
Semua telah kembali pada kesibukan masing-masing, dimana Zahira mulai masuk kuliah lagi setelah masa izinnya habis.
Sudah menjadi kebiasaannya, masih pagi-pagi sekali Zahira sudah bangun menyiapkan sarapan. Sementara Pak Khalid berangkat ke mesjid untuk sholat subuh.
Saat Mami dan yang lainnya bangun, sarapan sudah terhidang di atas meja. Decak kagum dari Mertua langsung terdengar. "Waah Zahira rajin banget sih, masih pagi sarapan udah jadi, pantas Khalid tidak sabar pengen cepet nikahin kamu ya!"
Zahira tersipu malu mendengarnya. "Biasa aja sih Mi, cuma sarapan doang, mari Mi silahkan!"
"Makasih ya Nak!" Sambil melirik Daniah and the ganknya. "Mari Nak kita sarapan bareng!"
"Iya Tante, makasih!" Jawab mereka serempak.
Pak Khalid pun sudah turun juga dari kamarnya setelah berganti pakaian dan segera bergabung di meja makan. Dengan cekatan Zahira mengambilkan makanan untuknya. Hal itu membuat Maminya tersenyum penuh kebahagiaan melihat betapa perhatiannya Zahira.
Dia bisa merasakan perbedaan dengan menantunya yang di Palu sana. Apa-apa harus pakai pembantu. Bahkan anaknya pun sempat dititip sama pembantu, sehingga dirinya terpaksa meminta untuk mengasuh cucunya langsung. Karena dia tidak mau cucunya diasuh oleh orang lain.
Melihat Maminya termenung sambil tersenyum, Pak Khalid menegurnya. "Mami ... kok melamun pagi-pagi entar kesambet, bahaya loh!"
Maminya langsung kaget lalu tertawa mendengar kelakar Putra bungsunya. "Iiih mana ada Mami kesambet, kan ada Zahira ya kan Ra? Hahaha."
Zahira cuma tersenyum tanpa menanggapi apa-apa.
"Ya siapa tahu Amanda lagi iseng Tante!" Celetuk Della.
"Hahahaha!"
Suasana sarapan saat itu jadi ramai karena gelak tawa.
Meta yang penakut, tidak begitu senang dengan candaan itu. Dia hanya tersenyum kecut. "Della, jangan sebut-sebut nama Amanda boleh ga, mumpung dia ga ada lagi, jangan sampeeee dia muncul lagi!" Sambil mengetuk-ngetuk meja dan kepalanya bergantian. Sebagai tanda harapan agar hal itu tidak terjadi.
Mereka semakin tertawa melihat aksi Meta yang kolot. Zahira langsung merasa aneh melihat tingkah Meta.
"Eh Meta, ngapain pake ngetuk-ngetuk meja sama kepala? apa hubungannya dengan hantu?"
Meta mendelik, "haah ini cuma kebiasaan doang kok, bukan apa-apa!"
"Ya sudah yuk habisin sarapan, nanti kalian telat!" Mami menengahi.
Mereka pun menyelesaikan sarapannya dengan tenang kembali, meskipun masih ada senyum terselip di bibir mereka.
Selesai sarapan, mereka pun berpamitan untuk pergi ke Kampus. Karena Pak Khalid ada tugas di Rumah sakit, sehingga Zahira harus menyetir sendiri ke Kampus bersama ganknya.
Ucapan selamat terus mengalir dari teman-temannya. Sehingga riuh suara mereka menyambut Zahira. Hingga jam pelajaran dimulai, barulah kerumunan itu bubar.
Rasti masih tidak puas dengan kisah Zahira. Dia terus berbisik pada Zahira yang hanya tersenyum malu setiap mendapat pertanyaan Rasti. "Ra, ceritain dong, gimana sih rasanya jadi pengantin?"
"Rasti apaan sih, nanyanya kok itu mulu, ya bahagia lah masa kesel!" Wajah Zahira jadi merah merona menahan malu.
"Kamu deg-degan gak, atau kamu gemetaran gitu, atau eh gimana waktu malam pertama, kalian ngapain aja?" Wajah Rasti berbinar-binar menanti jawaban Zahira.
Pertanyaan itu sontak membuat Zahira kaget dan malu setengah mati. " Iih Rasti apaan sih!" Seraya memukul bahu Rasti.Tak sadar suaranya kebesaran hingga membuat semua orang menatapnya penuh tanya. Tidak terkecuali Pak Dosen yang tengah menjelaskan materi.
"Bisa diam sebentar, selama saya menjelaskan?"
"Baik Pak!" Jawab Zahira dan Rasti serempak. Dengan gemas Zahira mencubit lengan Rasti yang dibalas dengan tawa tertahan oleh Rasti.
Waktu kuliah telah berakhir, Daniah dan Zahira pun meninggalkan kelas menuju ke halaman parkir sambil menunggu Meta dan Della.
Tampak dari jauh, Meta dan Della pun sedang menuju ke arah mereka. "Hai sudah lama ya nunggunya?" Sapa Meta begitu mereka mendekat.
__ADS_1
"Tidak juga kok, baru aja!" Balas Zahira.
"Baru setengah jam tahu!" Sergah Daniah membuat Meta langsung kecut.
Della tak mau membuat suasana tidak nyaman, dia pun mencoba mengalihkan perhatian. "Eh ngomong-ngomong, kita langsung pulang atau jalan-jalan dulu nih, mumpung belum siang banget!"
"Emang punya duit, pake jalan-jalan haah?" Daniah menatap Della kesal.
"Yaaahh mana tahu ada yang mau traktir kita!" Della mengedip ke Meta yang dibalas dengan tawa ditahan.
"Ekhemm aku tersindir nih!" Zahira melirik Della sambil tersenyum geli.
Della dan Meta tidak mampu menahan tawa. "Hahaha, sorry ga sengaja!"
"Nah masih mau minta traktiran, ga malu apa minta mulu?" Daniah makin sewot.
"Yaaa kaan ...."
"Udah cukup, ga usah banyak cincong, mending masuk mobil gih!" Daniah memotong ucapan Della yang tidak sempat dilanjutkannya. Dirinya sendiri sudah duduk manis di dalam sana.
Baik Meta, Della maupun Zahira hanya bisa menahan tawanya. "Udah yuk masuk!" Pinta Zahira sambil masuk pula.
Della dan Meta pun segera menyusul masuk ke Mobil. "Terus kita kemana nih, masa langsung pulang, muter-muter dulu kek, kemana gitu?" Meta merajuk sambil melirik Zahira yang tengah sibuk mengarahkan kemudi untuk keluar dari kampus.
Belum sempat Zahira menjawabnya, Ponselnya malah berdenting, tanda sebuah pesan masuk.
Zahira yang tengah sibuk menyetir, terpaksa meminta Meta membacakannya. "Meta, tolong dong periksa pesan di ponselku ya!"
"Oh iya bentar ya!" Meta pun membuka tas Zahira lalu memeriksa ponselnya. "Eh dari Abiy Khalid ... bbrrppp!" Meta menahan tawa begitu melihat nama yang tertera di sana.
Zahira langsung menatap Meta"Memang salah kalau aku panggilnya begitu?"
Mendengar itu, Daniah langsung menimpali, "Tahu rasa deh, kan malu sendiri? Suka ledekin orang sih!"
"Ya suka-suka dialah Meta, terserah dong!"
Della mencoba membela Meta yang tersudut. "Ya sudah deh, entar kalau kita ada pasangan juga, kita manggilnya ayam bebek aja ya Meta! hahaha!"
Meta segera berbalik menatap Della juga dengan senyum lebarnya. "Iya, pas tuh, Ayam bebek sweet honey, hahaha!"
Zahira ikutan geli mendengarnya. "Itu panggilan buat pasangan atau kode menu makan siang nih?" Bahunya terguncang menahan tawanya.
Daniah melirik Della dengan senyum mengejek, "Kode lapar sih menurutku!"
"Hahahaha!" Mereka pun tertawa bersama.
"Eh bentar deh," Zahira tersadar sesuatu. "Meta ... ngomong-ngomong, kamu belum baca pesannya loh!"
Meta langsung kaget, "eh lupa, bentar ya!"
Cepat-cepat Meta membuka pesan dari Pak Khalid. Meta pun membacanya keras-keras. "Umy sayang, kamu makan siang di rumah ya temanin Mami, soalnya saya ada jadwal operasi dulu, jadi ga bisa makan siang bareng, kasihan Mami kalau harus makan siang sendirian"
Selesai membaca pesan, Meta menatap Zahira, "tuh pesannya, yaah ga jadi deh makan menu Bebek sweet honey!" Meta cemberut.
Della dan Daniah cuma bisa menertawai Meta. Zahira pun tersenyum menanggapinya. "Yaah maaf ya Meta, sepertinya bukan rejeki kita makan siang bebek goreng!"
"hahaha!"
Mereka semua tertawa sementara Meta hanya mencebik sambil tersenyum juga akhirnya.
__ADS_1
Saat mereka sedang riuh tertawa, tiba-tiba seorang pengendara motor meluncur dengan cepat lalu berhenti tepat di depan mobil Zahira.
Sontak membuat Zahira dan teman-temannya kaget bukan kepalang. Dengan cepat Zahira menginjak rem, hingga Della dan Daniah yang duduk di kursi belakang harus terjungkal ke depan.
"Aadduuuh ... sialan banget tuh orang, ngapai coba berhenti di situ!" Gerutu Daniah sembari mengusap jidatnya yang terbentur kursi.
Tampak pengendara itu turun dari motornya menuju ke mobil Zahira, membuat para penghuni mobil saling pandang dengan mata melebar serta jantung yang berdegup kencang.
Mata mereka menatap orang itu tak berkedip, hingga orang itu mengetuk jendela dekat Zahira.
Zahira makin kaget, sejenak dia menoleh menatap temannya satu persatu, yang dibalas dengan bahu terangkat sambil menggeleng. Dengan membaca Basmalah dalam hati, Zahira membuka jendela. "Maaf ada apa ya?" Zahira mencoba bertanya.
Sayangnya orang itu tidak bersuara sama sekali, hanya menyodorkan sebuah amplop putih dan segera kembali ke motornya.
Della segera menggamit Meta yang sedang melongo. "Meta ... meta ... cepat photo motornya cepat!"
Meta yang tengah memegang HP zahira langsung gelagapan, "Eh iya photo-photo eh mana nih photonya!" Baru saja meta berhasil membuka kamera, pengendara motor misterius itu sudah melesat pergi dengan cepat.
Daniah sewot dibuatnya. "Iih Meta lemot banget sih jadi orang, kabur deh orangnya, heeeehh!"
"Ya mau gimana lagi, ini kan bukan punyaku, beda lagi tipenya, jadi mesti nyari dulu kameranya!" Meta mencoba membela diri.
"Sudahlah, dia kan ga ngapa-ngapain, cuma kasih surat kayaknya nih!" Zahira menengahi.
"Buka dong, buka!" Della langsung penasaran.
Baru saja Zahira hendak membuka, suara klakson dari belakang sudah melengking-lengking, membuat Zahira terpaksa mengurungkan niatnya dan segera melajukan mobilnya.
Meta begitu penasaran dengan suratnya, demikian juga yang lain. "Ra, biar kita lihat suratnya dong, penasaran siapa sih yang kirim?" Sembari merebut amplop itu dari tangan Zahira yang tengah memegang kemudi.
Perlahan Zahira menepikan mobilnya. Daniah jadi heran "Eh kok berhenti?"
Zahira menoleh sebentar sambil tersenyum, mau balas pesan Pak Khalid dulu!"
"Oohh!"
Meta yang tengah asik membolak-balik amplop putih itu mengerutkan kening, "Lho kok ga ada namanya sih?"
Della yang juga penasaran langsung merebutnya. "Mana coba ku lihat?"
"Eh iya ya ga ada pengirimnya, kosong melompong nih!" Sambil membolak-balik amplop itu.
Daniah ikut penasaran pun merebutnya juga. "Biar kuperiksa isinya!"
Tanpa menunggu persetujuan, Daniah pun merobek amplop itu, sementara Zahira yang tengah asyik membalas pesan Pak Khalid, tidak menghiraukan kehebohan temannya.
Saat Daniah membuka isinya, hanya ada dua baris kalimat di sana. Daniah pun membacanya.
"Jangan kamu pikir kamu sudah bisa bahagia hanya karena kamu sudah menikah, lihat saja, aku akan membuat hidup kalian dalam masalah!"
Mendengar itu, sontak semua kaget bukan kepalang. "Whaaat?"
Zahira yang asik sendiri pun kaget mendengar teriakan temannya, "Apa sih yang what?"
Meta langsung memegang tangan Zahira dengan wajah pucat. "Zahira ... ada yang mengancam kamu!"
Zahira makin tidak mengerti, "apa sih, ancam apa?"
Daniah menyodorkan kertas ditangannya. "Zahira ada yang mengirim surat kaleng ke kamu!"
__ADS_1
Zahira hanya melongo tidak mengerti sambil menerima kertas berisi ancaman itu.
Bersambung....