Misteri Dibalik Tali Gantungan

Misteri Dibalik Tali Gantungan
Part 101. Cenat-cenut


__ADS_3

Begitu sampai di rumah sakit, petugas UGD sudah menunggu. Dengan cepat Zahira dibawa masuk dan diperiksa. Sementara Pak Khalid segera berlari menuju ke ruangannya.


Kedatangannya ternyata terlihat oleh Gina dan Mamanya yang baru saja akan pulang dari menemani Omnya.


Segera Pak Khalid kembali ke ruang UGD. "Aku yang akan tangani!" Cegat Pak Khalid saat seorang dokter jaga akan memeriksanya.


"Tapi bukannya dokter lepas jaga?"


"Hanya untuk dia, dia pacarku!" Tanpa peduli dengan dokter KOAS itu, Pak Khalid langsung memeriksa Zahira. Dibantu dengan 2 perawat, mereka memasang infus di lengan Zahira.


"Terima kasih semuanya, kalian boleh pergi, aku akan menemaninya!"


"Baik Dok!" Mereka pun keluar meninggalkan Pak Khalid dengan Zahira. "Zahira, bagaimana perasaan kamu?"


Zahira tidak menjawab, dia hanya menggeleng lemah sambil terpejam. Perlahan Pak Khalid meraih tangan Zahira dan menggenggamnya. Zahira pun membuka mata dengan lemah.


Meski Zahira keberatan, tapi karena sangat lemah untuk bersuara, akhirnya Zahira membiarkannya. "Ya Allah, sudah disentuh berkali-kali sama dia, mungkinkah dia yang akan jadi suamiku, aku tidak mau orang lain!" Batin Zahira. Tak sadar air matanya meleleh.


Melihat Zahira menitikkan air mata, Pak Khalid merasa bersalah. Dengan cepat dia melepaskan genggaman tangannya. "Zahira, maafkan aku ya, aku hanya kawatir banget sama kamu!"


"Heemmm!" Zahira tetap tidak membuka mata. Pak Khalid hanya mengepalkan tangan menahan rasa kawatirnya.


Gina dan Mamanya yang melihat Pak Khalid berlari masuk UGD, ikutan masuk dan mengintip kesetiap ruangan disana. Begitu melihat Pak Khalid, mereka segera masuk. "Khalid, Tante mau bicara sama kamu!" Mama Gina terdengar sinis.


Pak Khalid menoleh dan langsung geram. Apalagi setelah kesinisan Mamanya Gina. Dengan cepat dia bangkit, "baik ayo keluar!"


Pak Khalid nenoleh ke Zahira sebelum keluar, "Ra, aku keluar sebentar ya, kamu ga papa kan sendiri?"


"Hemmm!" Zahira mengangguk lemah.


Pak Khalid segera keluar menyusul Gina dan Mamanya yang sudah lebih dulu keluar. "Kita bicara di taman!" seru Pak Khalid sambil berlalu.


Gina dan Mamanya langsung saling pandang dengan senyum penuh arti. Kemudian berjalan cepat menyusul Pak Khalid ke taman.


Tak lama kemudian mereka pun sampai di taman. Pak Khalid berhenti dan segera berbalik menghadap ke Gina dan Mamanya. "Apa yang akan Tante tanyakan?" Wajah Pak Khalid datar sedatar tembok.


Mamanya Gina langsung memasang wajah sinis. "Khalid, kenapa kamu menolak undangan Tante untuk sarapan?"


"Maaf Tante, tapi aku tidak lapar, untuk apa aku sarapan!"


"Tapi aku yang mengundang kamu lho, apa kamu tidak menghargai aku?" Suaranya mulai tinggi.


"Memangnya Tante siapa, sampai harus aku hargai?"


"Khalid, kamu sama Gina akan menikah kan? jadi aku calon mertuamu, tapi siapa perempuan yang kamu jaga itu?" Mamanya Gina berkacak pinggang.


"Calon mertua?" Pak Khalid tersenyum mengejek. "Apa Gina tidak bilang ke Tante, kalau dia sudah putuskan aku?"


"Itu aku tahu, tapi bisakah kamu membujuk dia agar tidak marah dan kembali lagi seperti dulu?" Mama Gina makin emosi.


Dulu saat Pak Khalid masih pacarnya Gina, Pak Khalid begitu penurut dan seperti takut ditinggalkan saja. Dia bahkan akan melakukan apa saja agar Gina tetap di sisinya. Bahkan Mamanya tidak segan-segan untuk melabraknya jika membuat Gina sampai kesal.


"Maaf Tante, dulu aku pertahankan dia, karena aku pikir dia tulus padaku, ternyata dia hanya menyukai pekerjaan dan gelarku, jadi maaf Tante, perempuan di dunia ini, bukan cuma Gina seorang, dan aku sudah menemukan penggantinya!"


"Khalid berani sekali kamu bilang begitu sama anakku!" Mama Gina sudah naik pitam.


"Aku berani, lalu Tante mau ngapain? mau memukulku? atau mau memecat aku?"


"Sayang, kamu jangan gitu dong, sayang aku minta maaf, aku salah, kita balikan aja ya!" Gina bergelayut di lengan Pak Khalid.


Pak Khalid segera menepis dan mendorong Gina menjauh. "Jangan sentuh aku, haram bagiku menyentuh wanita yang bukan muhrimku!"


Mama Gina sudah sangat kesal. Dengan cepat dia mendekati Gina. "Khalid kamu sudah kelewatan!" Dia menunjuk wajah Pak Khalid. "Awas kamu ya, lihat saja nanti!"


"Aww apa aku diancam? dengar Tente! jika sampai kalian berbuat nekat atau berbuat jahat sama pacarku, atau kalau sampai kalian menggangguku, rumah mewah kalian bahkan masih menunggak 2 bulan, para pegawai kantor pemasaran tidak akan segan-segan menyita semuanya!"


"Heh memangnya kamu punya hak apa mengancam aku!"


"Hehe, sekali aku menelpon, rumah kalian akan langsung berpindah tangan!" Pak Khalid beranjak hendak pergi.


"Apa kamu pikir aku takut!"Teriak Mama Gina.


Pak Khalid berbalik kembali, dia merogoh sakunya dan mengeluarkan Ponsel. Segera dia melakukan panggilan.


*"Halo, assalamu alaikum!"*


*"Rumah atas nama Pak Aslan Mahmud, tolong hubungi istrinya untuk segera melakukan pelunasan!"*


Pak Khalid mematikan ponselnya dan memandangi Perempuan di depannya. Dan benar saja, HP Mama Gina berdering. Buru-buru dia memeriksanya. Tiba-tiba wajahnya pucat. Dia tidak mampu berbuat apa-apa.


"Perusahaan itu aku yang punya, jadi jika tidak ingin rumah baru kalian disita, sebaiknya jangan ganggu aku!" Pak Khalid pun segera berlalu.


"Khalid tunggu!" Seru Mama Gina cepat.


"Ada apa lagi, apa kalian berpikir aku tidak tahu caranya marah? aku memang tidak suka marah, tapi sekali aku marah, aku bahkan tidak bisa membedakan antara pria atau wanita!"


"Bu...bukan begitu, bi...bisakah kamu mengulur waktunya, minggu lalu aku sudah bicarakan ini di kantor pemasaran, dan mereka setuju, kenapa tiba-tiba begini?"


"Itu karena aku yang meminta untuk mengulur waktu, dan sekarang aku tidak mau mengulur waktu, siapa yang bisa melarangku?"


''Tolong, beri aku waktu, dan aku...aku akan meminta Gina menjauhi kamu!"


"Baiklah, dan ingatlah janji kalian!" Pak Khalid pun berlalu sambil menghubungi seseorang lagi. Kedua Ibu dan anak itu saling pandang lalu pergi dengan wajah lesu.


Pak Khalid kembali di ruangan Zahira. Perlahan dia duduk di samping pembaringan Zahira. Dia pun tersenyum melihat Zahira kembali tertidur pulas. Tiba-tiba perut Pak Khalid meminta makan.


Segera dia menghubungi seseorang untuk membeli makanan untuknya.


*"Halo, Suster, tolong bawakan aku sarapan, aku lagi di UGD!"*

__ADS_1


Selesai menelpon, Pak Khalid menelungkupkan kepalanya di sisi pembaringan. Rasa kantuknya sudah menghinggapi pelupuk matanya. Karena sudah sejak semalam dia banyak menangani pasien, sampai tidak pernah tidur sekalipun.


Seorang Dokter masuk sambil bersedekap di dada. "Wah, wah si Bucin ya, sampai berani melanggar aturan!"


Pak Khalid langsung mengangkat kepalanya. "Ah dr.Priska, ini karena dia..."


"Hehe, aku mengerti, kamu jaga dia baik-baik ya!"Sambil menepuk pundak Pak Khalid.


"Dokter, bisakah tindakanku ini tidak masuk laporan?" Pak Khalid penuh harap.


"Mch tenang sajalah!" Dokter Priska mengedipkan sebelah matanya lalu keluar. Pak Khalid tersenyum lega. Dia pun kembali menelungkup.


Agak lama menunggu, hingga Suster itu datang membawa sarapan. . "Dok! sarapannya sudah siap, dokter!"


Pak Khalid mengangkat kepalanya perlahan sambil mengerjapkan matanya. "Ooh kamu sudah datang, kenapa lama sekali, perasaan kantin tidak jauh amat dari sini!"


"Emm maaf Dok, tadi ketemu Gina di jalan, dia sangat kasar jadi aku menyiramnya dengan air, jadinya harus balik ke kantin lagi!"


Pak Khalid tersenyum sembari meraih kotak sarapannya. "Tumben berani, biasanya cuma menatap kesal!"


"Itu karena dia bukan pacar Anda lagi, tapi yang sekarang...."


"Hehem, tenang saja, pacarku sekarang tidak kasar seperti Gina kok, kamu tidak usah kawatir."


"Ooh kalau begitu aku permisi Dok!" Suster itu tersenyum.


"Oke, terima kasih ya!"


"Sama-sama Dok!" Perawat itupun segera berlalu keluar.


Selesai makan, Pak Khalid menghubungi Adrian. Kemudian memeriksa keadaan dan cairan infus Zahira. Melihat cairan infus Zahira sudah hampir habis, dia pun menghubungi perawat.


Perawat jaga UGD dengan cepat datang. "Ini Dok, cairannya!"


"Terima kasih, setelah ini diganti, segera dibawa keruang perawatan!"


"Baik Dok!" Mereka pun segera mengganti ciran Zahira. Kali ini, cairannya disetel dengan lambat. Kemudian setelahnya, mereka membawa Zahira ke ruang perawatan.


Begitu sampai di ruang perawatan, para perawat segera meninggalkan ruangan. Tinggallah Pak Khalid yang tersenyum-senyum sendiri melihat begitu lelapnya tidur Zahira.


Pak Khalid memutuskan untuk segera merebahkan diri di sofa untuk melepaskan rasa ngantuknya. Baru saja dia berbaring, Pak Jin datang dengan tiba-tiba. "Assalamu alaikum!"


"Alaikun salam, tumben amat kasih salam!" Pak Khalid duduk kembali.


"Kami sudah menangani mereka!"


"Apa yang terjadi sebenarnya?"


"Apa mungkin Zahira pernah berurusan dengan dukun sakti?"


Pak Khalid menganga, dia teringat kembali dengan dukun sakti yang pernah dilawan oleh Zahira. Dukun yang mengirimkan Mahluk yang sama yang telah membunuh Papinya. Pak Khalid mengangguk sambil berlinangan air mata.


"Hemm, sepertinya dia tidak terima dengan kekalahannya saat itu, makanya dia balas dendam, mungkin sudah takdir gadis ini harus ditolong oleh kami, makanya kita bertemu ."


"Dukun yang aku bilang berusaha menjerat semua Jin sakti untuk menjadi sekutunya, adalah Dukun yang menyerang Zahira, dengan 20 Jin pilihan, tidak ada yang bisa selamat, kecuali atas lindungan Allah!" Lanjut Pak Jin.


Pak Khalid langsung terbelalak, "Jadi Zahira!" pak Khalid sangat panik.


"Tenang, Zahira sudah baik, dengan kekuatan iman dalam hatinya, meski mereka berhasil menyiksanya, tapi mereka tetap saja tidak bisa menghabisinya, karena perlindungan Allah selalu datang, pada ummat yang beriman dan bertakwa!"


"Lalu bagaimana dengan Mahluk-mahluk itu?" Pak Khalid semakin panik.


"Mereka sudah kami tangani, meski memakan waktu, tapi kami berhasil melenyapkan mereka semua!"


Mendengar hal itu, Pak Khalid menjadi tenang. "Haah Alhamdulillah, makasih ya Pak Jin!"


"Sama-sama, jangan sungkan meminta bantuan pada kami jika kamu membutuhkan!" Pak Jin pun langsung lenyap tanpa bekas.


Pak Khalid kembali merebahkan tubuhnya di sofa. Perlahan-lahan matanya meredup dan akhirnya tertidur sangat pulas.


Pak Khalid dan Zahira begitu lelap dalam kamar. Sehingga mereka tidak sadar jika Meta sudah datang. Meta pun tidak ingin mengganggu akhirnya dia hanya diam tak bersuara.


Begitu petugas gizi datang membawa makan siang, barulah Pak Khalid terbangun. "Eh Meta, kapan kamu datang?"


"Sudah agak lama Pak, maaf aku tidak mau mengganggu jadi aku tidak bersuara!"


"Ooh, eh mana yang lain?" Pak Khalid melihat sekeliling.


"Hari ini sidang perkara warisan Adrian digelar, karena takut ke pengadilan sendirian, jadi dia mengajak Daniah, dan Daniah mengajak Della!"


"Ooh begitu ya, oh ya tolong jaga Zahira sebentar, aku mau pulang mengambil ponselnya dulu, takutnya nanti orang tua Zahira menelpon!"


" Iya Pak, aku akan menjaganya!"


"Kamu sudah makan?"


Meta menggeleng, "belum sempat Pak!"


"Ya sudah, nanti aku pesankan untuk kamu, aku pergi dulu ya!"


Ucapan Pak Khalid yang terahir membuat Zahira terbangun. Perlahan dia membuka mata, "Meta!" Lirih suara Zahira.


Meta segera menghambur ke sisi pembaringan. "Zahira kamu sudah sadar!"


"Iih siapa yang pingsan, aku ketiduran tadi!"


"Haah syukurlah!" Meta mengelus dada.


"Eh mana Pak Khalid, tadi aku dengar suaranya?"

__ADS_1


"Pak Khaid pulang dulu, katanya dia mau menghubungi orang tua kamu!"


"Emmm!"


"Zahira ini makan siang kamu, dimakan ya!"


"Iya kebetulan aku sudah lapar banget!" Zahira pun duduk dan menerima kotak makan siangnya. Perlahan tapi pasti, semua makanan itu ludes tak bersisa.


"Ck ck ck Zahira, kamu ini doyan apa lapar?"


"Hehe lapar sama doyan!" Sambil menyerahkan kotak makannya yang sudah kosong pada Meta. Zahira kembali berbaring. "Eh sudah dzuhur kan Meta?"


"Iya tapi kamu lemas begini mana bisa sholat?"


"Bisa kok, sholatnya duduk aja, bantuin aku wuhdu ya!"


"Baiklah, ayo!"


Meta membantu Zahira yang kepayahan hingga Zahira pun bisa menyelesaikan ritual ibadahnya dengan khusuk.


Tidak lama kemudian, Pak Khalid datang dengan membawa tas berisi pakaian Zahira, juga makanan. "Kamu sudah bangun?" Pak Khalid meletakkan tasnya di sofa.


"Iya Pak, makasih sudah membantuku lagi!"


"Sama-sama!"


"Meta kamu belum makan kan, nih aku bawa makanan, sekalian kita makan siang bareng, aku juga belum makan!" Seraya memberikan kotak makanan ke Meta.


"Waah makasih ya Pak!" Meta mengambil bungkusan itu lalu menyajikannya di atas meja. "Silahkan makan Pak!"


Pak Khalid menatap Zahira, "kamu sudah makan?" Zahira mengangguk pelan sambil tersenyum. "Bagaimana perasaan kamu sekarang sayang!" Pak Khalid menempelkan tangannya di dahi Zahira.


"Aku sudah mendingan, aku juga sudah bisa bersuara jelas." Zahira tersipu malu.


"Alhamdulillah, baiklah kalau begitu aku makan dulu ya!" Zahira cuma mengangguk sambil tersenyum.


Pak Khalid pun segera menghampiri Meta yang lagi makan dengan lahap. Pak Khalid hanya tersenyum melihatnya. Tanpa menunggu perintah, Pak Khalid pun segera menikmati makan siangnya.


"Oh iya Ra, tadi Umi menelpon kamu berkali-kali, jadi aku menjawab telponnya dan bilang kalau kamu lagi sakit, mungkin saat ini mereka sedang kemari!" Pak Khalid kembali mengunyah sambil mengeluarkan Ponsel Zahira dari sakunya.


"Ooh!" Singkat jawaban Zahira karena dia kini kembali mengantuk. Sementara Pak Khalid dan Meta tetap asik menikmati makanan mereka.


Setelah makan, mereka pun beristirahat di sofa. Karena Zahira kembali terlelap, Meta dan Pak Khalid memilih untuk berbaring pula di sofa. Mereka tidur di sofa yang bersebelahan.


Waktu terus bergulir, hari pun berganti senja. Pak Khalid dan Meta begitu lelap tertidur.


Saat Zahira terbangun, dia sangat kaget karena waktu ashar pun telah masuk sejak tadi.


Dengan susah payah, dia meringsut sendirian, karena tidak ingin mengganggu istirahat Pak Khalid.


Begitu sampai di kamar mandi, ternyata tamu bulanannya sedang datang. "Aduuh bagaimana ini, aku kan tidak bawa pembalut, apa aku bangunin Meta ya? Ah tidak, nanti Pak Khalid dengar kan malu!" Zahira terus berpikir.


"Ah iya Umi kan mau kesini? aku telpon aja, minta dibeliin!" Zahira pun segera keluar dari kamar mandi.


Zahira mengendap-endap menuju ke sofa. Lalu segera mengambil ponselnya di atas meja. Baru saja Zahira berbalik, Pak Khalid sudah bangun.


"Zahira, apa yang kamu lakukan?" Zahira langsung berhenti. "Kenapa tidak membangunkan aku?" Seraya bangkit dan menghampiri Zahira yang mematung.


Zahira menoleh, "maaf Pak, aku tidak ingin mengganggu Bapak!"


Pak Khalid mendekat lalu meraih cairan di tangan Zahira. "Ra, ini dipegangnya harus tinggi-tinggi, atau sekalian matikan alirannya, lihatkan banyak darah yang keluar di selangnya!"


Zahira melirik selang infus dan benar saja, selangnya terisi darah. "Aaah bagaimana ini?" Zahira meringis ketakutan.


"Jangan takut, ini ga papa kok, ayo ke tempat tidur dulu!" Pak Khalid memegang infusnya dan menuntun Zahira.


Setelah Zahira berbaring, Pak Khalid segera memperbaiki selang infus yang berisi darah. Zahira terus menatap Pak Khalid dalam-dalam. "Ada apa Ra, kok liatin aku segitunya?"


Zahira gelagapan, "ee...ooh anu itu aku...mau nelpon Umi cuma..." Zahira membuang pandangannya.


"Cuma apa?" Pak Khalid berjongkok sambi menumpukan kedua tangannya di sisi pembaringan. Hingga wajah mereka berdekatan. Jantung Zahira langsung berlomba untuk memompa.


"Emm..."mata Zahira mengerjap-ngerjap karena keki. aku mau minta dibeliin..."


"Biar aku yang belikan, bilang saja mau beli apa, hemm?"


"Aa...aah itu...aduuh gimana ya? Mm ini harus cewek yang beli!" Zahira berpaling sambil menggigit bibir bawahnya. Jantung Pak Khalid cenat-cenut melihatnya.


Dengan cepat Pak Khalid bangkit dan menjauh. Dia tidak sanggup menahan hasratnya melihat tingkah Zahira. "Kamu datang bulan?"


Zahira merona mendengar Pak Khalid yang berterus terang. Dia menutup mata jadinya. "Ga papa biar aku yang beli, tunggu sebentar ya!"


Zahira langsung menoleh, "jangan Pak, biar Meta aja, kalau sudah bangun!"


"Kenapa dengan saya?" Meta langsung berdiri begitu namanya disebut. Tapi kemudian terhuyung karena pusing. Pasalnya dia langsung berdiri, sementara perasaannya belum stabil sehabis tidur. Hingga tingkahnya seperti orang mabuk. Pak Khalid dan Zahira tak kuasa menahan tawa.


"Beliin pembalut buat Zahira!" Seru Pak Khalid membuat Zahira harus meringis sambil menutup mata rapat-rapat dan menggigit bibirnya menahan malu.


"Ooh baiklah, eh Zahira kamu mau yang bersayap atau yang biasa?"


Zahira makin meringis menahan malu, "Aduuuh Meta!"Ringis Zahira sambil mengeratkan gigi.


Pak Khalid tersenyum melihat Zahira sangat malu. Dia mendekati Meta sembari mengulurkan uang. "Jangan banyak tanya, ini kan rahasia wanita, beli saja mana yang bagus!"


"Oke Pak, aku beli yang bersayap ya Ra!" Meta pun berlalu.


"METAAA!"


"Hahaha!"

__ADS_1


Meta tak perduli dengan mereka yang sedang canggung karena dirinya.


__ADS_2