami tidur di sini ya, takut nih sama Amanda?"
Mendengar pengakuan Meta, Zahira tersenyum nakal. Senyum Zahira yang nakal belum pernah dilihat oleh Della atau yang lain. Hal itu membuat mereka merasa curiga.
"Zahira kamu kenapa, kamu ga berniat mengerjai kami kan?" Daniah bangkit dari ringkukannya.
Zahira tertawa mendengar temannya. "Hahaha yakin mau tidur di sini?"
Perlahan temannya mundur dari sisinya. "Maksud kamu apa nih Ra?" Della makin curiga. Zahira makin tertawa.
"Zahira kamu jangan jahil kalau kamu tidak mau kena damprat dari aku ya!" Daniah mengancam.
Zahira menghentikan tawanya. "Maaf bukan mau menjahili, cuma aku ga yakin kalian mau tidur di sini, soalnya?"
Daniah sudah pias, "Ra jangan ngegatung gitu, bilang aja langsung!"
__ADS_1
"Emm tapi maaf ya, kamar ini tuh tempatnya Amanda gantung...."
Belum selesai ucapan Zahira mereka sudah melompat dari ranjang, "Aaaaaa!"
Tapi sial bagi Della, dia tersandung di pinggir ranjang, tubuhnya langsung terjerembab di lantai. "Aaaaakkhhh." Della mengerang. Mau tak mau Daniah dan Meta kembali menolongnya.
"Kalian ga perlu takut gitu kali, Amanda ga bakal ganggu kita kok, anggap saja dia manusia juga, cuma ga kelihatan, biar kalian bisa rileks saat menyebut namanya, Amanda juga pasti sedih kalau kalian takut begitu sama dia."
Della sudah berdiri, tapi masih meringis kesakitan, sedangkan Daniah dan Meta masih memegangi Della. "Kenapa ga bilang dari tadi!" Daniah sewot.
"Ya kalian keburu cabut."
"Haah, kamu tidur deh, kita balik ke kamar dulu, mana tahu Amanda udah mau tidur lagi dekat kamu." Daniah mencoba melawan takutnya.
Mereka pun keluar dari kamar Zahira dengan tenang setenang air telaga dipagi hari. Akan tetapi begitu sampai diluar kamar, mereka langsung lari terbirit-birit masuk ke kamar Daniah.
Dengan cepat mereka melompat naik ke ranjang sambil berebut masuk dalam selimut. "Aakkhhh!!" Teriak Meta dalam selimut.
Daniah menyibak selimut, "kenapa lo Meta?"
Meta menyembul sambil mengelus kepalanya "Kepalaku terbentur tepian ranjang."
"Bwahahahahah." Daniah dan Della tertawa bersamaan. Meta cuma memberengut kesal.
Dengan kasar dia menarik selimut untuk menutup tubuhnya, membuat bagian Daniah tertarik sampai lepas dari tubuhnya. "Metaa!!" Daniah pun menarik pula selimut dengan keras. Acara tarik menarik selimut pun terjadi, Della yang di tengah jadi oleng kiri dan kanan karena selimut di atasnya tertarik sana-sini. "SETTTOOOOOPPPP!!"
Aksi itupun langsung berhenti seketika. Sesaat mereka terdiam. Lalu "Hahahahaa!" Mereka tertawa bersama.
Saat anak kosan itu lagi senang-senang, lelaki berbadan lebar yang tadi mendatangi Zahira, tampak sedang mondar-mandir di teras rumahnya di lantai tiga.
Ponselnya diacung-acungkan karena kesal panggilannya tidak terjawab di seberang. "Aakhh siaal, kenapa dukun sialan itu tak menjawab panggilanku!" Dia meninju udara di depannya.
Setelah agak lama mondar-mandir, dia kembali menghubungi seseorang, tapi setelah lama menunggu, ponselnya kembali tak terjawab. "Sial sial siaaaaallll!" Kembali dia menendang-nendangkan kakinya ke udara.
.
Kira-kira siapakah dukun yang dihubungi oleh lelaki itu?
Rencana apa yang akan Pak Khalid bersama Zahira and the gank jalankan besok?
Simak terus kelanjutan cerita selanjutnya.
UP setiap malam hari jika tidak ada halangan InsyaAllah.
Jangan lupa votenya jika suka, like dan komen jika senang dengan ceritaku ya.
Makasih banyak bagi semua yang telah mendukung ceritakuππππππ.
__ADS_1